4 Ancaman

1218 Words
Gadis itu mengerjap. Berusaha membuka matanya agar bisa melihat di mana ia berada sekarang. Ia menarik napas dengan nyaman, merasakan lembutnya kasur yang kini sedang ditidurinya. Matanya menyipit menyesuaikan dengan intensitas cahaya di kamar itu. Tunggu dulu, kamar? Ya ampun, kamar! Kamar siapa ini? Tubuh Mi Young bangun dari tidurnya secepat kilat. Membuatnya refleks menggeram pelan saat tindakannya lagi-lagi membuat kepalanya berdenyut. Ini … ini kamar siapa? Bagaimana bisa dia di sini? Melihat dari kondisi kamar ini, bisa dipastikan bahwa pemiliknya adalah seorang laki-laki. Seprai berwarna putih, karpet berbulu lembut yang berwarna hitam dan putih, dinding kamar yang juga berwarna hitam dan putih, lemari hitam, dan lampu redup di samping tempat tidur yang berwarna putih. Hal terakhir yang diingatnya adalah dirinya berjalan dengan limbung menuju rumahnya. Lalu ia bertemu laki-laki. Kyuyeon, Cho Kyuyeon! Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan! Apakah ia sedang berbaring di kamar laki-laki itu? Ia menenggelamkan wajahnya di selimut. Menahan teriakan histerisnya. Takut, panik, cemas, segala perasaan itu campur aduk dalam diri Mi Young. Bagaimana ini? Seolah menjawab pertanyaannya, pintu kamar terbuka. Dan orang yang sejak tadi berkeliaran di benak Mi Young kini melangkah masuk. Laki-laki itu terlihat sempurna meskipun hanya dengan celana kain santainya dan kaus putihnya. Dan sialnya, penampilan itu membuatnya benar-benar terlihat … menggetarkan. Gawat, apakah ada yang ia lewatkan? Apa yang sudah terjadi? Apa Kyuyeon sudah melakukan sesuatu padanya? “Kau sudah bangun?” Kalimat itu seharusnya mengandung perhatian. Tapi saat Kyuyeon mengatakannya padanya, rasanya itu adalah kalimat pembuka untuk vonis kematiannya. “Aku … aku minta maaf jika aku merepotkanmu. Terima kasih banyak untuk bantuanmu. Aku akan pulang sekarang agar tidak lebih merepotkanmu lagi, Tuan Cho.” Mi Young menelan segala rasa takutnya. Membuat kata-katanya tercekat di tenggorokan, suara yang keluar dari mulutnya bahkan bergetar. Tubuhnya gemetar saat kini Kyuyeon melangkah mendekatinya. Ia bergeser saat Kyuyeon mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, tepat di sebelah Mi Young. Pria itu menatapnya dengan penuh intimidasi. “Apakah kau pikir kau bisa kabur dariku semudah ini, Nona Hwang? Setelah apa yang kau lakukan?” Tamat sudah! Kehidupannya akan berakhir sekarang juga! Mi Young menarik napas pelan, berusaha mencari ketenangan. “Maaf, Kyuyeon, maksudku Tuan Cho, aku tidak mengerti apa maksudmu.” “Ah, begitu? Apakah aku harus mengatakannya dengan jelas?” Kyuyeon menaikkan alisnya. Ekspresi wajahnya penuh dengan kemarahan yang membuat Mi Young merasa bahwa nyawanya hanya tertinggal seperempatnya saja. “Aku—” “Biar aku perjelas agar kau mengerti, Nona Hwang. Pada hari Kamis, 18 Desember lalu, pukul delapan malam, kau masuk ke gudang penyimpanan anggurku dan mencuri 15 tangkai anggur putihku.” Mi Young melongo dan membatu di tempat. Tidak menyangka bahwa pria di depannya mengetahui kelakuannya tahun lalu. Bagaimana bisa? Pria itu bahkan belum datang ke sini sebagai pemilik anggur, atau sebagai siapa pun. Bagaimana bisa dia mengetahuinya? Mi Young menelan ludah dengan susah payah. Oksigennya terasa menipis seiring dengan tubuh Kyuyeon yang merapat padanya. Seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup. Dan ia tidak tahu harus berkata apa sebagai pembelaan, atau sebaiknya adalah pengakuan kesalahan. “Kau mau yang lebih jelas? Pada hari Senin, 3 Februari kemarin. Pada pukul tiga sore kau mengambil 30 tangkai anggur merahku.” Kyuyeon berkata sambil merapatkan bibirnya. Tubuhnya maju mendekati Mi Young. Dengan kedua tangan yang tenggelam di kasur, berada di kedua sisi tubuh gadis itu, memenjarakannya dalam lingkaran tubuhnya yang kini terasa panas dan berbahaya. Mi Young mengkeret di tempat. Tubuhnya merapat ke kasur, tenggelam sedalam yang ia bisa. Menjauhkan tubuhnya dari tubuh Kyuyeon. Matanya bulat melebar dan jantungnya seolah tidak bisa diselamatkan lagi. Dadanya sesak dengan getaran yang mematikan seluruh sel tubuhnya. Pria di depannya terasa begitu … mematikan persis seperti deskripsi saat pertama kali mereka bertemu— malaikat pencabut nyawa. Bibirnya kering, meskipun ia sudah menggigitinya sejak tadi. Melampiaskan rasa frustrasinya. Ia membasahinya dengan lidahnya. Napasnya tercekik. Ia takut, karena Kyuyeon tampaknya benar-benar bisa membunuhnya hanya dengan tatapan mata. Mata Kyuyeon menggelap. Ia tidak bisa mengendalikan darahnya yang berdesir saat lidah gadis itu dengan pelan membasahi bibir merah muda yang terlihat benar-benar menggoda itu. Tangannya terkepal kuat di kasur. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha menormalkan kewarasan yang mulai terasa bertebaran di mana-mana. “Aku bisa menyebutkan deretan daftar perilaku menyimpangmu, Nona Hwang. Tapi aku tidak akan melakukannya sekarang. Hanya ingin kau tahu kalau aku mengetahui segalanya, meskipun aku tidak ada di sini. Jangan meremehkanku, dan yang terpenting, jangan macam-macam dengan kebun anggurku. Aku tidak suka sesuatu yang menjadi milikku diganggu gugat.” Kyuyeon mengatakannya tepat di depan wajah gadis itu. Membiarkan Mi Young merana karena merasakan embusan napas segarnya di wajahnya. Mi Young memejamkan mata, merasa tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya mengangguk pelan, berkali-kali. Berusaha memberitahu Kyuyeon bahwa ia paham—bahkan sangat paham—bahwa ia tidak akan mengganggu kebunnya lagi. “Gadis pintar.” Kyuyeon tersenyum senang, bibirnya tertarik membentuk seringaian puas yang malah tampak makin menyeramkan, “dan aku juga tahu dengan jelas apa yang baru saja kau lakukan. Mencuri anggurku lagi, Nona? Aku bisa menawarkan sel penjara padamu sekarang.” Mata Mi Young terbelalak, terbuka dengan jelas dan menatap penuh pada mata hitam Kyuyeon yang kini menatapnya dalam dan dingin. “Tidak, jangan, aku mohon. Jangan penjarakan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku … aku akan melakukan apa pun asalkan kau tidak memenjarakanku,” mohon Mi Young dengan suara bergetar yang nyaris hilang. “Aku janji akan melakukan apa pun untuk melunasinya. Tapi aku mohon jangan penjarakan aku,” ulangnya lagi dengan lebih lembut. Kyuyeon masih diam, membiarkan gadis itu berusaha lebih keras lagi agar mengubah keputusannya. Mi Young memanfaatkan kesempatan itu. “Cho Kyuyeon~ssi, aku tidak akan mencuri lagi. Aku janji aku akan membayarnya. Aku akan bekerja dengan tambahan waktu yang sepadan dengan curianku. Kau tidak boleh memenjaranku. Ibuku … ibu dan nenekku benar-benar membutuhkanku. Ya Tuhan, Ibu!” Mi Young tersentak. Ia bahkan sudah melupakan ibunya. Dan neneknya! Astaga, mereka pasti sedang panik sekarang. Dan kelaparan. Ya Tuhan! Mi Young bergerak bangun, matanya menjelajah dengan liar. Berusaha menemukan kantong belanjaan dan juga tasnya. Kyuyeon menegakkan tubuh. Memberi jarak di antara tubuhnya dan tubuh gadis itu. Ia mengerutkan keningnya saat melihat bahwa gadis ini … panik? Mi Young bangkit, mengabaikan Kyuyeon yang kini menatapnya penuh tanya. Gadis itu mondar-mandir di kamar. Sesekali mengurut pelipisnya yang lagi-lagi berasal dari sakit di kepalanya. Langkahnya terlihat limbung. “Apa yang kau lakukan?” “Di mana? Di mana kantong belanjaanku? Di mana tasku?” Mi Young menatap Kyuyeon dengan pandangan menuntut. Bahkan nyaris membentaknya. Ia berpegangan pada lemari di samping tempat tidur. Menahan tubuhnya agar tidak ambruk. “Biar aku perjelas situasinya di sini. Kau baru saja mencuri anggurku yang berharga. Dan aku bisa saja memenjarakanmu sekarang juga. Tapi sekarang kau berdiri di hadapanku meminta kantong belanjaan dan tasmu seolah kau adalah atasanku? Apa kau bercanda padaku?” Nada bicaranya yang dingin dan menyindir, sekaligus suara beratnya, membuat tubuh Mi Young tegang. Kesadarannya kembali terlempar ke permukaan. Benar, ia memang cari mati! Tapi ia tidak bisa memikirkannya saat bayangan ibu dan neneknya menghampiri pikirannya. “Aku akan menerima konsekuensinya nanti. Tapi sekarang tolong kembalikan barang-barangku. Aku harus pulang.” “Bagaimana aku bisa memercayaimu bahwa kau tidak akan kabur dengan uangku?” “Demi Tuhan! Aku tidak akan kabur. Aku bahkan tidak bisa pergi ke mana-mana kecuali ke rumahku yang berdiri di bawah tanahmu. Oh, dan itu bahkan bukan rumahku.” Mi Young nyaris menjerit. Merasa frustrasi dengan keadaan yang makin lama makin runyam. “Aku tidak main-main soal sel penjara untukmu, Nona.” “Oh, baiklah, aku tidak peduli! Aku akan menuruti segala perintahmu. Jadi dengan segala hormat aku memohon padamu, tolong kembalikan barang-barangku. Ibu dan nenekku sedang kelaparan sekarang. Dan aku harus memberi mereka sesuatu yang bisa dimakan.” Mi Young lagi-lagi berkata dengan suara bergetar. Namun kali ini berbeda. Ada tekad dan sedikit kemarahan di sana. Ya Tuhan, tamatlah riwayatnya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD