Bab 1. Ayuna si Baby Sitter
"Mas,,, pelan-pelan ya,, ini baru pertama kali kita berhubungan suami istri lagi setelah masa nifas. Aku rasanya takut banget Mas", ucapku pada suamiku Mas Zayn yang kala itu penuh nafsu mencumbui semua bagian tubuhku.
"Iya sayang, Mas pakai perasaan kok", ucapnya. Aku keheranan mengapa Mas Zayn begitu bernafsunya malam ini padaku. Ah mungkin saja karena memang dia sudah sangat lama tidak mendapatkan jatah dariku, bayangkan saja sudah hampir 45 hari. Pasti rasanya pusing sekali jika menjadi Mas Zayn. Akhirnya malam ini dia baru bisa menyalurkan hasratnya yang telah lama terpendam. Ah,,, Mas! Aku juga sangat menginginkannya.
"Ahhh,,,,,", desah Mas Zayn ketika dia berhasil memasukkan bagian kelaki-lakiannya ke dalam inti tubuhku. Kueratkan pelukanku kepada Mas Zayn. Kuku-kuku runcingku menggores bagian punggung Mas Zayn.
"Aahhhh,,,, Mas,,,", aku pun balas mendesah dengan tidak kalahnya.
Mas Zayn sempat berhenti sejenak. Dia menatapku dan mengusap bulir-bulir keringat yang ada di dahiku. Aku merasakan sensani yang luar biasa, rasanya hampir sama ketika malam pertama. Ada rasa takut, perih dan nikmat jadi satu.
Mas Zayn melumat bibirku agar aku merasa tenang dan tidak merasakan kesakitan. Padahal kini rasa sakit itu telah berubah menjadi rasa nikmat yang sangat luar biasa.
"Ahh,,, ahh,,, Mas,,, terus,,,", desahanku menggema di setiap sudut kamarku.
"Mas mau keluar sayang,,,", balas Mas Zayn.
"Buang di dalam aja ya Mas, aku sudah suntik KB kok", ucapku memberitahu Mas Zayn.
"Iya sayang,,", jawab Mas Zayn. Mas Zayn menggoyang tubuhnya semakin cepat dengan ritme yang beraturan. Kurasakan debaran di jantungnya sudah tidak karuan, seketika tubuhnya menegang, aku paham bahwa Mas Zayn sebentar lagi pasti akan mencapai puncaknya.
"Aahhhhhh,,,,,", desahan panjang Mas Zayn disertai dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Aku merasakan semburan hangat mengaliri rahimku. Ia terkulai lemas di atas tubuhku, dan aku masih tetap dalam posisi memeluk tubuhnya.
Mas Zayn merebahkan tubuhnya di sampingku. Nafasnya masih tersengal-sengal, rasanya dia lelah sekali, padahal durasi bermain kami tidak sampai 15 menit. Ah,, mungkin Mas Zayn lagi banyak kerjaan hari ini di kantor.
"Sayang,,, Mas lapar, rasanya pengen makan mie rebus nih, kamu mau buatin kan?", pinta Mas Zayn. Tentu saja aku mau, saat ini rasanya perutku juga lapar sekali. Ternyata permainan tadi begitu menguras tenaga.
Kukenakan luaran lingerieku dan bergegas membuka pintu kamar, sebelumnya kusempatkan untuk melihat buah hatiku yang tertidur nyenyak di ranjang bayinya.
"Mas, aku tunggu di dapur ya", ucapku pada Mas Zayn sebelum berlalu meninggalkan kamarku.
Aku segera memasak mie instant sebanyak dua bungkus. Setelah selesai memasaknya segera ku hidangkan ke dalam mangkuk dan kuletakkan di atas meja makan.
Kulihat Mas Zayn baru keluar dari dalam kamar dan segera menghampiriku di dapur.
"Hhmmm,,, enak banget nih pasti rasanya", ucap Mas Zayn sembari mengendus aroma sedap mie instant yang telah tersaji di meja makan.
"Ayo Mas kita makan!!", ajakku pada Mas Zayn karena aku sendiri juga sudah tidak sabar ingin segera menikmatinya.
Kreekkk,,,,
Terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Kucari dari mana sumber suaranya. Namun alangkah terkejutnya aku ketika melihat Ayuna baby sitter anakku keluar dari kamarnya. Bukan karena dia keluar dari kamarnya yang membuat aku terkejut dan menghentikan kegiatan makanku. Melainkan pakaian yang dia kenakan begitu seksi sekali.
Ia memakai baju tidur terusan tanpa lengan yang hanya sebatas paha sehingga menampakkan tonjolan buah dadanya yang begitu besar serta bokongnya yang bahenol.
Ya ampun Ayuna! Berani-beraninya dia berpakaian seperti itu di depan suamiku! Dia benar-benar tidak sopan. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!
Kulirik sekilas Mas Zayn yang masih terduduk di kursi meja makan. Dia juga menghentikan aktifitas makannya. Matanya melotot tak berkedip melihat ke arah Ayuna, jakunnya bergerak naik turun. Sepertinya ia menelan ludahnya sendiri. Aku kesal sekali rasanya melihat Mas Zayn memperhatikan Ayuna seperti itu. Awas saja kau Mas kalau berani macam-macam di belakangku!
"Ayuna! Kamu punya sopan santun nggak sih?", tanyaku kesal padanya.
"Punya Buk", jawabnya santai dan semakin membuatku gemas. Aneh, sudah beberapa hari terakhir ini kulihat dia sok berkuasa di rumah ini. Jika kutanya pun jawabnya seenaknya saja. Kelakuannya juga sering membuatku jengkel.
"Tolong ganti bajumu dengan yang lebih sopan lagi sekarang!", perintahku.
"Ya ampun Buk, ini juga kan udah malam. Lagipula aku gerah tidur di kamar kecil dan sempit seperti itu", jawabnya seenak jidad.
"Kamu lama-lama ngelunjak ya! Kamu mau aku pulangin lagi ke kampung?", ancamku padanya. Hati ini sudah sangat kesal melihatnya.
"Sudah sayang,, jangan di perbesar lagi masalah ini. Mungkin Ayuna memang sedang kepanasan di dalam kamarnya", ucap suamiku. Apa??? Dia justru menganggap aku memperbesar masalah ini? Memperbesar darimana? Ini masalah etika!
"Iya Pak, aku kepanasan di kamar. Tolong di pasangin AC ya Pak di kamarku", pintanya dengan wajah memelas di depan suamiku. Lihat!! Dia bahkan sudah berani menyuruh suamiku untuk memasangkan AC di kamarnya. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Awas kau Ayuna!!
"Iya,, nanti aku pasang. Biar kamu nyaman tidurnya", jawab Mas Zayn. Aku membulatkan bola mataku. Tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan suamiku.
"Makasih Mas, eh Pak", jawab Ayuna kegirangan sampai-sampai dia keceplosan memanggil suamiku dengan sebutan 'Mas'.
"Mas? Tadi kamu bilang apa barusan? Aku nggak salah dengar? Kamu manggil suamiku dengan sebutan Mas?", tanyaku. Kulihat Ayuna sedikit panik.
"Aku tadi salah ngomong Buk saking senangnya. Maaf ya Buk", jawabnya sekena hatinya saja. Kulihat Mas Zayn dia seperti salah tingkah. Kepalaku mendadak pusing sekali. Aku tidak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada rumah tanggaku.
"Mas tapi kamu kan nggak perlu harus nurutin permintaan Ayuna", ucapku pada suamiku.
"Nggak apa-apa sayang, biar dia semakin betah kerja di sini. Zaman sekarang susah lho nyari baby sitter yang terampil. Apalagi Ayuna adalah orang kepercayaan Ibu yang memang memiliki hubungan kekerabatan dengan orang tuanya. Jangan sampai Ibu marah pada kita jika Ayuna ngambek dan minta pulang kampung", jelas Mas Zayn padaku. Alasan apa ini? Benar-benar tidak masuk akal.
"Lagi-lagi Ibu kamu Mas", ucapku kesal. Aku kehilangan nafsu makanku seketika. Apalagi kulihat Ayuna bukannya masuk kembali ke dalam kamarnya malah berjalan berlenggak lenggok memamerkan bokongnya yang seksi ke arah kitchen set. Kulirik Mas Zayn, matanya masih saja memperhatikan b****g bahenol milik Ayuna. Rasanya ingin segera kucongkel biji matanya saat ini!
"Pak, mau nambah makan mie rebusnya?", tanyanya kepada suamiku.
"Eh,,,ee,, nggak, aku udah kenyang", jawab Mas Zayn gugup. Aku semakin kesal melihat pemandangan ini. Aku pun segera bangkit dari kursiku. Membanting sendok dan garpu ke mangkuk dengan kasarnya lalu berlalu meninggalkan dapur dan bergegas menuju kamarku.
Aku terduduk di tepi ranjang. Tidak!! Ini tidak bisa dibiarkan! Ayuna bisa jadi ancaman dalam rumah tanggaku.
Aku bangkit dan berjalan ke arah ranjang bayiku. Kulihat Elnara masih tertidur pulas. Dia harus tetap memiliki orang tua yang utuh. Dia hanya boleh melihat orang tuanya saling menyanyangi dan mencintai supaya kelak dia juga tumbuh menjadi seseorang yang penuh dengan kasih sayang.
Tiba-tiba tubuhku rasanya lelah sekali apalagi setelah memadu kasih bersama Mas Zayn tadi. Pikiranku melayang kembali ke satu setengah jam yang lalu ketika Mas Zayn mencumbuiku. Rasanya masih sama seperti dulu. Sentuhannya, ciumannya, pelukannya bahkan cumbuannya di seluruh bagian sensitif tubuhku. Ahh,,,! Tiba-tiba ada yang berdesir aneh di dalam tubuhku. Aku begitu menginginkannya sekali lagi malam ini.
Tapi rasa kantuk yang menyerang begitu kuat. Kurebahkan tubuhku di kasur bersprei hijau muda saksi tempat kami bergumul tadi. Nanti subuh saja aku meminta Mas Zayn untuk memuaskan hasratku lagi. Aku sudah menguap berkali-kali, mataku mulai berair dan terpejam perlahan. Sampai akhirnya aku tak sadarkan diri lagi.
"Mas Zayn,,,,?!", tiba-tiba aku tersentak dari tidurku. Segera aku pun terduduk, nafasku masih memburu naik turun. Aku sepertinya mimpi buruk tadi. Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Berarti aku sempat tertidur selama tiga jam. Kulihat Mas Zayn tidak ada di sampingku. Aku terdiam dan berpikir sejenak. Astaga!!! Aku baru ingat bahwa tadi aku meninggalkan Mas Zayn di dapur hanya berdua dengan baby sitter binal itu.
Segera kuturun dari ranjangku. Kubuka pintu kamarku perlahan-lahan.
Kreekkk,,,,
Senyap, sepi sekali. Kulihat semua lampu sudah dimatikan. Hanya lampu teras depan dan belakang saja yang masih menyala. Dengan berjalan hati-hati dan mengandalkan penerangan yang ada kuselusuri ruang keluargaku, kulihat sekeliling. Tidak ada Mas Zayn di sana. Kemana dia?
Kulangkahkan lagi kakiku menuju dapur, tadi terakhir kutinggalkan Mas Zayn di dapur ini. Tapi sekarang mengapa jadi sepi. Bekas mangkuk dan gelas pun sudah tidak ada lagi di atas meja makan. Semua sudah bersih.
Samar-samar aku seperti mendengar sesuatu. Suara seorang perempuan, sepertinya tidak asing. Kutajamkan kembali pendengaranku.
"Ahh,, oh,, Mas,, sshh,,, aahh", suara siapa itu? Apa aku tidak salah dengar? Sedang apa mereka? Siapa tengah malam begini mendesah kenikmatan? Apa suara desahan tetangga yang sedang bergumul? Tapi jika itu memang suara desahan tetangga apa mungkin suaranya bisa terdengar sampai kesini? Pasangan suami istri dirumah ini hanya aku dan Mas Zayn. Lalu siapa yang mendesah tadi?