Bab 1: Misteri Bulu yang Hilang dan Pesona di Balik Bantal
Jam sepuluh pagi. Ruko dua lantai dengan plang kayu "Biro Detektif Kembar R&R" sudah buka. Tapi kalau kamu masuk ke dalam, rasanya seperti melihat dua dunia yang berbeda server.
Di sebelah kanan, itu **Republik Ranggi**. Bersih, wangi aromaterapi lavender, dan rapi sekali sampai lalat saja mungkin minder mau hinggap. Ranggi, dengan gamis dan jilbab biru navy-nya, sedang mengetik di laptop seperti atlet e-sport yang kejar target. Baginya, logika dan efisiensi adalah jalan ninja.
Di sebelah kiri? Selamat datang di **Zona Bencana Rangga**. Mejanya tertimbun komik, bungkus keripik kempes, dan kabel charger yang ruwetnya mengalahkan masalah hidup. Terus bosnya di mana? Sedang asyik tidur di sofa, wajahnya ditutup topi bisbol, dan salah satu kakinya goyang-goyang menikmati mimpi.
"Rangga!" suara Ranggi melengking, mengalahkan alarm siskamling. "Ini sudah jam sepuluh lewat! Laporan keuangan belum disentuh, itu debu di meja sudah cukup buat lahan tanam toge! Bangun woy!"
Rangga cuma menggeliat pelan, memeluk bantal leher gambar ayam jagonya makin erat. "Sst... Ranggi, otakku ini sedang background processing. Kalau buka aplikasi banyak-banyak di depan, nanti sistemnya hang. Ini lagi mendinginkan mesin biar logikanya jalan."
"Mesin pendingin apaan yang kerjanya cuma ngorok?!" Ranggi mulai gemas ingin melempar map. "Kita ini detektif swasta! Kita butuh klien, butuh reputasi! Kalau ada orang masuk melihatmu begini, disangkanya kita buka panti jompo pengangguran!"
Rangga menarik topinya sedikit ke atas, mengintip dengan satu mata yang masih lima watt. "Klien itu datang mencari solusi, Nggi, bukan mencari meja bersih ala apotek. Lagipula... aku sudah mencium wangi parfum mahal campur melati nih naik ke tangga depan. Jackpot baru kayaknya mau masuk."
Belum sempat Ranggi membalas omelan, pintu kaca benar-benar diketuk. Ranggi langsung berubah mode customer service—jilbab dirapikan, kacamata dibenarkan, dan senyum disetel maksimal 100%. Sementara Rangga? Dia cuma duduk tegak sambil menguap selebar goa, menggaruk rambutnya yang berantakan sampai terlihat seperti baru kesetrum gardu listrik.
Masuklah seorang wanita muda cantik memakai gamis pastel modern. Namanya Maya. Matanya bengkak dan memegang sapu tangan basah. Kelihatan sekali sedang super galau.
"B-benar ini kantor detektif Rangga dan Ranggi?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Betul banget, Mbak. Sini silakan masuk dan duduk," sambut Ranggi super ramah. "Ada yang bisa dibantu? Tenang, rahasia dijamin aman terkendali."
Maya duduk sambil menahan tangis. "Kucing saya, Mochi, hilang sejak subuh tadi. Dia kucing Persia kesayangan almarhum nenek. Saya sudah cari keliling komplek, tanya tetangga, sampai cek CCTV, tapi nggak ada jejaknya. Mochi itu penakut banget, nggak berani keluar teras sendirian. Saya takut dia diculik..."
Ranggi langsung mengeluarkan pulpen dan buku catatannya. Mode serius langsung on.
Di sisi lain, Rangga tiba-tiba melek. Matanya yang tadi mengantuk berat kini terbuka lebar memperhatikan tas jinjing Maya dan ujung bawah gamisnya yang sedikit kotor terkena debu cokelat.
"Masalah hidup dan mati urusan si meong empat kaki ya, Mbak?" celetuk Rangga santai sambil bersandar di sofa.
Maya terkejut. "Lho, kok Mas bisa nebak secepat itu?"
Ranggi memelototi Rangga dengan isyarat mata 'Diam atau gajimu kupotong'. Tapi Rangga malah berdiri menghampiri Maya, tangannya dimasukkan ke saku jaket denim buluknya. Tiba-tiba wajahnya menunduk, mendekat ke tas Maya. Maya sampai menahan napas, agak salah tingkah karena walau gayanya urakan, detektif satu ini auranya sama sekali tidak bisa diremehkan kalau dilihat dari dekat.
"Mbak Maya, tadi pagi sarapan roti gandum pakai selai kacang ya? Yang ada butiran kacangnya kasar-kasar?" tembak Rangga tiba-tiba.
Plak! Ranggi menepuk jidatnya sendiri. "Rangga! Kita ini lagi ngurusin nyawa kucing peliharaan, ngapain nanyain menu sarapan orang?! Bisa lebih profesional dikit nggak?"
Maya ikutan bingung tapi menurut saja menjawab. "I-iya benar. Emang apa hubungannya sama Mochi yang hilang?"
Rangga tersenyum miring, gaya sok keren yang anehnya bikin meyakinkan. "Sangat berhubungan, Mbak. Mochi nggak diculik, dia cuma lagi healing tipis-tipis ke luar rumah. Nggi, tutup buku catatanmu. Kita langsung OTW ke toko bunga Mekar Jaya di ujung jalan raya sana."
"Hah? Toko bunga?" Ranggi mengernyit, logikanya protes keras. "Mbak Maya bilang Mochi itu penakut, mana berani dia jalan dua blok sejauh itu sendirian!"
"Sudahlah, bawel ah, ikuti saja caraku," Rangga menyambar topinya, dipakainya terbalik ala anak skena. "Aman, Mbak. Mochi itu putih bersih, kan? Sekarang dia pasti lagi ngerasa kotor banget dan butuh pelukan ayangnya. Yuk berangkat."
Sepanjang jalan, Maya dibikin heran campur tertawa. Bagaimana tidak? Rangga kerjanya berhenti hanya untuk mengendus-endus daun di pagar rumah orang, bahkan sempat-sempatnya mengajak ngobrol burung gereja yang nangkring di kabel listrik. Tapi anehnya, obrolan santai dan guyonan random Rangga sukses membuat Maya lupa dengan kesedihannya.
"Mas Rangga kelihatannya hidupnya santai banget ya, no drama," puji Maya malu-malu.
"Beban hidup itu kayak cucian kotor, Mbak. Kalau ditumpuk terus, nanti bau apek. Mending dicuci satu-satu sambil nyanyi," jawab Rangga asal, sukses membuat pipi Maya bersemu merah.
Sesampainya di toko bunga, Rangga tidak masuk ke dalam. Dia malah melipir ke lorong samping bangunan, menuju tumpukan karung sekam padi dan pupuk kandang yang gelap dan lembap.
"Mbak, coba pRanggil Mochi pelan-pelan ke celah karung situ," bisik Rangga tenang.
Maya deg-degan setengah mati. "Mochi? Sayang? Ini Bunda, Nak..."
Hening. Ranggi sudah siap-siap menceramahi kakaknya. Eh, tiba-tiba... "Meeeoong..." Suara serak keluar dari balik karung. Muncul kepala kucing putih yang sekarang warnanya sudah mirip keset dapur karena penuh debu cokelat dan sisa pupuk.
"Ya ampun, Mochi!" Maya langsung mendekap kucingnya kencang-kencang, tak peduli gamis mahalnya ikut kotor belepotan.
Ranggi ternganga sempurna. "Oke, kali ini aku akui kamu menang. Tapi tolong jelaskan padaku pakai bahasa manusia normal, dari mana kamu tahu dia ngumpet di situ?!"
Rangga tertawa pelan. "Logika itu nggak selalu lurus, Nggi. Mochi itu kan penakut. Kucing penakut kalau nyasar pasti mengikuti bau yang dia kenal banget sebagai navigasi pulang. Nah, tas Mbak Maya ini bau selai kacang kuat sekali. Tadi pagi pas sarapan buru-buru, pasti ada selai yang menetes kena sela jahitan tas."
Rangga menunjuk tas jinjing Maya. "Mochi mengendus bau itu dan keluar rumah saat ada jendela yang terbuka sedikit. Dia mengikuti rute Mbak Maya yang kebetulan jalan lewat sini pas mau beli roti ke seberang. Buktinya, di tas Mbak ada serbuk sari bunga Lily yang menempel, Serbuk sarinya pasti kebawa angin pas Mbak lewat depan toko ini."
Maya mengangguk semangat dengan mata berbinar. "Benar banget! Tadi pagi saya memang lewat sini!"
"Nah," lanjut Rangga bergaya ala detektif film klasik. "Pas dia ngikutin jejak bau di tas itu, subuh tadi ada petir besar. Kucing yang panik pasti mencari tempat sembunyi yang baunya paling menyengat untuk menutupi bau tubuhnya sendiri biar aman dari predator. Bau pupuk organik di samping toko ini sangat kuat dan gelap. Alhasil, kejebaklah dia di sini karena terlalu takut buat menyeberang jalan lagi."
Ranggi terdiam speechless. Analisis random kakaknya ternyata akurat seratus persen.
Maya menatap Rangga dengan pandangan kagum campur baper. "Mas Rangga... terima kasih banyak ya. Mas bisa merhatiin hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri nggak sadar."
Rangga menggaruk lehernya yang tidak gatal, mulai salah tingkah ditatap sebegitunya. "Santai, Mbak. Sudah tugas kita. Mochi saja yang seleranya buruk kalau milih tempat ngumpet."
Maya tersenyum manis penuh arti. "Mas, kalau tidak keberatan... aku boleh simpan nomor WA pribadinya? Maksudnya... siapa tahu nanti Mochi stres lagi dan butuh konsultasi... atau mungkin, kita bisa makan siang bareng sebagai ucapan terima kasih?"
Rangga nyengir lebar, membalas dengan senyuman hangat. "Boleh banget, Mbak. Layanan konsultasi lewat WA tersedia 24 jam buat klien kesayangan kucing. Tapi please ya, jangan kirim foto roti selai kacang, nanti saya lapar lagi."
Maya tertawa renyah. Ranggi cuma bisa menarik napas panjang melihat scene drakor gratis di depannya yang bikin gemas ini.
"Ehem! Woy, balik kantor yuk!" potong Ranggi sengaja merusak momen sweet tersebut. "Mbak Maya, mari tanda tangan dulu administrasi penyelesaian kasus biar formal."
Sesampainya di kantor, Maya pamit pulang naik mobilnya, meninggalkan senyum pamungkas paling manis untuk Rangga. Namun, begitu mobilnya hilang dari pandangan, Rangga langsung melepas jaket, loncat kembali ke sofa, dan menutup wajahnya dengan topi lagi. Mode pemalas langsung activated.
"Heh! Baru kelar satu kasus kecil, masa sudah balik mode mager lagi?!" omel Ranggi sambil merapikan kursi bekas kliennya.
"Nggi... habis diajak ngobrol sama wanita cantik itu, RAM otakku terkuras habis," suara Rangga terdengar teredam dari balik topi. "Biarkan sistemku restart dulu. Jangan bangunkan aku sebelum ada klien yang membawakan martabak keju susu."
Ranggi cuma bisa tepuk jidat, lalu duduk kembali ke mejanya yang super rapi. Di layar laptop, dia mengetik judul laporan barunya: **Kasus 001: Tragedi Kucing Beraroma Selai Kacang. Status: Selesai Secara Nyentrik.**