Cafe

1065 Words
Di bandara, seorang pria dengan kacamata hitamnya turun dari pesawat pribadinya dengan style yang tampak casual dengan kemeja chambray dan celana chinos menambah kesan ketampanan pria itu tampak cool dan keren, apalagi dengan stylish rambutnya yang di undercut terlihat lebih formal dan berkharisma. Selama dua tahun tinggal di negara B membuat Angradioray Abhimana menikmati kedatangannya di tempat tanah kelahirannya kembali, yaitu negara A. "See you again in the country of my birth," gumamnya dengan tarikan pada sudut bibirnya membentuk senyuman. Liko Armada, sang asisten Dioray tampak terburu-buru menghampiri Dioray dari dalam pesawat. "Tuan!!" panggilan tersebut tak membuat pria itu menoleh, dia justru sangat menikmati sejuknya hawa dingin yang mampu menembus ke pori-pori kulitnya. Saat panggilan ketiga begitu nyaring, barulah pria itu menoleh dengan putaran mata malasnya menatap sang asisten. "Tuan. Nona muda memberi kabar kalau beliau tidak bisa menjemput anda sekarang." Liko menunjukkan chat pribadi dengan nona mudanya pada tuannya. "Untuk apa berharap pada Dorachina itu, mending kita nikmati kedatangan kita dengan berjalan-jalan di negara ini dulu." acuhnya yang tak mau berurusan dengan adiknya. "Apa tuan tidak lelah selama di perjalanan?" "Tidak ada kata lelah di kamusku. Kau tahu? Aku ini bagaikan pria kuat yang bahkan tidak bisa lelah dengan hal sepele seperti itu. Apalagi aku sudah tidak kembali ke negara ini lagi dari sekian lamanya." "Cuma dua tahun, tuan." koreksi Liko. "Sombong sekali tuanku yang malang." ejek Liko dalam hati. "Itu bagiku sudah lama sekali, terakhir sebelum aku ke negara B aku ingin membalas kebaikan wanita itu, tapi aku tidak sempat karna aku juga terluka." ujarnya saat teriaknya wanita dari masalalunya. "Kalau begitu selanjutnya kita akan kemana tuan?" "Kita ke restoran terdekat, aku ingin menikmati makanan enak lagi di negara ini." ujarnya yang mulai melangkah mendahului asistennya. "Baik tuan." Kring Seketika Liko berhenti dan merogoh saku jasnya untuk mengangkat teleponnya ke telinga membuat Dioray berbalik dan menoleh. "Eh tunggu, tunggu! siapa yang telfon?" "Supir dari nona muda, tuan." jawabnya. "Tidak usah di angkat. Lebih baik kita naik taksi online saja, karna aku tidak ingin si Dorachina tahu kalau aku sudah sampai." "Mana mungkin nona muda tidak tahu tuan. Bahkan nona muda lebih pintar dari anda, karna cctv disini sudah di retas olehnya." batin Liko merutuki tuannya. Anggradioray Abhimana (29th) CEO terbesar di perusahaan Armana Coporation di negara B. Ia pernah gagal menikah dengan seorang wanita karir yang di jodohkannya, sebab si wanita yang selingkuh dan meninggalkannya tepat di hari pernikahannya membuat Dioray tidak ingin di jodohkan lagi dengan siapapun, terkecuali pilihannya sendiri. Sedari kecil Dioray mempunyai penderita Myshopobia, yaitu alergi terhadap hal yang kotor, debu dll. Bahkan wanita pun membuat Dioray juga tidak bisa menyentuhnya, karna juga alergi terhadap wanita. Jika sampai bersentuhan walau hanya kulitnya pun itu akan membuatnya memerah dan membengkak. Akan tetapi seorang wanita yang dari dua tahun lalu yang pernah menolongnya tidak memberikan reaksi apapun pada tubuhnya. Maka dari itu selama itu juga ia terus mencari si wanita yang tidak ia ketahui siapa namanya dan dari mana asal-usulnya. * Sepulangnya dari restoran, Erlina membaringkan putrinya yang tertidur dengan hati-hati ke atas ranjang. Setelah itu, ia melucuti semua pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Belum sempat menyalakan showernya, terdengar bunyi ponselnya yang berdering di atas nakas membuat Erlina memakai handuknya kembali dan keluar dari kamar mandi. "Arsita," gumamnya saat melihat nama yang tertera di layar panggilannya. "Hallo?" "Kenapa sedari tadi aku tidak bisa menghubungimu?" "Maaf, hpku lowbat dan baru saja menchargernya." "Ya sudah tidak apa-apa. Apa kita bisa bertemu Lin? Ini penting sekali." "Mmhh.. Memangnya mau bertemu dimana?" "Di cafeku saja ya, nanti aku akan menjemputmu jam 7 malam." "Baiklah." tut Setelah meletakkan kembali handphone di atas nakas, Erlina pun kembali memasuki kamar mandi untuk menyelesaikan ritual mandinya. *** Jam 07: 55 wib di Cafe Roseland milik Arsita. Sesuai dengan janjinya Arsita menjemput Erlina tepat jam tujuh malam dan sampai di cafe pada jam delapan. Tanpa mengajak bayinya, Erlina menitipkan Dhea putrinya pada mbok Tarim, sebab putrinya sudah tidur, karena tidak mungkin ia membawanya saat tertidur. Saat ini mereka tengah menikmati hidangan yang sudah pelayan cafe hidangkan. "Arsi, apa yang mau kamu omongin?" tanya Erlina to the point, membuka suara setelah meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. "Lina. Sebelum aku bercerita, aku mau tanya sesuatu sama kamu." Arsita menatap serius Erlina sambil melipat tangannya di atas meja dan mencondongkan wajahnya ke depan. Erlina mengangguk kecil menanggapi ucapan sahabatnya. "Apa kamu masih mencintai suamimu?" Entah kenapa Erlina mendadak diam seribu bahasa dengan tatapan kosong ke arah meja, memikirkan kalimat apa yang akan ia lontarkan. "Lina, kenapa?" Arsita melambaikan tangannya di depan wajah Erlina membuatnya tersadar dari lamunannya. "Kalau boleh jujur, aku masih sangat mencintainya." jawabnya dengan suara yang pelan dan hanya Arsita yang dapat mendengarnya. Ucapannya membuat Arsita menurunkan bahunya lemah dengan putus asa. "Kamu masih mencintainya?" Arsita menggeleng tak percaya dengan kekehan kecewanya. "Tapi__" Arsita menautkan kedua alisnya menunggu kalimat sahabatnya yang menggantung. "Tapi apa?" tanya Arsita yang sudah tak sabar. "Mulai sekarang aku membencinya, sangat membencinya bahkan sampai ke tulang rusukku." desisnya. Entah kenapa jawaban itu membuat Arsita tersenyum puas. "Kata-kata itulah yang ingin ku dengar dari bibirmu. Apa kamu sudah tahu?" pertanyaannya membuat Erlina menghela nafasnya kasar. Erlina mengangguk dengan nafas tercekat di tenggorokannya. dadanya mulai sesak dan matanya mengembun. "Dia memang tidak berhak denganmu, Aku tidak ingin kamu selalu menjadi kucing peliharaannya. Lebih baik ceraikan saja dia." dengan tergebu-gebu Arsita juga merasakan penderitaan sahabatnya itu. "Aku tidak bisa menceraikannya Arsi." lirih Erlina dengan air mata yang telah menetes. "Kenapa? Kenapa tidak bisa Lina?!!" bukannya Erlina yang frustasi, tetapi Arsita, karna tak ingin melihat sahabat masa kecilnya selalu menderita di bawah kaki suaminya. "Karna aku belum membalasnya. Aku ingin melihat mereka hancur di tanganku Arsi." tangannya terkepal erat menunjukkan ambisinya yang kuat. "Kalau begitu, aku bantu." tekad Arsita. Erlina tersenyum yang juga di balas senyuman. "Arsi, apa kamu tahu?" ucapnya seraya tersenyum simpul. "Nggak," Arsita terkekeh membuat Erlina memukul punggung tangannya. "Aku belum bicara tau." cemberutnya. "Iya, terus apa?" "Sekarang aku sudah bisa melihat." "Apa?!" saking senangnya, Arsita sampai berseru membuat orang di sekitar menoleh ke arahnya membuat Erlina sampai menyembunyikan wajahnya di balik buku menu. Sedangkan si pelaku tanpa rasa malu, malah mengibaskan tangannya ke arah pengunjung cafe untuk tidak melihat ke arahnya. "Baguslah aku turut senang kamu bisa melihat lagi." senyumnya yang tidak bisa luntur, namun sejenak ia terheran," Tapi bagaimana bisa? Bukankah kamu takut operasi?" "Mungkin ini keajaiban juga keberuntunganku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD