SURAT MERAH

1229 Words
Alicia masih bertanya-tanya tentang surat merah yang membuatnya malam-malam harus menyebarangi danau demi bertemu para tetua desa di sanggar desa. Satu pertanyaan terus terulang dikepala Alicia. "Kenapa surat itu harus ditunjukan pada dirinya dan Billi ?"Kalau memang surat merah amat penting, dikirimkan Dewan Kota untuk panti asuhan lembah rawa, seharusnya para tetua memanggil Lana, bukan Alicia atau Billi. Lanalah yang paling mengerti prihal birokrasi macam begini. Alicia cuma bagian bersih-bersih dan membantu adik-adik belajar membaca sedangkan Billi dia memang memiliki keahlian tapi keahliannya jauh dari hal hal berbau birokrasi, persurat-an dan hal hal penting berurusan dengan kerjaan. Ah, Lana tegang sekali berurusan dengan tetua desa "Takut ?" tanya Billi menguji nyali adiknya. Seperti biasa, Billi selalu percaya diri, dia mengangkat dagunya dengan angkuh. "Ini aneh Billi ! Mereka memanggil kita, bukan Lana !" Alicia memain-mainkan jari jemarinya yang lentik, itu sering terjadi ketika dia cemas "Bukan-nya segala sesuatu yang berwarna merah itu buruk ?" Billi menggeleng, senyum terbingkai tidak mengenal situasi, mengejek kecemasan di wajah Alicia "Kau cantik ketika mengenakan gaun merah" "Hentikan. Bodoh !" "Kita belum tahu apa-apa Alicia, berhentilah cemas" sergah Billi, melihat semu di wajah Alicia. Dia yakin Alicia akan jadi pengantin tercantik ketika dia menikah kelak "Alicia.., mengenai Damar" "Aku tidak memikirkannya, aku baru dua puluh lima tahun" "Para gadis menikah ketika mereka berumur sembilan belas tahun, kamu itu tergolong sudah menua" Alicia duduk memeluk lututnya, sembari satu tangannya menyentuh air yang berarak seiring kayuhan rakit Billi. Dulu dia amat sedih karena tahu bahwa mungkin saja dia akan terus berada di panti asuhan, lalu kini dia teramat nyaman hingga rasanya tidak mudah untuk meng-iyakan perjodohan-perjodohan yang disiapkan kakek untunya. "Apa patah hati itu sakit Billi ?" sepolos itulah Alicia, sepanjang hidup yang dia tahu adalah mengurusi anak-anak di panti, lalu berakit mengurusi satu anak bengal di kastil Tuan Tanah demi lima belas logam setiap minggunya. Tidak ada waktu untuk jatuh hati. "Aku tidak tahu lebih sakit mana, tapi kira-kira seperti ditinggalkan orang yang kamu sayang" "Seperti ditinggalkan ibu ?" Tanpa menoleh pada Alicia Billi hanya bisa mengangguk. Hatinya pengap, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika asap dan warna merah api berkejaran di udara, melahap lahan-lahan jagung. Dia pernah ada di tengah rakit berharap di tembak saja dan mati, karena pertarungan keluarga kuswardi merenggut seluruh anggota keluarganya, hingga hanya ada dirinya saja. Rakit mengapung di tengah danau, diamana Billi remaja di atasnya. Di lompati seorang laki-laki paruh baya berambut penuh dan keriting. Menyelamatkan Billi dari rasa kosongnya hari itu. Tanpa bertanya pada Billi, ada apa dengannya, dia sudah meminta Billi untuk mengurusi orang-orang yang terluka. Lalu Billi tahu bahwa semesta selalu menginginkan hal yang berbeda dari keinginannya... Billi membantu Alicia turun dari rakit. Lebih nyaman berjalan kaki menembus hutan untuk ke desa ketimbang naik kuda. Mereka hanya membawa satu lentera di tangan. Alicia menguatkan tali temali jubahnya yang berwarna hijau zamrud. Rambutnya di gerai dan dikuncir kecil kecil pada sisi kiri. dari lentera sudah terlihat rona merah di pipi dan hidungnya, akibat udara dingin Lembah Rawa. Mereka melewati jalan setepak lalu berjalan di turunan berbatu, berkelok yang mengikuti jalan. Senang sekali tinggal di desa lembah, bisa menikmati listrik yang berasal dari turbin air. Listrik tidak bisa melewati danau, dan menerangi rumah-rumah di desa sebrang danau. "Mereka datang" Seorang anak berlari menuju bangunan terbuka sangar desa. Alicia seketika merasa takut. Ada empat orang tetua desa, tidak ada satupun dari mereka absen untuk menghadiri undangan itu. Artinya, hal ini lebih penting dari pada menghakimi seorang pencuri. Mereka semua menunggu Alicia. Alicia bukan pencuri, bukan pembunuh dia hanya seorang anak yatim piatu. Apakah hal-yang-begitu-penting-itu, hingga dia di panggil kemari ? Alicia tahu ada yang tidak beres, dari rasa resah yang dilihatnya diwajah Billi. Billi bukan manusia yang mudah takut dan cemas, dia setenang air danau, kalau air danau berombak itu artinya ada badai kan ? Apa ini badai ? Disana juga ada Roji. Pantang buat Billi terlihat takut di depan mantan teman SDnya yang kini menjadi kepala surat di sanggar desa. Dia bertingkah seperti pemilik lembah, Billi benci sekali melihatnya. "Akhirnya ada juga urusan yang mempertemukan kita" ujara Roji, menyambut Billi. Roji menunjuk dua kursi yang di letakkan menghadap kursi kursi para tetau. Selain para tetua ada beberapa anggota balai desa lainnya. Dan ada dua orang penjaga desa, mereka membawa senapan di punggung mereka. Mata Alicia awas, berusaha mengenali situasi yang terasa asing baginya. Wajah orang orang penuh ketegangan. Apa dia akan didakwa ? dihukum atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan ? Ada empat tetua desa. dua di antara tetua desa sudah sangat tua. Mereka menggunakan tongkat untuk membantu berjalan, tongkatnya tersandar di kursi. Seorang yang paling muda seusia Billi mengenakan kaca mata baca bebingkai bulat, masih fokus membaca buku. Di sebalah si paling muda berkaca mata ada Roji. Rangga, tetua Desa yang menggantikan pamannya Rafli. Dia berhidung melengkung seperti paruh burung. Dia melihat Alicia dengan mata menghakimi, lalu dia melihat Billi, dia mengenali Billi. Dia sering memanggil Billi dengan sebutan "si yatim" Rangga memulai "Selamat malam para tetua yang saya hormati dan para anggota balai desa yang berbaik hati menyempatkan hadir diundangan kami. Izinkan saya disini menyampaiakan prihal kita berkumpul di tempat ini" Alicia menggengam tangannya sendiri karena tegang. Dia tidak pernah menghadiri acara resmi. "Kami kedatangan surat merah yang sangat jarang sekali, hampir tidak pernah selama lima tahun terkahir. Surat merah ini berasal dari Dewan Kota" Rangga melihat para tetua yang lain "Dan disini ada dua anak yatim piatu dari panti asuhan yang kami pangil demi menindak lanjuti surat tersebuat" Alicia semakin merasa ketakutan, dia menghela nafas. Kenapa ? kenapa dia harus disidang seperti ini ? Alicia melihat Billi, peria itu duduk dengan gestur sangat santai. Meski dia tahu, ini adalah hal serius kalau tidak, tidak mungkin empat orang tetua desa berkumpul di sini. Billi hanya tidak mau terlihat lemah dan tak berdaya, dia benci terlihat seperti itu. Kenapa ? karena seumur hidupnya semua orang melihatnya dengan tatapn merendahkan. Dia tidak mungkin malu dan merasa kalah. Kalau ingin selamat dari lingkungan buruk ini maka dia harus balas menatap mereka dengan berani sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi. Dia tidak akan kalah hanya dengan status sosial yang mereka bawa. "Surat itu memberitahukan bahwa kita telah lalai terhadap sutu anak Chang yang kini sudah tumbuh dewasa dan siap menikah" Disitulah mata Billi membuka lebar, pupilnya menyipit, dia terlihat awas, dan melihat keadaan dengan punggung tegak. Mereka di panggil untuk membahas darah Chang yang ada pada adiknya, Alicia. Billi lebih suka kalau hal itu menyangkut dirinya, bukan adik kesayangannya. Roji melihat perubahan wajah mantan teman sekelasnya itu, dan senyum mengejek terangkat di wajahnya. Dia teringat bagaimana sok penguasanya Billi ketika mereka sekolah dulu dan lihatlah kini, dia cuma anak yatim piatu yang menderita. "Dew..." baru saja mau menyanggah para tetua, ujung senapan sudah menyilang di d**a Billi, dia kembali duduk tenang. Melihat penjaga desa yang berwajah galak. Rangga terdiam dulu, dia membuat jeda agar situasi kembali tenang. Lalu Rangga melanjutkan "Kita telah lalai akan adanya perempuan Chang di desa ini. Sebagaimana dalam buku pedoman sejarah kerjaan Tanah Bahari, bahwa semua suku Chang telah dihukum atas pembangkangannya terhadap Raja. Yaitu mereka tidak berhak berketuruanan, menyandang gelar, dan berkehidupan sosial. Sebagai seorang warga tanah bahari yang memiliki rasa cinta terhadap raja dan tanah ini. Kita semua bertanggung jawab menjalankan titah raja" Alicia menatap Billi, kilatan putus asa menari-nari di mata Alicia. Seolah gadis itu berujar "Bunuh saja aku Billi !"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD