"Hah! Semoga nggak ada yang kena PHK di antara kita!" ucap Melody, setengah berbisik.
Beberapa Minggu ini suasana di ruang Divisi Marketing terasa tegang. Berita akuisisi perusahaan telah menyebar, dan kekhawatiran tentang restrukturisasi dan PHK menjadi topik utama.
Winona yang sedang membereskan beberapa file digital di kubikelnya refleks berkata, "Aamiin."
Kemudian, Winona menoleh ke arah kubikel Melody sambil membenahi kacamata anti-radiasinya. "Aku kan baru tiga bulan kerja di sini, Kak. Rasanya nggak siap kalau harus nyari pekerjaan baru. Karena aku pasti akan kesulitan beradaptasi."
"Tenang-tenang," sambung Julian — rekan kerja senior Winona yang lebih senior daripada Melody — dia sedang menyesap kopi hitam dari cangkir bergambar Batman. "Nggak akan ada PHK, kok. Kantor ini dibeli full asset, termasuk kita-kita ini, para b***k korporat. Hanya pemiliknya yang pindah tangan, dari Bapak Tua ke Tuan Muda."
Melody memiringkan kepala, matanya berbinar penasaran. "Sekaya apa ya bos baru kita? Beli perusahaan segede ini kek beli kacang jatuhnya."
Winona tertawa pelan, meski pelan, tawa itu terdengar lebih renyah dan santai dibandingkan saat dia masih menjadi 'Nyonya Ragahdo' yang terkekang. "Yang jelas, beliau pasti old money."
Julian mengangguk setuju. "Jelas itu, dan kabarnya beliau itu duda." Dia tersenyum jahil, lalu menunjuk ke arah Winona dengan ujung pena. "Siapa tahu bos baru kita itu jodohmu, Win. Kamu kan janda."
"Ish ...." Semburat merah muncul di pipi Winona. Dia kembali tertawa, menepis ledekan Julian. "Nggak gitu lah, Bang! Ada-ada aja kamu!"
Sejak bercerai, Winona sengaja tidak menyembunyikan statusnya sebagai janda, tapi dia merahasiakan statusnya sebagai mantan istri seorang CEO terkemuka di Indonesia. Baginya, Ragahdo adalah bab yang telah usai dan harus ditutup rapat.
Tiba-tiba, suasana canda tawa mereka terpotong oleh suara bariton yang tegas.
"Kalian semua, cepat bersiap!" Andreas, Kepala Divisi Marketing yang berbadan tambun, muncul dengan wajah panik dan napas tersengal. "Bos baru kita datang mendadak. Beliau akan melakukan inspeksi. Winona, Melody, Julian, kalian perwakilan Divisi Marketing. Saya tunggu di lobi, ya!"
Winona, Melody, dan Julian refleks terkejut. Mereka bertiga buru-buru merapikan kubikel dan penampilannya masing-masing.
"Aduh, lipstikku luntur!" Melody sibuk merapikan riasan di cermin kecil. "Harus touch up lagi deh."
"Win, kancing bajuku udah bener, kan?" tanya Julian sambil merapikan dasinya.
Winona, meskipun jantungnya berdebar karena terburu-buru, mencoba untuk tetap tenang. "Udah, Kak. Ayo cepat turun! Nanti Pak Andreas marah!"
Mereka bertiga bergegas menuju lobi, tempat karpet merah seolah sudah digelar untuk menyambut kedatangan sang 'dewa' baru. Saat sampai di lobi, ternyata tempat itu sudah dipenuhi oleh karyawan perwakilan dari berbagai divisi lain — administrasi, HRD, IT, arsip, dan yang lainnya — semuanya berbaris rapi dalam formasi penyambutan.
Winona berdiri di paling depan, tubuhnya tegak, berusaha menunjukkan profesionalisme maksimal. Dia menatap pintu kaca lobi yang besar, di mana sebentar lagi Bos Baru itu akan muncul.
Beberapa menit menunggu, deru mesin mobil mewah terdengar dari luar. Pintu kaca otomatis terbuka, dan langkah kaki berat nan teratur memasuki area lobi.
Semua mata tertuju ke satu titik. Para karyawan membungkuk hormat saat sosok itu muncul mengenakan setelan jas hitam, dengan potongan sempurna.
Tubuh bos baru itu menjulang tinggi dan memancarkan aura d******i yang luar biasa. Wajahnya adalah perpaduan pahatan Yunani dan ketajaman seorang pebisnis kelas kakap.
Begitu pandangan Winona menangkap wajah pria itu sepenuhnya, dunia di sekeliling wanita itu mendadak sunyi, seolah semua suara telah diredam. Wajahnya juga mendadak pucat pasi, mata membelalak lebar, memantulkan keterkejutan yang paling mendalam. Dan Jantung yang serasa berhenti, lalu berdetak lagi dengan kecepatan yang menyakitkan, di tambah aliran darah dalam tubuhnya pun terasa dingin.
Sosok Bos Baru yang baru saja melangkah gagah dan memancarkan aura dingin itu ....
Adalah Ragahdo Dirgantara.
Mantan suami Winona.
Pria yang tiga bulan lalu tidur seranjang denganya. Pria yang pernah dia cintai sepenuh hati, tapi memilih mencampakkannya.
Ragahdo berjalan perlahan, didampingi oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya. Matanya yang tajam menyapu setiap wajah karyawan yang berbaris menyambutnya, seolah sedang menilai kejujuran dan profesionalisme mereka.
Dan kemudian, tatapan mata tajam itu berhenti.
Ragahdo melihatnya, dia melihat sang mantan istri. Tetapi, berbeda dengan expresi Winona, expresi pria itu tidak menunjukkan keterkejutan, tidak ada pula kegugupan. Yang ada hanya tatapan datar yang sangat singkat, secepat hembusan napas.
Namun, di kedalaman mata Ragahdo terdapat kilatan pengenalan yang mungkin hanya disadari oleh Winona.
Ragahdo tampak tak peduli, seolah Winona hanyalah mainan yang sudah dia buang karena bosan. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju deretan manajemen perusahaan. Dia tidak memberikan sapaan, tidak memberikan senyum pada semua orang, yang ada hanya keheningan yang mematikan.
Winona masih berdiri terpaku, kakinya seolah dicor ke lantai marmer. Dia ingin lari, ingin bersembunyi di bawah meja terdekat, tapi tubuhnya menolak bergerak.
Ragahdo Dirgantara, mantan suaminya, sang pemilik seluruh aset perusahaan ini, kini adalah atasannya.
Tiga bulan berjuang melupakan Ragahdo, tiga bulan menata hidup baru, hancur hanya dalam hitungan detik. Dia tidak hanya akan terus melihat wajah tampan Ragahdo. Tapi, dia juga akan bekerja untuk Ragahdo.
"Winona, kamu kenapa?" bisik Melody, menyentuh lengan Winona karena melihat wajah rekannya itu berubah memucat. "Apa kamu sakit? Kamu kok kayak lihat hantu, sih?"
Winona tidak menjawab, dia hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, karena tenggorokannya tercekat.
Julian di belakangnya menimpali dengan antusias karena tidak melihat wajah pucat Winona. "Gila! Bos kita keren banget! Auranya kelihatan mahal banget."
Lagi, Winona tak menjawab, dia hanya mengangguk samar, masih tidak mampu mengeluarkan suara.
Ragahdo kini berdiri di podium kecil di ujung lobi, dia mulai berbicara. Suaranya terdengar berat, dalam, dan berwibawa — suara yang sama di tiga bulan lalu mengerang tanpa gairah saat berada di atas tubuh Winona.
"Selamat pagi. Saya Ragahdo Dirgantara," ucapnya, suaranya memenuhi ruangan. "Mulai hari ini, perusahaan ini 100% berada di bawah kendali penuh saya. Yang harus kalian tahu tentang saya adalah, saya tidak mentolerir kemalasan kalian, dan saya mengharapkan loyalitas mutlak dari kalian."
Ragahdo berhenti sejenak, matanya sekali lagi menyapu barisan, dan kali ini, dia menatap wajah Winona lebih lama. Bukan tatapan lembut, melainkan seperti tatapan seorang predator yang baru saja menemukan kembali mangsa lezatnya yang sempat kabur.
"Saya berjanji," lanjutnya dengan senyum ramah, tapi tampak menyeramkan di mata Winona. "Bahwa akan ada perubahan total di sini. Dan saya pastikan, setiap aset yang saya miliki, akan saya kelola dengan sangat baik."
Aset.
Kata itu menghantam Winona dengan keras. Apakah dia kini kembali menjadi salah satu aset Ragahdo? Ya, mungkin benar, karena saat ini, dia adalah karyawan yang pria itu milikki dan pria itu bebas mengendalikan dia selama jam operasional berjalan.
Selama sisa pidato singkat Ragahdo, Winona hanya bisa berdiri membeku, merasakan panas dingin menjalari tubuhnya. Di tahu, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai, dan ini jauh lebih buruk daripada menjadi istri kontrak Ragahdo yang diabaikan.
"Ya Tuhan ... takdir macam apa ini?"