SURAT TETUA DESA

1050 Words
~ SURAT PENOLAKAN ~ Sakina menghampiri Alicia, dia memeluk Alicia. Gadis itu masih terus memandangi gang sempit di mana Malik berbelok dan pergi. Alicia membalas pelukan Sakina "Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi" "Tentu dik, sejauh apapun dia pergi dia selalu akan jadi anak lembah" *** Seminggu berlalu setelah kepergian Malik ke Kota. Alicia bertemu dengan Lake di pasar. Dia sedang berada di lapak paman Bena untuk pengganti tapal kudanya. "Lake" panggil Alicia Alicia, Lake menepuk pundak Alicia saking senangnya kembali melihat Alicia "Bagaimana kabarmu ? aku mendengar para pekerja mengisukanmu akan menikah" Lake tersenyum canggung menahan perasaannya yang meluap-luap. Lake sudah lama menyukai Alicia tapi sejak dulu tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaannya pada Alicia. Alicia hanya membalasnya dengan senyuman tipis "Sebuah perjodohan Lake" Alicia mengeluarkan sesutu dari tas anyaman bambu yang dia pakai dan mengeluarkan sekantong logam "Aku punya lima puluh logam" "Untuk apa ?" Lake tidak bisa tidak berkilau melihat logam-logam "Aku ingin tahu Malik bersekolah di mana ? Aku ingin mengiriminya surat" Alicia berdaham "Bisakah kau mencari tahu ?" Alicia menyodorkan sekantong logam itu. Logam itu diberikan Ny. Lyan sebagai ucapan terimakasihnya ketika Alicia berhenti bekerja. "Mereka sangat rahasia" bisik Lake, dia sedikit mencondongkan tubuhnya agar tidak ada yang mendengar "Ada sesuatu yang aneh di balik kepergian Tuan Muda" lalu Lake kembali menegakkan diri "Aku tidak janji padamua Alicia. Para pekerja kini terus diawasi. Mata Lucia dan Marcus mengikuti kami dimanapun kami berada " Lake mendengus Alicia meraih tangan Lake, bulu kuduk Lake segera meremang mendapat sentuhan lembut Alicia di atas kulitnya. Alicia memberikan Lake kantong logam itu "Kumohon Lake, tidak ada yang bisa kuandalkan selain kamu" "Alicia.." Lake bergumam putus asa, dia tidak punya pilihan lagi ketika kantong logam itu sudah ada di tangannya. *** Alicia sedang duduk bersama Billi di kandang ayam memperhatikan ayam-ayam yang mematuk matuk tanah memakan biji-bijian yang Alicia hamburkan untuk mereka. "Masih bersedih ?" tanya Billi, bukan suatu rahasia lagi bahwa Alicia bersedih karena Malik meninggalkannya "Dia cuma bocah Alicia" "Aku terbiasa bersamanya Billi" "Kau di caci, bahasanya kasar padamu, dia memandangmu seperti sampah, bisa-bisanya kamu masih menghatirkan dia ? Percayalah takkan ada sesuatu yang terjadi padanya. Dia cuma bersekolah dan tangannya cuma patah" Billi tidak percaya dengan khawatiran Alicia "Demi apapun, dia anaknya Tuan Tanah Alicia, dia tidak akan kekuaranga apapun" Alicia menunduk melihat kaki-nya yang terayun-anyun. Dia duduk lebih tinggi di atas tumpukan jerami "Dia sakit Billi, itu yang membuatku hawatir" Alicia ragu akan menceritakan ini pada Billi, tapi yah.. "Tujuh tahun lalu sewaktu mereka memintaku untuk menjaga Malik, waktu itu Nyonya dan Tuan bepergian selama setahun untuk mencari obatnya Malik" "Dia sakit apa ?" Alicia mengigit bibirnya, menahan sedih ketika mengingat wajah Malik pada malam perpisahan mereka "Yang jelas dia menderita.." Alicia memandangi ayam-ayam yang sibuk mematok tanpa peduli apapun yang terjadi di sekitar mereka "Dia tidak seperti bocah lainnya. Ada derita yang dipikulnya seorang diri" Alicia terdiam sejenak memperhatikan ayam-ayam. Billi menunggunya melanjutkan ceritanya sedikit penasaran dengan bocah tengik bernama Malik "Hidupnya tidak seindah yang dibayangkan orang-orang, dia sama malangnya dengan kita" Mereka berdua lalu sama sama larut dalam pikiran masing-masing. Billi bertanya-tanya kata "Malang" disandingkan dengan anak orang paling kaya di seluruh lembah ? kata itu tidak akan cocok untuk Malik yang hidup bergelimang harta. Lalu terlintas satu kalimat yang pernah dia baca.. "Terlahir menjadi seorang Kuswardi adalah kutukan" Alicia menoleh keras pada Billi tidak suka dengan kata-kata itu. Billi mengangguk meyakini kalimat itu "Nyonya Lyan pernah mengatakan itu pada surat-suratnya..." "Surat-suratnya ?" Billi tersenyum miring "Tapi dia justru menikahi seorang kuswardi, maka dia telah melahikan seorang putra dan putri yang terkutuk" Alicia menghantakkan tubuhnya lompat dari jerami, dia mendorong bahu Billi marah "Apa maksudmu ?" Serasa Billi sedang menghina dirinya, dia tidak suka ada yang berkata buruk soal Malik. Termasuk Billi. "Alicia berhentilah bertindak seolah kamu yang paling menyayangi Malik. itu membuatmu terlihat buruk" "Kamu bilang Malik terkutuk ? aku tidak menerima itu Billi, aku tahu seperti apa Malik. Aku melihat derita itu setiap hari dimatanya, aku merasakan emosinya, aku tahu dia tidak pernah nyaman dengan kehidupannya" Billi mengibaskan tangannya "Kamu berlebihan ! Dia juga tidak akan lagi mengingatmu Alicia, meski kau berkirim surat hingga dunia ini disesaki suratmu, dia mungkin tidak akan lagi membalasnya. Dunia berputar, kehidupan berganti, waktu berlalu, takdir kita hanya sebentangan tangan" Billi berjalan meninggalkan Alicia "Tinggalkan kesidihanmu, jangan lagi mencemaskan dia. Dia tidak mencemaskanmu. Kau tahu itu ?" Ada yang disadari Alicia dari percakapannya dengan Billi hari itu. Seperti apapun dia menghatirkan MAlik, semuanya tidak akan berbalik dengan porsi yang sama. *** Wajah Kakek jadi merenung dan gundah ketika surat dari Lana sampai ke tangannya. Pandangan sedihnya teralih pada Alicia. Dia menggeleng dramatis pada Alicia "Dia menolaknya" katanya dengan suara dalam. Kakek jadi seribu tahun lebih tua karena kesedihannya itu. Namun begitu Alicia tidak merasa kenapa-napa, dia masih merasa punya waktu meski usianya sudah dua puluh lima tahun. Alicia menggenggam tangan kakek "Sebentar lagi pesta panen, kita akan menari bersama. aku harap aku bisa menemukan jodohku disana" dia terdengar sangat optimis "Sudahku bilang kakek, aku akan mencarikan teman-temanku di pasar" Billi menambahkan Kakek menekan-nekan kepalanya "Teman-temanmu tidak ada yang beres, pemabuk semua" Sakina memalingkan wajahnya, menyembunyikan tawanya. "Biarku aturkan lagi dengan peria yang lain" Kakek mengangguk lalu melihat Sakina, memintanya untuk di antar kembali ke kamar. Sudah waktunya kakek untuk tidur. Tadinya Alicia ingin membaca surat penolakan dari Damar tapi kakek melipat papyrus itu dan menyesapkannya di dalam pakaian wolnya. Pasti hanya berisi kata-kata sopan yang menolak permintaan kakek dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, pikir Alicia. Lalu Lana mengeluarkan satu surat lagi untuk dibaca Alicia dan Billi Dari : Sanggar Desa Tn. Billi dan Nn. Alicia, dengan menghormati waktu bekerja dan beraktifitas yang sangat padat di Panti Asuhan Lembah Rawa, kami meminta anda untuk bertemu dengan Tetua desa demi mendiskuiskaan prihal "Surat merah dari Dewan Kota" Sekian Terimakasih Tetua Desa Billi bisa menggambarkan dengan sangat detail wajah menyebalkan Para tetua desa, ketika membuat surat itu "Apa maksudnya dengan surat merah, Lana ?" Billi melihat saudarinya yang lebih pintar prihal surat menyurat, keahlian Billi hanya sebatas beternak. Lana mengetuk-ngetuk meja dengan sebuah pena lancip kesukaannya "Kurasa hal penting dari Dewan Kota" "Apa hubungannya dengan aku ?" Alicia merasa tidak paham Lana mengangkat bahu "Aku tidak tahu" Alicia dan Billi saling pandang, merasakan ada yang janggal dari surat para tetua desa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD