Kyuyeon menatap gadis di depannya dengan kesal. Apakah ini masuk akal? Gadis ini tidak mengenalnya? Yang benar saja!
“Cho Kyuyeon. Ingat baik-baik namaku.”
Merasa tidak perlu untuk melihat reaksi gadis itu, Kyuyeon melangkah meninggalkannya. Berjalan ke arah yang berbeda dari tempat yang dituju Mi Young.
“Aku tahu dia tampan, tapi memangnya dia pikir dia siapa sehingga aku harus mengingat namanya baik-baik?” Dengan setengah mendumel, Mi Young melanjutkan langkahnya. Berusaha mengabaikan getaran aneh di punggungnya akibat dari sentuhan kecil laki-laki tadi. Hey, cukup! Dia hanya melepaskanmu dari tersangkut ranting pohon, jadi tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan. Lagi pula laki-laki itu menyebalkan. Mi Young baru bisa menyadari bahwa sejak tadi aura arogansi Kyuyeon benar-benar tidak bisa disamarkan.
“Mi Young~ah. Kenapa kau baru datang? Cepat kemari!”
Ibunya menggapai tangannya dan menariknya dengan panik. Ia bahkan menghentikan pekerjaan yang tadi sedang ia lakukan.
“Ibu, ada apa? Kenapa kau sebegini panik?”
“Jangan banyak bicara. Cepat rapikan penampilanmu. Ya Tuhan, kau terlihat berantakan. Apa kau sudah mandi? Tolong jangan katakan kalau kau langsung ke sini setelah bangun tidur.” Ibunya mengoceh tanpa menjawab pertanyaannya. Membuat alis Mi Young bertautan.
“Ada apa, sih? Aku yakin kalau dulu aku juga pernah bekerja tanpa mandi pagi. Lalu kenapa pagi ini kau terlihat tersiksa hanya karena aku belum mandi?”
“Pemilik kebun anggur yang sesungguhnya akan datang. Jaga sikapmu. Kudengar dia masih muda. Ya ampun, seharusnya tadi kita tidak mengenakan pakaian ini. Baju ini benar-benar terlihat lusuh.”
Mi Young memperhatikan kelakuan ibunya dengan kebingungan luar biasa. Pemilik kebun anggur sesungguhnya? Apa maksudnya? Bukankah kebun anggur ini milik Tuan Lee Dae-Jung? Jadi ini bukan miliknya? Lantas kenapa selama ini semua kegiatan di sini diatur oleh Tuan Lee?
“Ah! Mereka datang! Mi Young~ah. Jaga sikapmu. Dan cepat rapikan penampilanmu.”
Ibunya bersuara—nyaris berteriak histeris. Tubuhnya ditarik agar berdiri di samping ibunya dengan sikap hormat sempurna. Ujung matanya menangkap gerombolan orang yang kini sedang berjalan ke arah mereka. Perutnya disodok oleh siku ibunya, dan kini ia menundukkan kepalanya dengan patuh—ia khawatir ibunya benar-benar akan mematahkan lehernya jika ia tidak tunduk dengan benar. Tangannya bertautan di depan tubuhnya. Bibirnya tidak bisa berhenti menggerutu. Sibuk mendumel atas sikap ibunya yang begitu berlebihan seolah-olah mereka akan didatangi oleh keluarga kerajaan.
“Selamat pagi.”
Laki-laki yang berusia awal tiga puluhan menyapa mereka. Oh? Dari suaranya Mi Young bisa mengetahui bahwa itu adalah Lee Dae-Jung. Pria baik hati yang selama ini mengurus kebun anggur ini.
“Selamat pagi, Tuan Lee.”
Mi Young ikut bergumam saat orang-orang di sekelilingnya membalas sapaan ringan itu.
“Terima kasih karena kalian sudah bekerja keras selama ini. Demi keberhasilan kebun anggur ini. Aku senang karena kita bisa bekerja sama dengan baik. Beberapa dari kalian mungkin sudah tahu bahwa kebun ini sebenarnya bukanlah milikku. Aku hanya sebagai tangan kanannya saja. Hari ini pemilik yang sebenarnya telah kembali. Yah, sayang sekali memang. Seandainya saja kebun ini memang milikku.”
Lee Dae-Jung mengakhiri kalimatnya dengan jejak humor. Membuat kami semua mau tidak mau ikut tertawa ringan. Mi Young masih menundukkan kepalanya. Entah kenapa tidak merasa bahwa ucapan itu cukup menghibur. Ia tidak tahu jika sejak tadi Kyuyeon sedang memandanginya penuh minat. Dengan tatapan serius dan intens yang seolah berusaha menenggelamkan sisi lain dari gadis itu.
“Baiklah, perkenalkan, dia Cho Kyuyeon. Pemilik kebun anggur yang sebenarnya.”
Cho Kyuyeon membungkukkan tubuhnya sedikit saat Dae-Jung memperkenalkannya pada orang-orang di sana. Bibir penuhnya tersenyum sopan dan penuh ketegasan.
“Senang bisa hadir di sini. Karena situasi di sini bisa dibilang stabil tanpa perlu pengawasan yang ketat, jadi aku menyerahkannya pada Lee Dae-Jung. Karena ada banyak hal yang juga harus kutangani di luar negeri. Setelah semuanya membaik, akhirnya aku bisa mengunjungi Korea lagi. Aku harap aku bisa menjalankan kebun ini lebih baik daripada yang Dae-Jung lakukan. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” jelas Kyuyeon dengan suara khasnya yang dalam.
“Tidak perlu berusaha keras, teman. Terima saja kalau mereka lebih mencintai aku daripada kau,” balas Dae-Jung dengan tawa konyol.
Kyuyeon tersenyum geli. Melirik sebal pada Dae-Jung yang sejak tadi terlihat gembira dengan ocehannya. Matanya masih menelisik gadis yang berdiri diam tak jauh dari posisinya. Dan kakinya tiba-tiba melangkah mendekatinya tanpa diperintahkan.
Mi Young menggigit bibirnya. Kakinya bergerak membentuk pola tidak beraturan di tanah. Tidak tahu apakah ini karena efek tubuhnya yang belum menerima makanan sejak kemarin, atau karena dirinya sendiri yang belum mandi pagi sehingga pikirannya masih berkabut, sehingga ia tidak mendengar satu patah kata pun yang diucapkan oleh orang di sekelilingnya. Membuatnya tidak mengetahui kenyataan lain yang baru saja dilemparkan ke depan wajahnya. Alisnya bertautan saat melihat sepasang kaki kini berada di depan kakinya. Menandakan ada seseorang yang berdiri di depannya. Tunggu, ia rasanya kenal dengan kaki itu?
Kepalanya bergerak pelan ke atas. Bibirnya terbuka saat menyadari siapa yang kini berdiri di hadapannya.
“Kau terlihat lebih bahagia saat tidak tersangkut.”
Muka Mi Young merah padam. Napasnya tertahan karena sebab yang tidak ia mengerti. Kepalanya berputar memikirkan kata-kata yang harus diucapkannya.
“Aku tidak …. Kau … apa yang kau lakukan di sini?”
Ia menggigit bibirnya saat merasakan cubitan pedas di pinggangnya. Apa-apaan ini? Kenapa ibunya mencubitnya? Memangnya apa salahnya?
“Hatiku sakit sekali, kau tahu? Kau melukai harga diriku karena kau tidak mengenalku,” balas Kyuyeon.
“Yah, aku minta maaf jika itu membuatmu merasa begitu. Tapi aku benar-benar tidak tahu.”
“Mi Young! Maafkan aku, Tuan Cho. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan memberi pelajaran pada anak ini nanti.”
“Ibu, aku kan—”
“Diam!”
Mi Young merengut sebal. Tidak mengerti oleh tindakan ibunya yang menurutnya benar-benar berlebihan.
“Tidak apa-apa, Nyonya Hwang. Putrimu ternyata polos dan jujur. Aku suka gadis yang jujur.”
Kyuyeon berucap sambil mengedipkan sebelah matanya. Bibirnya tersenyum dengan penuh rasa geli. Senyum yang lebih terlihat seperti seringaian yang mengundang dosa.
Apakah laki-laki ini baru saja menyeringai padanya? Apakah dia berkata bahwa ia menyukainya? Menyukai gadis jujur sepertinya? Apakah dia sudah gila?
Alam bawah sadar Mi Young berteriak histeris. Mengutuki penampilan Kyuyeon yang masih saja terlihat luar biasa tampan. Sial!
“Aku harap kau senang tinggal di kebun anggurku, Nona Hwang.”
“Oh, benar! Di sini indah sekali. Aku memang senang tinggal di kebun ang … gur—APA? Keb … kebunmu?”
Mi Young tersedak oleh ludahnya sendiri. Tidak tidak tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin ini miliknya, kan? Jadi … jadi pemilik anggur yang sesungguhnya itu … itu dia? Ya Tuhan! Mati! Dia pasti akan mati setelah ini! Sebenarnya apa saja yang sudah ia lewatkan? Ia sungguh harus mendengarkan dengan benar!
Kyuyeon menahan senyum gelinya, tapi tidak berhasil. Membuat kegelian itu tergambar jelas di bibirnya. Tidak memedulikan bahwa kini gadis itu berdiri pucat di depannya.
“Senang bisa bertemu denganmu. Selamat bekerja.”
Kyuyeon melambaikan tangannya ringan di depan wajah Mi Young. Ia menunduk sopan pada orang-orang di sana lalu melanjutkan langkah meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Mi Young yang kini sedang memukuli kepalanya dengan gemas dan merasa g****k luar biasa.
“Aku baru saja bertemu dengan bos besarku? Bos hidupku? Dalam keadaan tersangkut dan tidak mengenalinya padahal aku menghabiskan hidupku di tanah miliknya dan makan dari kebun anggurnya? Dan aku tidak mengenalinya? Ya Tuhan! Aku benar-benar sudah gila!”
Mi Young tidak bisa berhenti merutuk. Belum bisa menggerakkan tubuhnya meskipun ibunya sudah memanggilnya berkali-kali.
Baiklah, setelah ini ia bersumpah akan mandi pagi setiap hari. Bahkan kalau perlu pada pukul enam pagi! Berusaha memperbaiki takdirnya yang terlihat bagaikan itik buruk rupa yang berkubang lumpur selama sebulan dan kini dihadapkan pada pangeran tampan luar biasa yang berdiri gagah dan seolah-olah tidak memiliki kekurangan apa pun. Untuk menjadi pembantunya saja ia tidak pantas. Oh, Tuhan. Dia benar-benar ingin pulang!