Bagi seluruh karyawan PT Cahaya Gumilang, Ragahdo adalah pahlawan penyelamat perusahaan. Namun, bagi Winona, Ragahdo adalah monster yang baru saja meruntuhkan dinding pertahanan yang dia bangun dengan susah payah selama tiga bulan terakhir.
Sepanjang sisa jam kerja, Winona tidak bisa fokus. Setiap kali pintu lift berdenting atau langkah kaki sepatu pantofel terdengar melewati lorong divisi marketing, jantungnya mencelos. Wanita itu merasa seperti buronan yang sedang menunggu waktu untuk tertangkap.
Namun, hingga jam dinding menunjukkan pukul lima sore, Ragahdo tak kunjung muncul di Divisi Marketing. Pria itu masih sibuk mengikuti rapat di lantai atas, membahas masa depan PT Cahaya Gumilang agar kembali bangkit dan meraih kejayaannya bersama jajaran direksi.
"Akhirnya aku bebas!" Winona menghela napas lega saat dia akhirnya melangkah keluar dari lobi gedung.
Saat ini, bagi seorang Winona, udara sore Jakarta yang panas dan penuh polusi terasa jauh lebih baik daripada oksigen di dalam kantor yang sudah terkontaminasi oleh aroma parfum maskulin Ragahdo.
Dia berjalan dengan langkah cepat menuju halte bis yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari kantor. Dia hanya ingin pulang, masuk ke kontrakan kecilnya, mengunci pintu, dan menangis sepuasnya.
Dan dia harus segera memikirkan cara untuk mengundurkan diri secepat mungkin. Persetan dengan kontrak kerja, dia tidak bisa berada di bawah satu atap yang sama dengan pria itu.
Tiba-tiba, suara klakson yang nyaring dan arogan memecah lamunan Winona.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik melambat dan berhenti tepat di samping Winona. Kaca jendela yang gelap perlahan turun, menyingkap wajah yang selama ini terus menghantui tidurnya.
"Masuk!"
Hanya satu kata, sebuah perintah singkat tanpa embel-embel basa-basi. Suara itu dingin, sama seperti terakhir kali mereka bicara di atas ranjang yang penuh duka.
Winona berhenti melangkah, jantungnya berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena cinta. Ada rasa sesak yang bercampur dengan kemarahan yang mulai mendidih. Dia menatap Ragahdo datar, menekan semua rasa sakit ke dasar hatinya yang terdalam.
"Tidak, terima kasih," jawab Winona tenang, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Wanita itu kembali berjalan. Kali ini, langkahnya lebih cepat, nyaris seperti berlari kecil. Dia tidak mau terjebak dalam gravitasi pria itu lagi. Satu tahun sudah cukup baginya menjadi bayangan.
Namun, Ragahdo bukan pria yang terbiasa dengan penolakan. Terdengar suara pintu mobil yang dibanting keras. Langkah kaki yang lebar dan berwibawa itu dengan cepat menyusul Winona. Dalam hitungan detik, sebuah tangan besar dengan jemari kokoh mencekal lengan wanita itu, memaksanya berhenti dan berbalik.
"Aku bilang masuk, Winona!" Ragahdo menggeram. Matanya menatap tajam, ada kilat otoritas yang memperlihatkan jika dia punya kuasa dan tidak suka dibantah.
Winona menyentak tangan Ragahdo dengan kasar hingga pria itu tertegun. Dia berdiri tegak, menatap mata Ragahdo — tatapan yang dahulu selalu dia hindari, karena setiap kali mata mereka bertemu, jantungnya berdetak tak karuan, pipinya memanas oleh rasa malu, dan hatinya dipenuhi bunga-bunga cinta.
"Aku nggak mau!" bentak Winona. "Memangnya siapa kamu maksa-maksa aku?"
Napas Ragahdo tercekat, dia melepaskan genggamannya dan berdiri terpaku di trotoar. Matanya membelalak sedikit, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Karena selama setahun pernikahan mereka, Winona adalah definisi wanita lemah lembut dan penurut. Dia selalu menggunakan kata "Saya" dan "Anda" yang sangat formal.
Winona adalah istri yang suaranya nyaris tidak pernah terdengar jika dia tidak ditanya.
Tapi sekarang? Wanita di depannya ini menggunakan kata "Aku" dan "Kamu". Nada bicara yang tajam, tatapan yang menusuk, dan ada api di dalam matanya yang tidak pernah Ragahdo lihat sebelumnya.
"Aku bosmu," jawab Ragahdo setelah berhasil menguasai keterkejutannya. Suaranya kembali rendah dan mengintimidasi.
Winona tidak gentar. Dia justru mengangkat tangan kanannya, mengarahkan pergelangan tangannya ke depan wajah Ragahdo. Jari telunjuk kirinya mengetuk-ngetuk jam tangan berharga murah itu dengan gerakan yang sengaja dibuat provokatif.
"Lihat ini baik-baik! Jam kerja sudah selesai lima menit yang lalu," ucap Winona dengan nada sarkastik yang kental. "Dan sekarang, kita sedang berdiri di luar gedung kantor. Jadi, di sini kamu bukan bosku. Dan maaf ...."
Winona menjeda kalimatnya, menarik napas panjang yang terasa membebaskan. "Aku tidak mengenal kamu."
Ragahdo merasa seolah baru saja ditampar di tengah keramaian. Senyum miring — perpaduan antara rasa tidak percaya dan ketertarikan yang aneh — tersungging di bibirnya. "Kamu lupa sama mantan suamimu sendiri, Winona?"
Luka itu kembali menganga di hati Winona, tapi wanita itu jelas tidak membiarkan darahnya terlihat. Dia tersenyum sinis, sebuah senyum yang menyimpan ribuan kepedihan yang sudah membeku menjadi es.
"Kamu lupa sama kata-kata terakhirmu malam itu?" balas Winona telak. "Kamu bilang, 'Setelah itu, berpura-puralah jika kita tidak kenal'. Jadi sekarang, aku hanya sedang menuruti keinginanmu, Ragahdo yang Terhormat. Ingat, kita tidak saling kenal!"
Kalimat itu menghantam Ragahdo tepat di ulu hati. Senjata yang dia ciptakan sendiri kini berbalik menusuknya. Dia ingin membalas, ingin menarik wanita itu ke dalam pelukannya dan mengingatkannya siapa yang pernah memegang kendali, tapi lidahnya kelu.
Tanpa menunggu balasan lagi, Winona berbalik. Dia berjalan dengan punggung tegak, tidak menoleh lagi ke belakang. Dia terus berjalan menuju halte, meninggalkan Ragahdo yang masih berdiri mematung di pinggir jalan raya yang padat.
Ragahdo berdiri di sana, mengamati punggung Winona yang perlahan menjauh dan hilang di antara kerumunan orang yang mengantre bis. Bau asap knalpot dan hiruk pikuk kota seolah menghilang, menyisakan aroma manis dan bayangan indah tubuh Winona yang kini tampak jauh lebih hidup.
Dulu, menikahi Winona hanyalah sebuah kewajiban. Wanita itulah yang dia anggap membosankan karena terlalu penurut. Tapi wanita yang baru saja membentaknya tadi? Dia jelas bukanlah Winona yang dia ingat. Dia seperti api yang berkobar di tengah salju.
Ragahdo menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan, sebuah kebiasaan saat dia merasa tertantang. Alih-alih marah karena dihina di depan umum, sebuah senyum aneh justru terpasang di wajah tampannya. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya, rasa penasaran yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Sangat menarik!"
Lalu, Ragahdo kembali masuk ke dalam mobil mewahnya. Dia menyalakan mesin, tapi matanya tetap tertuju pada halte bis yang ada di kejauhan.
Pikirannya melayang kembali ke tiga bulan lalu. Ke malam di mana dia pikir, dia hanya menjalankan tugas terakhir untuk melepaskan beban. Namun sekarang, dia menyadari satu hal, jika ternyata, dia tidak pernah benar-benar mengenal wanita yang pernah menjadi istrinya itu.
Dan, fakta bahwa Winona sekarang membencinya justru membuat Ragahdo merasa lebih bersemangat daripada memenangkan tender triliunan rupiah.
"Kamu pikir kita sudah selesai, Winona?" gumamnya sambil mencengkeram kemudi. "Ini bahkan belum dimulai."
Ragahdo menginjak pedal gas, mobilnya melesat membelah jalanan Jakarta. Di dalam kepalanya, dia sudah menyusun rencana. Jika di kantor dia adalah bosnya, dan di luar dia adalah orang asing, maka dia akan mencari cara agar Winona tidak punya pilihan selain kembali mengenalnya lebih dalam, dan mungkin saja lebih intim.
"Jandaku yang manis, mari kita berhubungan lagi!" Tapi kali ini, Ragahdo pastikan tanpa adanya perjanjian kontrak selama satu tahun.