Pintu penthouse pribadi Calvin Leonard langsung terbuka otomatis setelah Calvin menempelkan keycard-nya ke kotak intercom.
Jelas dengan susah payah. Karena Calvin saat ini kerepotan menggendong wanita kriminal yang penuh dengan cairan muntah di sekujur baju-nya dan juga cairan muntah yang mengenai baju Calvin.
Dengan cepat Calvin setengah berlari naik ke lantai dua dengan susah payah lagi dan langsung memasuki kamar utama sekaligus kamar satu-satunya di penthouse mewah ini.
Calvin kemudian membaringkan wanita itu dengan kasar ke kasurnya dan mendesah keras. "Astaga! Selesai sudah siksaan ini!"
Walaupun di banting dengan kasar di kasur, tidur wanita kriminal ini tidak merasa terganggu sepertinya. Sea malah menggeliat di kasur nyaman milik Calvin, mengecap-ngecap mulutnya di tengah-tengah tidurnya dan mendengkur pulas.
Kening Calvin berkerut dalam, menatap Sea dengan jijik. "Astaga, benar-benar menjijikkan."
Karena tidak mau ambil pusing dan dia merasa risih dengan bau muntah di sekujur tubuhnya, Calvin langsung berlari ke kamar mandi dan segera mandi. Dan karena terlalu jijik, Calvin sampai berendam tiga puluh menit di kamar mandi sambil menonton televisi yang ada di kamar mandi-nya di temani segelas wine mahal.
Beginilah kehidupan seorang Calvin Leonard. Banyak tingkah, tidak perduli sekitar, dan membuatnya melupakan ada wanita kriminal yang masih penuh dengan cairan muntah di kasurnya.
"Aku lupa," Calvin langsung keluar dari bathup dan memakai bathrobe-nya. "Sialan, seharusnya aku langsung membawanya saja ke kantor polisi. Bukannya kemari."
Setelah keluar dari kamar mandi, Calvin berdiri sambil berkacak pinggang mengamati Sea yang masih tertidur. Kemudian kening Calvin berkerut lagi dan dia benar-benar jijik jika harus membiarkan Sea tidur dengan baju penuh dengan bekas muntah.
"Baiklah, wanita kriminal. Kau harus bersyukur karena kau bertemu denganku malam ini." Calvin langsung mencopot dress seksi Sea tanpa sungkan dan tanpa napsu.
Untuk apa dia harus bernapsu dengan perempuan yang tidak jelas seperti Sea dan lagipula, Calvin sudah sering melihat dan mencicipi tubuh-tubuh polos para model dan aktris yang selalu memberikan tubuhnya pada Calvin dengan sukarela.
Calvin benar-benar membuat tubuh bagian atas Sea tidak tertupi apapun dan bahkan Calvin sudah melihat d**a polos Sea yang menurutnya biasa saja. Itu semua karena dress seksi milik Sea ini membuatnya tidak memerlukan memakai sebuah bra.
Hanya celana dalam berwarna hitam yang melekat di tubuh Sea.
Calvin kemudian menghela napasnya dengan kasar, memungut kembali dress milik Sea, menaruhnya di keranjang pakaian kotor dan bahkan dia menyelimuti tubuh Sea.
"Apa aku bilang kau beruntung malam ini?" Calvin berbicara sendiri. Seolah teringat sesuatu, Calvin kemudian tertawa licik sambil mengambil sebuah benda dari laci nakas-nya. "Sepertinya, kau benar-benar beruntung?"
Calvin menarik tangan kiri Sea keatas dan mendekatkannya ke tiang ranjang, lalu memborgol-nya.
Klik. Borgol itu terkunci.
Calvin tertawa licik. "Atau mungkin, tidak beruntung?"
Memangnya aku perduli? Calvin tertawa dalam hati.
Dan kemudian Calvin berjalan ke sisi kanan kasur yang masih kosong dan melepas bathrobe-nya. Naik keatas kasur dan masuk ke balik selimut hanya dengan celana dalam yang dia pakai.
Sejenak, Calvin tertawa lagi ketika melihat wajah polos Sea yang tengah tertidur tanpa menyadari bahwa tangan wanita itu telah di borgol.
"Selamat tidur, wanita kriminal."
***
Tubuhnya terasa ringan, tubuhnya beberapa kali sengaja menggeliat ketika merasakan punggung-nya menyentuh sesuatu yang lembut.
Kedua ujung bibirnya tertarik keatas ketika merasakan hawa sejuk pendingin ruangan membelai kulit wajah-nya, leher, sampai ke d**a-nya. Dan beberapa kali Sea menarik napasnya ketika mencium bau ruangan yang maskulin dan menenangkan.
"Enak..." Gumam Sea di sela-sela tidurnya. "Bau yang enak..."
Tapi tiba-tiba pipi kiri Sea gatal karena rambutnya yang menganggu tidur nyenyak ini. Dengan refleks, Sea menarik tangan kirinya untuk menggaruk pipinya.
"Hm?!" Sea menarik tangan kirinya lagi yang serasa tersendat dan tidak bisa bergerak. "Gat—aw!"
Sea langsung membuka mata-nya ketika merasakan getaran di tangan kirinya ketika kesemutan. Sea langsung melirik ke kiri, mengikuti tangan kirinya yang terangkat keatas. Pandangannya naik lagi, Sea menarik tangannya, tangan itu tertahan. Dan...
Tangannya di borgol!
"Hah?!" Dengan refleks Sea mencoba untuk duduk, tapi kemudian dia langsung mengaduh dan memekik ketika kepalanya malah terantuk tiang kasur.
Karena masih belum seratus persen sadar, beberapa kali matanya mengerjap. Kemudian dia menatap ke sekeliling kamar.
Kamar?! Sea langsung membelalakan matanya menatap kamar mewah ini. Kamar yang begitu mewah.
"Astaga!" Sea terkesiap dan terlonjak ketika melihat seorang lelaki yang sedang tertidur tengkurap dengan selimut yang hanya menutupi sampai ke pinggang lelaki itu. Membuat Sea bisa melihat punggung polosnya. "Dimana aku?"
Seolah sadar sejenak, pandangan mata Sea kemudian turun ke bawah dan matanya kembali terbelalak ketika melihat selimut di tubuhnya tersibak, membuatnya dapat melihat d**a polosnya sendiri yang mencuat.
Pelan-pelan pikirannya mulai berjalan. Aku tidak memakai baju.
Ada pria asing di sampingku yang tidak memakai baju juga.
Kita sama-sama berada diatas kasur.
Kemudian kepingan-kepingan kejadian itu muncul kembali; Rumah bordil madame Helen, seorang menteri, Lamborghini, kemacetan, dia berlari, lalu berjalan sambil meminum vodka, lalu bertemu Lamborghini lagi dan dia memukulkan batu bata yang dia temukan ke kaca mobil Lamborghini itu dan ternyata salah orang. Lalu Sea lupa apa yang terjadi sebelumnya.
"Tidak. Tidak!" Sea mulai berteriak histeris. "Aku tidak mungkin diperkosa! Astaga, astaga! Aku diperkosa! Astaga... Kya!!! Tolong!!!"
Sea berteriak keras sambil menendang-nendang kaki-nya, membuat selimutnya makin tersibak dan kasur mulai bergerak-gerak.
"Astaga selimutnya jatuh! Aku telanjang!" Sea berteriak, melirik lelaki yang tidur disampingnya hanya dengan celana dalam. "Dia juga telanjang! Kya!!!"
Calvin mengerang dan langsung memukul kasurnya ketika telinga-nya berdenging saat mendengar wanita berteriak bak teriakan satu oktav.
"Tolong! Tolong! Tolong aku!!!" Sea masih berteriak.
"Hei..." Calvin berucap dengan suara seraknya, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Sea yang ketakutan dengan mata memerah khas orang baru bangun tidur. "Diamlah dan tidur lagi. Ini masih jam tiga pagi."
"Kau?!" Sea terskesiap. "Kenapa aku bisa tidur denganmu?! Kau memperkosaku!!!"
"Tidak!" Calvin balas dengan suara keras dan langsung terduduk.
"Kau penjahat kelamin!"
"Hei diamlah!" Calvin langsung naik keatas tubuh Sea dan menekan kedua bahu Sea agar wanita itu diam dan guncangan di kasur-nya terhenti.
Kelopak mata Sea melebar dan napasnya seakan tercekat ketika iris mata cokelat Calvin menatap tajam ke arah iris mata hijau-nya. Seolah menusuknya dalam-dalam.
"Diam." Desis Calvin.
Calvin terus menatap Sea sampai Sea kembali bernapas lagi dengan memburu, iris mata hijau itu benar-benar menatapnya dengan ketakutan.
Setelah napas Sea mulai tidak lagi memburu, tanpa sadar mata Calvin bergerak turun dan tak lagi menatap mata hijau Sea.
Sea mengikuti tatapan Calvin, dan lelaki diatas-nya ini dengan terang-terangan menatap d**a-nya yang terbuka tanpa tertutupi sehelai kain pun. Dan bodohnya, dengan refleks Sea melihat ke bagian bawah pusar Calvin.
Sebuah tonjolan pria yang tertutupi celana dalam.
"Kya! Dasar m***m!!!" Sea berteriak. Tak hanya berteriak dia juga refleks menendang lagi dan membuat lutut Sea menendang tonjolan yang persis berada diatas lututnya.
"Argh! FVCK!" Calvin mengerang keras sambil memegangi aset berharga-nya yang baru saja terkena lutut Sea.
Dan kesialan berimbas pada Calvin ketika dia tiba-tiba saja kehilangan keseimbangannya dari atas kasur.
Bugh!
Sea terlonjak dan menutup matanya ketika mendengar bunyi bedebam keras di lantai, lalu melihat sendiri ketika kepala Calvin langsung membentur lantai.
"Aw," Sea yang malah menyipitkan matanya merasa sok kesakitan.
Sedangkan Calvin, "argh! Kepalaku! Argh... astaga, sakit sekali!"
Calvin kemudian berguling di lantai dengan kedua tangan yang masih memegangi miliknya yang berdenyut-denyut.
Sea melongokkan kepalanya sambil memperhatikan Calvin. "Kau... baik-baik saja?"
***
Calvin duduk di sebuah single sofa di kamarnya sambil menatap Sea dengan tajam. Sea sendiri kini mengenakan kemeja hitam milik Calvin yang panjangnya sampai menutupi paha Sea. Tapi setelah memakai kemeja, Calvin kembali memborgol tangan Sea ke tempat semula.
Jadilah kini Sea terduduk diatas kasur Calvin dengan tangan yang masih terborgol.
Walaupun diam-diam d**a Sea terus berdebar-debar. Tapi bukan berdebar karena mengagumi dan senang karena kini Calvin Leonard berada persis dihadapannya.
Sea bukanlah fans Calvin. Dia sangat membenci Calvin dan kini, Sea benar-benar takut ketika memikirkan apakah Calvin mengenalnya. Atau, apakah Calvin mengingatnya?
"Sebenarnya siapa kau ini?" Pertanyaan barusan yang di lontarkan Calvin tanpa sadar membuat Sea menghela napas lega.
Calvin Leonard tidak mengingatnya dan tidak mengingat perbuatan biadab yang telah menghancurkan hidup Sea.
Calvin berdecak kesal. "Kau tiba-tiba saja datang entah darimana dan memecahkan kaca mobilku. Kau memiliki masalah denganku, huh?"
"Sudah aku bilang, aku salah memecahkan kaca mobil." Sea mengeluh. "Kalian memiliki mobil yang sama."
"Na-ah. Aku tidak perduli kau akan memecahkan mobil siapa seharusnya. Tapi langsung saja, aku mau kau mengganti rugi atas perbuatanmu."
Sea menelan ludahnya susah payah. "Ganti rugi?"
"Yap." Calvin mengangguk mantap. "Karna hanya kaca mobil baby Lambo milikku yang terbaru, jadi ganti saja hanya dua ribu pound sterling."
"Dua ribu pound streling?!" Sea hampir saja terlonjak, tapi dia langsung merintih ketika tangannya yang di borgol terasa nyeri lagi. "Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu."
"Aku tidak mau tahu. Ganti."
"Tapi aku tidak punya uang. Atau—"
"Atau apa?" Calvin menantang.
Sea terdiam. Dia bisa saja meminta izin pada Calvin dan kemudian menghubungi Fey atau teman-temannya yang berada di rumah bordil untuk meminjam uang. Tapi apa mereka mempunyai uang sebanyak itu?
Kalau bertemu Fey berarti Sea harus kembali ke rumah bordil itu dan bertemu madame Helen. Dia akan dihukum dan kembali di mangsakan pada lelaki hidung belang.
Bisa saja Sea meminjam uang pada madame Helen. Tapi membayar pinjamannya? Pasti madame Helen akan membuat cara licik. Yaitu menjual Sea ke p****************g dan Sea akan menjadi p*****r tanpa mendapatkan upah dari madame Helen.
Sea tidak ingin jadi p*****r, Sea juga tidak ingin kembali ke rumah bordil!
"Hei, nona..." Calvin berdiri di depan Sea sambil menjentik-jentikkan jarinya didepan wajah Sea. "Kau mau membayar dengan apa?"
Sea tersentak. "Dengan apapun itu!"
Sea menjawab dengan cepat, namun sekejap kemudian dia langsung mengatupkan mulutnya ketika melihat kerutan dalam di dahi Calvin.
"Dengan apapun? Hm, boleh juga." Calvin menatap Sea sambil mengusap-usap dagu-nya.
Sea menelan saliva-nya dengan susah payah. Tuhan, semoga lelaki di depanku ini tidak akan menjadikanku pemuas napsu seks-nya dan bertingkah semena-mena.
"Karena aku ingin lebih menjaga privasi dan rasanya malas ketika asisten rumah tanggaku malah genit padaku dan mencuri-curi kesempatan untuk melihatku atau memotretku, maka kau..." Calvin menunjuk Sea. "...menjadi asisten rumah tanggaku tanpa dibayar! Gajimu akan langsung masuk ke rekeningku lagi untuk membayar hutang."
Sea mengernyitkan dahi ketika mendengarnya. "Dua ribu pound sterling, bukankah dalam sebulan juga cukup aku menjadi asisten rumah tangga untuk mengganti rugi kaca mobilmu?"
Calvin mengangguk. "Beruntung aku tidak memberi wanita kriminal sepertimu pekerjaan rendahan. Dan gaji asisten rumah tangga di London begitu besar. Tapi, ganti rugi itu belum selesai."
"Maksudmu?"
"Ganti rugi karena membuat bajuku terkena muntahanmu, ganti rugi karena aku telah mengerahkan tenaga untuk menggendongmu, ganti rugi karena kau telah melukai aset tubuhku yang paling berharga—"
"Aku tidak melukainya!"
"Tapi sakit!" Calvin melotot, lalu berdeham. "Lanjut. Membayar fasilitas kasur, kamar, dan kemeja."
"Kau perhitungan!" Sea berteriak tiak terima.
Calvin langsung tersenyum sinis. "Aku harus perhitungan. Karena baju yang terkena muntahanmu adalah baju dari designer ternama dan hanya aku yang memiliknya. Yah, walaupun itu bukan baju favoritku.
Lalu masuk dan tidur di kamar ini? Kau kira semua barang yang ada di kamar ini murah? Dan kemeja yang kau pakai? Itu salah satu rancangan designer kenamaan juga."
"Aku.tidak.perduli!" Ucap Sea penuh penekanan.
Calvin mengedikkan bahu-nya. "Well, aku juga tidak perduli. Intinya hutangmu menjadi lima ribu pound sterling."
"Kau curang!"
Calvin menghiraukan ucapan Sea dan kemudian mengambil tas kecil Sea yang tadi hanya dia taruh di meja-nya. Hanya ada sebuah dompet kecil disana yang berisi uang empat pound sterling dan sebuah kartu identitas.
Tawa mengejek Calvin langsung terdengar di telinga Sea ketika Calvin mengambil uang di dalam dompetnya dan langsung menaburkannya ke udara.
"Empat pond sterling?" Calvin tertawa mengejek, membuat Sea benar-benar muak. "Kau sama saja seperti gelandangan. Pantas saja kriminal."
Sea hanya bisa diam ketika Calvin tertawa lagi saat melihat kartu identitasnya.
"Lihatlah fotomu disini, sangat kriminal." Calvin terbahak keras sampai memegangi perutnya. "Baiklah nona kriminal Josefina Sea Marioline. Namamu mengandung kelautan. Jangan-jangan kau... mermaid?"
Calvin terbahak lagi sedangkan Sea hanya menatapnya dengan tajam.
"Mermaid kriminal." Calvin menyisakan tawa kecilnya. "Jadi kau mau aku panggil apa? Josefina? Sea? Marioline? Wanita Kriminal? Mermaid kriminal?"
Josefina bersumpah dalam hati bahwa dia ingin menendang wajah dan menginjak mulut busuk Calvin sekarang juga!
"Panggil aku Josefina." Jawab Sea dengan sisa kesabaran yang ada.
"Baiklah..." Calvin mengangguk dengan di selingi tawa kecilnya. "Sea. Aku panggil kau Sea."
Damn! Sea benar-benar membenci panggilan itu dan dia sekarang ingin membunuh Calvin!
"Lepaskan aku dari borgol ini!" Ucap Sea.
Calvin tertawa lagi, membuat Sea heran apakah lelaki dihadapannya ini masih memiliki sisa kewarasan atau dia benar-benar sudah gila.
"Baiklah, Sea. Santai saja." Calvin menarik laci nakas yang berada persis di samping Sea dan mengambil sebuah kunci borgol kecil.
Sea mendecih kesal. "Kau hanya menaruh kuncinya disitu? Tahu begitu aku langsung mengambilnya."
"Sayangnya otakmu ini kecil." Jemari Calvin mengetuk-ngetuk dahi Sea, membuat Sea menggelengkan kepalanya dengan kasar. "Stupid."
Kemudian borgol itu terbuka, Calvin langsung memegang pergelangan tangan Sea yang memerah.
Dan Sea langsung meringis sambil mendesis kesakitan ketika merasakan nyeri saat ibu jari Calvin mengusap pergelangan tangannya.
Diam-diam Calvin menatap Sea melalui balik bulu matanya. Ada rasa kasihan melihat wanita tidak jelas ini kesakitan dan belum-belum sudah dia kerjai. Tapi mengingat baby Lambo-nya yang kacanya pecah membuat Calvin kesal lagi.
"Baiklah, Sea." Calvin mengusap lagi pergelangan tangan Sea dengan lembut. "Mulai detik ini, kau harus menuruti semua ucapan dan perintahku. Atau, hutangmu akan bertambah."
Sea meneguk salivanya dengan susah payah. Dibalik usapan lembut jemari Calvin di pergelangan tangannya, tatapan mata Calvin benar-benar licik padanya.
Sea hanya berharap, semoga Calvin tidak menyakitinya lagi seperti dul