Aku langsung menuju dapur, membuatkan minuman dan membawa beberapa snack untuk teman ngobrol kami berdua. Mengingat obrolan kali ini agak lebih berat dan tidak ringan itu.
Aku sudah melihat kak Arga telah meletakkan kunci mobil nya di ruang tengah dan ia langsung duduk di sofa. begitu juga dengan aku yang masuk membawa minuman dan beberapa snack ringan.
"Kak ini diminum dulu" ujar ku sambil menyerahkan gelas berisi minuman tersebut kepadanya.
Dia mengangguk lalu menenggak sepertiganya. "Kamu mau ngomong apa.?" tanya nya
"Menurut kak Arga pernikahan kita ini apa.?" tanya ku memulai obrolan membuat kak Arga langsung menatapku begitu dalam. "Kak ayah sudah tiada aku menyerahkan semuanya pada kak Arga kalau mau menceraikan Luna ya tidak apa-apa lagipula pernikahan kita masih pernikahan siri"
"Emang kamu mau bercerai dengan ku.?" tanya nya balik aku pun terdiam bingung juga kalaupun menjawabnya aku juga bingung mengingat keinginan Ayah dan janjiku pada jasad nya waktu itu.
"Aku tidak tahu kak, sekarang aku hanya sebatang kara, kalau kakak mau menceraikan ku, mungkin aku juga akan pulang ke rumah tante Erna atau mungkin tidak sama sekali, aku akan mencoba bertahan diri sendiri" ucapku lirih mengingat itu semua mungkin juga ayah akan bersedih melihat ku diatas sana.
"Ayah sudah menitipkan kamu pada ku, kalau kamu mau bercerai dengan ku bilang ayah mu dulu" jawabnya tegas membuatku sedikit tersentak
"A-apa kak Arga mau mempertahankan pernikahan ini.?" tanyaku memastikan membuat kak Arga mengangguk dan membuatku tersenyum sedikit.
"Tapi kak,, keinginan Ayah untuk memiliki cucu bagaimana.?" tanya ku sebenarnya aku masih takut.
"Emang kamu sudah siap Lun.?" tanya nya balik dan aku menggeleng pelan "Tidak apa-apa Lun sekarang kita menikmati moment kita berdua dulu kamu juga masih sekolah jadi aku tahu sayang" ujarnya membuat pipiku bersemu merah mendengarnya.
"Kak.." aku menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku sendiri
"Hei jangan ditutupi begitu dong sayang.." sejujurnya aku malu mendengarnya, bagaimana mungkin kak Arga segampang itu membuatku baper begini.
"Sayang-sayang kak Arga nih kayaknya sudah banyak pacarnya makanya kayaknya sudah mahir membuat cewek melayang-layang plus baper" gerutuku
"Hei aku nggak pernah pacaran yaaa ingat nggak pernah pacaran" ujarnya dengan menekankan kalimat tidak pernah berpacaran tapi rasanya aku sangsi banget dengan kalimatnya.
"Kak,, kalau aku sudah siap jadi istri kakak seutuhnya sekarang gimana dengan sekolah ku kak.?" tanyaku balik keinti obrolan kami yang sempat tertunda
"Luna, dengarkan aku, aku tidak mau kamu terbebani dengan kalimat itu, aku masih bisa menahan nya" ujarnya membuatku bingung menahan apa.? "Aku ini laki-laki normal sayang, apalagi kalau kamu tidur rasanya pengen aku makan, tapi aku tahu kamu masih pengen sekolah jadi gak papa aku masih bisa menahan nya Lun, aku mau kamu siap lahir dan bathin apalagi pernikahan kita masih pernikahan siri jadi kasian anak kita nanti, kita belum meng sahkan pernikahan kita secara agama jadi kakak harap kamu sekolah yang benar dulu baru memikirkan kelanjutan hubungan kita" aku pun mengangguk mengerti. Memang kami belum mendaftarkan pernikahan kami ke ranah negara karena cukup sulit mengingat calon nya masih anak SMA kelas 2 pula.
"Kak,, mulai malam ini kakak boleh tidur diranjang" ujarku sangat lirih padanya
"Tidak usah dipaksakan itu sangat mudah bagiku Lun aman kalau itu mah" ucapnya dan membuatku kembali mengangguk "Ohya kata mamah dan papah akan kembali besok maaf baru bisa pulang besok" iya dua hari setelah pemakaman ayah, ternyata Papah Daren juga Mamah Iren ada perjalanan bisnis keluar Negeri beberapa hari, namun awalnya mamah Iren enggan mendampingi papah namun entah mengapa akhirnya mamah iren pun setuju untuk ikut dengan papah. Yaaa gitu akhirnya mamah dan papah jadi pergi.
"Iya kak gak papa, ayahku juga sudah tenang kok disana" ucapku lalu mengambil cemilan yang ada dari tadi dianterin karena obrolan kami agak cukup serius jadi kami hiraukan cemilan tersebut "Kak mau makan apa.?"
"Apa saja masakan kamu sangat enak kok" ujarnya aku kembali mengangguk lalu menuju kamar kami dilantai atas mengganti pakaian ku dengan pakaian daster rumahan alias baju kebanggaan ibu-ibu se indonesia.
Aku memasak dengan bahan seadanya saja karena ditinggal satu minggu + kak Arga juga sepertinya lupa membeli bahan-bahan masakan jadi apa yang ada aku masak. Walaupun aku belum pandai banget masak, tapi untuk makanan rumahan bisa lah dikit demi sedikit.
Hari demi hari telah kami lalui suka dan duka kami lalui bersama kini aku juga sudah naik ke kelas 12. Banyak cobaan bagi rumah tangga kami dari sisi orang ketiga baik itu aku maupun kak Arga. Apalagi kak Arga juga sudah semester 6 jadi banyak kerjaan dan kegiatan, akupun sering ditinggal olehnya tapi tidak apa-apa apalagi mamah nya kak Arga juga sering kesini bahkan tidak jarang mengajak ku shoping atau sekedar menyalon. Agar aku terlihat tetap cantik dimata kak Arga begitu kata mamah Iren, kita harus pandai menjaga diri untuk mempercantik diri sendiri dimata suami agar suami betah bersama istrinya.
Dan juga agar tubuh kita rileks dan mempesona di mata suami begitu katanya apalagi mamah kadang menanyakan gimana kabar hubungan kami yaa aku jawab apa adanya.
"Ohya Nana (Panggilan mamah mertuaku kepadaku) sebagai wanita dan istri sekaligus kita harus menyenangkan suami, maksudnya tampil cantik di depan nya biar dia tidak mencari jajan di luar" kata mamah mertua aku hanya mengangguk "Jangan biarkan wanita ular masuk kedalam rumah tangga kita, makanya kita harus cantik didepan suami jangan bobrok didepan suami biar suami makin kesemsem sama kita" lanjutnya waktu itu.
"Mah, apa Kak Arga mencintaiku.?" tanyaku
"Bagaimana jawaban kata hatimu Na.?" tanya mamah mertua aku pun hanya mengangguk "Nana, jawaban nya ada di hati kamu bagaimana perlakuan dia padamu, perhatian nya, dan sebagainya padamu, mamah rasa mamah tidak perlu mengungkapkan pada mu" ucapnya sambil tertawa lirih.
"Mah apa kak Arga pernah pacaran atau ngenalin cewek sama mamah.?" tanyaku
"Tidak pernah sampai saat ini Na, tapi dulu kayaknya mamah pernah lihat dia main jadi manten-mantenan sama teman masa kecilnya" ujarnya membuatku juga mengingat masa lalu, yaa dimana aku dan teman masa kecilku juga pernah main begitu, waktu itu aku masih berusia 5 tahun dan dia sudah 9 tahun atau lebih. "Mana menjanjikan dirinya menjadi ratu dalam hidupnya"
"Zaza" panggilku lirih namun didengar oleh mamah mertuaku.
"Kamu Lala.?" tanya mamah, membuatku terkejut mendengarnya
"Mamah tahu dari mana nama panggilan itu.?" tanyaku balik padanya hanya teman masa kecilku yang tahu nama itu karena panggilan kami berbeda.
"Ya allah ternyata mantuku sendiri" pekiknya kegirangan "Zaza itu suami kamu nak" ujarnya lirih
"Jadi kak Arga.?" aku berucap namun tanganku dengan spontan membekap mulutku sendiri.
"Iya nak suami kamu teman masa kecil kamu" mamah berucap kembali.
"Tapi kenapa sekarang panggilan nya Arga mah.?" tanya ku
"Karena dipisahkan sama kamu nak, papah dulu kan masih kerja ikut orang jadi masih bisa pindah-pindah makanya kami ikut pindah dan itu yang membuat suami kamu sangat rewel pada papah dulu, walaupun sekarang alhamdulillah hidup kami berkecukupan apalagi suami kamu adalah orang yang tekun dan diusia muda sudah jadi pengusaha muda" ujarnya membuatku kembali mengangguk. "Besok-besok kalau kita nyalon lagi mamah akan bisikin kamu rahasia mamah agar suami tekuk lutut pada kita" lanjut mamah dengan cekikikan nya.
Jujur saja kenyataan ini membuatku bahagia namun ada yang masih mengganjal mengingat kak Arga juga belum pernah membicarakan pekerjaan nya. Pernah aku tanya namun dia hanya tersenyum dan mengatakan suatu saat kamu akan tahu jawabannya, apa pekerjaan suaminya gitu, kannyaa aku jadi makin penasaran terhadap nya, bahkan aku terkadang heran bagaimana dia memberikan uangnya padaku.