"Tuhan ... tolong beri hidayah untuk Mas Elang. Lancarkan segala urusannya, selalu sehat jiwa dan raga, serta senantiasa di bawah lindungan-Mu. Jika dia memang tidak bisa mencintai hamba seperti yang hamba dambakan selama ini, cukup dengan dia mencintai dirinya sendiri. Amin ...." Elang tertegun. Saat terbangun, malah kalimat itu yang pertama kali didengarnya. Anisa menyebut namanya dalam doa. Teramat tulus. Terbuat dari apa hati istrinya itu? Kenapa luka kemarin tiba-tiba sudah kering seolah tak berbekas? Anisa terkesiap ketika mendengar Elang terbatuk. Dia menyudahi bacaan Alquran-nya dan lekas menghampiri suaminya itu. "Alhamdulillah, Mas udah bangun." Anisa duduk di tepi ranjang. "Gimana perasaannya? Masih pusing?" tanyanya sambil mengelus kening Elang, merapikan rambut yang menjunt

