Aku terlebih dahulu tidur dengan lelapnya, sedangkan ia aku tak tahu apakah langsung tidur atau ada rutinitas lain yang biasa dikerjakan nya. Aku terlelap hingga menjelang pagi, Aku terbangun mendengar suara merdu orang mengaji.
"Kak,," panggilku dengan suara khas bangun tidur.
"Ah kamu terbangun.?"
"Emm iya kak tapi bacaan ngaji kakak merdu, aku jadi terbangun saat mendengarkan bacaan al-Qur'an kakak itu" jawabku sambil duduk sandaran di ranjang.
"Wudhu gih kita tadarusan sambil nungguin shubuh" aku mengangguk melihat jak dinding masih jam 04.00 lalu melangkah ke dalam kamar mandi mengambil air wudhu namun sayangnya tamu bulanan ku datang.
"Kak.."
"Iyaaa"
"Perutku kram kak,, boleh ambilin pembalut nggak kak.?" ucapku didalam kamar mandi.
"Apa.?" tanya kak Arga setengah berteriak
"Ambilin pembalut kak,, ada ngak kak di tas ransel ku" aku masih berteriak didalam kamar mandi.
"Ahhh iyaaa bentar" jawabnya lalu tak lama "Buka dikit yaaa" aku membukanya sedikit sajaa, dia memasukan tangan nya yang membawa pembalut,
"Makasih kak" aku langsung menutup pintu kamar mandi dengan segera dan menguncinya.
Setelah selesai aku pun keluar tidak melihat suamiku itu di kamar ini entah pergi kemana pagi-pagi buta begini
"Lun, ini air jahe hangat buat kamu, aku tahu perut kamu pasti sakit kan,, makanya aku ke dapur buat bikinin kamu air jahe dan mencari botol buat naruh air panas" ucap kak Arga sambil menyerahkan segelas air jahe hangat dan botol kaca yang sudah berisi air panas.
"Makasih kak" ucapku, aku bukan orang yang tidak tahu terimakasih, walaupun kami bukan seperti pasangan suami dan istri pada umumnya namun aku tahu tugas ku sebagai seorang istri walaupun belum sepenuhnya.
"Iya sama-sama kalau begitu aku mau sholat shubuh dulu di masjid kamu tunggu dirumah yah" ujarnya saat mendengarkan suara adzan shubuh aku mengangguk mengiyakan.
Aku melihat kak Arga pergi meninggalkan ruang kamar, pergi menuju masjid dekat rumah, Jujur saja merasa waspada dengan tindakan kak Arga yang nantinya aku baper dengan nya namun dia tidak, aku takut jatuh hati dengan nya, aku pun meminum air jahe buatan kak Arga, yang memang di perut terasa hangat juga enak.
Setelah dirasa perut enakan aku pun turun guna memasak sarapan untuk kami berdua "Emmm aku mau masak apa yaa" gumamku pada diri sendiri setelah berada di dapur "Hanya ada nasi sisa kemarin kayaknya nih, sama telor cukup lah buat nasi goreng untuk kita berdua" dengan segera mengeluarkan bahan - bahan yang akan aku gunakan untuk membuat nasi goreng.
Entah berapa lama berkutat di dapur "Emmm baunya enak sekali ini" ujar kak Arga yang mengagetkanku
"Kak Arga" ucapku terkejut saat mendengar suaranya di belakangku.
"Bikin sarapan apa nih.?" tanya nya
"Emmm ini kak nasi goreng dan telur ceplok" jawabku..
"Ahhh sepertinya enak nih"
"Hehe iya kak, semoga cocok di lidah kakak yaaa" ujarku penuh harap. Aku takut masakan ku tak cocok di lidahnya.
'Emmm' ia bergumam sambil mengangguk, aku pun dengan sigap mengambilkan nasi goreng juga telor ceploknya. begitu juga dengan ku yang mengambil sisa nasi goreng.
"Kak, bahan di kulkas kakak sudah menipis yaa.?" tanya ku dengan hati-hati
"Iya nanti habis pulang kuliah kakak belanja di supermarket dekat kampus" jawabnya aku pun mengangguk "Ada yang mau di beli.?" tanyanya balik
"Enggak kayaknya kak" akupun menjawabnya sambil berfikir.
"Ya sudah nanti aku belanja sepulang dari kampus"
Kami pun melanjutkan sarapan kami, setelah selesai aku pun segera bersiap berganti pakaian menggunakan seragam. dan memakai basic make up tips-tips hanya pelembab, sunscreen, bedak tabur dan liptint.
Setelah selesai aku segera turun kembali begitu pula kak Arga yang entah datang dari mana dengan setelan baju yang menurutku cakep hihi.
"Biasanya ayah ngasih uang jajan berapa.?" tanyanya yang tiba-tiba saja membuatku terkejut tentunya namun di balik itu hatiku mulai merasa hangat dengan kelakuan kak Arga itu, Dan iya aku baru ingat biasanya Ayah yang memberikan uang saku sekarang sudah tidak lagi. Ada perasaan sedih didalam hati namun aku harus tetap semangat dan tidak boleh sedih.
"Biasanya 50.000 kak kalau kakak mau nambahin boleh kok" ujarku dengan berbinar
"Emang ada kelas tambahan atau buku tambahan.?" tanyanya aku menggeleng "Nih" sambil menyerahkan uang biru dengan nominal 50.000
"Makasih kak Arga"
"Sama-sama, yuk kita berangkat"
"Emm.. nggak usah kak aku naik angkot saja" tolak ku secara halus alias tak mau pernikahan ini terbongkar saja sih.
"Susah cari angkot disini paling adanya di jalan besar kamu harus jalan kaki sampai jalan besar disana" ujar suamiku membuatku membelalakkan mata, sejauh itu aku harus jalan kaki.?
"Baiklah kak aku ikut dengan kakak saja hehe jadi lebih irit ongkosnya" ucapku
"Ya sudah ayok"
Aku berangkat diantar kak Arga menggunakan mobil nya. Entah seheboh apa nanti di sekolah aku agak dibuat pusing nih. hihihi. Semoga saja nanti tidak ramai di gerbang.
"Makasih ya kak" akupun langsung ngacir keluar dari mobil sebelum ketahuan sahabat-sahabatku.
Aku bergegas berlari kecil "LUNAAA" terdengar teriakan seorang perempuan.
"Astagaaa, Bunga bisa nggak sih jangan teriak gitu ahhh kaya dihutan aja" omelku pada sahabatku..
"Hehehe, lagian kamu kayaknya terburu-buru banget siii, habis keluar dari mobil kok langsung buru-buru" ujarnya
"Hah kamu liat aku turun dari mobil.?" tanya ku diangguki jawaban olehnya waduhhh
"Ndah, Lun" sapa seorang laki-laki.
"Ah lu Hen" ujar Bunga, yaa hanya aku yang memanggil nama kecilnya. Indah Bunga Cahyani nama lengkapnya kalau disekolah dia dipanggil Indah.
"Kenapa Ndah, bukan nya tadi kamu teriak teriak kayak orang utan aja" balas nya sengit
"Haduhhh pusing aku, liat kalian nggak pernah akur, udah deh Hen, Nga jangan kayak kucing dan tikus mulu pagi-pagi udah ributttt terus, tak doain jodoh lho kalian berdua" dumel ku lalu meninggalkan nya
"Ehhh nggak yaa,, Lun tungguin" ucap Hendra
"Haissshhhh kok aku ditinggalin siii" gerutu bunga dengan kencang dan aku pun yang masih bisa mendengarkan nya hanya geleng-geleng kepala melihat mereka bagaikan tikus dan kucing kalau ketemu.
Mereka langsung menyusul langkahku "Makanya pagi-pagi jangan berantem" ucapku sambil berjalan kearah kelas
"Nggak berantem kita Lun, hanya beradu pendapat kok ya nggak Ndah" ujar hendra membuat bola mataku memutar dengan malas, setiap ketemu kok yaaa berantem mulu bak kucing dengan tikus yang tak pernah akur hanya sesekali akurnya tapi itu hanya bisa bertahan beberapa jam saja.
"Betul kata Hendra kita nggak berantem Lun, hanya beradu argumen kok" sanggah mereka sama
"Hemm iyain aja" Aku pun masuk ke kelas dan duduk dibangku ku sendiri begitu pula Hendra dan Bunga yang duduk dibangku sebelahku.
"Kamu ini kenapa tidak peka siii" ujar Bunga, membuatku membuang nafas kasar bukan tidak peka, aku tau Hendra suka terhadap ku tapi aku tak mau pacaran dulu apalagi sekarang statusku sudah berubah membuatku dilema dan bingung.
'Maaf Bung bukan aku mau menyembunyikan ini semua tapi belum ada waktu yabg pas buat menceritakan nya itu, suatu saat nanti kalian berdua akan tahu statusku saat ini' ujar ku dalam hati sebelum bel masuk berbunyi, hingga bel berbunyi pun aku tetap diam.
Sepulang sekolah handphone ku berdering, aku melihat nomor yang tak dikenal menelfon ku akhirnya aku abaikan dan aku melanjutkan menata buku ke dalam tas ku, hingga beberapa kali ia menelfon aku pun terpaksa mengangkatnya
"Halooo"
"Assalamualaikum Lun" sapa seberang sana dengan suara yang amat aku kenali.
"Ekh iya kak wa'alaikumsalam, maaf kak, aku nggak tau kakak yang nelfon"
"Gak papa, aku tau kok, aku hanya mau mengabarkan, tapiii kamu harus Kuat ya Lun, aku tau kamu anak yang kuat dan tangguh" aku tak mengerti arah ucapan suamiku itu ada apa ini.?
"Kak ada apa.?" tanyaku lirih perasaanku pun jadi tak enak
"Emmm, tapi kamu yang kuat yaa, aku jemput sekarang tunggu aku akan kesana" ujarnya tapi aku merasakan sesuatu kesedihan yang akan terjadi namun aku tak mengerti apa.
"Baik kak aku tunggu di gerbang sekolah yah, kakak hati-hati jangan ngebut bawa mobilnya" ucapku yang entah mengapa mengucapkan hal tersebut.
"Iya sayang" aku terkejut mendengarnya lalu panggilan pun diputus secara sepihak olehnya.
Perasaan ku tak menentu sekarang ada apa ini, aku kembali duduk di bangku ku dan keluar setelah di rasa tidak ada anak lagi didalam kelas dan entah kenapa hatiku tidak karuan setelah mendapat telfon dari suamiku itu.