"Luna makan" titah Arga saat aku menatapnya
"Ahh iya kak maaf" cicitku lalu aku dengan segera melihat makanan ku yang masih agak panas. Aku melihat kearah mangkuk sambal dan menuangnya ke dalam bumbu kacang sate ayam itu..
"Jangan banyak-banyak nanti kamu sakit perut" ujarnya sambil mengambil sendok sambal dari tangan ku padahal baru dua kali tuangan sudah dikatakan banyak, bagaimana dengan bakso dikantin yang aku tuangkan lebih dari 2 udah di omelin kali yaa..
Aku mengangguk patuh dari pada kena omelan mending nurut saja iya kan.. nanti kalau ada waktu sendiri bisa tuh buat me time diri sendiri.
Kami pun diam menyantap makanan milik masing-masing hingga tandas, jujur enak satenya bumbu kacangnya juga enak apalagi sate ayam khas madura kan emang bumbunya behhhh enak banget (makanan kesukaan othornya itu behhhh disini ada warung sate langganan ku dari sejak aku kecil sejak harganya masih 500 an mungkin hingga saat ini hendak 2000, bumbunya khas banget tur lekoh enak lah pokoknya), namun pedasnya kurang nampol menurutku, aku yang sangat pecinta pedas yaaa merasa kurang dengan bumbu pedas nya,
Arga yang sudah selesai segera berdiri dan membayar kepada penjualnya. Aku mendengar awalnya si penjual tidak menerima uang dari Arga namun dengan paksaan Arga akhirnya si penjual itu mengambil haknya.
"Sudah selesai kan.?" tanya Arga aku mengangguk "Yuk pulang, kamu belum belajar soalnya" titah Arga membuat ku menatapnya nyalang..
Aku pun tak menjawab nya langsung, Aku menatap jalanan tak seperti arah rumah ayah, "Kak kita mau kemana.?" tanya ku
"Kerumah ku lah, kamu itu sudah jadi istriku" ujarnya tanpa bisa di bantah dengan nada yang tegas.
"Tapi kak buku pelajaran sama pakaian ku masih dirumah Ayah"
"Kamu tenang saja pakaian dan bajumu sudah di pindahkan"
"Hah kapan kok aku nggak tau" ucapku dengan setengah berteriak, tentu aku terkejut mendengarnya.
"Sewaktu habis nikah tadi"
Aku terkejut pantas saja Tante Erna semangat banget sangat membicarakan anak huh, aku aja masih kecil kenapa disuruh punya anak, harusnya tante erna tuh yang duluan punya anak masa aku duluan terus anaknya tante jadi adik aku, masa iya nanti adik ku alias anaknya tante erna dan anak ku seumuran kan lucu yaa kann.. Emang sih tante Erna udah punya anak walaupun cuman anak angkat nya sih, tapi kan yaaa anak kandung ada tantangan tersendiri gitu nggak sih.. Tapi ya sudah lah dari pada pusing mikirin hidup tante Erna lebih baik pikirin hidupku sendiri saja.
"Hei,, ada apa nanti kepalamu sakit kalau kamu geleng-geleng kaya gitu" aku yang sedang memikirkan hal tersebut tanpa sengaja geleng-geleng kepala.
"Huaaa kak,, aku nggak mau hamil.. aku masih mau sekolah" akupun menjadi tantrum setelah ada pemikiran yang tak lazim itu.
"Heh siapa yang mau membuatmu hamil siii" ucapnya sambil menjitak kepalaku
"Awh, ish kakak, jangan KDRT dong, masa baru nikah beberapa jam udah KDRT sih" gerutuku yang merasakan sedikit sakit diarea jidat.
"Baru juga di jitak kepalanya udah ngeluh gimana aku minta hak ku" ujarnya terlalu frontal
"Kak" teriakku dengan mata yang melotot Mendengar ucapan nya tak berfikir terlebih dahulu itu.
"Jangan teriak teriak Luna telingaku sakit kalau kamu terus-terusan teriak"
"Jangan sekarang ya kak plisss ekh" pintaku dengan sangat amat memohon kepadanya. dan saat sadar dengan ucapan ku lalu aku menutup mulutku sendiri dengan tangan.
"Hahaha, emangnya kamu mau jadi istri dan ibu dari anak-anak ku.?" tanya nya membuatku diam berfikir, iya juga yaa, emangnya aku ini siapa, lagian juga aku belum mencintai nya "Luna, emang kamu sudah siap punya anak.?" tanya Arga aku pun seketika sadar dari lamunan ku dan menggeleng "Belum kan makanya, aku juga belum siap buat nafkahin kamu dan anak kita nanti" ujarnya membuat darah ku berdesir hebat entah apa yang aku rasakan tapi yang pasti ada perasaan tak nyaman dalam hatiku.
Pernikahan ini aja aku terpaksa kalau bukan keinginan ayah apalagi punya anak haduhhh kepalaku pusing sekarang.
"Kak kepala ku pusing boleh istirahat nggak.?" tanya ku
"Enggak sebelum kamu belajar dulu" perintahnya
"Kak kepalaku sangat pusing yang ada aku nggak fokus kak" tolakku yang emang sejujurnya aku belajar hanya di ujian akhir saja. Jangan di tiru ya gaes..
"Kamu harus belajar Luna besok kamu kan ujian tengah semester"
"Kak baru tengah semester kok, aku janji akan belajar saat ujian akhir semester" mohonku dengan tangan yang di satukan di depan d**a lumayan jauh sih.
"Kamu ini keras kepala sekali" gerutunya "Baiklah tapi kalau Akhir Semester aku yang akan jadi mentormu awas aja"
"Iya kak aku janji" ucapku kegirangan sebab tak perlu belajar sungguh-sungguh. "Kak kamar ku dimana.?" tanyaku
"Tu diatas, kamar disini hanya satu jadi kita satu kamar" ujarnya membuatku membelalakkan mata
"APA KAK.?" teriakku kembali
"Luna,, bisa nggak kalau tidak berteriak.?" tanya nya aku pun hanya cengengesan saja.
"Hehe maaf kak, aku hanya terkejut saja"
"Iya lain kali jangan berteriak yaaa ini di rumah bukan di hutan" jawab Arga.
"hihihi iya kak maaf ya kak aku hanya terkejut saja kok" jawabku sambil cekikikan "lagian kakak siii kenapa kita harus satu kamar tidurnya.?" tanya ku
"Lah emang kamu maunya gimana.?"
"Aku nggak mau kita satu kamar kak" ucapku lirih.
"Rumah ini hanya satu kamar itupun diatas dibawah hanya ada kamar kecil saja dan ruang makan juga tamu" ya memang rumah ini rumah minimalis dengan model 2 lantai.
"Iya kak ya sudah gak papa tapi kak apa kita akan satu ranjang.?" tanyaku agak takut
"Terserah kamu"
"Aku belum bisa satu ranjang dengan kakak, aku masih belum bisa memenuhin hak kakak sebagai suami dan aku sebagai istri, pernikahan kita hanya paksaan dari kedua orang tua kita kak" ujarku dengan sangat lirih. "Kenapa waktu kakak di beritahu menikahi ku kakak nggak menolak.?"
"Kamu tau nggak Lun, Papah ku dan Ayah kamu adalah sahabat lama, itu janji mereka jika anak-anak mereka sepasang, akan di nikahkan sedangkan kalau sama gendernya akan jadi saudara" ucap Arga membuatku mengangguk.
"Aku nggak tau kak kalau papah Daren itu sahabat Ayah aku juga udah lupa-lupa ingat"
"Ya sudah tak apa, lagi pula aku nggak bisa nolak permintaan Ayah mertua" ucapnya sambil tersenyum membuatku terkejut senyuman nya.
"Kak apa pernikahan kita akan bertahan atau berakhir kak.?" tanyaku yang entah ide dari mana yang pasti itu di kepalaku di fikiranku
"Kamu maunya.?"
"Aku nggak tau kak, jujur saja untuk saat ini pernikahan kita jangan sampai ada yang tahu ya kak, aku masih ingin sekolah kak, aku nggak mau kalau teman-teman dan guru ku tahu bahwa aku sudah menikah"
"Iya tidak masalah aku juga mau kamu mempersiapkan diri" ujarnya namun kalimat itu seakan membingungkan bagiku "Sudah kita jalani saja apa adanya"
"Tapi kak,.."
"Sudah katanya mau tidur sana naik keatas, aku juga sudah capek, aku mau nutup pintu gerbang, garasi dan semuanya"
"Ya sudah kak aku naik duluan yaa"
"Hemm iya sana"
Aku pun naik keatas dan membuka pintu kamar aku tercengang ruangan nya agak luas dan ada kamar mandi dalamnya. sudah ada meja rias nya juga sudah tertata rapih skincare yang aku pakai..
Apa ini kerjaan tante Erna.? atau ayah.?
tapi tidak mungkin ayah yang melakukan nya bukan, dia kan masih terbaring lemah. kalau Tante Erna bisa jadi sih tapi kapan tante Erna memindahkan beberapa baju ku kesini dan bukuku juga. Haduhhh ini saja sudah membuatku pusing.
"Kok ngelamun" ujarnya sambil menepuk pundaku membuatku terkejut
"Astaga kak Arga, ahhh kamu ini kak bikin aku terkejut aja" ceritaku
"Kenapa.?" tanyanya
"Ini kak kok barang-barangku ada dirumah ini padahal tadi pagi kan masih dirumah"
"Tante Erna dan mamah Iren yang memindahkan nya"
"Hah kapan.?"
"Tadi sebelum kita ijab dan sebelum kita pulang"
"Tapi kannn..."
"Bagi mamah dan tante Erna itu hal yang kecil Lun sudah nggak usah kamu fikirkan lagi"
Aku mengangguk lalu mendekati ranjang
"Cuci muka dulu baru tidur"
"Iya kak"
Aku segera melangkahkan kaki kedalam kamar mandi, segera mencuci wajah dan kaki, tentunya berganti pakaian menggunakan piyama.
"Kamu tidur diranjang aku akan tidur di sofa" aku mengangguk dengan cepat.