PROLOG
"Calvin!!!"
"Kya! Calvin!!!"
"We love you Calvin Leonard!!!"
Alunan lagu Teen-pop terus mengalun menghentakkan The O2 Arena London—sebuah arena yang sering digunakan sebagai panggung musik besar dan kini telah diisi oleh dua puluh ribu fans Calvin Leonard yang tengah menyanyikan single hits-nya yang merajai top global music selama dua bulan berturut-turut.
Seorang pria yang membuat dua puluh ribu penonton menjerit histeris hanya karena dia melepas baju-nya dan melemparkannya ke kerumunan fans-nya itu. Siapa lagi kalau bukan Calvin.
Calvin kembali menyanyi, lighting yang megah terus menyorotnya. Wajahnya terpampang besar di layar lebar yang terdapat di kanan dan kiri panggungnya.
Bernyanyi di iringi para crew dance profesionalnya dan juga group music-nya.
"I know you want me." Calvin menyanyikan lirik lagu terakhirnya. Kemudian mengacungkan kepalan tangannya keatas, dan sedetik kemudian kembang api mulai muncul disusul dengan teriakan kagum para penggemarnya lagi.
Napas Calvin terengah, seluruh tubuhnya basah oleh keringat karena menyanyi, menari, dan berjalan mengitari panggung—hanya untuk para penggemarnya.
Iris mata cokelat Calvin menatap ke seluruh arena, tepuk tangan meriah senantiasa mengiringi. Decak kagum penonton juga ikut meramaikan suasana di tengah-tengah kembang api yang meletus indah menghiasi langit malam.
Tapi kamera ponsel para penontonnya tetap menyorot Calvin. Tetap menyorot segala aktifitasnya sampai dia seakan sudah tidak memiliki privasi. Seolah kehidupannya di perjual-belikan.
Letusan kembang api terakhir di susul dengan ledakan pita yang mengakibatkan balon berjatuhan membuat Calvin tersentak dari lamunannya.
Calvin kembali memasang senyum itu, seolah dia baik-baik saja dan tidak lelah. Kemudian dia berteriak dengan lantang. "Thankyou London! I love you so much! Thankyou for everything!"
Kemudian pekikan kekaguman itu hadir lagi memekakan telinga ketika Calvin membalikkan badannya dan berjalan ke belakang panggung.
Malam ini, Calvin resmi menyelesaikan World Tour Calvin Leonard 2017 dengan London sebagai titik akhirnya.
"Perfect, as always!" Gill—manajer Calvin langsung melempar handuk dan sebotol air mineral pada Calvin yang langsung diminumnya sambil berjalan menuruni tangga stage. "Pers sudah menunggu untuk conferensi tentang akhir dari World Tour tahun ini. Tiga puluh menit lagi, Cal."
Calvin tetap diam, memberikan botol minumannya pada Gill dan mengusap wajahnya dengan handuk yang diberikan managernya itu.
Seiring Calvin berjalan di backstage, para asistennya senantiasa mengikuti dan Calvin juga memakai baju-nya di tengah-tengah jalannya.
"Calvin!"
"Leina," Calvin menghentikan langkahnya di depan ruangan istirahat pribadi-nya ketika mendapati Leina Zee—seorang model papan atas berada dihadapannya.
"Aku menontonmu dari tadi di bangku vvip one. Kau memberiku tiket yang nyaman." Ungkap Leina yang langsung bergelayut manja di lengan Calvin.
"Kau akan selalu nyaman bila bersamaku, Leina." Calvin kemudian merengkuh model itu dan langsung mencumbu bibirnya.
Perlahan tapi pasti, ciuman itu semakin dalam sampai Calvin tersentak ketika Gill memukul punggungnya.
"What the fvck, Gill!" Umpat Calvin.
"Maaf, tapi kau harus pers conference dua puluh lima menit lagi sekarang."
Calvin memutar bola matanya dan kemudian menarik Leina memasuki ruangan pribadi-nya. Mengabaikan ucapan Gill begitu saja dan kemudian menaruh salah satu tangannya di dinding untuk memerangkap tubuh seksi Leina.
"Jadi, sampai dimana kita tadi?" Tanya Calvin dengan suara rendahnya.
"You can start anywhere." Leina mengalungkan lengannya di leher Calvin dan menempelkan d**a penuhnya pada d**a bidang Calvin.
Ujung bibir kanan Calvin sontak tertarik keatas, "Shall we?"
Leina mengecup tengkuk Calvin dan kemudian telinga Calvin. "We have to quick, Calvin Leonard."
Tanpa menunggu lama lagi Calvin langsung menjamah tubuh Leina. Tubuh dari seorang w************n yang begitu mudah dia dapatkan hanya dengan uang dan rayuan kecil.
Dekati, rayu, dan habisi di ranjang—atau dimanapun.
Tampan, kaya, memiliki bakat musik yang mumpuni, dan hal lain sebagainya yang membuat para penggemarnya benar-benar menganggap Calvin sempurna.
Tapi manusia tentu tidak ada yang sempurna di dunia ini. Calvin bermasalah dengan keluarganya, sahabatnya, cintanya, perasaannya.
Dan sampai sekarang, Calvin tidak pernah menyadari bahwa dia telah menghancurkan kehidupan seorang wanita yang tidak pernah merasakan kehidupan seberuntung Calvin Leonard.
Takdir hanya belum berbicara, Tuhan hanya belum membalas, dan Calvin belum memahami segala perasaannya.
***
Malam yang sama di waktu yang sama dengan Calvin yang berada di The O2 Arena, seorang wanita bernama Josefina Sea Marioline tengah menangis histeris di sebuah kamar mandi rumah bordil yang ditinggalinya setahun ini.
"Tidak, ma'am! Aku tidak mau!"
"Ayolah, Sea!" Seorang wanita cantik berumur empat puluh dua tahun yang di panggil ma'am itu menarik resleting gaun ketat berwarna merah menyala yang dipakai Josefina.
"Ma'am, kau sudah berjanji tidak akan memperkerjakanku." Josefina menangis lagi sambil memeluk tubuhnya dan menatap ketiga teman-temannya yang sudah lama bekerja sebagai pekerja seks komersial di rumah bordil ini.
Madame Helen kemudian menatap Josefina sejenak sebelum tersenyum lembut. "Maaf, Sea. Tapi sepertinya kau tidak berguna lagi jika hanya berada di meja receptionist sambil mencatat nama pelanggan, menyuruh mereka menunggu sambil mengantarkan minuman mereka. Nyatanya seorang menteri kita tertarik padamu dan berani membayarmu dengan harga tinggi."
"Aku tidak mau ma'am."
"Sea, darling." Madame Helen bersimpuh dihadapan Josefina sambil mengoleskan lipstik nude berwarna merah di bibir sempurna Josefina. "Aku berjanji akan memberikan tujuh puluh persen hasil satu malammu. Hanya malam ini, tidak lagi. Lagipula kau sudah tidak virgin, jadi apa yang mau kau pertahankan?"
Kemudian seorang teman Josefina memberikan wig berwarna hitam pada Madame Helen dan Madame Helen memasangkannya pada rambut Josefina. "Tentang kesehatan dan kebersihan, aku yakin seorang menteri pasti bersih. Kau akan tidur di hotel yang bagus, menghabiskan malam dengannya. Hei, dia tampan. Kau pasti jatuh hati saat melihatnya nanti. Dia masih muda, Sea.
Tapi jangan seks dengan perasaan cinta, tidak boleh cinta pada klien sendiri. Kau puas, dia juga puas. Lalu kau akan bangun dan sarapan dengan makanan mewah, di antar pulang dengan limousine. Mendapatkan banyak uang pula begitu sampai disini."
"Aku tidak mau!" Josefina berteriak keras sambil mendorong tubuh Madame Helen.
"Sea!" Ketiga teman Josefina terkesiap dan langsung membantu Madame Helen. "Anda baik-baik saja, ma'am?"
Madame Helen tersenyum sambil menepuk paha-nya. "Kau suruh saja sahabatmu ini bersiap-siap. Aku akan menemui menteri tampan itu dulu. Jangan menangis terus, Sea."
Bukannya berhenti menangis, tangisan Josefina makin keras sambil bahu-nya bergetar hebat dan napasnya sesak.
"Kami tidak bisa melakukan apapun, Sea. Keputusan Madame Helen sudah bulat."
"Dia menjebakku, Fey!" Bantah Josefina.
Wanita yang di panggil Fey itu kemudian memberikan botol vodka berukuran sedang pada Josefina. "Aku tahu kau bisa minum. Maka minumlah ini. Kau tidak akan pingsan atau mual karena aku tahu kau tidak payah dalam minum. Hanya saja, kau jadi tidak begitu merasakan tertekan dan segala hal yang tidak mengenakan lainnya."
"I'm scared." Lirih Josefina, membuat Fey mengusap air mata yang jatuh ke pipi-nya.
"Aku lebih berpengalaman darimu, Sea. Walaupun aku tidak ingin kau sama seperti kita, tapi bila kau meminum vodka sebelum bekerja, maka segalanya akan menjadi lebih ringan."
Tatapan Josefina kosong, dia menatap botol Vodka dingin di genggamannya. Sampai kemudian, bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka dengan keras, Josefina menenggak isi botol vodka itu.
"Sea! Kenapa kau minum disini?! Bukannya kau harus bekerja?" Seorang wanita berambut ikal yang mengenakan tanktop putih dan mini skirt menatap Josefina dengan terkejut.
Josefina mengernyit ketika melihat Olivia berdiri dihadapannya sambil membawa lightstick berwarna biru dan mengenakan sebuah bando yang terdapat foto lelaki itu.
"Kau... darimana?" Tanya Josefina lamat-lamat.
Olivia sontak terlonjak senang. "Aku libur hari ini dan menonton konser penutupan world tour Calvin Leonard! Kya! Dia sangat keren sepanjang konser tadi!"
Calvin Leonard.
Josefina menghela napas berat ketika kembali mendengar nama itu lagi. Ketika hampir seluruh remaja seperti Olivia mengidolakan Calvin Leonard, Josefina yang berumur dua puluh empat tahun bisa dianggap sebagai haters berat dari Calvin.
Bukan karena tingkah buruk Calvin yang banyak di sorot media, atapun karena Calvin sering bergonta-ganti wanita dan memiliki gaya hidup yang begitu mewah.
Josefina memiliki alasan kuat untuk membenci Calvin.
Karena Calvin-lah yang telah menghancurkan segala harapan dan kehidupannya. Bagi sebagian wanita Calvin seperti seorang dewa.
Tapi bagi Josefina, Calvin adalah sesosok iblis yan