"Kamar kita di atas." Akhirnya Elang bersuara juga. Karena sedari tadi diam, entah kenapa suara itu terasa sangat asing. Saat melihat ke wajah suaminya, Anisa juga bingung. Entah ekspresi apa yang tercipta di sana. Datar dan kelam. "Lang, orangtuamu mana?" tanya Anisa saat mereka menaiki tangga. Mereka tidak tinggal di sini. "Jadi, kamu cuma sendiri di rumah sebesar ini?" "Kan, sekarang ada kamu, ada pembantu juga." Meski jawabnya lancar, Anisa tetap merasa Elang enggan diajak bicara. "Ini kamar kita," ucap Elang sambil membuka pintu salah satu ruangan di lantai dua. "Kamu istirahat duluan, ya, aku masih ada kerjaan. Atau kalau mau makan bilang aja ke Bibi." Tanpa menunggu respons Anisa, Elang langsung beralih ke ruangan sebelah sambil menenteng laptopnya. Barangkali itu ruang kerja

