6 Kesepakatan Kerja

1223 Words
“Jadi, pencuri cantik, apa kau bisa menjadi asisten 24 jam untukku?” Mi Young merasakan kepakan sayap aneh di perutnya. Pencuri cantik? Apakah itu pujian? Pipinya memerah tanpa diminta. Ia menggigit bibirnya, berusaha melawan arus menyenangkan yang tiba-tiba membanjiri nadinya. Matanya melebar menatap Kyuyeon. “Kau menggodaku?” balas Mi Young dengan ekspresi yang lebih dikeraskan. Kyuyeon menggeleng. “Itu bukan godaan. Itu kejujuran,” jawabnya enteng. Mi Young berdeham. “Asisten 24 jam? Apa yang harus kulakukan dengan jabatan itu?” “Kau hanya perlu mengatur hidupku. Mengatur rumah ini juga. Nyonya Kim sudah berhenti bekerja kemarin, jadi aku memiliki sedikit masalah untuk memastikan bahwa rumah ini akan terus baik-baik saja. Merawatku, itu termasuk dalam urusan masak memasak untuk kebutuhan makanku sehari-hari. Pakaianku juga termasuk di dalamnya. Yaah, aku bukan bayi tentu saja. Aku bisa melakukan sebagian besar kegiatan itu sendiri. Tapi pekerjaanku yang lain membuat pembagian waktuku kurang efektif. Dae-Jung sudah kembali ke perusahaan—dia sekretarisku. Jadi, aku butuh tambahan pekerja untuk di rumah.” Kyuyeon menjelaskan dengan lancar. Matanya tidak pernah lepas dari mata Mi Young. Terus memandang gadis itu tanpa merasa terusik dengan tindakannya yang membuat Mi Young lagi-lagi salah tingkah. “Kau bisa bilang bahwa ini menjadikanmu sebagai sekretaris keduaku. Ah, tidak begitu juga. Asisten. Itu sudah istilah yang paling tepat.” Kyuyeon meralat ucapannya sendiri sebelum Mi Young mengatakan apa-apa. “Kau akan siap sedia di sini kapan pun aku membutuhkanmu. Kau juga bisa bekerja untuk mengatur perkebunan anggurku. Dengan catatan, jangan mencuri apa pun.” Kyuyeon melanjutkan penjelasannya lagi saat gadis itu tidak juga bicara. Mengakhiri dengan seringaian nakal yang lagi-lagi menggoda Mi Young, menakuti gadis itu. Oke, mungkin ini adalah hobi barunya. Mi Young terdiam di tempatnya. Otaknya terasa meluap mendengar penjelasan itu. Dan ia tiba-tiba merasa pusing atas tuntutan yang terdengar begitu berat. Mengatur Kyuyeon? Merawatnya? Kenapa ia terdengar seperti seorang … istri? Menilik dari segala pekerjaan yang harus ia lakukan, ia seperti diminta untuk menjadi pendamping hidup pria ini. Astaga. Pemikiran aneh macam apa itu? Ia yakin ada yang salah dengan otaknya. Mungkin akibat dari pingsan tadi. Mi Young menarik napas dalam. “Tidak buruk. Kurasa aku bisa melakukannya. Aku memang harus bisa melakukannya kan jika tidak ingin berakhir di penjara?” Gadis itu memberanikan diri menatap Kyuyeon, tanpa pandangan takutnya. Berusaha membuat Kyuyeon tahu bahwa kini ia sedang menyindirnya. Kyuyeon tersenyum kalem. Ia mengangkat bahunya lagi. Menahan senyum. “Aku akan memastikan keluargamu baik-baik saja. Kau juga tidak perlu khawatir soal uang. Aku yakin aku sanggup untuk menanggung kebutuhan mereka.”Kyuyeon mengatakannya dengan serius dan ketulusan yang menguar dari tatapannya. Berusaha meyakinkan Mi Young untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Dorongan aneh lainnya yang membuatnya ingin memastikan bahwa gadis ini baik-baik saja. Mi Young mengangguk pelan. Ia meremas tangannya yang kini berada di pangkuannya. “Sepakat?” Kyuyeon mengulurkan tangannya pada Mi Young. Diiringi senyuman yang membuat Mi Young berusaha keras untuk tidak histeris. Ya Tuhan, kenapa pria ini bisa terlihat begitu tampan hanya dengan senyuman ringan itu? Mi Young mengulurkan tangannya, bermaksud menjabat tangan Kyuyeon. Dan keduanya seolah bergetar saat kulit mereka menyatu. Ini mungkin bukan sentuhan pertama sejak pertemuan mereka. Namun rasanya begitu dalam hingga mengalirkan gelombang listrik kecil yang membanjiri tubuh masing-masing. Kyuyeon menggenggam erat tangan Mi Young. Seolah tidak ingin melepaskannya. “Sepakat!” Mi Young mengeluarkan suaranya yang terdengar serak. Kyuyeon bangkit, dan Mi Young merasa heran kenapa laki-laki itu tidak melepaskan tangannya. Mi Young menurut saat Kyuyeon menggiringnya melangkah menaiki tangganya. Dan sensasi aneh saat kulit mereka bersentuhan itu juga tidak menghilang. Membuatnya urung untuk menarik tangannya. Kyuyeon menghentikannya di depan pintu sebuah kamar. Kamar siapa ini? “Mungkin aku bisa memulainya dengan menunjukkan ruanganmu. Selamat datang di rumahku, Hwang Mi Young. Anggap saja rumah sendiri.” Kyuyeon berkata dengan senyum hangatnya. Mengirimkan getaran aneh lainnya saat pria itu menyebut namanya. Tangan Kyuyeon yang bebas membuka pintu itu, menampakkan sebuah kamar tidur yang lumayan luas dengan ranjang berlapis seprai dan selimut hangat yang berwarna abu-abu dan corak putih dan hitam. Pintu lainnya—yang Mi Young duga adalah kamar mandi—berada di sudut kanan kamar itu. Lemari pakaian besar, sofa di sudut yang lain, karpet berbulu tebal, dan gambar aneh yang terletak di dinding belakang ranjang. “Ini luar biasa. Apakah ini kamar pembantumu?” “Mi Young, kau bukan pembantuku. Kau asistenku.” Mi Young mengatupkan bibirnya saat mendengar suara Kyuyeon yang mengandung sejumlah emosi yang tidak ia mengerti. Ia mengangguk mengerti. Matanya kembali menjelajahi isi kamar. Ia menoleh lagi pada Kyuyeon. “Apakah aku harus tinggal di sini mulai sekarang?” “Seharusnya begitu. Kupikir kau tidak akan bisa bekerja dengan baik jika harus bolak-balik ke rumahmu.” Mi Young menatap Kyuyeon dengan curiga. Membuat pria itu tertawa. “Apa? Kau tidak memercayaiku? Kunci saja pintunya dengan benar, kalau itu membuatmu lebih baik. Kau juga bebas pergi kapan saja kau ingin, Mi Young. Maka aku hanya perlu mendokumentasikan utangmu dan mengirimnya pada pengacaraku.” Mi Young merengut. “Ini curang sekali!” Kyuyeon mengambil napas dalam, menatap Mi Young dengan lembut. “Aku hanya berusaha membantu. Pikirkanlah dengan baik, maka kau pasti akan setuju bahwa ini adalah kerja sama yang adil. Lagi pula aku tidak melihat ada ruginya bagimu. Selain bisa melunasi utangmu, siapa tahu aku akan menaikkan gajimu jika pekerjaanmu memuaskan.” Mi Young diam. Ia menarik napas dalam. Mungkin benar. Jika beruntung, maka ia benar-benar bisa bebas dari utang dan melunasi utang ayah sialannya itu. Dan tentu saja, tidak jadi masuk penjara. “Kau kelihatan lelah. Tidurlah. Kamarku ada di sebelah kamar ini. Besok kau harus bangun pagi. Pekerjaanmu dimulai besok.” Kyuyeon mendorong pelan tubuh Mi Young. Mendudukkannya dengan paksa di tempat tidur. Mi Young berbaring dengan nyaman. Membiarkan Kyuyeon menyelimutinya hingga ia terselubung dalam kehangatan yang nyaman. Dan kehangatan itu bertambah saat melihat mata Kyuyeon yang menatapnya dengan hangat. Rona merah di pipinya tidak bisa ditahan saat tangan Kyuyeon mengacak pelan rambutnya. “Tapi, Kyu, maksudku Tuan Cho, sepertinya aku harus mengabari ibu dan nenekku. Aku yakin mereka akan khawatir sekarang.” “Jangan pikirkan itu, Dae-Jung sudah menjelaskan pada mereka bahwa kau akan bermalam di sini malam ini. Kau bisa menjelaskan pada mereka besok. Tentang proposal pekerjaanmu yang baru.” Kyuyeon bangkit. Tidak menangkap rona ragu di wajah Mi Young. Bukankah rumah ini masih terletak di kawasan kebun anggur? Jadi kenapa ia berkata bahwa ia tidak harus pulang seolah jarak yang memisahkan mereka sejauh puluhan kilometer—meski mungkin memang benar jika luas kebun anggur ini juga dihitung. Tapi ia memutuskan untuk diam saja. Ia bisa menjelaskan pada ibunya besok. Ya, besok. Dan malam ini ia akan bermalam di sini. Oh, kenyataan itu entah kenapa membuatnya tidak … nyaman. “Seperti yang kukatakan, kau bisa pergi kapan saja kau ingin. Aku tidak memaksamu. Semua keputusan ada padamu, Mi Young,” ingat Kyuyeon lagi. Mi Young mengangguk pelan. “Selamat malam,” ujar Kyuyeon saat tangannya berada di atas knop pintu. Bermaksud menutupnya. “Selamat malam,” balas Mi Young dengan gamang. Ia menggigit bibirnya. Merasa ragu apakah harus mengatakannya atau tidak. “Kyu?” Mi Young memanggil sebelum pintu itu benar-benar tertutup. Membuat Kyuyeon membukanya kembali. Ia memandang gadis itu dengan alis terangkat. “Terima kasih. Untuk semuanya.” Suara itu bagaikan bisikan. Tapi Kyuyeon dapat mendengarnya dengan jelas. Gadis itu memandangnya dengan tatapan yang begitu tulus. Matanya memandang Kyuyeon dengan pandangan intens seolah-olah Kyuyeon adalah pahlawannya. Membuat jantung Kyuyeon tiba-tiba berdetak liar. Ia mengeratkan pegangannya pada knop pintu. Kyuyeon yakin bahwa ia sebelumnya sudah ratusan kali mendapatkan kalimat yang sama dari orang-orang di luar sana. Tapi saat gadis itu mengatakannya padanya, entah kenapa membuatnya merasa … senang dan berguna. Menimbulkan rasa bangga dan bahagia yang memenuhi hatinya. Ia tidak bisa menahan senyum. Akhirnya bibirnya melengkung, membuat seulas senyum penuh pesona dengan aura bahagia yang tidak bisa ditutupi. Setelah ia puas memandangi wajah damai itu, ia menutup pintu. Meninggalkan gadis itu dalam kesenangan tidak terkira yang juga memenuhi hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD