Pintu penthouse mewah yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu terbuka secara otomatis.
Ragahdo melangkah masuk, menginjak lantai marmer yang dingin, disambut oleh hening yang dibalut kemewahan yang kaku. Namun, keheningan itu tak bertahan lama.
"Halo, Sayang. Tumben kamu pulang tepat waktu." Sebuah suara manja seorang wanita menyambutnya.
Dari arah balkon yang menghadap pemandangan lampu-lampu kota Jakarta, muncul wanita cantik dengan balutan gaun tidur sutra berwarna merah menyala.
Dia bernama Jelita. Wanita yang menjadi alasan Ragahdo menutup pintu hatinya untuk Winona. Jelita diperjuangkan mati-matian oleh Ragahdo, bahkan saat pria itu terpaksa terikat kontrak pernikahan dengan wanita lain.
"Ya ... soalnya tadi di kantor baru cuma rapat sama para direksi saja."
Ragahdo menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa kulit yang harganya setara dengan satu unit mobil LCGC. Penat di pundaknya terasa berlipat ganda, bukan karena pekerjaan, melainkan karena bayangan wajah Winona di halte tadi yang terus terbayang di pikirkannya.
"Ih ... kok kamu langsung duduk, sih? Kamu kan belum lepas sepatumu, Sayang!" Jelita mendekat, tapi dia menjaga jarak agar parfum mahalnya tidak bercampur dengan aroma keringat Ragahdo.
"Jelita ...." Ragahdo menatap kakinya yang terbungkus sepatu pantofel mahal. "Tolong lepasin sepatuku, dong! Aku capek banget hari ini."
Jelita tersentak, wajah cantiknya mendadak berubah menjadi ekspresi bergidik ngeri. Dia bahkan melangkah mundur satu langkah, menatap sepatu Ragahdo seolah benda itu adalah tumpukan sampah yang menjijikkan.
"Ih, nggak mau lah! Kotor, Sayang. Tanganku baru saja selesai manicure. Lepas sendiri, ih!"
Ragahdo tidak marah. Sebaliknya, dia justru tertawa. Namun, tawa itu bukan karena dia terhibur oleh tingkah manja Jelita. Tawa itu adalah tawa getir yang lahir dari sebuah ingatan yang tiba-tiba menyeruak tanpa izin.
Memori itu datang seperti kabut tipis tapi sangat pekat, membawanya kembali ke sebuah rumah yang sangat sederhana untuk seorang Ragahdo — rumah yang dulu dia beli hanya untuk menaruh Winona agar tidak mengganggu dunianya.
Dulu, setiap kali dia pulang ke rumah itu — meskipun sangat jarang — suasananya sangat berbeda. Saat itu, Ragahdo datang kalau dia sedang bertengkar dengan Jelita, atau merasa kelelahan karena banyaknya pekerjaan di kantor. Saat itu, dia akan langsung duduk di sofa, mengabaikan kehadiran Winona yang selalu menunggunya dengan setia.
Tanpa perlu diminta, tanpa perlu diperintah, Winona akan bersimpuh di lantai di depan kakinya. Jemari wanita itu akan menyentuh sepatunya dengan penuh takzim, seolah melayani Ragahdo adalah ibadah paling suci baginya. Tidak ada rasa jijik di wajah Winona, yang ada hanya binar kasih sayang yang saat itu Ragahdo anggap sebagai beban.
“Mau minum apa, Pak? Teh hangat atau kopi? Saya masak sup iga, sambel tomat dan tempe goreng. Itu kan makanan kesukaan Anda. Apa Anda mau saya ambilkan? Kalau tidak mau, katakan saja apa yang ingin Anda makan, nanti saya masakkan yang baru.”
Suara lembut Winona terngiang di telinga Ragahdo. Begitu tulus, begitu menghamba.
Dulu, Ragahdo sering menjawabnya dengan ketusan atau bahkan mengabaikannya. Namun sekarang, di tengah kemewahan penthouse ini, dia menyadari bahwa pelayanan tulus itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang miliaran di rekeningnya.
"Hey, Sayang!" Suara melengking Jelita memecahkan gelembung memori itu.
Ragahdo mengerjap, kembali ke realita di mana Jelita berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.
"Buruan lepas sepatumu, terus mandi, ganti baju. Habis itu ayo kita pergi makan malam ke restoran yang lagi hitz di i********:. Aku sudah booking tempat, susah banget loh dapatnya!"
Ragahdo memijat pangkal hidungnya. "Aku lelah, Jelita. Aku lagi pengen makan masakan rumahan. Makan masakan kamu, misalnya."
Jelita tertawa terbahak-bahak, seolah Ragahdo baru saja menceritakan sebuah lelucon yang paling konyol abad ini. "Aku ...? Masak ...? Sayang, kamu nggak salah omong? Kalau nanti aku masak, nanti kuku aku bisa rusak. Terus nanti wajah aku jadi jelek karena kena uap panas di dapur. Lagian ngapain sih kamu minta aku masak? Kamu kan tahu dari dulu aku nggak bisa masak."
"Ya kamu kan bisa belajar, Jelita! Minimal masak menu yang sederhana," sahut Ragahdo, ada nada jengkel yang mulai merayap di suaranya.
"Buat apa aku belajar masak? Uangmu banyak, unlimited. Kamu bisa sewa chef pribadi bintang lima untuk masak di sini kapanpun kamu mau. Ada-ada aja kamu, tiba-tiba minta yang aneh-aneh." Jelita menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun, tiba-tiba raut wajah Jelita berubah curiga. Matanya menyipit menatap Ragahdo. "Eh, tunggu ... jangan bilang kalau kamu merindukan perlakuan mantan istrimu yang kampungan itu, ya? Kamu mau makan makanan rumahan karena kangen masakan dia? Iya? Kamu kangen dilayani seperti raja oleh perempuan udik itu?"
Jelita mulai mengomel, suaranya naik satu oktaf. "Dengar ya, Ragahdo! Aku ini super model. Aku bukan pelayan rumah tangga seperti dia. Jangan pernah bandingkan aku dengan dia!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Jelita terasa seperti gesekan amplas di telinga Ragahdo. Dulu, dia akan setuju dengan ucapan wanita itu. Namun malam ini, entah mengapa, kata "kampungan" dan "udik" yang disematkan pada Winona terasa sangat salah.
Ragahdo tidak menjawab. Dia sedang tidak ingin berdebat. Dia merasa dadanya sesak oleh sesuatu yang dia sendiri belum mengerti apa namanya. Apakah itu penyesalan? Atau hanya sekadar rasa haus akan kenyamanan yang dulu pernah dia sia-siakan.
Tanpa sepatah kata pun, Ragahdo berdiri. Dia melepaskan sepatunya sendiri dengan kasar, lalu berjalan melewati Jelita begitu saja.
"Sayang, kita jadi makan malam nggak?!" teriak Jelita kesal.
"Nggak jadi. Pergi sendiri saja sana!" sahut Ragahdo dingin sebelum membanting pintu kamarnya.
Di dalam kamar yang luas, Ragahdo menyandarkan punggungnya di balik pintu. Dia memejamkan mata, dan kegelapan di balik kelopak matanya justru memutar kembali adegan di halte sore tadi.
“Aku tidak mengenal kamu.”
Kalimat itu bergema, menghantam dinding-dinding kesombongannya hingga retak. Ragahdo menyentuh dadanya yang berdegup tidak beraturan. Ada rasa lapar yang aneh, bukan lapar akan makanan, melainkan lapar akan kehadiran sosok yang dulu dia anggap sebagai 'penalti'.
Ragahdo baru menyadari, selama setahun waktu itu, dia tidak sedang menghukum Winona. Dia sedang membangun penjara bagi dirinya sendiri. Dia membuang berlian karena menganggapnya kerikil.
"Kenapa kamu berubah secepat itu, Winona?" Ragahdo tiba-tiba tersenyum. "Jika kamu sudah lupa bagaimana rasanya menjadi milikku, maka aku akan mengingatkan padamu di kantor besok, Winona. Setiap detiknya!"
***
Di sudut kota yang berbeda, Winona duduk di lantai yang hanya beralaskan karpet tipis. Di depannya terdapat sepiring nasi dan lauk sederhana. Air matanya sudah kering, dia sudah merasa puas menangis, tapi sesak di dadanya belum juga hilang.
Dia menyuap nasi itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Jangan lemah, Winona!" bisiknya pada diri sendiri.
Namun, jauh di lubuk hatinya, dia tahu bahwa pertemuan tadi sore hanyalah awal dari badai yang jauh lebih besar. Dia bisa melihat kilat di mata Ragahdo — kilat yang sama yang dia lihat saat pria itu menundukkannya di atas ranjang tiga bulan lalu.
Kilat obsesi.
Winona memeluk lututnya, menatap langit-langit kontrakannya yang sedikit berjamur. Dia telah menyerahkan segalanya malam itu agar dia bisa pergi dengan tenang. Tapi sepertinya, takdir punya rencana lain yang jauh lebih kejam.