6. Zaza and Lala

1235 Words
Entah lah harus senang atau gimana yang pasti aku bahagia mendengar nya, mamah juga baik denganku, menganggapku sebagai anak. Terkadang kami berdua harus berebutan mamah, tapi itu membuat kami tertawa dan bahagia. Ternyata suamiku teman kecilku sendiri. Dulu ia memberikan ku mahkota dari rangkaian bunga yang ia bikin sendiri dan cincin dari rumput yang panjang. Kalau mengingat masa kecil ternyata seru juga dan bikin cekikikan sendiri. Aku menunggu suami ku pulang bekerja sudah hampir larut jam menunjukan pukul 21.00 tapi belum ada tanda-tanda suamiku itu pulang. Beberapa menit kemudian aku mendengar deru mobil masuk kedalam rumah kami. Aku tahu itu pasti suamiku. 'Ceklek' ia membuka pintu rumah kami dan terkejut saat melihatku berdiri di ruang tamu kami. "Kak Arga" "Kenapa kamu belum tidur luna.?" tanya nya aku menggeleng "Aku menunggu kakak.." "Ya sudah yuk kita tidur sudah malam" ujarnya aku mengambil tas kerja yang selalu ia bawa. "Besok kan aku masih libur kak jadi tidak apa-apa aku menunggu kakak" Aku menyiapkan air hangat buat mandi kak Arga, aku menunggunya sambil membaca novel entah mengapa semenjak liburan aku suka membaca novel. "Zaza.." panggilku dengan lirih saat kak Arga telah selesai mandi, ia terkejut mendengarnya saat aku memanggilnya dengan nama kecil kami. "Kamu manggil aku apa.?" tanya nya sekedar memastikan bahwa pendengaran nya masih berfungsi dengan baik. "Kak Arga itu Zaza kan.?" tanyaku sambil menatap nya begitu dalam. "Dari mana kamu tahu nama itu.?" tanya nya balik padaku, lantas aku mencari buku diary yang aku sengaja bawa dari rumah tante Erna. "Kak, masih ingat foto ini.?" tanya ku saat menyerahkan sebuah foto usang padanya "Jangan bilang kamu Lala kuu.?" tanyanya aku mengangguk dia langsung memelukku dengan sangat erat nya. Kami larut dengan kebahagiaan. Terdengar suara tangisan kak Arga yang sangat lirih, dia juga bisa menangis. Entahlah perasaan ku terharu juga setelah mendengar tangisan lirih suamiku itu. "Kamu tahu dari mana kalau aku Zaza.?" tanya kak Arga dan kami merebahkan diri diatas kasur "Beberapa hari yang lalu saat mamah nggak sengaja cerita masa kecil kakak dan entah kenapa aku spontan saja manggil nama itu membuat mamah terkejut awalnya dan setelah itu kita ngobrolin semuanya" "Mamah pasti bongkar aib ku nih" ujar kak Arga dengan wajah cemberut membuatku tertawa. "Kakak nggak pantes cemberut gitu, dulu memang kakak janji akan menikah dengan ku, jika kita tidak dinikahkan secara paksa oleh Ayah gimana kak.?" tanyaku namun aku sudah tahu pasti jawaban nya. "Sayang,, itu namanya jodoh sayang, entah mengapa saat bertemu ayah kamu aku mau - mau saja dan papah juga setuju, mereka juga kayaknya nggak tau tentang masa kecil kita apalagi wajah kecil hingga dewasa nggak terlalu mirip sudah banyak berubah yaa kita nggak tau" jawabnya sambil menggenggam tangan ku jarak yang begitu tipis antara kami, akupun bisa merasakan desiran nafas yang terbuang dan juga perasaan hangat yang menyentuh sanubari ku. "Tapi aku sekarang bersyukur tau kak kalau aku menikah tidak jauh-jauh ternyata" ucapku sambil cekikikan melihatnya "Sayang, aku bukan kakak mu yaa" protes nya masih dengan wajah yang cemberut, "Terus aku manggil kakak apa dong.?" "Sayang, hubby, honey atau apa terserah kamu" 'Emmmmm' aku sambil berfikir "Gimana kalau aku manggil mas aja.?" "Boleh deh sayang, aku juga manggil kamu adek yaa" aku mengangguk "Kita tidur yuk sudah malam" dia merentangkan tangan dan aku masuk dalam dekapan nyaman nya. lalu menjelajahi alam mimpi bersama. Yaa sudah satu bulan ini kami tidur dengan memeluk satu sama lain ternyata senyaman itu hihi makanya aku berani memeluk suamiku tapi untuk hal yang satu itu aku belum berani dan juga memang kami belum melakukan nya. Keesokan paginya aku terbangun seperti biasa nya terdengar suara merdu suamiku sedang mengaji dan juga aku pun langsung mengambil air wudhu sambil menunggu adzan shubuh berkumandang. Setelah sholat berjamaah diimami suamiku aku langsung menuju dapur untuk memasak sarapan, begitu setelah sarapan aku pun mengurus rumah dan suamiku pergi bekerja. setiap hari begitu saat aku libur sekolah. Setelah hari libur selesai aku mengerjakan pekerjaan rumah setelah pulang sekolah, itupun kalau tidak capek. kalau capek yaaa dikerjakan keesokan harinya, begitu terus hingga hari libur yang akhirnya aku kerjakan pada hari libur. Sebenarnya rumah ini nggak kotor-kotor amat sih jadi aman lah kalau aku sapu dan pel seminggu sekali. Beberapa bulan telah berlalu, Kini aku hanya menunggu hari dimana hari tersebut hari spesialku alias hari brojol apa itu brojol yang tidak tahu itu hari Lahir. Dan tepat di hari ini ulang tahun ku yang ke 18, dan sekolah pun juga di pulangkan lebih cepat dari biasanya, dikarenakan gurunya akan ada rapat untuk ujian dan kelulusan anak kelas 12 jadii aku lebih happy.. (Sayang, aku mengirim paket untuk mu nanti kalau sudah sampai di pakai yaa, aku akan menjemputmu 2 jam lagi siap-siap yaa) aku membaca chat suamiku dengan senyum-senyum sendiri. (Iya mas, aku baru pulang sekolah lagi bersihkan kamar kita) aku pun menjawabnya dengan disertai emot tersenyum. (Iya sayang) Beberapa menit kemudian terdengar suara bel kemungkinan besar tukang paket yang dimaksud suamiku itu. Aku segera menghampirinya "Paket atas nama mbak Luna" ucap kang paket "Iya saya sendiri bang" jawabku "Oh baik mbak, ini paketnya yaaa" "Terimakasih bang" "Sama-sama mbak" Aku segera masuk ke dalam rumah dan membuka paketnya, terkejut setelah melihat isi paketnya, sebuah gaun panjang selutut dengan lengan pendek berwarna cream peach dan juga sandal heels dengan tinggi 5 cm dengan warna yang senada. Tak lupa surat cinta dari suamiku itu. (Sayang, jangan lupa dandan yang cantik yaaa) Aku pun segera mandi dan berdandan secantik mungkin, sepertinya suamiku mengajak ku dinner berdua. Aku menggerai rambut dan mengcurly nya dan memakai jedai kecil di setengah rambutku. Begitu juga anak rambutnya aku biarkan di gerai di ujung bagian rambut. Sisi samping telinga aku sematkan sedikit rambutku. Tak lupa aku juga berdandan agar terlihat lebih segar juga cantik walaupun banyak yang mengatakan aku sangat cantik wkwkwk. Sambil menunggu suamiku aku pun memantapkan diri untuk pergi dengan nya walaupun yaaa kami sering pergi berdua namun baru kali ini ia mengajak ku dinner romantis begini. Aku juga tak lupa memakai minyak wangi yang terbaik pilihan ku. Hingga aku mendengar deru mobil memasuki halaman rumah kami. Aku menyambutnya "Mas" kak Arga terpana melihat ku ia menatap ku dari atas sampai bawah berkali-kali "Mass.." "Sayang,, kamu sangat cantik" ujarnya akupun tersenyum "Memangnya tiap hari aku tidak cantik mas.?" tanyaku yang cemberut kepadanya. padahal mah enggak sih sebenarnya aku hanya pura-pura merajuk. "Emmm bukan gitu maksud aku sayang, hanya sore hari ini kamu terlihat sangat cantik dan elegan" ujar nya memuji diriku. seketika membuatku malu dengan pujian nya. "Ahh mas bisa aja" aku masih tersipu malu mendengar gombalan nya yang biasa aja sih.. tapi namanya wanita di puji sedemikian rupa yaaa tetap salah tingkah dan malu-malu meong hhhh. Mas Arga masih tetap menatap ku dari atas sampai bawah tak henti-hentinya membuatku gugup. "Kenapa mas liatin aku sebegitunya.? Apa dandananku menor.? apa gaunku berantakan.?" tanyaku memberondong nya "Sayang,, kamu sangat cantik makanya aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari kamu" ujarnya membuatku lega tak kirain ada noda di tubuhku kan yaaa nggak afdol dong kalau kita kencan aku nya nggak cantik. Tak pernah mas Arga melihatku sampai begitu, memang sih aku baru kali ini mencoba untuk memakai make up padahal sebelum nya hanya pake skincare biasa saja tanpa adanya makeup. Dia juga hanya sesekali perawatan salon bersama sang mertua jadi hasilnya memang tidak begitu kelihatan banget hasilnya namun perlahan ia tahu wajahnya sudah agak cerahan dan badan nya pun selalu rileks setelah perawatan memang deh kalau ada duit mending perawatan wkwkwk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD