Ten

1738 Words
Mercy Selama berhari-hari, aku nggak bisa berhenti mikir. Bukan mikirin soal pekerjaanku yang njelimet banget. Bukan juga mikirin trio dokter rese yang belakangan ngejar-ngejar aku demi jabatan yang tertinggi di rumah sakit pula. Kalau kalian berpikiran aku terbayang-bayang sosok ganteng Andrew... Nggak kok. Aku memang mengagumi kegantengannya—dan juga mobilnya yang kece parah itu. Tapi saat ini, aku memikirkan mantanku. Kalian nggak salah. Aku memikirkan Sergio Romanos. Semakin aku berusaha melupakannya, malah aku semakin terngiang dengan sikap-sikap manisnya dulu yang berhasil membuat duniaku jungkir balik nggak keruan. Padahal sudah hampir dua bulan sejak aku putus dengan Sergio, dan trio dokter rese mendekatiku. Tapi tetap saja, aku tidak mampu melupakan Sergio. Kata orang bagian yang paling sedih dari putus cinta adalah ketika kalian udah nggak bisa memilikinya, namun masih mencintainya. Itulah yang terjadi padaku saat ini. Kalau definisi lagu Secret Love Song-nya Little Mix kan mereka saling cinta dan saling berhubungan tapi diam-diam. Kalau aku mungkin lebih cocok pakai lagu Pupus ya? Cintaku selama sekian tahun ini ternyata hanya bertepuk sebelah tangan setelah Sergio meniduri Cynthia dan ia hamil anak Sergio. "Kampus rasanya udah bukan kampus lagi, De," kataku gontai. Hari ini aku ke kampus untuk mengurus beberapa berkas yang harus aku update guna kelanjutan residenku. Beberapa bulan lagi akan menjadi residen tahun kedua bersama dengan Dea, Roni dan Heru. "Apaan coba? Kampus udah bukan kampus lagi?" ulangnya sambil menaikkan satu alisnya, "Cuma karena Sergio putus sama lo bukan berarti hidup lo langsung berubah seratus delapan puluh derajat, Mey!" "Lah buktinya... dulu semua dokter-dokter di gedung ini ramah sama gue karena gue pacarnya Sergio, mereka nanyain kabar Sergio, terus gimana spesialisasinya dan..." Cletak! Aku merasakan dahiku disentil oleh jari lentik Dea yang panjang dan kukunya yang belum dipotong. "Aw! Sakit anjir!" seruku sambil memegangi dahiku yang habis disentil olehnya. "Biar lo sadar! Selama ini dokter-dokter perhatiannya itu sama Sergio," tukasnya, "Bukan elo, Marceline Irena!" Dea memasukkan beberapa kertas laporannya ke dalam map, sementara aku yang sudah selesai dengan semua berkas yang harus kukumpulkan sedang menyerap ucapan Dea tadi. Ucapannya ada benarnya juga sih. Selama ini dokter-dokter yang adalah dosen di FK ini hanya memerhatikan Sergio, dan bukan aku. Kami sampai di depan TU FK sebelum jam makan siang. Orang TU pun menerima berkas-berkas kami dan mengatakan kalau kami bisa bertemu dengan Dokter Dhani sebentar lagi setelah jam mengajarnya selesai. Percayalah, aku pun kaget waktu mendengar konsulen yang kami takuti itu terdaftar menjadi dosen di kampus. Tentu saja yang diajarkannya adalah ilmu bedah. Mau apa lagi memangnya? "Kalian berdua nunggu saya kan?" tegur sosok yang kita tunggu belum lama. "Kelasnya sudah selesai. Langsung ke ruangan saya saja." Aku dan Dea menurut, dan menunggu Dokter Dhani di dalam ruangannya. Ruangannya tidak jauh berbeda dengan ruangan yang dimilikinya di rumah sakit. Bedanya, di sini tidak ada tempat tidur untuk periksa pasien, dan ruangan ini lebih banyak dipenuhi dengan buku-buku bedah, anatomi dan onkologi. Akhir-akhir ini Dokter Dhani sering mengambil kasus tumor, memang yang kutahu juga dia sedang proses untuk mengambil sub-spesialis bedah onkologi. Dia memang menyebalkan, tapi sebagai dokter aku mengakui kehebatannya. Tak lama orang yang kami tunggu-tunggu pun masuk. "Oh ya, kalian hampir jadi residen tahun kedua," katanya sambil mengambil tempat duduk di hadapan kami. "Sudah tahu mau spesialisasi bedah apa?" Pertanyaan itu membuat kami berdua saling pandang satu sama lain. "Begini, kalian sudah tahu bagaimana dunia pembedahan bukan selama tahun pertama, dan memang langkah berikutnya adalah menentukan spesifikasi kalian. Jangan kalian pikir kalian bisa melakukan bedah apapun sesuka kalian. Tiap dokter bedah memiliki ranahnya masing-masing. Seperti aku yang tidak mungkin melakukan pembedahan otak, karena aku bukan bedah saraf. Atau Dokter Ben tidak mungkin melakukan pembedahan bedah pada pasien usus buntu karena keahliannya adalah ortopedi." Iya, aku mengerti. Seperti Oma yang mengambil bedah plastik, dan Dokter Nico yang mengambil bedah saraf. Keduanya saling sengit kalau sudah berada dalam satu ruang operasi. Tentunya karena bedah plastik dikenal dengan perfeksionismenya. Sementara bagi Dokter Nico yang terpenting adalah pasien selamat. "Kalian masih belum tahu juga mau ambil apa?" tegur Dokter Dhani sambil mendecak bingung. "Heran saya, apa saya selama ini salah didik kalian?" "Saya mau bedah anak Dok," balas Dea spontan. Aku pun menoleh kepadanya. Dia bilang bedah anak barusan? "Sa-saya... mau bantu anak-anak yang punya kelainan-kelainan Dok. Saya mau jadi dokternya." "Jawabanmu kayak anak SD aja!" Dokter Dhani memasang kacamatanya. "Bedah anak itu jauh lebih sulit daripada bedah-bedah lain. Yang jadi pasienmu itu bukan hanya anaknya, tapi orangtuanya pun ikutan menjadi pasien kalian. Yang perlu kamu yakinkan adalah orangtuanya dulu baru pasiennya! Memangnya kamu yakin sudah cukup mampu untuk menghadapi orangtua yang histeris?" Ucapan Dokter Dhani barusan langsung membungkam mulut Dea. Percayalah, Dea adalah dokter yang jauh lebih baik dariku. Nilai-nilainya jauh lebih baik dariku. Tapi kemampuan komunikasinya dengan pasien sedikit—ralat—sangat buruk. Beberapa hari lalu, aku dan dia membantu seorang residen tahun kelima untuk melakukan pembedahan usus buntu. Usus buntunya sudah berhasil di ambil, namun karena sudah sempat pecah residen dan aku harus membersihkan pendarahannya dulu sebelum menutup. Dea, karena hari itu menjadi asisten dua dialah yang diminta untuk bertemu dengan keluarga pasien. Aku tidak tahu persisnya apa yang terjadi, tapi perawat mengatakan Dea terlalu membuat keluarga pasien ketakutan karena ekspresinya yang berlebihan, dan nada bicara yang disampaikannya pun membuat keluarga semakin khawatir. Yang kutahu setelahnya, ibu dari pasien yang kami operasi malah diopname selama tiga hari karena vertigonya kambuh setelah mendengar kabar dari Dea. "Pikirkan lagi," kata Dokter Dhani pada Dea, "Lebih baik kamu belajar lagi cara menyampaikan berita kepada keluarga pasien. Itu sederhana dan tidak ada di materi kuliah. Tapi hal ini lebih penting dari sekedar teori yang kamu pelajari!" Selanjutnya mata Dokter Dhani beralih padaku. "Kamu? Maumu apa, Dokter Mercy?" Sejujurnya? Aku nggak tahu. Tok tok tok. Pintu ruangan Dokter Dhani terbuka, dua teman kami datang, Heru dan Roni. "Maaf Dok, tadi masih visite pasien di rumah sakit." Mereka berdua menyerahkan berkas yang sama seperti aku dan Dea serahkan ke TU tadi. "Oke, kalian berdua," Dokter Dhani membaca sekilas berkas yang mereka bawa, "Pertanyaan yang sama untuk kalian. Secara spesifik, kalian mau mendalami bedah apa?" Roni dengan mantap diiringi senyuman, "Plastik, Dok!" Tentu saja. Dia selama ini selalu mengintiliku saat aku sedang bersama dengan Oma. Bukan untuk apa-apa, tapi untuk mengambil kuliah gratis dari Oma. Lucunya lagi, Oma sendiri malah tertarik dengan semangat yang Roni miliki. Menurutnya semangat perfeksionisme itu harus ditularkan kepada calon bedah plastik. Ada pula ucapan Oma yang mengatakan bahwa ketika dia melihat Roni, dia seperti melihat dirinya sendiri pada masa residennya. Entah mirip di bagian mananya. "Baiklah. Saya bisa merekomendasikanmu di plastik untuk tahun kedua," balas Dokter Dhani. Aku melihat kedua sudut bibirnya terangkat jelas. Dia tersenyum? Wow! "Kalau saya tetap di bedah umum Dok," jawab Heru mantap seperti Roni. "Kamu terpesona sama saya ya?" tanya Dokter Dhani dengan senyuman isengnya. Jujur ya, Dokter Dhani ini emang besar kepala banget kalo ada yang mau ikut bidangnya dia. Konon, dari residen-residen tahun pertama yang dimilikinya tiap tahun hanya ada satu orang saja yang bertahan bersamanya, karena yang lainnya pilih spesifikasi yang lain. "Mercy, kamu maunya apa sekarang?" Aku menatap mata Dokter Dhani, secara spontan aku menjawab. "Umum, Dok." Sejujurnya, aku tidak sadar saat mengatakan itu. "Bagus! Akhirnya residen lanjutan saya nggak cuma satu," balas Dokter Dhani bangga. "Dea, kamu masih yakin dengan anak?" "Hm... Gimana kalau saya kasih jawabannya akhir pekan ini Dok?" pertanyaan itu dijawab anggukan maklum dari Dokter Dhani. "Baiklah. Kalian berempat sudah boleh balik ke rumah sakit. Yang jaga malam hari ini Mercy dan Roni di bangsal." Great, itu berarti aku punya waktu istirahat sampai jam malam nanti. --- Heru dan Dea balik ke rumah sakit karena mereka tidak kena shift malam sepertiku dan Roni. Sebagai satu tim, kami berempat sudah seringkali bergonta-ganti pasangan jaga malam, dan tentunya Dokter Dhani lebih senang membagi kami berempat dalam tim kecil, seperti saat dihukum dan jaga malam. Tentunya karena kami berempat memang sudah akrab dari SMA, jadi kami tidak terlalu rewel untuk masalah dengan siapapun kami dipasangkan. Namun, untukku sendiri yang nggak betahan sama Dea yang panikan dan memiliki kemampuan intrapersonal yang buruk aku nggak terlalu nyaman memang dengannya—apalagi kalau jaga di UGD. Sementara Roni, dia merasa dirinya paling mahabenar, mahasempurna, dan mahahebat. Makanya aku paling nggak suka juga kalau dipasangkan bersamanya untuk jaga malam. Memang yang paling sabar dan telaten adalah Heru. Dia paket komplit. "Lo bete kan gue jaga malem sama lo?" tanya Roni yang saat ini sedang menyedot jus buah naga pesanannya. Kami berdua tidak langsung balik, tapi nongkrong dulu di kampus. "Mau gue mintain Heru buat gantiin jadwal jaga malem gue sama lo?" Inginnya sih begitu. Terakhir kali kami berdua jaga malem, Roni selalu ngotot dengan pemikirannya sendiri saat ada salah seorang pasien yang tiba-tiba komplikasi. Namun, secepat itu keinginanku datang, secepat itu juga keinginanku hilang. "Nggak ah. Kapok gue dihukum sama Dokter Dhani," keluhku, "Mana tadi gue bilang mau bedah umum lagi." Roni tertawa lepas saat melihat ekspresiku yang sangat amat lesu. "Lo tahu Mey? Kalau gue jadi lo, gue bakal ambil spesialisasi yang memungkinkan gue untuk berkembang selebar-lebarnya." Roni memang terkesima oleh bedah plastik sejak awal. Apalagi kalau dia lihat setiap artis-artis yang melakukan operasi plastik. Baginya, itu adalah magic. "Maksudnya gue harus ambil plastik kayak lo, just because my Grandma is one of the renowned plastic surgeon in this country?" "Sebenernya nggak sepenuhnya salah. Tapi bener juga." Roni menghabiskan jus naganya lalu menelannya sebelum melanjutkan omongannya. "Gue mau belajar teknik bedah yang dimilikinya—mungkin bisa lewat baca buku aja, tapi akan beda kalau diterangkan langsung. Makanya gue selalu mencari kesempatan dimana gue bisa berbincang dengan Dokter Abby." Roni tersenyum padaku, "Tapi kalau memang bedah plastik bukan tempat yang lo inginkan, lebih baik jangan, karena lo nggak akan bisa berkembang di tempat dimana lo sendiri melakukannya dengan penuh paksaan dan tekanan." Aku meresapi ucapan terakhir Roni. Terdiam, dan hanya menatap es teh manis milikku yang sudah mulai meleleh. Entahlah, aku lupa kapan terakhir kalinya aku melakukan hal yang kuinginkan. "Gue pulang ke kost dulu kalo gitu," kata Roni, lalu beranjak dari tempat duduknya yang berhadapan denganku, "See you tonight!" Sepeninggal Roni, aku masih duduk dan memikirkan hal terakhir apa yang benar-benar kuinginkan. Sampai aku sendiri merasa bahwa aku tidak pernah memiliki keinginan apapun lagi selain Sergio. Tentunya, aku selalu melihat Sergio dan memikirkan Sergio terlebih dulu dibandingkan keinginanku. Karena ada Sergio-lah aku bertahan untuk mengambil PPDS bedah dan merelakan waktu tidurku berkurang tambah banyak, membuatku harus lebih banyak makan mie instan dan makanan siap seduh lainnya. Hingga aku merasa sangat hampa ketika Sergio mengaku padaku bahwa dia telah menghamili seorang dokter gigi. I hate it, but I am not the same anymore. Aku bahkan tidak mampu untuk membiarkan ketiga dokter yang mendekatiku untuk mengajakku kencan seperti orang normal. Kenapa? Karena aku tidak mengingini hal apapun lagi. Tepatnya, aku telah lupa bagaimana rasanya untuk mengingini. Rasa untuk memiliki sesuatu di dalam hidup ini. Katakanlah aku mati rasa, mungkin itu yang paling tepat untuk kasusku. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD