bc

Malam Gila yang Ingin Kulupakan, CEO itu Justru Menginginkannya

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
one-night stand
HE
boss
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
city
office/work place
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

Sophie terobsesi dengan Gerald, sampai bela-belain bergabung ke FJK Food, tempat Gerald bekerja. Namun, pada suatu malam, dia justru terlibat cinta satu malam dengan Neil, CEO FJK Food. Hari-hari Sophie yang semula bagai surga, kini bak neraka karena dirinya ingin melupakan malam itu, tetapi Neil terus menggodanya!

chap-preview
Free preview
PART 1 - Malam Gila
Sophie meraba wajah pria yang menindih tubuhnya. Ibu jarinya membelai bibir pria itu. Gerald. Bibir Gerald. Dia sangat menginginkannya sejak lama. Wanita itu tersenyum, senang memenuhi dadanya, berpikir sebentar lagi cinta dan penantiannya akan terbalas. Dia memejam saat Gerald memangkas jarak antara mereka. Bibir mereka semakin dekat dan akan bertemu. Namun, tiba-tiba saja, Gerald ragu. Pria itu menarik wajah. Sophie membuka mata, merasa terlalu lama. “Kak, kenapa?” tanyanya, lirih. Gerald melompat turun dari ranjang. Pria itu berpikir bahwa semua ini tidak benar. Ditatapnya Sophie yang terbaring pasrah dengan rok tersingkap. Kulit mulus itu.... Tidak. Gerald menggeleng. Wanita itu terlalu baik. Gerald mati-matian menahan diri. “Kak, ayo.” Sophie mendesah, menjulurkan tangannya, berusaha menggapai Gerald. Dia beranjak bangun, tapi kemudian kepalanya berputar-putar hebat. Telinganya berdenging dan tidak kuat membuka mata. “Sial, aku terlalu banyak minum,” keluhnya, seraya memegangi kepala. Wanita itu ambruk. Gerald menghampiri, berusaha menyadarkannya, tapi dia boleh bernapas lega setelah mendengar wanita itu mendengkur. Gerald tersenyum. Sophie tertidur pulas seperti bayi. Ditutupinya tubuh itu dengan selimut, lalu beranjak pergi. Harus pergi atau godaan lain akan datang dan dia tidak yakin bisa menahannya lagi. Sepeninggal Gerald, Sophie terus-menerus mengigau, memanggil-manggil nama cinta pertamanya itu. Dia meringkuk, menarik selimut lebih tinggi hingga sebatas leher. Kamar VIP di sebuah klub malam kelas atas itu dingin dan sepi, seperti hatinya, seperti penantiannya yang mulai rapuh. Tak lama, pintu terbuka. Bukan Gerald yang masuk, melainkan seorang pria bernama Neil. Dia terhuyung-huyung masuk, seraya memegangi kepala. “b*****t!” Dia mengumpat. Tubuhnya terasa tidak biasa. Jiwanya seakan melayang-layang. Neil ingat, dia tidak minum banyak. Batas toleransinya terhadap alkohol pun tidak seremeh itu. Ratusan pesta, tiap kali merayakan keberhasilannya sebagai pebisnis sukses, tidak pernah sekalipun dirinya tumbang begini. Seseorang pasti menaruh sesuatu dalam minumannya. b*****t, umpatnya lagi. Neil berjalan ke sisi ranjang, menyibak selimut, kemudian menemukan Sophie terbaring. Neil mengernyit bingung. Wanita itu memejam seperti tidur, tapi terus saja mengisak dan air matanya mengalir deras hingga sprei di bawah kepalanya basah. Kasihan, pikir Neil. Pria itu naik ke ranjang lalu menjulurkan tangan untuk menyelipkan anak-anak rambut wanita itu ke belakang telinga. Dia tertegun. Cantik. Wanita ini cantik luar biasa. Pandangan Neil berpindah, menelusuri inci demi inci tubuh Sophie. Matanya berhenti di bagian bawah tubuh Sophie. Lagi-lagi, Neil menelan ludah mendapati paha mulus Sophie. “Sial,” rutuk Neil, saat pikiran nakal membawanya ke mana-mana. Namun, pandangan itu kembali menatap tubuh Sophie. Sudah Neil duga, ada yang menaruh sesuatu di minumannya. Dia tidak pernah seperti ini. Tidak pernah sangat b*******h seperti ini. Perlahan-lahan, Neil menjulurkan tangan, menyentuh paha Sophie. Gila. Neil merasa seperti tersetrum. Sophie mengerang, tanpa sadar menelantangkan tubuhnya. Apa yang tertutupi di balik rok wanita itu, kini benar-benar terlihat. Hati-hati, Neil menyentuhnya lagi. Dia meraba, membelai paha Sophie. Semakin tangannya masuk semakin dalam, semakin naik hasratnya. Ditambah desahan-desahan Sophie yang masih belum sadar dari mabuknya, Neil merasa tidak dapat lagi menahan diri. Diterjangnya tubuh Sophie. Peduli setan siapa wanita yang baru ditemuinya ini. Berkat minuman sialan itu, Neil menggila. Neil di atas tubuh Sophie. Wanita itu membuka mata dan tersenyum. “Kamu kembali, Kak?” Neil tidak mengerti maksud Sophie dan tidak mau benar-benar mengerti. Neil hanya merasa sangat membutuhkan wanita itu untuk menuangkan seluruh hasratnya yang menggila. Dan Neil melakukannya. ** Sophie menyukai Gerald sejak pria itu masih kakak tingkatnya di sebuah universitas. Rasa suka itu dibiarkannya tumbuh besar, hingga menjadi sebuah ambisi. Perjuangan Sophie tidak main-main. Dirinya bahkan berusaha keras agar diterima bekerja di perusahan tempat Gerald bekerja sebagai direktur, FJK Food. Malam itu, Sophie merayakan statusnya yang baru sebagai karyawan, yang mana langkah menuju Gerald pun semakin dekat. Namun, Sophie justru mabuk dan bercinta dengan Neil. Wanita itu menatap pria yang terbaring lelah di sebelahnya dengan perasaan ingin mati saja. “Sophie bodoh! Sophie bodoh!” Wanita itu terus merutuki dirinya sendiri, seraya memukul-mukul kepala dengan kepalan tangan. Dia bergegas turun, berpakaian, menyambar stiletto di lantai lalu berlari kabur. Sepanjang lorong, dia terus berusaha menelepon teman-temannya, yang semalam datang ke mari bersamanya. Tidak ada satu pun menjawab. Sial! Dirinya berhasil mendapatkan taksi untuk pulang. Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Sophie terus mengigiti kuku dan merutuk. Matahari terbit, langit gelap yang perlahan berubah warna, mengantarkannya kembali kepada ingata-ingatan. Semalam itu.... Sophie menggeleng kuat-kuat. Fakta bahwa semalam adalah malam yang sangat hebat, membuat Sophie bergidik. Ternyata dirinya segila itu untuk melakukannya berkali-kali. Bagian bawahnya bahkan terasa ngilu. Gila, Sophie, kamu benar-benar gila, rutuknya, dalam hati. Bagaimana mungkin dia melakukannya bersama seorang pria yang sama sekali tidak dikenal? Tambah-tambah, Sophie mengira pria itu adalah Gerald. Sophie mencengkeram rambut kuat-kuat dengan kedua tangan. Sejak pertama kali menatap Gerald di universitas dulu, Sophie sudah bertekad akan ‘melakukannya’ bersama Gerald. Seumur hidup, tidak ada pria selain Gerald dalam kamusnya. Taksi berhenti di depan lobi apartemen. Sophie turun dan terpaku menatap lobi yang lengang di hadapannya. Dia mengatur napas dan memberi afirmasi positif kepada dirinya sendiri. “Oke, pertama-tama, gue harus tenang. Siapa pun bisa melakukan kesalahan, kan? Lagipula, gue tidak akan ketemu sama pria itu lagi. Terus—“ Sophie berhenti. Ingatan tentang bagaimana pria itu menghujaninya dengan kecupan di dadanya, bahkan pahanya, muncul kembali seolah menolak untuk dilupakan begitu saja. Wanita itu bergidik. Dia berusaha mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain. “Fokus, fokus!” katanya, pada diri sendiri, seraya berjalan memasuki lobi dengan langkah cepat dan terus berkata-kata. “Gue harus kerja sekarang. Gue karyawan baru. Hei, gue bakal ketemu Gerald setiap hari, bukan?” Memikirkan Gerald membuat hatinya lebih tenang. Sophie yakin, Gerald tidak tahu kejadian semalam. Yang tahu hanya dirinya dan pria itu. Pria itu. Sophie juga yakin, pria itu tidak akan muncul di hadapannya lagi. Sophie bergegas masuk apartemennya, langsung mandi dan bersiap-siap. Dia mengeluarkan setelan blazer dan rok keluaran terbaru yang didapatnya kemarin. Makeup, bahkan lipstiknya, adalah barang-barang baru yang khusus disiapkannya untuk hari ini. Untuk Gerald, dirinya mati-matian menyiapkan segalanya sedetil mungkin. Panggilan telepon masuk saat dirinya menyesap kopi. Dari Fanda, temannya, yang semalam juga ikut ke klub. Sophie menjawabnya dan langsung mendapat pekikan dari sahabatnya itu. “Sophie, gila lu, ya! Semalam ke mana sama Gerald? OMG, doa lu terkabul juga. Lu di mana sekarang? Jangan bilang, masih sama Gerald?” Sophie menjauhkan teleponnya dari telinga dan tersenyum kecut. Fanda lupa, Sophie tidak setaat itu hingga doanya dikabulkan oleh Tuhan. Dia justru dikutuk. “Gue di apartemen, Nda. Nggak ada yang terjadi kok, semalam.” Sophie mengerang lesu. Semalam. Benar-benar, dirinya tidak membicarakannya lagi. “Bego! Dasar Sophie bego. Serius lu, nggak ada apa-apa?” Fanda benar, Sophie bego. Sangat tidak pintar, malahan. Alih-alih memikat Gerald yang dikaguminya setengah mati sejak dulu kala, dia justru menyerahkan segalanya kepada pria asing. “Harusnya kita nggak ke klub semalam ya, Nda.” Sophie ingat, klub yang semalam didatanginya full booked. Namun, Sophie menggunakan koneksinya. Berkat berteman dengan Bang Koboy si pemilik klub, dirinya dan teman-temannya berhasil masuk. Sophie memijat kening. Pening. Penyesalan memang datang terlambat. Penyesalan itu makin menjadi-jadi ketika dirinya bertemu lagi dengan Neil di ruang rapat. Karyawan lain berdiri untuk menghormatinya, saat pria itu masuk. Sophie berharap punya jurus menghilang saat mendapati pria itu duduk di kursi CEO. Dirinya tidak hanya akan bertemu Gerald setiap hari, tapi bertemu pria itu juga.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Kali kedua

read
219.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook