Perasaan ku tak menentu setelah panggilan kak Arga berakhir. Aku kembali duduk dibangku ku sendiri memikirkan perasaanku yang tidak enak. Hp ku berdering kembali dengan nomor yang terakhir menghubungiku yaitu kak Arga. Aku pun bergegas keluar dari ruang kelas setelah memang sudah tidak ada lagi teman di dalam kelas.
Kak Arga ternyata menungguku di luar mobil. "Kak, ada apa.?" tanyaku saat setelah berdiri di hadapan nya.
"Kamu harus kuat dan tabah yaaa" ujarnya kembali membuatku kebingungan, dia menatapku dan aku merasakan tatapan matanya tidak asing dan juga hatiku mungkin merasakan apa yang dia rasakan melalui tatapan nya itu.
"Ada apa kak kenapa kak Arga sangat sedih.?" tanyaku saat melihat mata indahnya sedang menahan air mata yang mungkin akan lolos dari pelupuk matanya.
"Ayah kamu Lun" ujarnya tapi seperti di gantung, dan membuatku semakin penasaran bahkan dalam hati sudah merasakan rasa yang sesak dan tidak enak.
"Ada apa sih kak kok kakak kayak sedih dan kebingungan gitu" desak ku agar kak Arga cepat mengucapkan nya. Dia langsung memelukku
"Ayah kamu sudah pulang Lun" ujarnya membuatku tersenyum
"Beneran kak ayah sudah pulang kerumah" girangku akan tetapi tidak dengan kak Arga dia malah kembali menitihkan air mata.
"Kita pulang yuk" ujarnya dan aku mengangguk dengan semangat lalu masuk kedalam mobil.
Perasaan yang tadinya tidak enak sekarang berangsur membaik, walaupun masih ada sedikit rasa sedih dan tak enak yang tersisa, melihat kak Arga terus memendam rasa sedih itu.
"Kak kita pulang kerumah Ayah kann" ucapku dan kak Arga mengangguk. Namun saat hampir sampai dirumah Ayah aku melihat bendera berwarna kuning dan orang-orang banyak berdatangan "Kak kok rumah ayah sangat rame sih kak" aku yang agak panik saat melihat bendera kuning itu pun sedikit berteriak pada kak Arga. Aku pun langsung keluar dari mobil berdiri mematung didepan rumah.
Dia tentu memelukku dengan perasaan berkecamuk, "Maaf Luna, aku tak mau kamu bersedih kehilangan ayah kamu, makanya saat melihat kamu agak melamun saat berjalan tadi aku ragu mengatakan nya" ujar nya, tangis ku pun seketika pecah..
"Ayahhh" teriakku melepaskan pelukan Arga dan berlari tas ku pun yang awalnya di pundak kini aku lemparkan kesembarang arah, memecah kerumunan yang ada masuk kedalam rumah. Disana sudah ada jasad Ayah yang sudah di letakkan di tengah-tengah ruang tamu. "Ayah" tangisku kembali pecah saat melihat tubuh cinta pertamanya telah kaku.
"Luna" tante Erna pun tersadar lalu ia memelukku "Luna, kamu harus sabar, ayah kamu sudah tidak merasakan sakit lagi, dia sudah bersama ibumu" lanjutnya
"Tante kenapa Ayah pergi meninggalkan Luna sendiri katanya Ayah mau melihat Luna punya anak.? Luna sudah memenuhi perintah Ayah untuk menikah dengan Kak Arga tinggal permintaan Ayah yang meminta cucu belum sempat Luna penuhi kenapa Ayah pergi tante" ujarku di sela tangisan ku
"Tidak apa-apa nak, Tante mengerti perasaan kamu, Ayah kamu sudah bahagia sekarang tugasnya sebagai ayah untuk menjaga kamu sudah tercapai. Kini tugas Ayahmu sudah digantikan oleh nak Arga, patuh dan taatilah perintah nya jangan melawan sekarang surga mu ada pada nya" tante Erna menasehatiku masih dengan memelukku. aku menatap tante Erna, aku masih tidak menyangka Ayah akan segera pulang ke pangkuan Tuhan-Nya.
"Sabar nak, sekarang kamu kan anak kami jadi kamu masih punya mamah dan papah, kami berdua akan menyayangi kamu selayaknya anak perempuan kami sendiri walaupun kamu itu menantu kami tapi, kami sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri" ujar mamah Iren yang ternyata ada disisiku yang lain.
"Bolehkah aku memeluk Ayahku.?" tanyaku sambil menatap tante Erna juga mamah Iren.
"Boleh sayang ayahmu belum dimandikan menunggu pak Ustadz yang sedang mengambil kain kafan untuk ayahmu"
Tanpa berlama-lama aku melepaskan pelukan dari tante Erna dan Mamah Iren lalu beralih kepada ayahku sang cinta pertamaku. "Ayah.. Luna ikhlas dengan kepergian Ayah, Ayah kalau bertemu dengan Ibu bilang ya Ayah, Luna kangen dengan Ibu, Ayah Luna juga ikhlas menerima keinginan Ayah untuk Luna menikah dengan kak Arga" bisik ku di telinga ayah, 'Maaf ayah kemarin Luna belum siap dan belum ikhlas menerima pernikahan kami Ayah' Lanjutku dalam hati 'Tapi kini Ayah tenang saja aku akan belajar untuk mencintai kak Arga aku akan menjadi istrinya yang sesungguhnya agar ayah bangga terhadapku dan ayah tenang disana bersama ibu' ucapku masih dalam hati sambil memeluk ayah untuk yang terakhir kalinya.
'Maafin Luna Yah, Luna belum bisa jadi anak yang baik, anak yang patuh pada Ayah, Maafin Luna Yah' aku masih terisak memeluknya sandaran ku hingga akhir hayatnya.
"Bu Erna, Pemandian dan Kain Kafan nya sudah siap" ujar seorang laki-laki, kemungkinan besar itu ustadz yang tadi tante Erna bicarakan.
"Luna sayang, Kasian ayahmu jika kelamaan, Ayahmu hendak dimandikan" ujar tante Erna dan mamah Iren mengangkatku agar aku menyudahi pelukan terhadap Ayah.
"Ayah, Luna sudah ikhlas ayah Pergi" ujarku sambil mencium pipinya untuk yang terakhir kalinya dan pelukan ku pun lepas padanya dan menangis di pelukan tante Erna.
"Tante Arga boleh memandikan jenazah Ayah Ahmad.?" tanya suamiku pada tanteku
"Bolehkah menantunya ikut memandikan pak Ustadz.?" Tanya tante Erna yang awam tentang hal tersebut
"Boleh saja bu Erna tidak ada larangan untuk tidak ikut memandikan jenazah mertuanya apalagi sesama jenis" jawab pak ustadz
"Terimakasih ustadz" jawab suamiku
"Ayo bapak-bapak sekarang kita memandikan jenazah pak Ahmad terlebih dahulu" seru pak Ustadz
Mereka bergotong royong memandikan jenazah ayahku lalu mengkafani nya dan menyelamatkan nya tak lupa langsung membawanya ke rumah peristirahatan terakhirnya.
Aku kembali menangis saat ayah di baringkan didalam tanah dan ditimbunnya, tante Erna dan Mamah Iren terus disisiku memelukku dan menenangkan ku sedangkan suamiku ikut membantu menguburkan ayah mertuanya.
Setelah selesai berdoa mereka meninggalkan kami, aku kembali menangis didepan nisan ayahku yaa rasanya masih seperti mimpi ayah sudah tiada, Kemarin ayah masih terlihat kuat saat menikahkan aku dengan kak Arga lalu saat aku pulang ayah juga sudah terlihat baik-baik saja tapi apa daya Tuhan berkehendak lain.
"Arga, Luna yuk kita pulang tante belum menyiapkan untuk tahlil ayahmu nanti malam" ujarnya aku pun mengangguk
"Ayah, Luna pulang dulu yaa besok luna kesini lagi" ujarku dan kembali mencium papan nisan ayah, namun saat berdiri tubuhku terasa sangat pusing "Kak kok kepalaku pusing yaa" aku berucap sangat lirih dan entah kenapa pandangan mataku sudah berkunang dan kabur dan aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Aku mengerjap mendengar suara tahlil diluar sana "Ah apa yang terjadi dengan ku.?" aku memijat pelipisku "Jam berapa sekarang, kenapa kepala ku pusing" Aku mencari handphone ku dan terkejut melihatnya sudah pukul 20.00
'Ceklek' "Luna kamu sudah sadar.?" tanya Kak Arga
"Kak aku kenapa.?" tanyaku
"Kamu kelelahan dan tubuhmu tidak kuat, makanya tubuhmu merespon dengan begitu, aku bawain kamu makanan habis itu kamu minum obat" dia dengan telaten menyuapiku walaupun dengan drama.
Tujuh hari sudah berlalu tahlil Ayahku dan ujian ku selesai berbarengan yaa walaupun aku dalam keadaan berduka aku tetap berangkat menyelesaikan ujian tengah semester itu, walaupun di sekolah Bunga akan ngereog itu sudah pasti dan aku akan sesegera mungkin akan berbicara mengenai statusku yang sekarang, butuh waktu dan pemikiran yang matang untuk membicarakan hal tersebut, dan juga statusku masih entahlah, Aku kembali ke rumah kak Arga tentunya sesudah pulang sekolah, tentunya dijemput kak Arga dong.
"Kak"
"Ada apa Lun" dia menjawab tanpa menoleh kepadaku
"Aku mau ngomong sama ka Arga"
"Kita bisa bicarakan dirumah kan Lun.?" tanya nya
"Bisa kak"
Ya lebih baik aku mengutarakan nya dirumah tak apa lah, aku menunggu waktu yang pas juga. Aku juga masih memikirkan nya matang-matang.
"Aku masukkan mobil ke garasi dulu baru nanti kita ngobrol di ruang tamu" ujarnya aku pun keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah.
Aku menghela nafas panjang, Mungkinkah aku harus berhenti sekolah demi menunaikan keinginan Ayah atau aku menundanya.?
Apakah kak Arga juga mau menerima aku apa adanya.? setelah kematian Ayah.?
Atau kak Arga akan menceraikan aku setelah kepergian ayah.?
Masih banyak pertanyaan yang dilontarkan dalam pemikiran ku yang dangkal ini. Aku langsung menuju dapur membuatkan minuman untuk teman ngobrol kita.
Noted :
Hukum wanita haid masuk ke dalam Makam.
Sebagian ulama membolehkan, yang tidak diperbolehkan itu membaca ayat suci Al-Qur'an.
Ziarah kubur tidak termasuk ibadah yang mengharuskan perempuan dalam keadaan suci dari haid, seperti salat, puasa, atau membaca Al-Qur'an