Kyuyeon menatap Mi Young dengan pandangan tidak terbaca. Menyelami diri gadis itu dengan cara yang tidak dipahami Mi Young. Detik berikutnya ia menggapai tangan gadis itu. Menggenggamnya dan membawanya keluar kamar. Merasakan kulit dingin itu di dalam tangannya. Mi Young menurut, mengikuti langkah Kyuyeon yang sedikit lebar. Ia pasrah, membiarkan Kyuyeon mendudukkannya di kursi dapur dengan model minibar. Kyuyeon berkutat di balik kompor. Melakukan hal entah apa. Oh, apa lagi sekarang? Dia harus segera pulang.
“Apakah aku boleh pulang sekarang?” Mencoba peruntungannya, Mi Young bertanya sekaligus meminta izin. Heran dengan suaranya yang terdengar menjauh dan takut.
“Diam di sana!”
Kyuyeon berkata tanpa berbalik. Lebih tepatnya memerintah. Beberapa menit kemudian, tubuhnya berputar dengan piring putih di tangan. Ia meletakkannya di meja depan Mi Young. Membuat gadis itu mengernyit heran. Nasi goreng? Apa yang pria ini ingin dia lakukan?
“Makanlah. Aku tidak ingin kau pingsan di rumahku. Setelah itu baru kita diskusikan hukuman apa yang tepat untukmu.” Kyuyeon mendudukkan tubuhnya di kursi tinggi yang lain. Melipat tangannya di meja, memperhatikan Mi Young dengan penuh minat. Matanya menatap mata gadis itu dengan penantian, menunggu Mi Young untuk menyendokkan nasi itu ke dalam mulutnya. Sementara yang gadis itu lakukan kini hanya melongo memandangi Kyuyeon dan nasi goreng itu bergantian.
“Apa aku perlu menyuapimu? Jujur saja, aku tidak keberatan untuk melakukannya,” pancing Kyuyeon dengan nada datar.
“Ya. Eh, apa? Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri.”
Mi Young tergagap. Tangannya terulur pelan menggapai sendok. Perutnya berbunyi saat ia menghirup aroma nasi goreng itu yang terasa begitu lezat. Astaga, ia benar-benar kelaparan. Mi Young memasukkan sendokan pertama ke mulutnya. Ia mengunyahnya perlahan. Hal yang bisa ia simpulkan adalah bahwa nasi goreng ini merupakan makanan terenak yang pernah dia makan—mungkin hanya karena ia sedang kelaparan. Kyuyeon memandanginya lagi, merasa puas, seolah-olah ia juga sedang menikmati santapan. Matanya memancarkan kesenangan dan bibirnya tersenyum geli.
“Ini benar-benar enak. Terima kasih.”
Mi Young tersenyum tulus, membuat Kyuyeon merasakan sensasi aneh di tubuhnya saat melihat senyum itu. Ia mengangkat bahunya sebagai jawaban. Alisnya bertautan saat gadis itu berhenti makan dengan tiba-tiba.
“Ada apa?”
“Aku tidak bisa makan, selama aku tahu bahwa ibu dan nenekku belum makan di rumahku. Apa … apa aku boleh pulang?”
Mata itu menatap Kyuyeon dengan ragu. Mi Young meremas tangannya sendiri. Menanti jawaban pria itu.
“Jangan khawatirkan itu. Kau habiskan saja makananmu.”
Tidak puas dengan jawabannya, Mi Young masih tetap menatap Kyuyeon dengan penuh tuntutan. Seolah memaksa pria itu untuk mengatakan ‘ya’ lalu ia akan berlari pulang ke rumahnya. Kyuyeon mendesah napas gusar. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku belakang celananya, lalu menempelkan ke telinga kanannya setelah sebelumnya menekan tombol seseorang.
“Dae-Jung Hyeong, bisa kau antarkan makanan ke rumah Nyonya Hwang dan ibunya? Ya, sekarang. Pastikan bahwa mereka bisa memakannya sekarang …. Bawalah persediaan yang cukup untuk kebutuhan mereka selama seminggu …. Baiklah …. Terima kasih.”
Kyuyeon menutup teleponnya. Ia menatap Mi Young sambil menaikkan alisnya. “Puas?”
Meski awalnya tampak tidak enak hati, kini Mi Young menatapnya penuh terima kasih. Bibirnya melengkung membentuk senyuman indah yang mencapai matanya. Ia mengangguk, bagai anak kecil yang merasa puas setelah dibelikan selusin balon dan segudang es krim.
“Sekarang habiskan makananmu. Seingatku urusan kita belum selesai.” Kyunyun berkata dengan ekspresi jailnya. Mencoba menakuti gadis itu lagi dengan kata-katanya. Hal yang cukup ampuh, karena kini Mi Young melanjutkan makannya dengan kecepatan yang mengagumkan. Ia meneguk habis jus jeruk yang disodorkan Kyuyeon. Mi Young turun dari kursinya. Mengikuti Kyuyeon yang melangkah ke sisi lain dari rumah itu. Matanya berkeliling. Ia baru menyadari bahwa rumah ini lumayan luas. Terasa lengang tanpa adanya kehadiran manusia lain selain mereka berdua. Pikiran itu membuat wajahnya memerah. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa hitam yang terletak di depan televisi berlayar datar dengan ukuran besar. Matanya melirik Kyuyeon yang duduk agak jauh di sampingnya.
Kyuyeon duduk dengan anggun. Ia memiringkan sedikit tubuhnya. Menyandarkannya pada lengan sofa, berusaha membuat tubuhnya nyaman dengan posisi yang membuatnya bisa menatap gadis itu sepenuhnya. Ia melipat kedua tangannya di dadanya. Tidak bisa menahan senyumnya saat melihat kegugupan gadis itu. Mi Young bergerak salah tingkah di tempatnya.
“Apa kau benar-benar ingin memasukkanku ke penjara?” tanya Mi Young pelan, memulai negosiasi.
“Sepertinya aku belum berubah pikiran soal itu,” jawab Kyuyeon pendek.
“Apakah ada hal yang bisa kulakukan agar kau berubah pikiran?”
Mata hitam gadis itu menatap Kyuyeon dengan jujur. Membuat Kyuyeon tenggelam di dalamnya.
“Kupikir aku bisa menciptakan kesempatan itu.”
Mi Young meneguk ludahnya pelan. Berusaha memutar otak untuk mengetahui maksud sebenarnya dari laki-laki di depannya. Apa sebenarnya tujuan Kyuyeon? Memaafkannya? Atau menunda hukuman yang nantinya lebih berat dari dugaannya?
“Kenapa kau mau memberi makan untuk keluargaku?”
“Karena aku bisa melakukannya. Sebagai jaminan, mungkin?”
“Bisakah kau mengatakan semuanya dengan jelas? Aku tidak mengerti. Jaminan apa maksudmu? Mengingat kelakuan dan kondisiku di sini, lebih masuk akal kalau akulah yang seharusnya memberikan jaminan padamu.”
Kyuyeon mengembuskan napasnya pelan. Benar. Seharusnya ia tidak perlu melakukan hal baik sejauh itu. Seharusnya gadis ini mempertanggungjawabkan perbuatannya—karena mencuri miliknya. Tapi ia sendiri tidak mengerti kenapa ia melakukannya. Kenapa ia begitu ingin memastikan bahwa segala hal yang menyangkut gadis ini harus baik-baik saja? Memberi gadis ini makan? Mimpi apa dia? Ia bukan orang yang selembut itu—pada gadis mana pun. Sudah cukup dengan membiarkan orang lain bekerja untuknya dan tinggal gratis di rumah yang ia bangun. Itu saja. Ia tidak pernah memberi mereka makan dengan tangannya sendiri! Dan bahkan membiarkan satu pencuri cantik ini untuk tidur di kasurnya! Itu tindakan yang … terlalu esktrem. Matanya meneliti gadis itu. Berusaha menemukan hal yang membuatnya ingin menjaga gadis ini baik-baik. Tapi tidak ada yang ia temukan. Kecuali seorang gadis yang terlihat polos dan tulus. Tapi juga rapuh dan tegar. Kyuyeon menggelengkan kepalanya. Berusaha mengabaikan perasaan aneh itu untuk saat ini.
“Karena setelah apa yang aku lakukan, maka kau tidak akan bisa kabur dariku, kan? Utangmu padaku menjadi lebih banyak,” putus Kyuyeon akhirnya. Mengamati Mi Young lebih serius lagi seolah tengah mengawasi objek percobaan. “Jadi, apakah aku harus memasukkanmu ke penjara?”
“Aku akan sangat senang dan berterima kasih kalau kau mau memberiku kesempatan lagi. Untuk melakukan apa pun yang kau perintahkan agar aku tidak perlu masuk ke sana sebagai pelunasan utang. Aku tidak akan bisa membayarnya jika aku masuk penjara,” jawab Mi Young setelah berpikir lama. Sejujurnya sekarang jantungnya berdebar gila-gilaan karena takut Kyuyeon benar-benar akan memasukkannya ke penjara. Apa yang harus dilakukannya jika itu terjadi? Ibunya pasti akan jadi lebih kesulitan.
Kyuyeon mengerutkan alis, bibirnya mengatup rapat dan matanya memandang Mi Young dengan serius. Seolah-olah ia sedang berpikir keras untuk solusi masalah kelaparan di dunia. Ia menarik napas dalam sebelum bicara.
“Jadi, pencuri cantik, apa kau bisa menjadi asisten 24 jam untukku?”