" Semalam lo kemana sih? " Tita mendengus sebal, semalam dia mengirim chat pada Maudy dan ingin curhat. Tapi gadis itu tidak membaca pesannya dan baru dibaca tadi pagi.
"Gue lagi ga mood ngomong Artitaaa lo mending diem deh" Maudy masih sebal dengan kejadian semalam, ia bahkan berangkat sekolah dengan wajah di tekuk.
Membuat Tita keheranan.
"Lo kenapa sih? Habis mimpi buruk lo" Tita merangkul bahu Maudy dan berjalan beriringan dengan Maudy yang cemberut.
Maudy hendak menjawab pertanyaan Tita saat ia melihat motor Mahen baru saja lewat begitu saja.
Wajah cemberutnya tiba tiba berubah menjadi merekah, matanya menjadi berbinar binar. "Ta ayo cepetan, ayang gue udah dateng" Maudy melepaskan rangkulan Tita dan berganti menarik lengan gadis itu untuk berjalan lebih cepat.
Tita mendengus malas saat tahu apa yang membuat sahabatnya berubah menjadi semangat.
"Ga akan ke kejar juga Ody cantik, lo mau lari juga tuh motor Mahen gabisa di kejar" Tita menghentikan langkah dan menyentak tangan Maudy "gue cape elah lari lari gak ada guna begini".
Tita berkacak pinggang, melihat kelakuan sahabatnya, yang sudah meninggalkannya berjalan lebih dulu. " Emang ya tuh bocah t***l banget kalo soal perasaan" Tita memilih melanjutkan jalannya dengan santai saja.
Sedangkan Maudy yang sudah lebih dulu tiba di depan kelas, merapikan rambutnya. Ia sudah tahu kalo Mahen sudah ada di dalam kelas, jadi sebisa mungkin Maudy harus terlihat kalem.
Maudy mulai melangkahkan kaki nya memasuki kelas, ia bisa melihat Mahen yang sedang membuka sweater yang di kenalan cowok itu tadi. Aduh ayang Mahen gamau neng Ody buka bantuin itu, Maudy cekikikan dalam hati menyadari tingkah absurd nya.
Dengan mempertahankan sikap kalem nya Maudy mendudukan diri di bangku nya, menyampirkan tas ke sandaran kursi dan bersikap sekalem mungkin.
Maudy melirik ke arah Mahen yang terlihat sedang bermain ponsel sekarang.
"Tumben pagi berangkatnya" Maudy mencoba berasa basi.
Mahen menghentikan ketikan pesan di ponselnya dan beralih menatap ke samping, ia menaikan kedua alisnya. Sangsi jika pertanyaan yang Maudy ajukan untuk dirinya. Tapi melihat gadis yang selalu tampak cantik itu menatap ke arahnya sambil tersenyum barulah Mahen menjawab.
"Iya nih, tadi nganter nyokap dulu ke pasar makanya ke pagian datengnya" Mahen membalas senyum Maudy dengan manis.
Bikin Maudy meleleh aja.
"Oh kirain sengaja dateng pagi" Maudy masih betah memperlihatkan senyum manisnya yang berharap Mahen akan terpesona.
"Lo ga bareng sahabat lo? Tumben sendiri" Biasanya Maudy ini tidak pernah lepas dari Tita kalo di sekolah, kemana mana selalu bersama. Makanya Mahen heran tumben sekali gadis itu sendirian.
Maudy meringis mengingat ia meninggalkan Tita tadi "itu gue tinggalin dia, soalnya dia lama" Dan Mahen hanya ber oh ria saja.
"Si Lando kayanya telat lagi, dia jemput Mia ke rumah nyokapnya"
Maudy mengangkat alisnya, agak sedikit kaget mengapa Mahen malah membahas cowok gila itu? Maudy sama sekali tidak peduli Orlando kemana.
Namun mengingat status ia dan Orlando sekarang, mungkin Mahen berfikir jika Maudy mencari Orlando.
Maudy tidak menjawab, ia memilih mengeluarkan buku dari dalam tas dan menyimpannya di atas meja. Ia jadi malas membahas Orlando apalagi jika mengingat kejadian tadi malam.
"Jangan cemberut, mereka cuma sahabat aja sekarang. Si Mia kan tinggal sama bokap nya disini dan lagi ada masalah. Makanya dia kabur ke rumah nyokapnya. Lando cuma mau nolong dia aja" Mahen yang melihat wajah Maudy yang cemberut menyalahartikan itu semua. Ia mengira jika Maudy cemberut karena Orlando menjemput mantan kekasih nya.
Padahal Maudy tidak peduli sama sekali.
"Dia pasti gak sempet ngabarin lo, soalnya berangkat subuh tuh anak" Mahen masih melanjutkan bicaranya, tidak ingin membuat Maudy berfikir macam macam pada kedua sahabatnya.
"Hahaha, iya gapapa ko gue ngerti" Daripada Mahen bahas Orlando terus kan. Mending Maudy iyakan saja semua omongannya. "Ngomong ngomong nanti lo latihan taekwondo ya? " Maudy memilih mencari topik lain saja.
"Iya sama Lando juga. Kenapa lo mau nonton? " Mahen kembali menatap Maudy yang menatapnya dengan senyum. Kalo ia tak ingat gadis di sampingnya ini kekasih sahabatnya. Pasti Mahen tidak akan menahan diri untuk tak terpesona pada Maudy.
"Gue gak nyangka kalo selama ini lo suka nonton kita latihan itu, karena ada Orlando disana" Mahen tak menunggu Maudy menjawab, ia memilih kembali melanjutkan bicara.
Sedangkan Maudy meringis.
Kenapa bahas dia lagi sih, lagian gue nonton itu karena ada lo Mahendra. Uuuh untuk gue cinta banget sama lo kalo engga gue pengen teriak di telinga lo sampe lo budek dasar cowok gak peka.
Maudy tak menjawab, dia membiarkan Mahen dengan segala asumsi nya saja, sekarang ia sudah malas berbasa basi dengan Mahen nanti bahas si cowok gila lagi.
Mahen juga tak berniat mencari bahan obrolan lagi dengannya, cowo itu memilih kembali fokus pada ponsel nya.
Tita yang baru sampai di kelas keheranan melihat sahabatnya yang diam saja, padahal tadi tuh anak semangat banget mau mepet si Mahen.
Tita mendudukan bokongnya di kursi samping Maudy, dan menyikut lengan gadis yang tengah pura pura membaca itu. "Kenapa lo? " Tita berbicara dengan berbisik bisik. Maudy melirik Tita dengan bola matanya saja tak menjawab dan memilih kembali pura pura membaca buku saja, mood nya sedang jelek sekarang.
***
"Gila ya, enak banget emang jadi penguasa sekolah tuh. Telat sampe hampir se jam aja gak di apa apain loh" Tita membereskan buku yang berada di atas meja nya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Pelajaran pertama baru saja berakhir dan sepuluh menit sebelum pelajaran berakhir Pemuda Orlando dan sang mantan tercinta baru datang.
Tak ada teguran apalagi hukuman untuk mereka, dengan ramah tamah sang guru malah meminta dua sejoli itu langsung duduk di bangku masing masing.
Sungguh nikmat sekali bukan?
"Yaudah sih biarin aja" Lagipula memang begitu kenyataannya. Tak akan ada yang berani membuat seorang Pemuda Orlando kesusahan di sekolah ini, siapapun tahu itu.
"Kenapa mereka ga balikan aja ya, kalo masih saling perhatian begitu" Tita berbisik bisik pada Maudy sambil mengarahkan pandangan ke arah Orlando dan Mia yang sedang menikmati sarapan bersama di bangku belakang sana.
"Yo nda tau ko tanya saya" Maudy masih kesal, mengapa sejak tadi pagi orang orang selalu membahas si Pemuda sih, Maudy malas mendengarnya.
"Sensi amat sih lo" Tita tidak tahu apa yang membuat sahabat nya itu sejak tadi pagi sensitif sekali.
"Jangan jangan lo cemburu ya?" Walaupun tak yakin dengan ucapannya barusan, tapi siapa tahu Maudy memiliki perasaan pada Orlando. Bagaimanapun dan dilihat dari manapun Orlando bisa dengan mudah membuat gadis manapun jatuh hati.
"Ck gue sumpah juga mulut lo, kalo masih bahas si Pemuda" Maudy menggerakan buku di tangannya seolah seolah akan memukul Tita, sedangkan Tita langsung cemberut.
Ponsel Maudy berbunyi dan dengan segera ia melihat siapa gerangan yang mengirimnya pesan.
0813322xxxxx
Jangan monyong monyong gitu bibirnya
Sengaja ya mau bikin gue gabisa nahan?
Maudy langsung mendengus sebal, ia tahu pesan dari siapa itu. Siapa lagi kalo cowok gila di seberang sana yang sedang tersenyum ke arahnya itu.
Maudy hanya membaca pesan itu, dan memasukan kembali ponselnya. Ia bahkan malas menyimpan nomor "pacarnya" Itu.
Hari ini sungguh menyebalkan sekali, membuat mood Maudy sangat jelek. Dari mulai Mahen bahkan sahabatnya di tambah si Pemuda, yang dengan genit nya mengedipkan sebelah matanya ke arah Maudy. Padahal tuh cowok gila lagi di suapin sama mantan tercinta nya.
Tbc