Aku dibuat tersipu malu oleh nya, entah mau sampai kapan ia memandangiku dari atas sampai bawah.
"Mas mau sampai kapan.? aku lelah berdiri nih" ucapku sambil cemberut membuatnya langsung salah tingkah setelah menatap ku lama sekali.
"Oh iya maaf sayang mas lupa padahal mas yang mengajak kamu jalan,, Sudah siap tuan putri.?" tanya suamiku dengan tingkah ajaibnya aku mengangguk
Mengajak ku pergi entah kemana, mana di tengah perjalanan ia menutup mataku ini dan tidak boleh dibuka sebelum ia memerintah bahkan aku di larang mengintip sedikit pun.
Entah berapa lama aku didalam mobil hingga mobil berhenti entah dimana, "Sebentar jangan keluar dulu" ucapnya setelah itu ia langsung membuka pintu mobil.
Aku mendengar pintu mobil sebelahku dibuka oleh nya dan akupun membuka seatbelt nya "Silahkan keluar Istriku yang cantik" ujarnya membuat ku tersenyum mendengarnya. "Tunggu sebentar" 'Klik' terdengar suara mobil terkunci "Yuk sayang" dia menuntunku entah ini berada dimana.
Dia melepaskan penutup mataku "Jangan buka mata dulu ya sayang" ujarnya membuatku bingung dengan tingkahnya.
Aku hanya mendengus kesal terhadapnya entah kejutan apa yang akan ia berikan terhadapku. "Buka matanya sayang" Aku membuka mataku secara perlahan "Happy Birthday Istriku" ujarnya dengan wajah senangnya membuatku terkejut sesaat.
"Mass ingat.?" tanyaku yang terkejut dengan apa yang aku lihat.
"Yaa ingat lah masa mas nggak inget ulang tahun istriku sendiri" ujarnya aku pun melirik kanan dan kiri "Kamu nyari apa sayang.?" Tanyanya
"Tempat nya indah mas tapi kok sepi" ucapku sesaat melihat sekeliling tidak ada orang
"Sudah mas sewa untuk dinner kita sayang" jawabnya membuat ku tersenyum
"Tapi kok kursinya ada empat mas.?" tanyaku
"Mamah dan Papah mau dateng tapi nggak tau mau datang kapan" ujarnya aku pun mengangguk.
"Suka nggak sama tempatnya.?" tanya nya membuatku kembali tersenyum lebar
"Suka mas indah tempatnya" aku pun berjalan tidak tentu arah hanya mengelilingi tempat ini.
"Syukurlah kalau kamu suka sayang" ucapnya aku mengitari meja yang diatasnya ada bunga mawar merah dan putih yang sangat indah dipandang mata.
"Mas kok bisa kepikiran, aku aja nggak kepikiran mau dirayain"
"Tentu sayang" ia berjalan ke arah yang luas dan menyalakan lilin yang berwarna warni aku dibuat speechless. "Sayang,, mungkin ini telat untuk aku ucapin tapi kali ini aku memberanikan diri untuk melamarmu secara resmi"
"Kita sudah nikah mas" ucapku tertawa pelan melihat kak Arga berlutut dihadapan ku sembari membawa kotak merah yang berisi cincin dengan permata kecil di tengah nya. Simpel dan elegan menurutku, dan itu yang aku suka.
"Dulu nggak ada lamaran nya sayang makanya aku mengganti nya sekarang disaat usia mu sudah matang dan siap" ujarnya membuat mataku berkaca-kaca mendengarnya "Will You Marry Me Aluna Kayla Syakira" aku mengangguk tanpa berfikir lama dia menyematkan cincin itu di jari manis ku.
"Terimakasih mas ini sangat berkesan" ujarku dengan pelupuk mata yang sudah basah.
"Jangan menangis sayang"
"Aku bahagia mas" mas Arga memelukku
"Ekhem" tiba-tiba terdengar suara wanita yang tak asing ditelinga
"Mamah, papah" ucap kami berbarengan.
"Kalian ini, sudah lamaran nya.?" tanya mamah menggoda anak dan menantunya
Aku pun tersenyum sedangkan mas Arga kesal di goda oleh mamahnya "Mamah merusak suasana" ujar mas Arga yang membuatku mendelik kearahnya dan mencubit nya pelan "Sayang jangan di cubit harus nya disayang di elus saja Yang" ujarnya dengan cekikikan
"Sudah-sudah Luna harusnya kamu cubit yang keras biar dia mengaduh kesakitan" ujar mamah Iren memprovokasi ku,
"Sebenarnya yang anak nya mamah siapa sih, semenjak ada Luna kok kayaknya aku di abaikan" cebik mas Arga cemburu melihat mamah Iren lebih sayang padaku dibanding dengan dirinya.
"Mahhhh,"
"Iya pah maaf"
"Sudah mah pah, duduk yuk" ujar mas Arga
"Selamat ulang tahun anak perempuan mamah, tapi kado mama menyusul ya nak" ucap mamah sambil memelukku
"Tak apa mah, aku tidak butuh kado dari mamah, asalkan mamah mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk ku dan mas arga itu sudah lebih dari c ukup ma"
"Selamat ulang tahun mantuku, ini hadiah dari papah" ujar papah sambil memelukku juga bergantian dengan mamah dan juga memberikan sebuah kado perhiasan kalung yang sangat cantik di mataku.
"Terimakasih mah, pah, tapi rasanya Luna tidak bisa menerima hadiah dari papah" Jujur sekarang aku kangen dengan ayah dan bunda setelah sekian lama tidak kangen dengan mereka.
Tiba-tiba saja tangan ku di genggam oleh seseorang yang ternyata suamiku sendiri "Mass"
"Aku tahu kamu kangen kedua orang tuamu, Lusa kalau libur kita ziarah ke makam ayah dan ibu kamu ya sayang" aku mengangguk dan tersenyum.
"Tak apa nak, ini sebenarnya hadiah dari papah dan juga almarhum ayah kamu satu minggu sebelum beliau wafat, lihat di dalam ukiran batu permata itu nak" ujar papah Daren membuat ku membuka kotaknya lalu melihat di balik ukiran nya. Ya itu nama ku dan juga nama mas Arga terukir disana. Aku tak tahu harus bilang apa lagi kepada mereka mungkin rasa terimakasih saja belum cukup untuk semuanya.
"Pah, Mah, makasih, Luna mengucapkan kata terimakasih yang banyak buat papah dan mamah sudah menerima Luna sebagai menantu anak mamah, mas Arga, sudah memberikan kasih sayang yang tak ternilai harganya untuk Luna, semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kalian berdua dan terus sehat agar bisa mendampingi kami" ucapku panjang lebar dengan air mata yang sudah tak bisa ditahan lagi.
"Jangan menangis nak, ini hari bahagia kamu sayang, sini mamah pakai kan kalungnya" ujar mamah lalu mengambil nya dari dalam kotak dan tentu memakaikan nya di leherku.
Tak lama pesanan mas Arga datang kami makan dengan khidmat tanpa suara hanya dentingan sendok yang menemani kami hingga makanan itu pun selesai.
"Arga, gimana dengan pernikahan kalian.?" tanya Papah dengan tiba-tiba
"Kami akan mengadakan resepsi setelah Luna lulus pah, mungkin juga besok aku akan mendaftarkan pernikahan ku ke KUA pah" jawab mas Arga
"Bagus mamah setuju kalau buat resepsi mamah yang ngatur kalian terima beres saja" ujar mamah
"Tapi mah.. sayang uangnya"
"Kamu tenang saja sayang, uang suamimu itu banyak" jawab mama mertua
"Baiklah besok papah akan menemani kamu buat ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kalian" ujar papah membuat mas Arga tersenyum senang.
"Iya pah makasih"
"Sudah malam, kasian istri kamu Ga, pulang gih, mamah dan papah juga mau pulang, dingin banget" ujar mamah membuat mas Arga mengangguk mendengar perintahnya
"Betul kata mamah kamu Ga, ini sudah malam bukan nya besok Luna masih sekolah" lanjut papah mertua
"Iya pah, mah sebentar lagi Arga akan mengajak Luna pulang"
"Ohya boleh mama meminta permintaan pada kalian.?" tanya mamah
"Apa mah.?"
"Mamah meminta cucu" jawabnya dengan lugas membuatku terkesiap dan Arga tersenyum lebar.
"Sabar ya mah nunggu Luna lulus dulu" jawab mas Arga
"Maaf ya mas" lirihku
"Tidak apa sayang aku tahu kok lagipula sebentar lagi juga kamu lulus bukan hanya menghitung bulan.?" tanya mas Arga aku mengangguk.
"Makasih mas"
"Sama-sama sayang"
"Luna, Arga papah dan mamah pulang dulu yah" ujar sang papah mertua
"Iya pah, kalian hati-hati di jalan ya pah" ujarku mas Arga mana mau mengucapkan kalimat begitu
"Terimakasih sayang" ujar mamah kembali cipika cipiki dengan ku dan pergi meninggalkan tempat ini.
Aku menatap kepergian kedua mertua ku itu hingga tak terlihat kembali oleh mataku.
"Sayang" seru nya membuatku terkejut "Sayang, mas nggak menuntut hak mas sekarang, kamu harus fokus dengan sekolahmu dulu hiraukan ucapan mama mertuamu itu sayang"
"Tapi mas aku tak mau mengecewakan mamah mas"
"Tidak apa-apa sayang, tak usah difikirkan yuk kita pulang sudah malam besok kamu sekolah aku juga mau kerja" ujarnya aku mengangguk.
Dijalan aku kembali kepikiran permintaan mamah, memang selama hampir satu setengah tahun aku belum bisa menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri pada suaminya namun banyak alasan nya.
Mas Arga menginginkan aku lulus sekolah terlebih dahulu sebelum aku menjadi istri seutuhnya tapi aku juga kasian dengan mamah yang sudah meminta cucu padaku.
"Sayang.." kembali tepukan nya di bahuku yang membuatku tersentak kaget "Jangan melamun sayang" lanjutnya aku pun mengangguk
"Loh sudah sampai rumah mas.?" tanyaku
"Ya iya lah sayang, kita sudah sampai" jawabnya sambil cekikikan.
Selama itu aku melamun ternyata, mas Arga tertawa saat istrinya terbengong ahhh mas Arga ini membuatku ingin memukulnya deh.