Nyonya Im mengangguk dengan semangat. “Benar! Kurasa dia tidak mau berhenti sebelum tangan atau kakinya patah. Aku suka wanita muda yang bekerja keras, tapi melihatnya bekerja justru membuatku sakit kepala. Dia bahkan ikut melakukan pekerjaan orang lain saat tugasnya sendiri sudah sebanyak itu,” cerita Nyonya Im tanpa diminta. “Kapan aku begitu? Bibi berlebihan,” keluh Mi Young tidak enak. Ia memang bekerja seperti orang gila karena keluarganya butuh uang waktu itu. Namun membeberkannya di depan Kyuyeon benar-benar membuatnya tidak enak. “Oh ya, tadi kami mengambil beberapa tandan anggur yang masak lebih dulu. Ada juga beberapa yang patah dan rusak. Oh, Tuan Cho belum mencicipi pemanenan tahun ini, kan? Lebih baik kalian dulu yang mencicipinya,” tawar Nyonya Im lagi, tiba-tiba membelokk

