Hari berjalan seperti biasa.
Terlalu biasa, sampai terasa membosankan.
Aku duduk di bangku kelas, menatap papan tulis yang penuh tulisan. Dosen di depan masih menjelaskan sesuatu, tapi suaranya terdengar samar. Seolah-olah ada jarak antara aku dan dunia di sekitarku.
Aku ada di sini.
Tapi rasanya… tidak benar-benar hadir.
Ponselku bergetar pelan di atas meja.
Dari Lila.
Nar, nanti jangan lupa ya. Aku bener-bener butuh kamu.
Aku menatap pesan itu beberapa detik, lalu menghela napas.
Iya.
Lagi-lagi hanya itu yang bisa aku katakan.
Jawaban sederhana. Tanpa banyak pikir.
Karena memang selalu begitu.
Aku menaruh kembali ponselku, lalu mencoba fokus ke depan. Tapi pikiranku sudah lebih dulu pergi ke tempat lain.
Entah kenapa, hari ini terasa lebih berat dari biasanya.
Sore hari.
Langit mulai berubah warna ketika aku sampai di rumah. Seperti biasa, suasana tidak banyak berubah.
Televisi menyala, suara berita memenuhi ruang tamu.
Ibu duduk di sofa, menatap layar tanpa ekspresi.
Aku berdiri beberapa detik di ambang pintu, ragu.
Haruskah aku langsung masuk kamar seperti biasa?
Atau… mencoba lagi?
Aku menarik napas pelan.
“Ibu…” panggilku hati-hati.
Tidak ada jawaban.
“Ibu,” ulangku sedikit lebih keras.
“Hm?” jawabnya singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
Aku mendekat pelan.
“Tadi di kampus…” aku mulai, berusaha menyusun kata. “Aku dapat nilai yang nggak terlalu bagus.”
Hening.
Beberapa detik berlalu.
“Ya sudah. Belajar lagi,” jawabnya datar.
Sesederhana itu.
Tanpa bertanya kenapa. Tanpa peduli bagaimana perasaanku.
Aku menunduk pelan.
“Iya…” jawabku lirih.
Aku berdiri di sana beberapa saat, berharap mungkin ada sesuatu yang berubah. Tapi tidak.
Tidak ada.
Aku berbalik, melangkah menuju kamar.
Pintu tertutup perlahan di belakangku.
Dan seperti biasa, dunia kembali sunyi.
Aku menjatuhkan tas ke lantai, lalu duduk di tepi ranjang.
Rasanya sesak.
Bukan karena sesuatu yang besar… tapi karena hal kecil yang terus menumpuk.
Aku menatap langit-langit kamar.
Kadang aku bertanya-tanya…
Apa aku yang terlalu berharap?
Atau memang aku tidak pernah benar-benar dianggap
Ponselku kembali bergetar.
Lila menelepon.
Aku menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya mengangkat.
“Halo?”
“Nara…” suaranya terdengar panik. “Aku lagi nggak baik-baik aja.”
Aku langsung duduk tegak.
“Kenapa? Kamu di mana?”
“Di kafe biasa. Kamu bisa ke sini sekarang?”
Aku melirik jam.
Baru saja sampai rumah.
Baru saja ingin istirahat.
Tapi…
“Iya, aku ke sana,” jawabku tanpa berpikir panjang.
Selalu begitu.
Aku berdiri, mengambil jaket, lalu keluar kamar lagi.
“Ibu, aku keluar sebentar,” ucapku.
“Hm,” jawabnya singkat.
Aku tersenyum kecil.
Satu kata lagi.
Selalu satu kata.
Perjalanan ke kafe terasa lebih panjang dari biasanya.
Aku berjalan cepat, angin sore menyapu wajahku. Orang-orang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Dan aku…
selalu berjalan ke arah orang lain.
Saat aku sampai, Lila sudah duduk di sudut ruangan. Wajahnya terlihat kacau, matanya sembab.
Aku langsung menghampiri.
“Kenapa?” tanyaku, duduk di depannya.
Dan seperti yang sudah bisa ditebak—
Lila mulai bercerita.
Panjang. Tanpa jeda.
Tentang masalahnya. Tentang perasaannya. Tentang semua hal yang membuatnya hancur hari ini.
Aku mendengarkan.
Mengangguk di waktu yang tepat. Memberi respon seperlunya.
Seperti biasa.
Aku ada untuknya.
Selalu.
Beberapa puluh menit berlalu.
Lila akhirnya menghela napas panjang.
“Makasih ya, Nar. Cuma kamu yang selalu ada buat aku,” katanya pelan.
Aku tersenyum kecil.
“Iya.”
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Tentang hariku. Tentang perasaanku. Tentang semua hal yang tadi ingin aku ceritakan.
“Tadi aku juga—”
“Eh, aku harus pergi sekarang,” potongnya tiba-tiba, melihat jam di ponselnya. “Ada janji.”
Kalimatku terhenti.
“Oh…” aku mengangguk pelan. “Iya.”
“Sekali lagi, makasih ya,” katanya sambil berdiri. “Nanti kita lanjut lagi, ya.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Dan lagi-lagi, aku hanya bisa mengatakan itu.
Aku duduk sendirian di meja itu setelah Lila pergi.
Minuman di depanku masih hampir penuh.
Suara orang-orang di sekitar terdengar ramai.
Tapi aku…
tetap sendiri.
Aku menatap ke arah pintu, tempat Lila tadi pergi.
Lalu perlahan, aku menunduk.
Ternyata benar.
Aku selalu ada.
Tapi tidak pernah benar-benar dibutuhkan untuk tinggal.
Aku menghela napas panjang.
Rasanya kosong.
Lebih kosong dari pagi tadi.
Dan di tengah keramaian itu, aku kembali menyadari satu hal—
Tidak semua kata yang ingin disampaikan…
akan pernah sampai.