"Loh, Mas?" Anisa bergegas menghampiri suaminya yang baru saja tiba di dasar tangga. Tentu saja dia kaget melihat suaminya tiba-tiba ada di sana dengan setelan kantor yang sudah rapi. Elang menghentikan langkahnya, tapi tidak menoleh. "Mas mau kerja?" Tidak ada jawaban. "Bukannya Mas lagi sakit?" Anisa ingin mengecek suhu tubuh suaminya, tapi tangannya ditepis dengan kasar. "Hentikan semua kesia-siaan ini. Yang semalam adalah terakhir kalinya kamu bersikap seolah berhak mencampuri semua urusanku." Elang menyorot tajam. Matanya serupa laser mematikan. "Aku tegaskan sekali lagi, kita nggak perlu terikat hak dan kewajiban sebagai suami istri. Urus urusanmu sendiri!" Anisa menelan ludah kelat. Air matanya meruah begitu saja. Padahal, baru beberapa menit yang lalu harapannya melambung tin

