Dua

1316 Words
Rosela pov Aku melewati koridor koridor sekolah dengan menunduk, semua orang tampak tak peduli denganku. Ditengah tengah perjalanan aku bertemu dengan lili, aku pun berniat menghampirinya. "Hai" sapaku pada lili "Hai juga" katanya membalas sapaku. Pada saat kami berjalan di koridor kami mendengar suara memuja Gila ganteng banget ya Rafaaa ketos paling ganteng menurut gua Waktu ibunya hamil ngidam apaan ya Bisa lemes gua kalo ngeliat dia senyum, sayangnya dia jarang senyum. "Itu kenapa?" Tanyaku sambil menunjuk cewek cewek yang sedang memuji muji rafa, emangnya rafa siapa? Tanyaku dalam hati "Oh mereka udah biasa kalo rafa lewat didepan mereka" jawab lili sambil tersenyum "Rafa itu siapa? Yang mana?" Tanyaku heran, dia hanya memandangku dengan raut -serius-lo-gak-tau-rafa?- "Gua gak tau rafa" kataku seakan mengeti arti tatapan nya "Yaampun masa lo gak tau rafa sih. Dia itu ketua osis, dan juga sekelas sama kita" katanya sambil menggelengkan kepalanya, aku hanya cuek saja dan meninggalkannya yang sedang mengoceh tentang rafa. Emang aku peduli? Kataku dalam hati. Aku pun memasuki kelas dan duduk dibangku ku, aku melihat arleta menatapku terus, aku menghela nafas panjang seraya menatapnya. Arleta pov Aku masih bingung soal murid baru itu. Pada saat dia memasuki kelas aku tidak terlalu tertarik dengannya makanya aku memainkan ponselku. Tapi ketika dia menyebutkan namanya sukses membuatku terkejut, bagaimana tidak kalau namanya rosela cecilia. Rosela cecilia seringku panggil cecil, dia sahabatku dari kecil. Aku sih yakin kalo teman sekelasku yang bernama rosela cecilia itu cecil sahabatku dulu, tapi kenapa dia jadi nerd? Aku juga udah gak ketemu dengan dia sekitar 1 tahun. Aku selalu memandangnya tajam dengan arti -apa maksud semua ini?- aku tau cecil mengerti tatapan tajamku, dan dia juga selalu menghindar dariku. Hari ini aku melihat dia datang kekelas disusul oleh lili, uh aku sangat iri dengan lili, dia bisa berdekatan dengan cecil, sementara aku? Hanya bisa memandangnya dari jauh. Sudah kuputuskan bahwa mulai sekarang aku akan selalu ada disampingnya! Aku selalu menatapnya dan dia juga menatapku. Tiba tiba guru masuk kekelas dan aku mencoba melepaskan pandanganku dari cecil. Hanya satu orang yang bisa membuatnya mengaku kenapa dia menjadi seperti ini. Kalau dia tidak mau mengaku kepadaku maka akan kupaksa dia mengaku ke orang itu, orang itu adalah sepupunya zaky fahreza walker, cecil sangat dekat dengan kak zaky.. bahkan mereka sering sekali jalan bareng waktu dulu, semua berubah selama dua tahun ini. Cecil tidak pernah mengikuti lomba piano lagi dan tidak pernah latihan basket lagi. Tapi apakah kak zaky udah tau kalo cecil sekolah disini? Kurasa belom, aku harus memberitau kepadanya secepatnya. Tapi kurasa sekarang waktunya belom tepat, aku harus menunggu waktu yang tepat. "Arleta" panggil guruku, aku memandangnya, dia memberikanku tatapan tajam. "Kamu melamun?" Tanya guruku, aku meringis. Dia baru saja mengacaukan acara melamunku. "Tidak bu" jawabku bohong, jelas aku melamun, dan melamunkan cecil. "Yasudah, perhatikan lagi kalo ibu sedang menerangkan" kata guruku lagi, aku mengangguk dan aku melihat kearah kelas yang telah menatapku dengan kening berkerut. Kring.. kring.. kring Rosela pov "Lo belom daftar eskul kan?" Tanya lili, aku mengangguk "Yaudah yuk gua temenin lo daftar eskul sama ketua osis" katanya, aku hanya memandangnya aneh "Disini kalo mau daftar eskul melewati ketua osis" tambahnya lagi, aku hanya mengangguk. Pada saat kami ingin berdiri kulihat arleta menghampiri kemejaku dan lili. Kulihat lili ketakutan dan menggenggam tanganku erat. Aku memandangnya aneh "Kenapa?" Tanyaku kepada lili "Itu arleta, gua takut" katanya gugup. Aku hanya diam saja karena arleta sudah didepanku dengan lili, kulihat lili semakin takut dan mengencengkan tangannya kepada tanganku. "Hai" sapa arleta. Aku dan lili membalasnya dengan anggukan dan senyuman "Mau kemana?" Tanya nya lagi. Kupastikan dia pasti akan ikut "Ke ra-fa, mau daf-tar eskul buat ros-ela" kata lili gugup memandang ke arah arleta "Oh, gua ikut ya" katanya yang membuat lili kaget, aku hanya menghembuskan nafas gusar "Gak usah, lagi pula lo pasti mau kekantin kan?" Kataku menolak, jelas aku menolak. Aku tidak mau bersama arleta. "Gak kok, kekantin mah bisa nanti. Bisa juga nitip sama temen" jawabnya sambil tersenyum, tapi yang kulihat senyum devil. "Kalian pasti gak tau kan rafa dimana sekarang? Jadinya gua temenin deh. Gimana li, mau kan?" Tanya arleta kepada lili, kulihat lili hanya menganggukan kepalanya "Yaudah" kataku pasrah, dia tersenyum penuh kemenangan. Salah dia kenapa nanya lili, lili pasti hanya mengangguk saja, soalnya lili kan takut kepada arleta. Menyebalkan. Kami bertiga pun jalan bersama, banyak anak murid yang menatap aku dan lili dengan pandangan membunuh, bayangkan saja aku berjalan dengan arleta! Salah satu siswi terpopuler. Kami bertiga memasuki lapangan basket, seketika aku diam didepan pintu basket dan menghembuskan nafas panjang yang frustasi, kulihat arleta menatapku aneh, aku hanya menggelengkan kepala. Lalu kami pun masuk kelapangan basket yang indoor. "Rafa!!" Teriak arleta, kulihat lili menutup kupingnya. Dan kulihat lagi dua orang laki laki berjalan kearah kami, yang kutau itu adalah teman sekelasku, namun yang mana yang rafa? Batin ku terus bertanya. "Apa? Tumben lo kesini?" Tanya salah satu dari mereka "Gua mau ngomong sama rafa, bukan sama lo rama!" Teriak arleta kesal, kulihat orang yang diteriaki hanya terkekeh dan kalau gak salah namanya rama, berarti rafa orang yang disebelahnya, bukankah dia orang yang berebut buku di perpus denganku? "Sorry sorry" kata rama, rafa tetap memasang tampang datar "Kenapa?" Tanya rafa datar "Ini temen gua mau daftar eskul" kata arleta menunjukku, aku mengangguk pelan "Tumben lo mau nemenin temen baru lo, nerd lagi" ejek rama, kulihat arleta mengepalkan tangannya "Nasalah buat lo?!" Bentak arleta, kulihat rama diam. "Mau masuk eskul apa lo?" Tanya rafa kepadaku, aku bingung mau masuk eskul apaan. "Lo eskul apa?" Tanyaku keceplosan, aku bukannya pengen tau dia masuk eskul apa. Tapi aku penasaran kenapa dia disini, apa dia eskul basket. Kulihat rafa menyerngit dan yang lain menatapku aneh "Basket, kenapa lo mau masuk basket juga? Banyak kok cewek yang mau basket" kata nya datar, aku menganggukan kepalaku pelan "Jadi mau basket?" Tanya rafa, aku memandangnya heran "Kata siapa?" Tanya ku balik "Tadi lo angguk anggukin kepala lo, berarti lo mau basket kan?" Tanya nya kesal aku hanya tersenyum lebar "Gua nganggukin kepala karena pantes lo eskul basket karena lo ada disini. Gua gak masuk basket, gak bisa" jawabku santai. Kulihat arleta membulatkan matanya.  Aku berbohong, sebenarnya aku pandai main basket, aku pernah mengikuti club basket dan sering menang lomba, tetapi aku tidak mau bermain basket lagi. Karena apa? Karena aku bosen, dulu aku bermain basket bersama papaku. "Oh sangkain mau basket, jadi mau eskul apaan?" Tanyanya lagi "Yang enak eskul apa?" Tanya ku balik, kulihat dia tampak kesal. Sementara kulihat rama berusaha untuk tidak tertawa "Mana gua tau lah. Biasanya kalo cewek kayak lo teater" katanya kesal "Gak ah, teater gak seru" jawabku polos, kulihat rafa tengah menatapku tak percaya sedangkan rama sudah tertawa terbahak bahak "Terus lo mau nya apa?" Tanya nya kesal, aku mengangkat kedua bahuku tanda tidak tau "Kalo nari?" Tanya lili, aku menggeleng. "KARATE?" Tanya arleta, sedetik kemudian aku berbinar dan menganggukan kepala dan melihat dia tersenyum kemenangan. Aku jadi menggelengkan keplaku lemah. Aku tau dia hanya menjebakku, karena aku bisa dalam olahraga karate. "Jadi lo maunya apa?" Tanya rafa frustasi "Gak tau" jawabku lemas "Kalo musik?" Tanya rama. Aku berfikir sebentar "Gak deh, gak bisa main musik.... Tapi boleh deh musik" kataku lagi sambil tersenyum, kulihat mereka semua cengo melihatku "Musik? Lo gak bisa musik tapi mau masuk musik?" Tanya rafa dengan nada mengejek "Iya, karena gua gak bisa makanya gua mau belajar musik" kata ku semangat "Terserah deh, mau nyanyi apa alat musik?" Tanya nya lagi "Alat musik" jawabku cepat, kudengar dia hanya menatapku heran "Alat musik apa?" Tanyanya lagi, aku hanya diam sambil berfikir. Apa aku jawab piano aja ya? Kan aku udah bisa piano, jadi aku tinggal pura pura aja gak bisa. Ide bagus "Piano" jawabku mantap, kulihat mereka semua menatapku lalu mengangguk "Yaudah. Nama lo siapa?" Tanya rafa sambil mengeluarkan buku "Rosela cecilia" kataku, dia terlihat mencatat namaku dibuku itu "Yaudah, kalo jadwal latihannya lo tanya aja sama temen lo" kata rafa sambil menunjuk lili "Pelatihnya bukan pelatih sembarang, gak boleh mainan kalo lagi dalam pembelajaran. Dia pelatih kusus ysng disuruh ngelatih anak GHS, dia juga sering jadi juri dalam perlombaan piano" kata lili menjelaskan pelatih piano, aku terdiam sebentar. Apa katanya? Sering jadi juri dalam perlombaan piano? Berati dia tau aku dong "Yaudah kalo udah selesai, lo semua keluar dari sini" kata rafa mengusir kami. Kulihat arleta hanya mencebik kesal dan selanjutnya dia meninggalkan lapangan diikuti lili dan aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD