Pacar Gila

1279 Words
Maudy masih saja cemberut, sekarang ia berada di dalam mobil bersama Orlando yang tengah menyetir, entah kemana si Pemuda mau membawanya. Maudy memakai sweater kebesaran berwarna hitam, ia sengaja bukan hanya karena supaya hangat tapi juga karena tidak ingin si songong m***m itu kembali melihat lekukan tubuhnya. "Gausah cemberut terus deh, lagian yang liat kan pacar lo ini. Lo juga udah jambak rambut gue dengan sangat puas tadi. Untung aja rambut gue gak lepas" Orlando membagi fokusnya antara menatap jalanan dan Maudy. Demi apapun kepalanya masih nyut nyutan akibat jambakan Maudy yang sangat kencang itu. "Lo mau ngajak gue kemana sih? Ini udah jam 8 malam Orlando" Walaupun kesal tapi Maudy mengalihkan pandangan pada Orlando yang entah kenapa selalu tampan bahkan dilihat dari samping sekalipun. Ini tidak benar, Maudy tidak boleh terpesona pada si songong. "Lo mau nya gue ajak kemana? Gue sih ayo ayo aja. Kalo sekalian mau nyewa kamar di hotel pun gue gak masalah. Gue akan pilih hotel terbaik untuk malam pertama kita in--aaaaarggh " Orlando menghentikan ocehannya saat Maudy malah mencubit pahanya dengan keras. Orlando mengusap ngusap pahanya yang di cubit Maudy "sakit Maudya, dari pada lo cubit mending elus elus nih" Masih fokus menyetir Orlando mengambil tangan kanan Maudy dan membawanya ke paha yang tadi di cubit gadis itu, lalu membimbing tangan itu mengelus elus pahanya. Maudy yang melihat kelakuan Orlando kaget, dengan keras ia kembali memukul paha Orlando. Membuat Orlando kembali mengaduh dan melepaskan tangan Maudy. "Lama lama badan gue remuk lo pukulin terus Maudya" Sekarang Orlando memilih untuk mengalah dan berhenti menggoda Maudy, daripada badannya remuk. Sedangkan Maudy tidak peduli, ia memilih untuk memperhatikan jalanan di depannya saja. Ia tidak peduli Orlando membawanya kemana. Tapi tetap saja Maudy penasaran dengan satu hal. "Ngomong ngomong sahabat lo kemana? " Tanya Maudy. Orlando melihat ke arah Maudy sekilas sebelum kembali fokus pada jalan dan membelokan mobilnya memasuki jalan sempit. Ia tak menjawab pertanyaan Maudy. Maudy yang melihat Orlando membelokan mobilnya ke jalan yang sepi langsung berseru kaget. "Eh eh eh" Ia menggoyang goyangkan lengan Orlando dengan kedua tangannya bahkan badannya sudah bercondong ke arah Orlando. "Lo mau ngajak gue kamana Orlando? Ini jalanan sepi terus itu kenapa kita ke kuburan Pemuda Orlando" Kedua tangan Maudy beralih memegang erat tangan kiri Orlando, wajahnya celingukan menatap ke kanan dan ke kiri. Maudy sangat penakut, ia paling tidak suka pergi ke tempat gelap dan berhubungan dengan yang horror horror. Orlando yang melihat wajah ketakutan Maudy menahan tawanya. Maudy ini lebay sekali, ia baru tahu karena biasanya ia melihat Maudy dengan tampang kalem dan senyum manis. Sedangkan Maudy masih setia menatap ke arah samping kiri dimana kuburan berjejer rapi di sana, badannya semakin ia dekatkan ke arah Orlando. Aduh kenapa pemakaman ini panjang sekali sih, ini juga kenapa mobilnya malah melaju dengan sangat pelan. Mata Maudy beralih menata spion depan yang mengarah ke kursi belakang lalu tatapannya beralih pada jok belakang mobil. Di otaknya ia sudah membayangkan makhluk makhluk menyeramkan di sekitarnya. Tiba tiba mobil berhenti tepat di samping sebuah makam dengan taburan bunga yang masih segar. Maudy menatap horor, makam itu hanya berjarak beberapa senti saja dari samping jalanan. Maudy bahkan dapat melihat dengan jelas bentuk makam yang masih terlihat sangat baru. Ini sangat mengerikan. Pegangan tangan Maudy pada lengan Orlando semakin mengerat. Sedangkan Orlando masih berusaha untuk tidak tertawa. "Denger denger itu makam baru tadi sore, katanya orangnya meninggal bunuh diri di pohon depan sana" Dengan sengaja Orlando menyorotkan lampu mobil ke arah sebuah pohon besar di depan sana. Maudy melihat ke arah pohon itu, lalu bergantian melihat ke makam, wajahnya sudah entah bagaimana, sedangkan keringat dingin mulai bercucuran. Orlando yang melihat itu malah kesenangan. Ia suka sekali menggoda Maudy. "Dan katanya mayatnya melotot dan.. " "AAAAAAAAA" Maudy langsung loncat dan beralih duduk di pangkuan Orlando. Gadis itu memeluk tubuh Orlando erat bahkan ia tidak peduli dengan pinggangnya yang tertubruk mengenai setir. Maudy menyembunyikan wajahnya di leher Orlando, kedua tangannya memeluk erat bahu Orlando bahkan tubuhnya ia tempelkan sedekat mungkin dengan Orlando. Ia mulai menangis. Sedangkan Orlando tertawa dengan keras, ia puas menakut nakuti Maudy, bahkan tak peduli dengan tubuh Maudy yang ikut bergerak karena tawanya. Maudy tidak peduli ia menangis dengan memeluk erat Orlando, matanya terpejam erat di lekukan leher cowok itu. "Ayo hiks hiks ja hiks lan hiks hiks ay hiks ooo Orlando jalan hiks in mobilnyaaa huaaaaaa hiks hiks" Maudy menangis dengan keras, ia menggoyang goyangkan tubuh Orlando dengan wajah yang masih ia sembunyikan. Orlando menghentikan tawa nya saat melihat maudy yang menangis dengan pilu begitu. Ia tak tega mendengar suara tangisnya, ada sedikit penyesalan telah mengerjai Maudy, namun merasa lucu juga dengan tingkah Maudy yang kadang berlebihan. Orlando mengusap usap punggung Maudy sebelum kembali menstater mobilnya dan memundurkan sedikit kursinya. Dengan kesulitan ia menyetir melewati pemakaman. Sedangkan Maudy masih duduk di pangkuannya dengan masih menyembunyikan wajah di lehernya. Tangisnya sudah berhenti walaupun masih cegukan. Orlando merasakan lehernya basah dengan air mata Maudy. Ia kembali menghentikan mobilnya saat sudah sampai di jalan yang ramai. Maudy masih tidak mau melepas pelukannya, tangan gadis itu masih memeluk erat Orlando bahkan ia masih betah menyembunyikan wajahnya. Orlando merasa bersalah, ia tidak tahu jika Maudy akan setakut itu. Orlando mengelus elus punggung Maudy membiarkan gadis itu memeluknya, sesekali ia menghirup aroma sampo dari rambut Maudy yang wangi. "Udah Dy kita udah gak di pemakaman, sorry gue keterlaluan" Orlando masih setia mengelus elus punggung Maudy. Sedangkan Maudy sudah lebih tenang sekarang saat mendengar suara ramai ramai orang, entah dimana dia sekarang, tapi yang pasti ia sudah tidak di tempat menyeramkan lagi. Dengan mengumpulkan keberanian Maudy mengangkat wajahnya dari leher Orlando yang sudah basah dengan air mata nya itu. Pandangannya menatap sekeliling dan merasa bersyukur saat ia sudah berada di tempat yang ramai. Orlando tak tega melihat wajah Maudy yang penuh dengan air mata bahkan ingus gadis itu sampai belepotan, mata dan hidungnya sampai memerah. Dengan menahan tubuh Maudy, Orlando mengambil tissue dan mulai membersihkan wajah cantik Maudy dari ingus. Maudy yang menyadari perlakuan Orlando diam saja membiarkan cowok itu membersihkan wajahnya. Sesekali ia menatap wajah Orlando yang tampak merasa bersalah. Mereka bertatapan, tangan kiri Orlando membereskan rambut Maudy yang berantakan dan menyampirkannya ke samping telinga, satu tangannya lagi masih betah mengelus elus punggung Maudy. Maudy masih setia memandang Orlando, tangannya terangkat mengelus leher Orlando dan terus naik mengelus rambut lebat cowok itu sebelum akhirnya ia tarik rambut itu dengan kuat. "Aaaaaa stop stop Maudy stop sakiit Maudy stooop" Maudy terus menjambak rambut Orlando sampai kepala Orlando terkantuk-kantuk menyentuh sandaran kursi. Maudy menghentikan jambakanannya dan dengan sekuat tenaga ia memukul lengan Orlando membuat cowok itu mengaduh kesakitan. "DASAR COWO GILA, GAK PUNYA PERASAAN, SONGONG, MENYEBALKAN, GAK PUNYA HATI NURANIIIIII" Maudy mengakhiri pukulannya setelah puas melihat Orlando yang kelabakan menghindari pukulannya yang menyakitkan. Maudy kembali memindahkan tubuhnya ke kursi penumpang, wajahnya cemberut dan memerah menahan marah. Sedangkan Orlando masih mengaduh kesakitan, ia melirik ke arah Maudy yang dengan biasa selalu bersidekap d**a dengan bibir cemberut. "Udah puas mukulnya kan? Gue minta maaf beneran minta maaf Maudya" Orlando mengelus rambut panjang Maudy yang langsung di tepis oleh si empunya. " Gue mau pulang" Maudy berkata dengan ketus yang langsung di iyakan oleh Orlando. "Tapi jangan ke rumah dulu muka gue masih bengkak dan gak cantik" Maudy mengambil kaca di saku sweater nya dan mulai memperhatikan wajah bengkak nya. Sedangkan Orlando hanya bisa terkekeh melihat kelakuan ajaib gadis di sampingnya itu. Ia tidak pernah menyangka jika gadis yang selalu terlihat kalem itu. Memiliki banyak tingkah yang tidak dapat terduga. "Cantik kok, kapan sih Maudya pernah jelek" Orlando tak bisa menahan tangannya untuk kembali mengelus surai gadis itu. "Diem lo cowok gila, dasar gak punya perasaan" Maudy menatap ketus Orlando dan mengomelinya. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD