"Saya minta maaf soal tadi malam mbk." Riana membawakan jus jeruk di tangannya dan memberikan pada Erlina.
Sebelum memberikan jus itu, Riana meludahi jusnya di depan Erlina dengan seringaian.
"Minumlah jus jeruk yang enak ini," batin Riana tersenyum puas.
Erlina melirik sebentar, setelah itu ia kembali bersikap acuh tak memperdulikan kedatangan pembantunya yang meminta maaf sambil memberikan minuman. Erlina mengabaikannya tanpa berniat mengambil minuman itu dari tangannya. Ia malah asik bergurau dengan Dhea putrinya yang masih berumur tiga bulan itu.
Entah permintaan maaf yang tulus ataupun hanya pura-pura Erlina tidak peduli itu.
"Dhea sayang, ke taman belakang yuk! Di sini panas sekali ya, hawanya." Erlina mengipasi wajah putrinya dengan tangannya seperti cuaca yang memang benar benar panas.
"Mbok Tarim!!" panggilnya pada asisten lamanya.
Setelah terpanggil bok Tarim langsung bergegas ke ruang tamu tempat majikannya berada. Ia menunduk hormat pada Erlina sembari bertanya dengan apa yang di butuhkannya.
"Bawa Dhea ke taman belakang ya mbok, saya mau ke kamar dulu sebentar." perintah Erlina membuat mbok Tarim mengangguk.
"Apa nyonya menginginkan sesuatu? Biar saya ambilkan nyonya." tanya mbok Tarim menawar yang langsung di beri respon gelengan kepala.
"Tidak perlu mbok, bawa saja putriku ke taman belakang dulu, nanti aku akan menyusulnya." titah Erlina.
Riana yang sedari tadi di abaikan menghentakkan kakinya kesal, ia memberenggut dan menghentakan gelas yang berisi jus itu dengan kasar ke atas meja, dalam hati ia memaki karna tidak di perdulikan keberadaannya.
"Awas kau Erlina! Aku akan selesaikan tujuanku dengan cepat untuk membuatmu menderita." lirihnya yang membuat siapapun tidak mampu mendengarnya.
Kepergian mbok Tarim, Erlina ingin meraih tongkat di sampingnya, namun tongkat itu tiba-tiba menghilang membuat Erlina harus berjongkok untuk mencari tongkatnya.
Saat tangannya meraba ke seluruh lantai, seseorang menginjak tangannya dengan sandal membuatnya sampai meringis kesakitan.
"Riana! Apa yang kamu lakukan!!" Erlina memekik membuat Riana tersenyum sinis.
Erlina tahu jika itu perbuatan pembantu jahatnya itu, siapa lagi yang berada disana jika bukan dia.
"Dasar lemah!!"
"Pantas saja pak Farhan berpaling darimu, kamunya aja tidak bisa memuaskannya." ucapnya dengan lantang.
Jari tangan Erlina mencengkram erat menyatu pada dinding lantai, berusaha menetralkan emosinya yang semakin memanas dengan ucapan pembantunya," Sebelum kamu berbicara, tahu diri siapa kamu disini." seolah tenang namun penuh tekanan.
"Aku tahu kalau aku cuman art disini," Berjongkok untuk menyamakan tubuhnya dengan Erlina yang masih terduduk di lantai."Tapi mengapa tidak, jika sebuah batu kali bisa menjadi batu permata." Riana meraih dagu majikannya dengan tersenyum miring.
"Jangan mimpi!!" menyentak kepalanya untuk terlepas dari genggaman artnya.
Riana berdiri dengan tertawa keras, seperti mendengar sebuah lelucon.
"Hahahaha,"
"Tertawalah sepuas hatimu Riana! jika waktunya tiba aku akan membuatmu menerima balasan yang kamu lakukan." Batin Erlina menatap lurus kedepan dengan wajah datar.
"Memangnya apa yang semua pria harapkan dari orang cacat sepertimu!"
"Lancang sekali mulutmu!" teriak Erlina muak.
Terdengar sebuah langkah sepatu yang saling beradu dengan lantai marmer menimbulkan suara yang cukup keras.
Riana meraih pergelangan tangan Erlina, lalu menjatuhkan tubuhnya sendiri menggunakan tangan Erlina berupaya terdorong oleh Erlina.
"Aw! aduhh, apa salah saya mbak!" pekik Riana dengan lantang agar suaranya terdengar oleh seseorang.
"Setidak suka itukah mbak kepada saya? Mengapa anda mendorong saya, padahal saya hanya ingin membantu anda berdiri." Memang benar, ucapannya itu telah terdengar oleh seseorang yang sedang melangkah ke arah mereka.
Erlina berdiri seraya meraih tongkatnya, yang entah kapan sudah berada di sampingnya.
"Apa yang kamu lakukan Lina!!" seruan seorang pria yang Erlina kenal membuat dirinya berjingkat.
"M..mas Farhan. Kamu sudah pulang mas? kenapa cepat sekali?" Erlina ingin meraih lengan suaminya, namun segera di tepisnya membuat Erlina hampir terjatuh jika tidak menahan tubuhnya dengan tongkat.
"Kenapa kalau aku pulang lebih cepat! Agar aku tidak tahu apa yang kamu lakukan pada Riana!" Farhan berjongkok di depan Riana, lalu membantunya berdiri sembari mengelus punggungnya.
"Apa maksut kamu mas!" sentak Erlina tidak habis pikir.
"Sudahlah Lina, kalau bukan karna aku melihatnya sendiri tadi, aku tidak akan tahu perlakuanmu pada Riana."
Erlina menggeleng lemah,"Memang apa yang sudah kamu lihat?" memberi pertanyaan dengan tantangan yang tidak bisa membuatnya berharap lebih.
"Kamu hanya melihat saat Riana sudah terjatuh dan pelakunya, aku begitu?" menatap tajam suaminya yang sudah gelap mata.
"Iya!" jawabnya tanpa pikir panjang.
Erlina terkekeh miris, mengkedip kedipkan kelopak matanya berusaha menahan air matanya yang ingin keluar dari pelupuk matanya.
"Memangnya apa yang bisa di lakukan dengan orang buta sepertiku? Bukankah orang yang normal lebih leluasa dengan penglihatan mereka?" Erlina menaikkan satu alisnya menuntut penjelasan dari sang suami.
"Kamu lucu mas. Membela orang luar dengan segitunya, tanpa tahu akar masalahnya terlebih dahulu." berusaha tenang agar tidak terbawa emosi.
Riana merengkuh lengan Farhan dengan mesra, membuat Farhan hanya diam menatapnya. "Aku yang salah pak, aku tidak seharusnya membuat mbak Lina marah karena aku membantunya. Karna aku tidak tegaan orangnya, seharusnya aku tahu kalau mbak Erlina tidak menyukaiku makanya dia menolak pertolonganku." adunya yang berupa kebohongan belaka.
"Memutar balikkan fakta, akan berakibat pada karmanya." tekan Erlina tegas, pandangannya terarah ke depan dengan pandangan kosong.
Plak
Sebuah tangan menempel keras pada pipi putih nan mulus yang sekarang sudah di banjiri air mata.
"Kamu menamparku mas?!" terdengar lirih dengan penuh kekecewaan.
"Itu pantas buatmu yang tidak bisa di nasehati!"
"Sudahlah mas, Aku lelah. Aku lelah jika harus berdebat denganmu tiap hari hanya karna orang ketiga yang tidak tahu diri ini." setelah mengusap air matanya dengan kasar, Erlina pun berlalu dari kedua orang yang telah menyakiti hatinya.
"Kamu!!" Farhan ingin mengejarnya namun lengannya di genggam erat oleh Riana untuk menghentikan langkahnya.
"Sudahlah Pak, biarkan mbk Lina tenang. Disini sayalah yang salah, bapak boleh menghukum saya saja." alibinya yang memang selalu mencari perhatian.
"Kamu jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri Riana. Orang yang haus kekuasaan akan mudah menjadi jahat dan sombong." menatap lurus kedepan dengan tatapan tajam yang masih terlihat punggung istrinya yang sedang berjalan.
Riana tersenyum puas dalam hatinya mendengar ucapan majikan laki-lakinya yang tidak peduli dengan istrinya itu.