Sejak bertengkar dengan Reina tempo lalu, Revan terlihat menghindar dari cewek itu. Yang sekarang dia khawatirkan justru Disa. Saat Revan memperhatikan wajah Disa di kelas sebelum kelas dimulai, sekilas cewek itu memang terlihat biasa. Dia nyaris tak berbeda seperti sebelumnya. Tawanya yang lepas, senyumnya yang khas, dan keceriaan yang sempurna. Saat itu, Revan ikut senyum. Dia rasa kekhawatirannya terlalu berlebihan. Cewek itu pasti baik-baik saja tanpa dirinya.
Namun, saat kebersamaan itu menghilang, saat kelas di mulai, saat perhatian seluruh anak menuju ke depan, Revan sama sekali tak melihat satupun Disa yang biasa. Tak ada Disa yang tersenyum kalau Pak Sodiqin berdehem berkali-kali, tidak mencatat dengan rajin seperti biasanya, bahkan pandangan matanya kosong, tidak fokus. Sampai sempat ditegur oleh guru-guru yang memergokinya melamun. Itu, bukan Disa.
Saat itu Revan gamang. Dia harus memastikan seberat apa perpisahan ini untuk Disa. Pulang sekolah, Revan keluar bersama yang lain. Dia bersembunyi di samping kelas. Melihat keadaan di depannya. Disa keluar bersama teman-temannya. Wajahnya cerah dengan tawa yang mewarnai ekspresinya. Revan ikutan senyum. Namun, ketika dilihatnya teman-temannya mendapatkan taksinya, Disa bukannya ikut menyetop, tapi dia malah balik ke kelas.
Saat halaman mulai sepi, saat semua yang dia kenal tidak terlihat lagi, wajah Disa seperti yang Revan pikirkan. Wajahnya bener-bener muram. Dia melangkah ke kelas yang sepi.
Revan menatap tajam tingkah Disa yang aneh. Pelan, dia melangkah ke kelasnya. Melihat lewat jendela apa yang cewek itu lakukan. Dan saat melihat Disa langsung dengan mata kepalanya sendiri, Revan langsung memeluk tiang.
Disa menelungkupkan wajah ke meja. Lalu diam begitu saja. Dia tidak tidur. Revan tahu itu. Suara rintihan dan isakan yang keluar lirih dari sela tangannya bisa didengar Revan sekeras jika Disa teriak di telinganya.
Cewek itu benar-benar selalu bersandar padanya. Untuk pertama kalinya, cewek yang selama ini dia lindungi menangis, karena ulahnya. Perasaan bersalah itu membuat Revan ingin mundur saja dari perjanjian ini. Tapi dia tidak bisa. Yang harus dia lakukan hanya mengikuti skenario yang ada.
Pelan, Revan menghampiri Disa, lalu duduk di sampingnya. Tubuh Disa kaget sedetik, lalu dia seperti patung saat itu juga. Saat itu Revan tahu, pasti Disa menyadari kehadirannya. Tapi cewek itu tidak mengangkat kepalanya. Sama sekali!
---
Kalau sedang bersama teman-temannya, Disa mungkin bisa mengendalikan diri. Tapi kalau sedang sendiri pertahanannya jebol seketika. Sejak Revan pergi, rasanya hidupnya menjadi tidak teratur begini. Pulang pergi sendiri, kemana-mana sendiri, dia sekarang benar-benar sendiri. Seperti sekarang, dia pun duduk di kelas sendiri. Menyembunyikan wajahnya di atas meja. Menangis sesenggukan di sana.
Disa kaget. Dia benar-benar kaget. Walaupun dia tidak bisa melihatnya. Walaupun dia sedang membenamkan muka di atas meja tanpa bisa mengangkatnya, tapi dia kenal benar siapa yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Dia kenal bau sabun bercampur keringat milik cowok itu.
Tapi masalahnya, untuk apa Revan menghampirinya? Sedangkan sejak Disa tahu kalau dia berpacaran dengan Reina, Revan tidak pernah menghampirinya. Tidak pernah mau bicara dengannya lagi.
Sekarang dia tiba-tiba di sampingnya. Lebih kaget lagi waktu Revan memasangkan satu headset ke telinganya. Dan dari sana mengalun lagu ‘Dan…’ dari SO7.
Dan… dan bila esok datang kembali seperti sedia kala di mana kau bisa bercanda
Dan… perlahan kau pun lupakan aku mimpi burukmu di mana tlah kutancapkan duri tajam
Kau pun menangis, menangis sedih… maafkan aku
Dan… bukan maksudku bukan inginku melukaimu sadarkah kau di siniku pun terluka
Melupakanmu, menampikkanmu, maafkan aku…
Lupakanlah saja diriku bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala
Caci maki saja diriku bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala…
Disa makin menangis namun berusaha mati-matian menyembunyikan isaknya.
Inikah yang Revan minta? Inikah penyelesaian yang Revan harapkan? Agar Disa melupakannya… Mencaci-makinya. Lalu melepaskannya untuk selamanya? Menganggap kebersamaan mereka selama tiga tahun itu hanya pertemanan biasa. Lalu selesai semua?
“Jangan nangis…” Itu kata yang Revan ucapkan pertama kali setelah lagu selesai diputar. Disa tetap tak mengangkat kepalanya. Dia masih membenamkan wajah. Masih terpukul dengan sikap Revan kepadanya. Akhirnya dia cuma memejamkan mata.
“Dis, gue pingin lo nunggu. Sebentar… “ Disa tidak mengerti. Namun, dia berusaha untuk mencerna kata-kata Revan. ”Cuma sebentar. Gue nggak mau, waktu gue balik gue benar-benar sendiri…”
Disa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi sedikit banyak dia mengerti apa mau hatinya. Revan meminta dia menunggu… Itu lebih ringan ketimbang Revan memintanya untuk melupakannya.
Disa akhirnya sanggup menegakkan tubuhnya. Dia mengusap air matanya. “Kalo gue mau nunggu, apa artinya lo bakal balik ke gue lagi?” tanya Disa sesenggukan.
Revan terkekeh. Dia menghapus air mata cewek itu dengan ujung lengan kemejanya. “Udah nggak usah cengeng lagi.” ejek Revan. Disa ketawa. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Revan saat itu juga. Tapi dia mengurungkan niatnya. Di antara mereka masih ada Reina.
“Sana pulang… nggak pingin kan, gue sama Reina berantem lagi kayak waktu di kolam renang?!”
Revan ketawa. ”Ya udah gue pulang. Lo?”
“Bentar lagi.”
Revan mengangguk mengerti. Lalu dia keluar kelas. Tapi, sekeluarnya Revan, Disa jadi merenung lagi. Saat Revan pergi, dia ingin menangis lagi.
“Mau gue temenin?”
Disa menoleh dan kaget waktu melihat ada seseorang si ambang pintu. Lebih kagetnya lagi, orang itu adalah Dito. Musuh bebuyutan Revan. Si jago nyontek satu sekolah yang sangat professional. Sampai guru pun tak ada yang tahu kalau paralel satu dan juara kelasnya itu dia dapatkan dengan cara curang.
Disa diam saja. Dia menghapus bekas air mata itu dengan punggung tangannya.
“Ngapain di sini?”
“Revan bisa ninggalin lo juga ternyata.” ucap Dito. Dia menghampiri Disa dan duduk di sampingnya. Secara naluri Disa menggeser duduknya untuk menjaga jarak.
“Belum pulang?” tanya Disa mengalihkan pembicaraan. Dito ketawa.
“Tahu kan besok ada ulangan? Gue mau persiapan contekan buat besok. Rencananya gue mau nungguin lo pulang. Tapi ternyata lo nangis nggak berenti-berenti.”
“Ooh...” Akhirnya Disa tahu maksud kedatangan cowok itu. Maksudnya, Dito mau mengusir Disa pergi. Begitu lho…
Dito ke belakang dan duduk di bangkunya yang biasa dia duduki. Bergulung-gulung kertas kecil-kecil dia pasangi di bawah meja atas laci. Lalu di sekeliling sana. Jika gulungan itu ditarik, maka tulisan kecil-kecil itu akan kelihatan.
“Kenapa sih, harus nyontek?” tanya Disa. ”Nggak pede, ya?”
Dito nyengir. Tapi tidak berkomentar apapun. Disa mengernyit. Memandangi polah cowok aneh itu lama.
“Kalo Revan bisa mergokin lo besok, lo bakalan habis dimarahin guru-guru!” Dito bukannya takut, tapi malah ketawa keras-keras.
“Berani taruhan?” Dito malah menantang.
“Kenapa lo mesti berantem sama Revan sih?” tanya Disa.
“Kenapa lo mesti berantem sama Reina?” Tak disangka Dito malah bertanya begitu. Disa bengong. Pertanyaannya yang barusan malah dijawab pertanyaan pula, melenceng jauh lagi.
“Apa hubunganya?”
Dito ketawa lagi. ”Semua orang punya rahasia. Dan sebuah rahasia, biar aja jadi rahasia. Karena, kalau udah ada satu orang yang tahu, bukan rahasia lagi namanya.”
Disa makin mengernyit. Maksudnya? “Nggak nyambung, ih.” Disa protes.
Lagi-lagi Dito menertawainya. ”Alasan gue tarung sama Revan nggak akan gue kasih tahu, karena itu rahasia. Sama halnya saat gue tanya apa alasan lo berantem sama Reina. Itu cuma lo yang tahu.”
Disa tersenyum. “Gue suka orang yang tahu kapan gue pengen cerita dan kapan gue pengin tutup mulut. Tanpa harus maksa.”
Dito mengangguk. ”Berani taruhan nggak Revan bakalan kalah?”
Cepat-cepat Disa menyanggupinya dengan senang hati. ”Oke, siapa takut. Kalau Revan bisa bongkar kecurangan lo, elo harus berhenti nyontek.”
“Oke, tapi kalau Revan gagal lagi, lo harus pacaran sama gue enam bulan.”
“Apa?!” Disa berjengit protes. ”Enak aja. Nggak. Nggak akan. Nggak mau.”
Dito tersenyum. ”Kenapa? Udah yakin ya kalau Revan kalah?”
“Revan nggak mungkin kalah.”
“Terus?”
“Oke, deh. Gue terima tantangan lo!”
Mati gue! Batin Disa. Tapi Dito keburu menyalami tangannya.
“Deal!” Dan tiba-tiba saja kesepakatan pun telah dibuat!