Alicia teringat tentang apa yang dikatakan Malik padanya di rakit waktu itu. Dia benar, dia benar, malik benar soal orang-orang Chang. Raja tidak ingin ada satupun orang Chang yang tersisa di tanah bahari. Takdir itupun sampai pada Alicia. Darah terkutuk yang mengalir di pembuluhnya, yang diwarisinya dari seorang ayah yang kini entah ada di neraka sebelah mana.
"Billi sebagai wali dari Alicia, secara teknis dan tertulis seperti kamu bertanggung jawab atas kehidupan Alicia" Rangga terdiam sejenak, mengerti bahwa mungkin Billi tidak mengerti akan peralihan tanggung jawabnya "Sejak Alicia menjadi seorang yatim piatu, surat kelahiran Alicia sudah dialihkan tanggung jawabnya pada panti asuhan lembah rawa, singkatnya. Billi bertanggung jawab atas tidak berketuruannya Alicia"
Billi menggeleng, tangannya sudah mengenggam. Jakutnya turun naik dia ingin sekali menghajar Rangga "Adikku akan menikah !" gumamnya dengan berang menatap satu persatu orang-orang itu.
"Tuan, biarkan aku menyampaikan prihal ini sampai selesai terlebih dahulu, sebelum kita bernegoisiasi" Rangga menggeleng pada Billi.
Sampai sini sudah jelaslah takdir Alicia. Takdir kita hanya sebantangan tangan. Kata-kata Billi waktu itu ternyata benar adanya.
"Orang-orang Chang, dicabut keberhakannya atas status soasial, atas kehidupan yang layak dan pajak, maka dari itu telah disarankan pada kita semua..." Rangga melihat satu per satu para tetua desa "Untuk memberikan keputusan atas Alicia, dia sudah berumur dua puluh lima tahun dan sudah layak menikah artinya Alicia akan berketurunan, kalau dia berketurunan maka anak itu harus mati"
Alicia tidak sanggup mendengar kekejaman itu, tangannya mengepal.
"Alicia pernah mengidap penyakit mematikan sejak kecil sampai Sang Juru Kunci mengganti namanya, kala itu para tetua membiarkannya hidup karena mereka pikir dia tidak akan bertahan dengan kondisinya, ternyata anak ini bertahan"
"Tuan-tuan anda tidak bisa mencabut kehidupan yang telah diberikan dan direstui Pualam" Billi menekan kata-katanya
"Billi tenanglah dulu" Qyunam, nama tetua desa tua bermata sendu berambut botak dan saking tingginya dia jadi membungkuk di waktu tuanya.
Rangga tersenyum memberikan rasa hormat pada Qyunam "Sampai sini. Juru Surat Kita sudah siap mencatat keputusan untuk Alicia ?" Rangga bermaksud memberi aba-aba pada Roji untuk mulai menulis.
Perut Alicia seakan diberikan pukulan keras, terasa sakit berdenyut sampai ke kepalanya.
Ada jeda sejenak, Sementara yang lainnya mencoba memikirkan jalan keluar, menemukan keputusan, Bulli justru ingin meninju satu satu orang-orang itu.
"Billi akan bertanggung jawab atas keputusa hari ini" Rangga bicara lagi
"AKu tidak mau !" Jelas Billi dengan kasar "Aku tidak sudi mempertanggung jawabkan apapun. Adikku tidak membuat kesalahan atas kelahirannya kedunai ini"
"Kalau begitu Alicia harus mati" balas seorang tetua yang terlihat paling sakit karena tubuhnya sangat kurus, terlihat lemah dan sakit hampir seperti kakek didi. Namanya Tn. Mukolu "Mau tidak mau kamu harus menerima takdirmu Alicia" tapi mulutnya berbicara seakan dia bisa hidup selamanya di dunia ini. Kata-katanya menohok sekali.
Semua orang melihat Alicia, dia tertunduk, mengigit bibirnya. Sekuat tenanga menahan air mata karena benci terlihat lemah. Lalu dia mengangkat kepalanya, berusaha kuat "Aku menerima semua keputusan terbaik tetua, aku hanyalah gadis lembah biasa, aku menjalankan kehidupan yang telah di tetapkan lembah padaku" Alicia tahu, dia paham, selalu tidak pernah ada pilihan untuknya.
"Alicia.."Billi berdesis disebelahnya, tidak suka dengan kerelaan Alicia.
"Baik" Rangga mengangguk "Kalau seperti itu artinya kamu setuju tidak menikah dan berketurunan"
Alicia hampir mematahkan tanganya sendiri karena menggenggam terlalu kuat. Tapi kepalanya mengangguk. Keteguhan hati itu diajarkan keadaan padanya. Semuanya tidak pernah adil untuk Alicia, tidak satupun, tapi begitulah kehidupan yang ditawarkan padanya.
"Yang menjadi masalah, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi kedepannya..., dia bisa saja terbawa nafsunya dan tiba-tiba hamil"
"Maka anak itu harus mati" tetua yang sedari tadi membaca buku dengan bingkai kaca yang bulat mengangkat kepalanya. Dia membuka kaca matanya, dan melihat Alicia.
Gadis Chang ? pekik Kinar dalam hatinya tidak bisa membohongi seindah itu bentukan Alicia "Tapi dia cantik" gumam Kinar menimbulkan pekik kecil dari Rangga
Qyunam tertawa dingin, tahu betul kejujuran seorang Kinar "Tn. Kinar benar, Alicia gadis yang manis. Banyak laki-laki desa akan goyah melihat kecantikannya"
"Laki-laki yang bersamanya akan di hukum ?" tanya Rangga menyarankan sebuah solusi yang tidak masuk akal
Kinar mengerling menghina keputusan buruk Rangga "Gadis cantik seperti Alicia bisa saja berkahir di gang pasar, melahirkan anak-anak tanpa pernah kita ketahui. Menurutku dia disa menjaga dirinya" Kinar mengangguk yakin, matanya tidak berpindah dari wajah cantik Alicia.
"Mereka bisa saja menyembunyikan kebenaran pada kita. Prihal ini aku yakin si tua Didi sudah tahu kemungkinan yang terjadi pada Alicia, sehingga aku mendengar desas-desus perjodohannya dari rumah Tuan Tanah" Tn. Mukolu ternyata banyak tahu, kontras dengan tubuhnya yang terlihat lemah. Mungkin dia hanya sedang berpura-pura memperlihatkan wajah lemah dan tak berdaya, padahal dialah yang paling penguasa di antara tetua lainnya.
Hidung Tn. Mukolu bergerak seakan mengendus, melirik Alicia. Membenarkan Kinar kalau gadis ini cantik "Di kota-kota perempuan Chang mengangkat rahimnya atas dasar kesetiaan mereka pada Raja, dan untuk menghina leluhur mereka yang berhianat"
Mimik Alicia berubah mendengar itu. Mengangkat rahim ? dia tidak sanggup memikirkan perutnya akan dikerat untuk mengambil satu bagian di dalamnya.
Billi berdecak "Bodoh, ini bodoh" Billi melirik Alicia, Billi tahu dia hancur dan ketakutan dari gerakan tangannya dari dagunya yang terangkat dari bahunya yang pura-pura. Billi tahu "Kalian ingin alicia mengangkat rahimnya ?"
Kinar mengetuk-ngetuk buku Dataran yang sangat tebal "Tidak perlu begitu" Matanya tidak bisa teralihkan dari Alicia, sungguh dia terpesona "Cukup saja dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan Lembah Rawa seumur hidupnya, apabila dia meninggalkan lembah rawa, melahirkan, atau berhubungan dengan seorang laki-laki maka Billi sebagai walinya akan mempertanggung jawabkan"
"Aku setuju" Tn. Qyunam mengangguk yakin "Itu cukup bijak. Apabila dia pergi dari lembah rawa dan kepergiannya diketahui salah seorang Dewan Kota maka habislah lembah ini. Mungkin pertempuran beberapa tahun yang lalu akan kembali terulang"
Rangga melihat Tn. Mukolu dia rupanya masih menimbang-nimbang, keputusan itu masih belum kuat menurutnya.
"Cukuplah Billi sebagai wali yang bertanggung jawab atas Alicia, dan perjanjian ini harus sah secara birokrasi agar tidak menyalahi aturan dewan kota" lanjut Kinar
Kinar tidak menunggu persetujuan siapapun, dia memang jahat kalau sudah memutuskan. Dia melirik Roji "Tulis itu !" perintahnya. Lalu membawa buku DATARAN yang tadi dia bawa sebelum berlenggak pergi. Dia memang tetua yang paling sulit diatur, sulit mengikuti tetua yang lain, tapi keputsannya selalu membawa mereka semua kejalan tengah tanpa merugikan siapapun
"Setuju ?" Rangga tidak memdulikan tingkah Kinar yang selalu pergi lebih dulu dari yang lainnya.
"Kamu tak perlu tanya aku, tanyalah dia" Tn. Mukolu menunjuk Alicia "Setujukah dia ?"
Alicia terdiam, dia memalingkan wajah sekuat tenaga tidak mau menangis. "Sudah pupus Alicia" bisik sebuah suara di dalam dirinya. "Apa yang kamu harapkan ? semuanya di renggut kerajaan darimu. Semua tak tersisa, masa depan memang tidak pernah berhak kau ngenggam" Suara itu kembali bertanya pada dirinya
Tarikan nafasnya putus-putus, air mata menggenang sudah di pipinya.
Tn. Qyunam melihat kegetiran Alicia, dia ikut prihatin tapi memang seperti itulah yang digariskan lembah padanya.
Rangga merasakan masih ada celah dari kebijakan itu, dia melihat Alicia yang hampir menangis dan Billi yang dipenuhi amarah. Billi bergumam tanpa suara. Dari gerakan mulut Billi, Rangga tahu si yatim itu sedang mengumpat "Kalau kau melanggarnya ALicia, Billi akan mati. Itulah tambahan dariku. Tidak ada penawaran lagi" Rangga melirik Roji.
Roji mengangguk, lalu Ranga melihat dua orang di sebelahanya. Tn Tn. Mukolu mengerucutkan bibir setuju. Tn Qyunam tidak mengatakan apapun. Artiunya dia tidak keberatan.
Palu di pukul keputusan sudah bulat
"Ini tidak adil" Billi bergumam, terlambat sekali !
"Palu sudah dipukul, kalau kau membangkang hukuman akan segara jatuh" ucap Roji menambahkan.
Billi ingin menerjang laki-laki itu. Alicia menahan lengannya "Aku terima Tuan. Aku bisa menjaga diriku"
"Gadis baik" Tn. Mukolu tertawa mengejek. Alicia menguatkan genggamannya. Billi, Lana, Sakina dan Kakek Didi hanya itulah yang Alicia miliki. Billi akan mati kalau dia melanggar apa yang telah tersepakati hari itu, palu telah di ketuk. Tidak bisa diubah meski Pualam mengganti juru kuncinya.
Alicia menghela nafas, air matanya berguguran jatuh seperti bulir-bulir air hujan.
Ibunya mati karena dirinya, ayahnya pergi karen dia tahu anaknya adalah seorang Chang. Bukan karena Alicia sakit atau membawa sial, semua itu untuk menyelamatkan Alicia. Semata-mata karena Alicia. Tidak ada yang harus di korbankan lagi !
Tn Qyunam, memalingkan wajah karena kegetiran Alicia menusuk hatinya. Dia memiliki anak seusia Alicia, gadisnya akan menikah ketika pertempuran lembah rawa membawanya kedunia yang lebih abadi
"Setelah perjanjiannya selesai ditulis kalian harus menandatanganinya, lalu Juru Surat akan mengirim balasan ke Dewan Kota"
Billi dan Alicia duduk dalam kegetiran yang terasa menyesakkan. Udara malam terasa panas dan pengap di sekeliling Billi. Amarahnya membuncak
"Aku tidak ingin kamu mati Billi" bisik Alicia patah-patah
***
Surat sudah di tangani, berbunyi seperti yang mereka putuskan bersama para tetua desa. Kini Billi dan Alicia mendayung rakit untuk pulang dalam kebisuan. Alicia tidak mau menangis. Padahal dia ingin menangis, padahal dia ingin mengunci diri. Tapi dia tidak ingin kakaknya hawatir.
"Kamu harus menikah dan meninggalkan lembah ini selamanya"
"Tidak Billi" Jawaban Alicia tegas
"Biarkan Lana mengirimi semua nama-nama yang kakek ajukan untuk menjadi calonmu. Para tetua bodoh itu tidak akan tahu. Semua yang mereka bicarakan hanya birokrasi-ego-raja sialan itu"
Billi mendengus kesal, dia mendayuh dengan amarah hingga terdengar derit tak wajar pada rakit. Alicia duduk memandang lampu-lampu dari rumah penduduk desa yang mulai menjauh, tak lama
Bum
Lampu dimatikan, lampu hanya menyala sampai pukul sepuluh malam setelah itu listrik dimatikan. Bahkan Kastil Tuan Tanah sekalipun ikut dimatikan. Begitulah bagiamana listrik bekerja di lembah rawa. Punya batas waktu.
"Aku akan memberitahu Lana, dan Kakek tidak boleh mengetahui hal ini" Suara ALicia masih serak karena menahan kesedihan "Aku takut kondisinya memburuk"
"Kau berencana tidak akan menikah Alicia ?"
Alicia mengangguk. Dia menghela nafas getir "Aku akan baik-baik saja"
"Aku akan mencari jalan keluarnya"
Alicia tidak bilang apa-apa lagi. Dia duduk membelakangi Billi yang sedang mengayuh.
Billi tidak melihat bahwa saat itu Alicia tengah menangis. Meski bahunya tidak bergetar meski dia terlihat tegar, air matanya tetap menetes.
Sudah tidak ada harapan, tidak ada dua penggal nama lagi.
Setelah kesunyian panjang dan hanya derit suara rakit yang terdengar, Alicia berbisik pilu entah pada siapa "Kenapa aku mesti terlahir sebagai seorang Chang ? Kenapa saat itu Ny. Lyan mengganti namaku, kenapa dia tidak biarkan aku mati"
Bili meletakkan rakitnya, membiarkan rakit itu terapung di tengan danau. Dia membalik bahu Alicia. Dia melihat mata Alicia telah bersimbah tangis.
Tidak berkata-kata, yang Billi punya cuma pelukan saja.