PART 2 - Takdir

1075 Words
Sophie menatap gedung FJK Food yang tinggi menjulang mencakar langit, sebuah tower tertinggi di kawasan Jakarta Pusat. Di sinilah cinta pertamanya menghabiskan waktu sehari-hari. Dia mengepalkan kedua tangan, menyemangati diri sendiri, memikirkan bahwa dirinya akan menjadi bagian dari keseharian itu. Percayalah, tidak seorang pun di dunia ini yang menginginkan Gerald sebesar Sophie mengidamkannya. Sophie yakin, Gerald terlahir untuknya, seperti Adam untuk Hawa. Wanita itu membuat takdirnya sendiri, tapi terkadang, semesta menciptakan takdir-takdir lain yang selalu mempertemukan Gerald dengannya. Contohnya, semalam. Siapa sangka dirinya akan bertemu Gerald? Dari banyak klub kelas atas di Jakarta, mengapa dirinya harus bertemu Gerald di sana? Pun, dari sekian banyak orang berdansa di dalam klub, mengapa Gerald bisa menemukan Sophie? Pria itu menghampiri Sophie yang tengah berjoget sendirian, langsung bergabung dengannya. “Kak Gerald!” Sophie sama sekali tidak berusaha menyembunyikan semringahnya, mendapati pria yang menghampirinya dan mengajak berdansa adalah Gerald yang dikenalnya. “Datang sama siapa?” Gerald setengah teriak, menyaingi musik yang mengentak-entak memekakkan telinga. “Sama teman-teman, Kak. Kakak sendirian?” Gerald menggeleng, terus bergoyang lambat, mengikuti irama tubuh Sophie. “Temanku ulang tahun. Bukannya kamu juga datang karena diundang?” Sophie tersenyum kikuk, menggaruk belakang telinga. Fakta bahwa dirinya bukan merupakan tamu undangan, hanya seseorang yang memaksa masuk—tentu saja Gerald tak boleh tahu. Jadi, dia mengangguk, membual, mengaku mengenal si pemilik acara. “Kamu di FJK?” Begitu mendapat telepon dari perusahaan yang menyatakan dirinya diterima bekerja, Sophie langsung mengunggah story i********: dan memastikan Gerald melihatnya. Sophie pundung karena Gerald tidak merespons, tapi siapa sangka, pria itu membahasnya sekarang. “Aku juga kerja di sana. Kebetulan banget, ya?” “Oh, ya? Kebetulan banget, Kak!” Sophie tertawa garing, berpura-pura baru tahu. Bagaimana kalau Gerald ilfil, jika tahu Sophie bekerja di sana hanya karena dirinya? Musik berubah, temponya semakin cepat. Gerald menarik Sophie, merangkul pinggang wanita itu, bergoyang dengan lihai. Sophie terkejut bukan main. Cegukan. Gila, mimpi apa dirinya semalam, bisa bersama dengan Gerald sedekat ini? Aroma dan sentuhan-sentuhan pria itu membuatnya mengganas. Lepas kendali. Tangan Sophie melingkar di bahunya, lalu pinggulnya bergoyang ke kanan dan kiri dengan penuh gairah. Selama berdansa, Sophie memastikan tubuhnya terus menempel dengan Gerald. Terlalu bersemangat, Sophie menenggak alkohol banyak-banyak saat break. Gerald mengantarkannya ke kamar VIP di belakang klub. Tak ada niatan jahat. Hanya agar Sophie beristirahat, berharap wanita itu aman. Namun, Sophie memang gila. Dia menarik Gerald ke atas ranjang hingga membuat pria itu hampir melakukan dengannya. Oke, Sophie menyesal. Gara-gara tingkahnya, kejadian semalam harus ada. Wanita itu mengembuskan napas lewat pipi yang menggembung. Dia bertekad minta maaf pada Gerald ketika bertemu nanti. “Sophie!” Terkabul. Dirinya bertemu Gerald di lobi, saat menunggu lift. Tak menyangka secepat ini. Sophie bersorak dalam hati dan mulai berasumsi lagi bahwa semua ini memang takdir. Langit sungguh baik karena berpihak padanya. “Kak Gerald!” Kalau tebal muka, Sophie benar-benar ingin berlari ke dalam pelukannya sekarang. Girang di hatinya begitu kentara. Apalagi, Gerald tampak lebih keren dengan kemeja kerjanya. Tuhan... Engkau sudah menentukan istri untuk Gerald belum, sih? Kalau belum, biar aku yang pertama mendaftar, Sophie membatin. Bayangan gila tentang menjadi istri Gerald, muncul dalam benak Sophie. Dirinya berencana memakaikan dasi setiap pagi, memasak sarapan untuknya, lalu saat memasak, Gerald akan memeluknya dari belakang, kemudian... kemudian.... Lamunan Sophie terpangkas oleh bunyi denting pintu lift. Dirinya sampai di lantai 32, tempat dirinya harus mengikuti rapat. Perusahaan sedang sibuk. Sophie diberitahu untuk langsung bekerja. Wanita itu bersorak lagi, ketika Gerald turun di lantai yang sama. “Jangan-jangan, kita satu divisi, Kak?” Sophie mengekori Gerald di lorong, lagi-lagi pura-pura bertanya, padahal sejak awal, dirinya memastikan akan bekerja di tim yang sama dengan Gerald. “WT?” Pria itu menoleh demi memastikan, seraya terus berjalan. Sophie menyengir lebar dan mengangguk. Gerald berhenti, mengulurkan tangan. “Kalau begitu, kamu bawahanku. Kerja yang benar, hmm?” Sophie menyambut tangan itu dan meremasnya kuat. Gerald melemparkan senyum, yang dianggap Sophie sebagai lemparan cupid. Itu menembus hatinya sangat dalam. “Omong-omong, Kak.” Sophie mengejar Gerald lagi, selagi menyadari karyawan-karyawan lain yang berpapasan dengan mereka mengangguk takzim dan tampak sangat menghormati Gerald. “Aku minta maaf soal semalam. Aku pasti sudah kehilangan akal dan—“ “Nggak masalah, Sophie,” potong Gerald. “Sekarang, kita kerja saja yang benar, oke?” Gerald tentu tidak ingin membahasnya. Bagaimana bisa dia membiarkan Sophie tahu, bahwa semalam dirinya hampir hilang kendali? Dia dan Sophie adalah atasan dan bawahan. Urusan pribadi tidak boleh dibawa-bawa. Sophie mengangguk lalu mereka sampai di ruang rapat. Karyawan lain sudah menunggu. Gerald meminta Sophie memperkenalkan diri selagi menunggu CEO datang. Tidak ada masalah berarti. Semuanya tampak baik dan menyukai Sophie. Hingga Neil datang menduduki kursi CEO. Sophie mengenalinya dan merasa telah dikutuk. Gerald sempat memperkenalkan Sophie kepada Neil. Sophie berdiri, kikuk dan terus menunduk berusaha menghindari tatapan Neil. Untung saja, Neil bersikap biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sophie bernapas lega, karena sepertinya Neil tidak ingat siapa dirinya. ** Neil tahu Sophie mengendap-endap dan kabur. Pagi itu, dia sudah bangun lebih dulu, tapi pura-pura tidur karena tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada wanita yang habis ditidurinya. Ini pertama untuk Neil. Sungguh kacau. Sepeninggal wanita itu, Neil beranjak ke kamar mandi. Bayangan di dalam cermin memantulkan tubuh telanjang d**a pria itu, porsi lengkap dengan wajah tampan dan senyum menawan. Neil telah tertawan. Dia jatuh cinta dengan Sophie, bahkan sejak sebelum bercinta. Ingat saat Neil menyaksikan Sophie menangis? Itulah awalnya. Cantiknya Sophie telah membuatnya terpikat. Lalu, saat tubuh mereka menyatu, bergerak di atas ranjang dengan seirama, aroma tubuh wanita itu pun melekat dalam ingatannya. Neil memejam, menarik napas kuat, berusaha mengendus sisa-sia aroma Sophie pada tubuhnya. Ketika melihat wanita itu di ruang rapat, Neil sungguh sulit percaya. Bagaimana bisa, takdir terjadi begitu indah? Dia bukannya tidak kenal, hanya pura-pura tidak kenal. Bagaimana bisa dia melupakan Sophie? Mereka bercinta tadi malam. Paras cantik dan aroma tubuh wanita itu masih hangat dalam ingatan. Rapat selesai. Sebagai CEO, Neil meninggalkan ruang rapat lebih dulu. Sophie akhirnya bisa bernapas lega. “Yuk?” Gerald mengajaknya beranjak. “Duluan, Kak. Aku boleh ke toilet dulu, kan?” Sophie masih berusaha mengatur napas, setelah sepanjang rapat tadi, dirinya sulit bernapas dengan benar. Gerald meninggalkannya, tersisa Sophie seorang diri. Wanita itu benar-benar syok. Perutnya serasa mual, ingin muntah. Dia terus berpikir, bagaimana cara agar dia tidak berurusan dengan Neil. Dirinya takut Neil akan ingat. Namun, sebelum bersusah payah merencanakan sesuatu, tiba-tiba saja, Neil masuk. Sophie terkesiap. Jantungnya berhenti berdetak selama sedetik. Apa? Dia ingat, ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD