Di sebuah rumah mewah bak istana kerajaan, dua orang paruhbaya serta dua orang pria yang tak lain adalah putranya, sedang berdiskusi tentang perusahaannya yang kini tambah berkembang pesat dan akan di kelola oleh pewaris mereka. Namun karena pewaris dari mereka yang menghilang entah kemana, maka sementara hak waris itu akan di gantikan kepada anak kedua.
Arengga Wijaya Kusuma putra pertama dari Wijaya Kusuma dengan Arlin Harim, pemuda kolongmerat berusia 32 tahun, serta pembisnis handal dalam dunia perbisnisan yang berhasil mendirikan perusahaan terbesar di negara C dari usahanya sendiri karna dari ambisi dan tekad yang kuat membuat Arengga menjadi pembisnis nomor 1 di berbagai negara.
Bahkan sifat dan sikapnya membuat siapapun bertemu dengan Arengga tak gentar untuk saling bertegur sapa, sebab kegigihannya dan juga ketegasannya dalam bekerja membikin seluruh para klien, kolega serta karyawannya merinding di buatnya.
Arengga adalah sosok pria dingin dan tegas, bahkan dengan keluarganya pun ia tak segan-segan akan memberi peringatan walau hanya kesalahan sepele dan apapun yang ia lakukan harus sesuai dengan keinginannya.
Tidak pada seseorang yang sangat ia sayangi dan rindukan, yaitu adik kecilnya yang beberapa tahun menghilang karena ketelodarannya di masalalu membuatnya merasa bersalah, bahkan Arengga sempat stress beberapa bulan sampai harus di bawa ke psikologis untuk kesembuhannya.
Tidak mumpuni dengan itu, sehingga Arengga bertemu dengan seorang wanita yang mampu menarik perhatiannya sampai membuatnya berubah kembali sembuh.
Areksa Wijaya Kusuma anak kedua, adik dari Arengga, umur 27 tahun seorang dokter ahli bedah terkenal di negara B, juga pelatih atlet taekwondo profesional.
Areksa hanya mengikuti jejak sang ayah menjadi dokter ahli bedah. Dia tidak ingin turun ke dunia perbisnisan, sebab hal yang berbau perkantoran hanya membuatnya pusing dengan berkas-berkas yang harus ia tangani. Namun, karna paksaan dari ayahnya membuat Areksa terpaksa harus turun tangan menggantikan ahli waris sementara sampai adik perempuannya kembali kekediamannya.
Next.
Seorang pria berjas hitam datang menghampiri empat orang di ruang tamu tersebut dengan membawa map berisi berkas-berkas penting di tangan kanannya.
Pria itu memberi hormat pada semua orang yang berada disana dengan sopan.
Menyerahkan sebuah map biru kepada tuan Wijaya," Tuan, ini data-data pencarian tentang nona muda." pria berjas hitam itu melangkah mundur lalu memutari kursi menghampiri Arengga dari arah berlawanan.
Lalu pria itu menyerahkan sebuah map merah di tangannya kepada Arengga," Tuan, ini perusahaan dari Armana Group, ingin mengajak kita untuk bekerja sama dengan proyeknya." Arengga menerima map merah tersebut, tetapi pandangannya malah terfokuskan pada map biru yang di pegang ayahnya.
Juga Areksa yang menunggu pemberitahuan sang Ayah tentang isi map tersebut.
"Gimana perkembangannya Ayah?" tanya Arengga yang sudah tidak sabar menunggu kabar berita tentang adik bungsunya.
Sang Ayah hanya menggeleng dengan helaan nafas lemah,"Masih sama seperti kemarin." ujarnya membuat Arengga serta Areksa mengusap wajahnya kasar.
Arengga bangkit dari duduknya seraya membanting map merah yang ia pegang ke atas meja," Apa kau tidak bisa mencari informasi yang lebih akurat?!" ujar Arengga meneriaki bawahannya.
"Kenapa kinerjamu semakin tidak becus, ha?!" bentak Areksa, juga bangkit sambil menuding pria bawahannya itu dengan raut wajah marah.
Bawahannya itu menunduk takut akan kemurkaan dua majikannya karna tidak bisa memberikan laporan yang lengkap.
Tuan Wijaya menatap prihatin pada kedua putranya yang terlihat sedih.
"Rengga, Reksa. Sudahlah, mungkin belum ada keberuntungan bagi kita." Tuan Wijaya menengahi perdebatan tersebut. Lalu memberi isyarat pada pria berjas hitam itu untuk pergi.
Pria itu mengerti, "Baik tuan." lalu pergi sambil menunduk hormat pada mereka.
"Apa sebaiknya kita mengerahkan semua pasukan pengawal kita?" wanita paruhbaya yang sedari tadi hanya diam kini membuka suaranya untuk memberi arahan.
"Bunda, kita sudah dari dulu mengerahkan pengawal serta pasukan perang kita buat mencari si manis. Tetapi apa hasilnya? masih nihil kan?" Areksa semakin frustasi dengan ucapan bundanya yang tidak memberi masukan yang logis.
Pasukan perang adalah pengawal bayangan mereka untuk berjaga-jaga dari musuh.
"Lalu bagaimana lagi kita harus mencari adik kalian, nak?" Sang bunda terlihat sedih sambil menutupi wajahnya yang lemah.
"Aku juga tidak tahu, Bun." sahut Areksa yang suaranya mulai memelan.
"Lebih baik kalian istirahat dulu. Kalian pasti capek karna harus kerja dan selalu mencari adik kalian tiap hari. Apalagi kalian besok harus menghadiri pesta topeng dari keluarga Abhimana dan___"
"Aku tidak bisa datang besok!" Areksa menyela dengan cepat lalu bangkit dan pergi dengan langkah lebarnya.
Sedangkan Arengga mulai bangkit dari duduknya, meraih map merah di atas meja dengan sakali ayunan," Aku akan ke kantor sekarang." ucapnya dengan wajah datar dan pergi meninggalkan ruangan membuat kedua paruh baya tersebut hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Sikap mereka tak jauh berbeda denganmu dulu." cibir Wijaya pada istrinya.
"Jangan bandingin aku dengan mereka! Sikap mereka juga 11 12 denganmu jika sudah marah." tak mau kalah Arlin membalikkan fakta untuk suaminya.
"Memang kenapa aku kalo marah?"
"Ya begitu, langsung pergi aja tanpa memberi penjelasan."
*
Di dapur, Erlina hanya melihat pembantu lamanya yang sedang memasak, namun tidak melihat seseorang yang selalu membuatnya darah tinggi.
Pandangan Erlina menyapu ke seluruh ruangan, namun tidak di ketahui apa yang di carinya karena tidak ingin ketahuan kalau ia sedang mencari pembantu dari suaminya itu. Erlina ingin tahu saja gerak-gerik yang di lakukan si Riana, pembantu mudanya.
Namun seharian ini pembantunya itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya pun di rumah ini. Hal itu membuat Erlina semakin penasaran dengan kelakuan Riana yang membuatnya curiga.
"Dhea dari tadi nangis Mulu mbok, Riana itu kemana sih! bukannya ngurusin Dhea malah keluyuran gak jelas. Apa mbok tahu dia kemana?" celoteh Erlina membuat mbok Tarim menoleh ke belakang menjadi gelagapan.
"Kenapa mbok?" tanya Erlina pada mbok Tarim, Erlina menatap tangan mbok Tarim yang terlihat gemetar serta keringat yang mulai bercucuran.
Erlina berfikir sepertinya pembantu lamanya itu tengah menyembunyikan sesuatu.
Tangan mbok Tarim terlihat memegang sesuatu, karna kegugupannya membuat ia menjatuhkan benda itu dari tangannya. Seperti tidak kuat menahan benda kecil nan panjang tersebut.
Dengan gerakan kilat mbok Tarim segera mengambil benda itu, namun tak kalah cepat dengan hentakan kaki Erlina yang sengaja menginjak benda tersebut sampai membuat mbok Tarim terkejut dan semakin was-was.
Namun dengan sebisa mungkin Erlina berusaha bersikap biasa saja seolah tidak melakukan apa-apa.
"Eh, apa nyonya?!" Mbok Tarim terlihat gugup sambil menggosok gosokan tangannya.
Ia takut jika benda itu ketahuan oleh Erlina. Namun dengan memantapkan hatinya mbok Tarim berusaha tenang karena beranggapan jika majikannya ini adalah wanita buta yang tidak bisa melihat apa-apa.
Namun dugaannya salah, Erlina telah melihat benda apa itu.