Namaku Nara.
Umurku dua puluh tahun.
Orang-orang bilang aku kuat.
Lucu, karena mereka tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya menahan semuanya sendirian.
Aku hidup di rumah yang seharusnya terasa hangat. Ada ibu, ada ayah. Suara televisi hampir selalu menyala, piring-piring beradu di dapur, dan langkah kaki yang berlalu-lalang di lorong. Semuanya ada.
Tapi entah kenapa, rasanya tetap kosong.
Pagi ini tidak berbeda.
Aku bangun lebih dulu, seperti biasa. Bukan karena rajin, tapi karena aku sudah terbiasa tidak bisa tidur nyenyak. Langit di luar jendela masih abu-abu, udara terasa dingin, dan kamar ini… selalu terasa terlalu sepi.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada notifikasi penting. Hanya angka jam yang terus berjalan, seolah mengingatkanku bahwa hari ini akan sama saja seperti kemarin.
Aku menghela napas pelan.
“Yaudah,” gumamku lirih, lebih kepada diri sendiri.
Aku berjalan keluar kamar menuju dapur. Ibu sudah ada di sana, berdiri di depan kompor. Aroma masakan memenuhi ruangan, tapi tidak ada sapaan.
Aku duduk di kursi makan, menarik piring tanpa berkata apa-apa.
“Ibu masak apa?” tanyaku akhirnya, mencoba membuka percakapan.
“Telur sama sayur,” jawabnya singkat, tanpa menoleh.
Hening lagi.
Aku menunggu, berharap ada kalimat lain yang menyusul. Sekadar bertanya, “Kamu gimana?” atau “Ada apa hari ini?”
Tapi tidak ada.
Ayah keluar dari kamar beberapa menit kemudian. Ia duduk di kursi, membuka koran, lalu tenggelam di dalamnya. Seperti biasa, tidak ada yang benar-benar saling berbicara.
Kami makan di meja yang sama.
Tapi rasanya seperti tiga orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Aku menunduk, memainkan sendok di piringku.
“Yah…” aku membuka suara lagi, ragu-ragu. “Nanti sore aku pulang agak telat. Ada tugas.”
“Hm.”
Hanya itu jawabannya.
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada perhatian. Bahkan sekadar anggukan pun terasa terlalu mahal.
Aku tersenyum kecil. Bukan karena lucu, tapi karena sudah terbiasa.
“Yaudah,” kataku pelan.
Aku selesai makan lebih cepat dari biasanya, lalu berdiri.
“Berangkat dulu.”
“Ya.”
Satu kata lagi.
Selalu satu kata.
Aku keluar rumah, menutup pintu perlahan. Begitu kakiku melangkah ke luar, udara pagi langsung menyambut. Entah kenapa, rasanya lebih lega berada di luar daripada di dalam rumah sendiri.
Aneh, ya.
Aku berjalan pelan menyusuri jalan yang sama setiap hari. Orang-orang mulai beraktivitas, suara kendaraan terdengar, dan dunia terasa… hidup.
Berbeda dengan yang aku rasakan.
Ponselku bergetar.
Satu notifikasi.
Dari Lila.
Nar, nanti temenin aku ya? Aku butuh cerita banget.
Aku menatap layar itu beberapa detik, lalu mengetik balasan.
Iya.
Sesederhana itu.
Aku selalu bilang iya.
Entah kenapa, lebih mudah untuk ada buat orang lain daripada berharap ada yang melakukan hal yang sama untukku.
Langkahku terus berjalan, tapi pikiranku entah ke mana.
Kadang aku bertanya-tanya…
Apa aku yang terlalu berharap?
Atau memang tidak ada yang benar-benar peduli?
Aku berhenti sejenak di pinggir jalan, menatap langit yang mulai terang. Matahari perlahan naik, menyinari kota yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Semua orang terlihat punya tujuan.
Semua orang terlihat punya tempat untuk pulang.
Aku menarik napas panjang.
“Aku juga punya, kan…” gumamku pelan.
Tapi kalimat itu terasa menggantung.
Karena jauh di dalam hati, aku tahu jawabannya tidak sesederhana itu.
Aku melanjutkan langkah, mencoba menepis pikiran yang mulai berisik.
Hari ini akan berjalan seperti biasa.
Aku akan tersenyum saat perlu.
Aku akan mendengarkan saat diminta.
Aku akan terlihat baik-baik saja.
Seperti biasa.
Karena pada akhirnya, aku sudah belajar satu hal—
Aku tidak benar-benar kesepian.
Aku hanya…
terbiasa sendiri.