Pagi di biro "R&R" kali ini diawali dengan bau kopi yang sangat harum—namun sayangnya, bau itu bukan berasal dari dapur mereka, melainkan dari sisa gelas plastik di meja Rangga. Ranggi sudah berdiri di tengah ruangan dengan kemoceng di tangan kanan dan sebotol cairan pembersih di tangan kiri. Dia menatap tumpukan berkas di mejanya sendiri yang sudah selesai ia analisis semalam, lalu beralih menatap Rangga yang sedang sibuk... bermain yoyo.
Ya, Rangga sedang duduk di kursinya, menyandarkan kaki ke meja, dan dengan sangat khusyuk mematikan serta menghidupkan kembali "jalan" yoyonya. Matanya mengikuti gerakan benda berputar itu seolah-olah itu adalah hal paling penting di dunia.
"Rangga, demi ketenangan jiwaku, bisakah Kamu meletakkan mainan itu dan mulai membantu aku menyusun arsip klien?" Ranggi bersuara sambil menyemprotkan cairan pembersih ke meja tamu.
Rangga tidak menoleh. "Ranggi, ini bukan sekadar mainan. Ini adalah latihan konsentrasi kinetik. Dengan memperhatikan putaran yoyo ini, aku bisa mensimulasikan bagaimana sebuah kejadian berputar di satu titik pusat. Kamu tidak akan paham seni di balik inersia."
"Aku paham seni di balik 'malas'," balas Ranggi ketus. "Kemarin Maya mengirim pesan padaku, dia bilang dia mengirimkan sekotak donat sebagai ucapan terima kasih tambahan. Kamu yang habiskan semuanya, kan?"
Rangga akhirnya berhenti. Yoyonya berhenti tepat di telapak tangannya dengan bunyi 'klek' yang memuaskan. "Aku tidak menghabiskannya sendirian. Aku berbagi dengan semut-semut di sudut ruangan. Lagipula, Maya itu orang baik, Ranggi. Dia hanya ingin memastikan detektif favoritnya tidak mati kelaparan saat sedang 'background processing'."
Ranggi memutar bola matanya. "Favoritnya itu Kamu, jangan bawa-bawa aku. Dan asal Kamu tahu, jangan terlalu baper dengan perhatian klien. Kasus selesai, hubungan selesai. Itu aturan tidak tertulis kita."
"Aturanmu, bukan aturanku," gumam Rangga sambil kembali melemparkan yoyonya ke lantai.
Tiba-tiba, pintu ruko mereka diketuk dengan ritme yang sangat teratur. Tiga ketukan, jeda dua detik, lalu tiga ketukan lagi. Sangat formal. Ranggi segera meletakkan kemocengnya ke bawah meja dan merapikan jilbab instan hitamnya yang panjang hingga menutupi d**a dengan sempurna. Dia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan mode "Detektif Profesional" miliknya.
Seorang pria muda masuk. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang yang pas di badannya, celana kain hitam, dan membawa tas kerja kulit yang tampak mahal. Rambutnya disisir rapi dengan sedikit pomade, dan wajahnya memiliki garis rahang yang tegas namun sorot matanya tampak sangat cemas.
"Selamat pagi. Apakah saya berbicara dengan rekan-rekan dari Biro A&A?" suara pria itu berat dan berwibawa, namun ada getaran halus di sana.
"Selamat pagi, benar sekali. Saya Ranggi, kepala administrasi dan penyelidik," Ranggi menyambutnya dengan senyum sopan namun tetap menjaga jarak profesional. "Silakan duduk, Mas...?"
"Rendy. Rendy Pratama. Saya asisten dosen di fakultas teknik kampus sebelah," pria itu duduk dengan punggung tegak, sangat kontras dengan Rangga yang kini malah sibuk memilin tali yoyo di kursinya.
Rendy menatap Ranggi sejenak, tampak sedikit tertegun. "Maaf, Mbak Ranggi... saya tidak menyangka detektif swasta bisa terlihat se... seprofesional ini. Saya pikir akan bertemu dengan orang-orang yang mengenakan jas hujan cokelat dan topi fedora seperti di film-film lama."
Ranggi terkekeh kecil, sebuah tawa yang sopan. "Kami lebih suka pendekatan modern, Mas Rendy. Jadi, apa yang membawa seorang akademisi seperti Anda ke tempat kami?"
Rendy menarik napas panjang. "Data penelitian profesor saya hilang. Sebuah flashdisk berwarna merah berisi hasil riset yang dikumpulkan selama lima tahun. Flashdisk itu hilang dari ruang asisten kemarin sore. Besok pagi penelitian itu harus dipresentasikan di hadapan dewan rektor. Jika tidak ada, karir profesor saya—dan tentu saja saya—berada di ujung tanduk."
"Apakah ada tanda-tanda pencurian paksa? Pintu rusak atau laci yang dicungkil?" Ranggi mulai mencatat di tablet digitalnya.
"Tidak ada. Ruangan terkunci. Hanya saya, Siska—staf administrasi—dan Profesor yang punya kunci. Saya sudah menginterogasi Siska, tapi dia bersumpah tidak menyentuhnya. Saya tidak berani melapor polisi karena ini masalah internal kampus yang sensitif."
Rangga tiba-tiba bersuara tanpa melihat ke arah mereka. "Mas Rendy, di ruangan itu ada dispenser air minum tidak?"
Rendy menoleh bingung ke arah Rangga. "E-eh... ada. Di pojok ruangan. Kenapa?"
"Lalu, apakah Mas Rendy atau Siska itu orang yang suka mendengarkan musik pakai speaker saat bekerja?" tanya Rangga lagi, kali ini dia berdiri dan berjalan mendekati Rendy.
Rendy tampak semakin bingung, sementara Ranggi memberikan tatapan "tolong jangan mulai lagi" kepada kakaknya. "Siska memang sering memutar lagu-lagu pop dengan volume agak keras kalau Profesor sedang tidak ada. Kenapa hal itu relevan?"
Rangga tidak menjawab. Dia malah memperhatikan jam tangan yang dikenakan Rendy. "Jam tangan bagus. Tipe automatic, ya? Getarannya halus."
Ranggi segera memotong. "Rangga, fokus! Mas Rendy, bisa ceritakan posisi terakhir flashdisk itu?"
"Di atas meja saya, di samping laptop. Saya meninggalkannya sebentar untuk mengambil fotokopi di lantai bawah. Saat saya kembali sepuluh menit kemudian, flashdisk itu sudah tidak ada. Siska sedang asyik menelepon di mejanya yang berjarak tiga meter dari meja saya. Dia bilang dia tidak melihat siapa pun masuk."
"Mari kita ke lokasi," ajak Ranggi. "Kita perlu melihat TKP secara langsung."
Mereka bertiga menuju kampus. Di sepanjang jalan, Rendy tampak sangat terkesan dengan ketelitian Ranggi. Ranggi menanyakan detail tentang siapa saja yang lewat di koridor, jadwal petugas kebersihan, hingga sistem ventilasi udara. Rendy menjawab setiap pertanyaan dengan antusias, sesekali melirik Ranggi dengan pandangan kagum.
"Mbak Ranggi sangat detail ya. Saya suka cara kerja Mbak yang terstruktur," puji Rendy saat mereka berjalan di koridor kampus yang asri.
"Terima kasih, Mas Rendy. Dalam pekerjaan ini, data adalah segalanya," jawab Ranggi sopan. Dia bisa merasakan tatapan Rendy yang sedikit lebih dari sekadar klien, tapi Ranggi tetap menjaga sikapnya agar tidak terlihat baper, meski pipinya sedikit terasa hangat.
Sesampainya di ruang asisten dosen, mereka bertemu dengan Siska, staf administrasi yang dimaksud. Siska adalah wanita muda yang modis, dengan riasan wajah yang cukup tebal dan gaya bicara yang agak genit.
Begitu rombongan detektif masuk, mata Siska langsung tertuju pada Rangga yang berjalan paling belakang dengan tangan di saku jaket dan gaya yang sangat santai. "Lho, Mas Rendy bawa siapa ini? Kok yang satu ini... ganteng-ganteng kayak artis indie?" celetuk Siska sambil merapikan rambutnya di depan Rangga.
Rangga hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Siska langsung salah tingkah. "Saya cuma asisten asistennya asisten, Mbak Siska. Nama saya Rangga. Boleh saya lihat dispensernya?"
Siska berkedip genit. "Boleh banget, Mas Rangga. Mau saya ambilkan airnya sekalian? Pakai cinta juga boleh."
Ranggi menarik napas panjang, menahan emosi melihat kembarannya mulai 'menarik perhatian' tanpa usaha apa pun. "Mbak Siska, tolong jangan digoda rekan saya. Dia lagi puasa... puasa serius maksudnya."
Ranggi mulai memeriksa meja Rendy dengan kaca pembesar portable. Dia memeriksa setiap celah, laci, bahkan bawah karpet. "Tidak ada bekas sidik jari yang mencurigakan selain punya Anda dan Siska di sekitar sini, Mas Rendy," lapor Ranggi.
Sementara itu, Rangga tidak memeriksa meja. Dia malah berdiri di depan dispenser, lalu beralih ke meja Siska. Dia melihat ada sebuah speaker bluetooth kecil di sana.
"Mbak Siska, kemarin sore pas Mas Rendy ke bawah, Mbak putar lagu apa?" tanya Rangga santai.
"Aduh, lagu apa ya? Kalau tidak salah lagu dangdut remix yang lagi viral itu lho, Mas. Yang bass-nya jedag-jedug," jawab Siska sambil mendekat ke arah Rangga, seolah ingin menunjukkan sesuatu di ponselnya. "Kenapa? Mas Rangga suka lagu yang sama?"
Rangga tidak menjawab. Dia berjalan kembali ke meja Rendy. Dia melihat sebuah vas bunga kecil dari kaca yang isinya air dan tanaman apung. Vas itu terletak di tepi meja, tepat di samping tempat flashdisk itu terakhir kali terlihat.
Rangga tiba-tiba mengambil yoyonya lagi. Dia meletakkan yoyo itu di atas meja Rendy, tepat di posisi flashdisk, lalu dia mengetuk meja itu dengan ritme tertentu.
"Mas Rendy, flashdisk-nya tidak dicuri," kata Rangga tiba-tiba.
"Apa maksudmu? Kalau tidak dicuri, kenapa tidak ada di sini?" Rendy bertanya dengan nada tidak percaya.
Ranggi mendekati Rangga. "Rangga, jangan bercanda. Ini masalah serius."
Rangga menunjuk ke arah celah sempit di antara meja kayu berat itu dengan dinding permanen ruangan. "Logika sederhana. Mas Rendy meletakkan flashdisk di tepi meja yang permukaannya dipoles licin. Mbak Siska memutar musik dengan bass yang sangat kuat tepat di meja sebelah. Meja asisten ini ternyata salah satu kakinya sedikit lebih pendek, membuat permukaannya miring 1 derajat ke arah dinding."
Rangga mengambil vas bunga kecil itu. "Getaran dari musik 'jedag-jedug' Mbak Siska, ditambah getaran dari mesin dispenser yang sedang bekerja memanaskan air di dekat sini, menciptakan resonansi. Flashdisk itu kecil, ringan, dan plastiknya licin. Dia perlahan-lahan 'berjalan' sendiri karena getaran itu, lalu jatuh ke celah sempit antara meja dan dinding."
Ranggi mengernyit. "Masa bisa sejauh itu? Celah itu sangat sempit, tidak mungkin tangan manusia masuk."
"Memang tidak dicuri manusia, tapi jatuh karena fisika," kata Rangga santai. Dia meraih penggaris besi panjang di meja Rendy, lalu mengikatkan magnet kecil dari hiasan kulkas yang ada di ruangan itu ke ujung penggaris menggunakan tali yoyonya.
Rangga memasukkan penggaris itu ke celah meja yang gelap dan sempit. Setelah beberapa saat mengaduk-aduk, terdengar bunyi 'klik'. Rangga menarik penggaris itu perlahan. Di ujung magnetnya, menempel sebuah flashdisk merah.
Rendy terbelalak. "Itu dia! Ya Allah, terima kasih!" Rendy hampir saja memeluk Rangga karena saking senangnya, namun dia teringat kesopanan dan hanya menyalami tangan Rangga dengan sangat kuat.
Ranggi berdiri terpaku. Lagi-lagi, cara konyol Rangga berhasil melampaui ketelitian logikanya. "Getaran musik... Aku benar-benar tidak memikirkan sejauh itu."
Rendy kemudian berbalik ke arah Ranggi, tatapannya kini berubah menjadi sangat lembut dan penuh rasa hormat. "Mbak Ranggi, terima kasih banyak sudah membawa rekan yang luar biasa. Tapi jujur, ketenangan Mbak dalam mengoordinasi penyelidikan ini yang membuat saya yakin masalah ini akan selesai."
Ranggi tersipu, "Ah, itu sudah bagian dari prosedur kami, Mas Rendy."
"Begini... karena flashdisk-nya sudah ketemu, dan besok saya sudah tidak tegang lagi untuk presentasi, apakah Mbak Ranggi keberatan kalau besok malam... saya mengajak Mbak makan malam sebagai perayaan kecil? Hanya sebagai ucapan terima kasih pribadi," Rendy bertanya dengan nada yang sangat sopan dan penuh harapan.
Ranggi terdiam sejenak. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Saya... saya rasa asalkan tempatnya ramai dan terbuka, tidak masalah, Mas Rendy. Tapi hanya sebagai ucapan terima kasih, ya?"
Rendy tersenyum sangat lebar, "Tentu saja. Saya akan kirimkan detail tempatnya."
Di sisi lain ruangan, Siska masih menempel pada Rangga. "Mas Rangga, karena Mas sudah hebat banget nemuin flashdisk, Mas tidak mau nemuin hati saya yang hilang juga?"
Rangga tertawa santai, "Wah, kalau hati hilang itu urusannya sama dokter bedah, Mbak Siska. Saya cuma detektif barang jatuh."
Rangga kemudian menoleh ke Ranggi dan Rendy dengan pandangan jahil. "Ranggi, jangan lupa laporan administrasinya. Mas Rendy, pastikan besok dispensernya dimatikan kalau mau presentasi, siapa tahu laptopnya juga ikut 'jalan'."
Sepanjang perjalanan pulang, suasana hati Ranggi sangat berbunga-bunga, sementara Rangga kembali ke mode "mager"-nya. Ranggi merasa Rendy adalah pria yang sangat sopan dan baik. Namun, seperti yang sudah-sudah, dia tahu bahwa profesi mereka sebagai detektif swasta seringkali membuat hubungan yang diawali dari kasus akan berakhir dengan cepat karena kesibukan masing-masing.
"Ciyeee yang mau makan malam sama asisten dosen," goda Rangga saat mereka masuk kembali ke ruko.
"Diam Kamu, Rangga! Fokus saja sama yoyo-mu itu!" seru Ranggi dengan wajah memerah, meskipun dalam hati dia merasa sangat senang.
Malam itu, Ranggi mulai sibuk memilih pakaian yang sopan namun tetap cantik untuk pertemuannya besok, sementara Rangga... dia sudah tidur mendengkur di sofa dengan flashdisk merah cadangan milik Rendy yang diberikan sebagai kenang-kenangan di tangannya.
---
**Bersambung ke Bab 3...**