Sekarang sudah pukul enam lebih tiga puluh sore. Mi Young melangkah bermaksud ingin pulang. Pekerjaan hari ini terlalu banyak. Ibunya sudah pulang sejak sebelum makan siang tadi. Ia tidak akan mengizinkan ibunya bekerja, tidak ingin membiarkan wanita yang ia sayangi itu kelelahan. Maka setelah dirinya ada di kebun anggur, ibunya akan pulang untuk mengerjakan pekerjaan lainnya—berhubung mereka memang butuh tambahan uang. Kakinya melangkah memasuki rumah dengan gontai. Wajahnya pucat seolah tidak memiliki darah lagi yang mengalir di sana. Matanya berkunang. Astaga, dia lupa kapan terakhir kali ia makan. Mungkin semalam … atau kemarin? Oh entahlah. Ia tidak memikirkannya, selama ibu dan neneknya baik-baik saja, maka ia juga akan baik-baik saja.
“Mi Young~ah. Kau sudah pulang?” sambut ibunya begitu ia memasuki rumah.
Ia tersenyum lemah pada ibunya. Berusaha menyamarkan kondisi tubuhnya yang terasa ingin tumbang saat itu juga. Ia duduk dengan lemah di kursi makan rumah. Ibunya mendatanginya, mengelus kepalanya dengan sayang. Membuat kepenatan Mi Young perlahan menghilang.
“Di mana Nenek? Ibu tidak menyiapkan makan malam?”
Mi Young bertanya sambil memperhatikan meja makan yang kosong, tidak ada satu makanan pun. Alisnya bertautan saat ibunya tidak menjawabnya sama sekali.
“Young~ah. Apa kau punya sedikit uang? Ibu … ibu tidak punya uang lagi. Mereka sudah mengambil uangnya lagi tadi sore. Dan sekarang kita kehabisan bahan makanan. Tidak ada apa pun di dapur. Ibu ingin membeli sesuatu, tapi uang Ibu tidak cukup.” Hwang Min Jee menatap anak gadisnya itu dengan senyum yang tidak enak. Ia benar-benar merasa bersalah. Setelah Mi Young memutuskan berhenti kuliah untuk membantunya, ia tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi anak perempuannya itu. Namun ia tak punya pilihan. Mereka harus saling bergantung agar bisa bertahan.
Perut Mi Young bergolak saat mendengarnya. Tidak ada makanan? Ya Tuhan. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ini artinya mereka kelaparan sejak tadi? Ia juga tidak memiliki uang lagi sama sekali. Kepalanya rasanya ingin pecah.
“Tidak. Ibu tidak perlu menggantinya. Aku tidak punya uang tunai, jadi aku akan keluar sebentar. Tunggu aku, aku akan pulang dengan membawa uang dan beberapa makanan,” dusta Mi Young.
Ia bangkit. Melangkah keluar dari rumah dengan limbung.
“Mi Young~ah. Kau mau apa? Hati-hati. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Kau tidak akan mencuri apa pun, kan?” tanya Hwang Min Jee cemas.
Tangan Mi Young terhenti di knop pintu saat mendengar nasihat ibunya. Ia mengembuskan napasnya pelan.
“Tidak. Ibu tenang saja. Aku akan berhati-hati,” bohong Mi Young dengan lancar.
Kakinya melangkah gontai menyusuri kebun anggur. Tempat itu tampak indah karena diterangi oleh lampu-lampu cantik berbentuk bulat yang tersebar di sepanjang jalan. Menciptakan perasaan damai saat kini ia memperhatikan semuanya dalam diam. Gadis itu mengacak rambutnya pelan. Matanya terhenti pada sebuah bangunan besar. Tempat penyimpanan anggur yang sudah dipetik. Setan dalam tubuhnya berteriak-teriak pada alam bawah sadarnya.
“Tidak. Tidak lagi. Aku tidak bisa melakukan hal itu lagi.”
Mi Young menggeleng. Otaknya memerintahkan untuk mengambil beberapa tangkai anggur, menjualnya ke pasar untuk mendapatkan beberapa uang. Namun sisi lain dirinya berteriak bahwa itu salah. Sial! Apakah ia harus melakukan hal itu lagi? Ya … ia memang pernah mencurinya. Sekitar seminggu yang lalu. Dan sebulan yang lalu. Juga dua bulan yang lalu. Astaga! Ia tidak ingin menjadi seorang pencuri. Ini membuatnya terlihat seperti ayahnya. Tapi keadaan ini mencekiknya hingga ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Bagaimana kalau ia ketahuan? Tuan Lee, oh maksudnya Tuan Cho, bisa saja memenjarakannya.
Tapi tidak akan terjadi kalau tidak ketahuan, kan? Tidak. Ia tidak bisa. Tapi ibu dan neneknya kelaparan di rumah. Aargh! Kepalanya rasanya pening bukan main.
Menyerah karena godaan setan itu, akhirnya Mi Young melangkah ke tempat penyimpanan anggur. Beruntung karena keadaan sudah gelap sehingga tidak ada yang memergokinya. Ia memasukkan beberapa tangkai anggur ke dalam tasnya. Berjalan ke pasar dengan cepat dan langkah yang terasa tidak mantap. Ya Tuhan, dia benar-benar lapar dan merasa ingin pingsan saja.
“Gamsahamnida, Ahjumma.”
Mi Young tersenyum pada bibi yang ramah itu. Beberapa lembar uang sudah berada di dalam kantong. Dan di tangannya sudah terdapat makan malam yang bisa ia berikan untuk ibu dan neneknya. Ah, ia tidak bisa menggambarkan betapa leganya ia sekarang.
Ibu … Nenek … tunggu aku, kalian akan makan enak malam ini.
“Arghh!” Ia menggeram pelan dengan tangan yang mencengkeram perutnya. Baiklah, mungkin lambungnya sedang dalam keadaan berbahaya sekarang. Mi Young mengepalkan tangan. Astaga, ia bahkan tidak bisa merasakan tangannya sendiri. Ini buruk. Ia harus pulang sekarang kalau tidak ingin pingsan di jalan.
Kakinya melangkah dengan cepat menuju rumahnya. Mungkin itu adalah ukuran cepat dalam keadaannya sekarang. Karena nyatanya langkahnya benar-benar lambat. Ia menyandarkan tubuhnya di gerbang sejenak. Gerbang besar yang menjadi pintu masuk menuju perkebunan anggur terbesar di Asia, sekaligus dengan rumah-rumah warga yang sengaja dibangun di dekat kebun anggur itu. Rumah-rumah yang ditinggali oleh keluarga-keluarga tidak mampu yang memang ditampung oleh pemilik kebun anggur ini, dengan syarat bahwa mereka harus bekerja dengan baik. Dalam hal ini, tentu saja orang itu adalah Cho Kyuyeon. Mi Young tidak menyangka bahwa ternyata Kyuyeon adalah pria yang sebaik itu. Wajahnya terlihat menyeramkan di pertemuan terakhir mereka. Juga pertemuan pertama mereka. Oke, mungkin lebih tepatnya adalah, pria itu terlihat mematikan. Auranya menyebar hingga melumpuhkan saraf Mi Young. Membuatnya tiba-tiba merasa pusing.
Oh, itu dia. Itu rumahnya. Mi Young sudah bisa melihatnya. Sedikit lagi akan sampai. Ya, sedikit lagi. Ia harus kuat. Oh Tuhan. Kepalanya sakit sekali. Dahinya berkeringat. Dan keringat dingin itu juga sudah membasahi punggungnya. Mi Young mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan pandangan yang kali ini terasa berputar hebat. Langkahnya terhenti. Ia mengerjapkan matanya lagi sebelum kembali melangkah, tapi jalannya terhadang oleh tubuh seseorang. Matanya menyipit, berusaha mengenali laki-laki di hadapannya. Pria itu berdiri membelakangi cahaya lampu, membuatnya terlihat sebagai siluet hitam saja. Mi Young mengurut pelipisnya saat usaha kerasnya malah membuatnya sakit kepala.
“Nona Hwang, kau baik-baik saja?”
“Oh? Apa? Aku … aku baik. Cho Kyuyeon? Apa itu kau? Ah, maksudku Tuan Cho,” jawab Mi Young dengan suara lirih yang nyaris hilang.
“Kau terlihat tidak baik-baik saja.” Suara datar Cho Kyuyeon kembali terdengar.
“Oh, tidak, tidak apa-apa. Aku hanya ….” Ucapan Mi Young terhenti saat kepalanya berdenyut sakit, ia berusaha tersenyum, menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. Dan seolah dapat membaca pikirannya, Kyuyeon kini berdiri di hadapannya dengan ekspresi datar yang sarat akan rasa khawatir. Lengkap dengan tangan yang memegangi siku Mi Young, khawatir kalau-kalau gadis ini pingsan jika ia melepaskannya.
“Aku merasa sedikit pusing. Aku—”
“Ya Tuhan!”
Hal terakhir yang Mi Young lihat adalah wajah Kyuyeon yang terletak tepat di depan wajahnya. Ia merasa tubuhnya mendarat dalam dekapan seseorang. Detik selanjutnya dunianya menggelap seiring dengan kesadarannya yang menghilang.