Menjadi normal kembali

1006 Words
Brak Seorang wanita bangkit dari duduknya dengan seiring gebrakan meja yang di lakukannya. "Ini tidak bisa di biarkan! Sahabatku sudah sangat menderita semenjak dia menikah dengan lelaki banjngan itu!" Terlihat kilatan amarah dari wajahnya saat mendengar para bawahannya memberikan sebuah informasi tentang kejadian rumah tangga sahabat masa kecilnya. "Lalu info apalagi yang kamu dapatkan?" wanita itu mengangkat satu alisnya, meminta sisa informasi yang ingin di sampaikan bawahannya. "Tanpa di ketahui istrinya, pria itu telah menikah secara diam-diam dengan wanita yang kini bekerja sebagai pembantunya dan wanita itu kini berencana ingin merebut posisi dari sahabat anda." ungkapnya. "Kurang ajar! Ternyata dia ingin menantangku karna sudah berani mengkhianatinya." tangannya terkepal erat menandakan kalau wanita itu benar-benar marah. "Nona, perusahan AKA group sudah bekerja sama dengan kita selama dua tahun ini karna rekolusi dari sahabat anda. Bagaimana kalau kita cabut semua saham yang ada di perusahaan itu. Maka semua investor otomatis akan mencabut semua sahamnya jika tidak mau berurusan dengan anda." usul si pria sang bawahan dari wanita itu. "Jangan gegabah! Aku tidak akan langsung menjatuhkan sekali saja, tetapi aku mau membuatnya menerima balasannya berkali-kali lipat yang setimpal atas perbuatannya. Apalagi dengan cara itu, tidak akan mudah mendapatkan kembali kepercayaan ARHAM group. Karna AKA group adalah anak kesayangan ARHAM group, yaitu perusahan terbesar di kota ini. Sedangkan perusahaanku hanya serbuk dari kekuasaannya." "Maka dari itu, kita akan memulainya dari__" wanita itu menjeda kalimatnya dengan seringaian sembari menatap bawahannya yang di balas senyuman iblis serta anggukan samar oleh pria itu yang seakan mengerti dengan rencana atasannya. Kriiing.. Pandangan keduanya teralihkan pada ponsel di atas meja yang tengah berdering dan menandakan adanya panggilan dari seseorang. Wanita itu mengkode pada bawahannya menggunakan lirikan matanya yang tertuju pada pintu untuk keluar dari ruangannya. Pria itu mengangguk kecil sembari memberi hormat sebelum pergi. Setelah semuanya aman, Arsita, wanita itu mulai mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau di layarnya lalu menempelkan pada telinganya sembari berjalan ke arah jendela besar transparan yang menampilkan gedung gedung tinggi di depannya. "Hallo kak, ada apa?" "..." "Bukannya aku sudah mengabarimu? Kenapa kau selalu banyak maunya sih!" "..." "Oke, oke. Setelah ini kita impas!" "..." "Can't you just calm me down for a moment?" (tut) panggilan di matikan sepihak membuat Arsita kesal setengah mati. "Dasar pria molekul!" makinya sembari menendang kaki meja sehingga membuat ujung jarinya yang terbentur. "Aw!! shhh... Ini semua gara-gara kakak sialan itu!" "Kalau saja di pulang kesini, aku akan membuatnya tersesat!" *** Erlina saat ini tengah berada di restoran ternama. Ia sedang berjalan-jalan dengan Dhea putrinya serta mbok Tarim yang juga ikut untuk menjaga putrinya. "Mbok, apakah mbok senang saya ajak kesini?" entah pertanyaan apa yang Erlina lontarkan hanya sekedar untuk basa basi saja. "Lebih dari itu nyonya, karna ini pertama kalinya saya kesini dan itu membuat saya tidak bisa berkata apa-apa setelah datang ke tempat ini." sahut mbok Tarim dengan jujur. "Baguslah kalau mbok Tarim suka." "Ekspresinya memang tidak bisa berbohong kalau mbok Tarim memang senang aku ajak kesini." batin Erlina tersenyum lembut ke arah mbok Tarim yang sedang menggoda putrinya. "Terima kasih Tuhan, engkau telah menyembuhkan penglihatanku, jikalau tidak karna aku yang jatuh di kamar mandi tadi malam, mungkin selamanya aku tidak akan bisa melihat dunia yang indah ini." monolognya yang hanya dirinya sendiri yang mendengarnya. Jatuh? Ya, Erlina tak sengaja terjatuh di kamar mandi setelah menidurkan kembali bayinya yang bangun dan rewel. Setelah itu Erlina yang hendak membuang air kecil tidak sengaja menyenggol sabun cair hingga terjatuh dan isinya tertumpah membuat Erlina sampai menginjaknya dan berakhir terpeleset hingga kepalanya membentur ujung bathup. Sejak saat itu penglihatan Erlina sedikit membaik tetapi masih sedikit buram untuk melihat dengan normal. Tetapi Erlina tidak mengatakan kepada siapapun kalau dirinya sudah bisa melihat agar ia bisa membuka kedok orang yang ingin mencelakainya. Biarlah itu akan menjadi rahasia terbesarnya yang ia sembunyikan. * Di sisi lain seorang pria tengah mondar-mandir di ruangan kerjanya dengan perasaan gelisah, membuat orang di depannya sampai pusing melihat kelakuan bosnya yang tidak bisa diam. "Dasar adik Doracina yang tidak bisa di andalkan!" umpatnya kesal. "Sudahlah tuan, mungkin mood nona muda juga tidak baik-baik saja disana." "Kau tahu apa tentang dia hah!" pria itu berhenti berjalan dan menatap asistennya dengan tajam," Dia hanya ada maunya saja datang kepadaku, tapi jika aku yang membutuhkan.. kau lihat, apa yang dia lakukan padaku, hah!" emosinya yang sudah berada di ujung ubun-ubun. "Tuan kan tahu, kalau nona muda masih sibuk mengurus beberapa cabang proyek tuan Rasyid yang di negara A itu. Apalagi harus sibuk mengatur pembangunan jalan besar yang di atur oleh tuan kepada nona muda." "Apa tidak sebaiknya jika tuan muda turun tangan sendiri untuk mencari wanita itu?" lanjutnya lagi sampai membuat pria itu mengebrak meja dengan kedua tangannya. "Apa kamu bilang?!" nyali asisten itu seketika menciut saat pandangan bosnya itu melotot tajam ke arahnya, namun sejenak pria itu tertawa membuat sang asisten di buat heran dengan tingkah tuannya yang absurd. "Hahahahaha... Idemu benar sekali! Kenapa baru sekarang kau mengatakannya, hah!" Jika bukan menjadi asisten, pria itu memilih mundur saja, daripada di hadapkan dengan pria aneh seperti bosnya yang ini. "Sejak dulu aku sudah mengatakannya berkali-kali padamu tuan, tapi dirimu saja yang bodoh." kalimat itu hanya mampu asisten itu ucapkan dalam hati, kalau tidak itu akan berpengaruh pada gaji atau nyawanya. "Atur jadwal pesawat pribadi untukku sekarang juga, kita akan pergi ke negara A untuk mencari wanita itu, sekaligus bertemu dengan Dorachina yaitu, adikku tercinta." Mengapa pria itu menyebut adiknya sebagai Dorachina? Karna sang adik dari dulu sangat menyukai film kartun yang seperti kucing gemuk yang mempunyai kantong ajaib dengan nama Doraemon. Karna sang adik dulunya kuliah di China dan menjadi penduduk China dengan potongan rambut seperti China, maka pria itu memberi nama panggilan sang adik dengan sebutan Dorachina. Sangat cocok sekali bukan? "Maaf tuan, penerbangan sekarang tidak bisa di lakukan, karna cuaca buruk akan berakibat fatal bagi para penumpang." lapornya setelah selesai menelepon seseorang tentang kabar penerbangan. "Bagaimana kalau kita naik mobil saja?" usulnya tanpa pikir panjang membuat sang asisten mulai jengah. "Jangan lelucon tuan, dari negara B ke negara A tidak sedekat pasar tradisional." ucapnya asal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD