Bab 13

4344 Words
            Setiap hari, Dito benar-benar mengantar-jemputnya. Mengantarnya pulang, mengerjakan tugas bersamanya, pergi ke perpustakaan bersama, dan kemana-mana bersama selayaknya orang pacaran.             Bersama Dito, ternyata Disa bisa melupakan kesedihannya selama ini. Dia bisa tertawa lagi. Dia bisa menikmati hidupnya kembali. Pokoknya, dalam waktu empat hari Disa nyaris fit untuk kembali ke Disa yang dulu sangat ceria.             “Dia juga sebenernya baik kok.” cerita Disa.             “Tapi, kenapa elo bisa pacaran sama dia? Itu yang gue tanya dari kemaren!”             Disa nyengir. ”Panjang deh ceritanya.”             “Berapa meter?”             “Yaaaa, berkilo-kilo meter deeh. Hehe. Habis. Nggak mungkin gue cerita.”             “Elo pasti diancem ya?”             “Nggak. Cuma kalah taruhan doang.” Uups! Disa menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sedangkan Rora mangap lebar selebar-lebarnya.             “Taruhan?”             Disa meringis. ”Jangan cerita ke siapa-siapa ya?” Rora mengangguk. Kemudian Disa cerita. Mau nggak mau. Dari pada dia diteror pagi siang sore malem oleh Rora?             “Pemaksaan. Nggak sah! Nggak sah!” Rora langsung tidak terima. ”Masa pacaran karena begitu. Aneh amat. Nggak bisa itu. Nggak sah. Nggak sah. Lagi pula lo b**o banget. Mau-maunya diajak taruhan macam itu. Makanya kalau ngambil keputusan itu dipikir dulu. Untungnya apa, ruginya apa, peluang untungnya berapa, peluang gagalnya berapa. Gitu lho. Jangan asal setuju, nooooooon!”             Disa cuma manggut-manggut. Dia tahu Rora pasti bakalan cerewet begini. Dia juga mengaku salah. Tapi sudah begini mau bagaimana lagi. Nasi sudah jadi bubur… Namun bubur, kalau mau dinikmati, enak juga kok. Hehe. --- Semakin menuju akhir, Reina makin berulah. Dia benar-benar berharap kalau akhir perjalanan cinta mereka akan mengesankan.             “Besok kita touring ke Itali, yuk?”             Revan nggak akan kaget lagi kalau Reina sudah anfal begini. Dia sudah terbiasa dengan ide fantastis cewek ini.             “Nggak usah ke Itali. Ke Cimahi aja.” jawab Revan ngasal.             “Gue kan juga pingin berkesan.”             “Emang mesti ke Itali?” Reina mengangguk. Kalo Revan si cuma geleng-geleng kepala.             “Itali, Prancis, itu romantis tau!”             Dan lagi-lagi Revan tak menggubris. Dia melihat jam tangannya. “Udah sore. Gue antar pulang sekarang ya.”             “Nggak mauuuuu!” Revan mendengus. ”Gue pingin nyampe malem. Nyampe subuh kalo perlu.” Dengan jurus terakhir. Revan langsung ngeloyor pergi ke parkiran. Lalu langsung naik ke motornya.             “Gitu deh.” Reina manyun lagi.             “Pulang sekarang apa lo mau naik taksi?” ancem Revan.             Dengan berat hati, Reina akhirnya naik juga. Baru Revan bisa pulang. “Mau mampir dulu nggak?” harap Reina setelah sampai depan rumah.             “Nggak deh. Yuk?” Kebiasaan Revan yang satu ini sudah dihapal Reina di luar kepala. Kalau Reina sudah diturunin di depan rumahnya, Revan pasti langsung cabut. Urusan Reina mau ngomel atau gimana, itu urusan besok paginya.             Begitu terus… Reina merasa kalau makin hari, Revan bukannya makin dekat dengannya malah makin jauh. Menjauh, bahkan dia tak yakin sama sekali kalau dia pernah menorehkan cinta di hati cowok itu. Bahkan sampai hari terakhir…             “Van… Ke Anyer yuk?” ratap Reina. Memelas banget.             Revan melihat jam tangannya lagi. ”Udah sore.” elaknya. “Lagipula, ini hari terakhir perjanjian kita kan?”             Reina menunduk. Lalu duduk di koridor kelas. “Boleh diperpanjang nggak?”             “Nggak.” jawab Revan cepat. Kayak bisnis aja. Pake perpanjang kontrak.             “Berakhirnya ntar malem kaaaan?”             Revan menggeleng lagi. ”Udah laaah. Nyerah aja sih kenapa? Sekarang gue tanya, apa coba yang elo dapet dari ini semua?” tanya Revan.             “Gue cinta Van, sama elo. Gue nggak pengen pisah dari elo…”             Revan berjongkok, melihat tepat ke iris mata cewek itu. ”Belum ngerti juga?”             Reina menatap mata hitam itu balik. Dan tiba-tiba Reina takut mendengar lanjutannya. Revan tahu kalau dia harus mengakhiri ini semua saat ini juga. Dia duduk di samping Reina. Lalu menerawang jauh ke mana-mana.             “Jangan disangka cinta itu datang karena pendekatan rutin. Cinta itu nggak bakalan datang kalo nggak ada kecocokan hati. Jadi, mau berpuluh-puluh tahunpun kita lanjutin semua ini, perasaan gue nggak akan berubah.”             Reina mengatupkan mulutnya. “Jadi usaha gue sia-sia?”             “Kalo yang elo maksud dengan semua rencana lo selama ini, jelas sia-sia. Lo nggak akan menang pake cara begitu. Atau usaha lo buat nyontek Disa abis. Walopun elo mau operasi plastik nyampe wajah kalian kembar pun, gak akan ngaruh apa-apa. Karena, hati kalian tetap beda.” Revan terkekeh tiba-tiba. ”Melow dramatis amat bahasa gue.” Karena Reina tidak ikut tertawa, justru menangis di sampingnya, Revan kembali memasang wajah serius lagi. “Makanya. Dari pada elo makin sakit lagi, mending kita selesein sekarang.” “Tapi sekarang Disa udah jadi milik Dito, Van…” “Terus kenapa?” Reina mendongak takjub. Ditatapnya mata Revan. Kebahagiaan karena Disa ternyata sudah pacaran dengan Dito pada saat terakhir keputusasaannya membuat dia yakin kalau Revan akan dengan mudah berpaling untuk dirinya. Tapi, kenapa itu sama sekali tidak berpengaruh? “Elo nggak mungkin bisa sama Disa sekarang!” Revan ketawa. ”Gue udah bilang status nggak penting. Tapi hati. Perasaan gue bilang, Disa nggak berubah. Dia masih tetep Disa yang dulu saat gue tinggalin 55 hari yang lalu.” “Jadi elo bakalan ngerebut pacar orang? Dito nggak akan biarin itu. Lagi pula belum tentu Disa mau lepas dari Dito!” “Itu urusan gue.” jawab Revan. Reina mengendurkan pandangannya. Dia tau jelas kalo cowok itu bisa ngelakuin apa aja yang dia suka. Dan Reina juga tau kalo dengan gampang Revan bisa ngerebut Disa dari tangan Dito. “Boleh tau nggak. Apa si lebihnya Disa dari gue? Gue nggak ngerti Van sampe sekarang. Kasih tau gue.” “Nggak tau. Kalo diliat dari tipe cewek, Disa emang nggak banget sih. Udah bawel, cengeng, sukanya senyum-senyum kayak orang gila, muka juga standar.” Revan merenung dengan wajah heran sendiri. Reina lebih heran lagi. “Tapi, kalo nggak ada Disa, gue pusing. Ngerasa ada yang aneh. Kayak ada yang kurang. Dia itu nyaris kayak h****n yang bisa buat gue shakaw kalo dia nggak ada.” Revan tersenyum. “Yang buat dia istimewa itu hatinya. Lembut, manis, indah. Dia nggak bisa marah sama orang. Kelar dia marahin orang, dia pasti langsung nangis. Aneh ya? Sayangnya, gue nggak suka ngeliat dia nangis. Gue lebih seneng ngeliat dia ketawa. Makanya gue pingin jagain dia terus. Gue nggak tenang kalo jauh dari dia.”             Reina makin menundukkan wajahnya. Makin nangis karena mendengar penuturan cowok itu yang terlalu jujur. Dia sadar jalan yang dia ambil salah langkah. Usahanya yang mati-matian ternyata tidak tepat sasaran. Dan itu semua membuat dia makin ketakutan.             “Terus, kenapa nggak elo resmiin aja sekalian kalo lo punya perasaan kayak gitu?”             “Pernah denger cerita Detective Conan nggak?” Reina diam saja. ”Gue suka banget. Gue tergila-gila sama cerita itu, malah. Cerita yang dari dulu gue anggep sempurna. Tapi, ternyata ada orang yang nggak terlalu suka. Lo tau alesannya apa?” Tanya Revan lagi. Dan dia tahu Reina tidak akan repot-repot menjawabnya. Makanya dia dilanjutkan lagi. ”Dia bilang, walaupun tokoh utamanya itu sempurna, tapi dia nggak pernah bisa ngebuat cewek yang paling disayanginya bener-bener bahagia.” Reina menoleh ke samping. “Mereka Cuma sahabat, padahal jelas-jelas saling suka.” “Menurut gue, status itu nggak penting. Apa gunanya status kalo ternyata bakalan berakhir juga. Menurut gue juga, semua ini nggak ada hubungannya sama status. Mau pacaran atau temenan, itu nggak penting. Tapi, hati. Ini masalah hati, Reina.” Reina menitikan air mata. ”Kalo hati gue nggak bisa elo dapetin, status ini nggak akan ada harganya.” Reina menunduk, matanya terpejam… “Kalian nggak pernah pacaran sama sekali. Hubungan yang sebatas teman nggak punya harga apa-apa walaupun lo cinta. Dan gimanapun juga, akhirnya gue yang menang!” Bodoh, Reina tahu kalau gertakannya pada Disa itu cuma bohongan! Ternyata, sampai di akhir jalan dia tetap kalah. Revan mengelus rambutnya. Lalu dia pergi, dan satu persatu  air mata menetes deras di pipi Reina.. ---             Untuk saat ini Revan sedang konsentrasi ke masalah lain. Setelah memutuskan hubungannya dengan Reina, dia berencana ke rumah Rora. Ada sesuatu yang harus dia tahu.             Rumah Rora termasuk di atas rata-rata. Dua pilar penyangganya terlihat memperkokoh rumah bercat putih tulang itu. Revan menekan bel depan dua kali. Baru pintu terbuka. Revan tersenyum saat yang dijumpainya adalah Bi Jum. Asisten rumah tangga Rora.             “Mas, cari Non Rora ya?”             “Iya. Ada Bi?”             “Ayo masuk dulu Mas.” Bi Jum melebarkan pintu dan mempersilakan Revan masuk lalu membawanya ke ruang tamu. ”Duduk dulu, Mas. Bibi panggilkan Non Roranya dulu.” kata Bi Jum. Revan mengangguk. Dan duduk di sofa selepas Bi Jum pergi.             Tak sampai lima menit, Rora sudah terlihat di atas undakan tangga. Bahkan ekspresi terkejut di wajah cewek itu tak dia sembunyikan sama sekali.             “Revan!!!!!?” Revan tak menyahut. Dia tetap duduk di tempatnya sambil menunggu Rora turun dan ada di hadapannya. “Tumben?” tanya Rora lagi habis dia benar-benar memastikan kalau yang ada di ruang tamunya itu bener-bener Revan. Bukan cowok lain.             “Ada perlu dikit. Nggak ganggu, kan?”             “Nggak dooong. Malah akhir-akhir ini gue nggak ada kerjaan apa-apa. Ada elo ato enggak tetep aja temen gue yang satu itu nggak pernah bisa diajak maen!” Rora memancing. Dan Revan tahu akal cewek itu. Dia sudah capek bermain-main. Atau main pancing-pancingan. Dia bahkan mau memperjelas semuanya.             “Ra.”             “Apa?”             Revan tersenyum. ”To the point aja lah. Gue nggak suka basa-basi.” kata Revan. “Gue pingin memperjelas semua masalah yang ada. Soal gue, soal Disa. Soal kami berdua.”             “Bagus, kalo elo sadar, begitu. Tapi sayangnya Revaaaan, elo udah telat. Elo liat dong. Keadaan sekarang udah nggak sama lagi kayak dulu.”             “Emang Disa nggak sama lagi kayak dulu?” Rora seperti biasa hanya tertawa. ”Masih peduli lo sama Disa? Gue pikir udah nggak mau tau.”             “Gue serius.”             “Lo pikir gue bercanda?”             Revan mendengus. “Gue tau elo marah sama gue. Tapi keadaan begini itu nggak gue prediksi bakalan kejadian.”             “Sama, gue sama Disa juga nggak pernah duga elo bisa jadian sama cewek lain terus buang Disa gitu aja.” jawab Rora pedas. Revan menggaruk kepalanya. Sudah dia duga kalau bicara dengan Rora pasti akan melewati konfrontasi yang alot banget!             “Gue tau. Maka dari itu gue ke sini.”             Rora sebenernya sedikit tidak percaya pada Revan. Namun, dia sendiri yang bingung dan pusing dengan polah kedua sahabatnya. Jelas-jelas saling sayang, tapi malah pacaran dengan orang lain. Dia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk melihat.             “To the point!” tegas Rora. Revan menghela napas, lalu dia akhirnya cerita. Dari awal sampai dia akhirnya menyetujui tawaran Reina untuk pacaran jika Reina mau menyumbangkan darahnya dan perhitungannya bagaimana. Dan lagi-lagi Rora histeris.             “Ya ampuuuuuuuun! Elo berdua apes amat sih! Ih, mereka berdua emang stres. Nggak Reina nggak Dito, s***p semua!”             “Emang Dito ngapain?”             “Nah, kalo itu si Disa aja yang kelewat o’on. Dia kalah taruhan.”             “Hah?”             “Iya. Dito nantangin Disa. Kalo seandainya elo bisa bongkar kecurangannya Dito, Disa menang. Imbalannya Dito bakalan berenti nyontek. Tapi kalo gagal, Disa harus pacaran sama Dito enam bulan!”             “What?!!”             “Elo pacaran sama Reina. Disa, pacaran sama Dito. Yang gue sesalin, kalo elo nurut kata-kata gue dan ngeresmiin hubungan kalian, kejadian kayak gini nggak bakalan kejadian!”             Revan bukan cuma terkejut, tapi dia benar-benar ngerasa kecolongan!             “b******k!” --- Pagi-pagi benar, Revan sudah ada di kelas. Bahkan orang pertama yang datang di kelas itu. Dia sudah tidak tahan ingin membuat perhitungan dengan Dito! Dia sudah tidak sabar untuk melihat tampang cowok itu! Musuh bebuyutan yang bener-bener bebuyutan!             Satu persatu temen-temennya datang. Tapi dia tak punya waktu untuk berhai-hai pada teman-temannya. Dia sibuk menyusun rencana. Dan saat Rora datang, dia langsung menyeret cewek itu ke pojokan.             “Apaan siiiih!”             Revan menatapnya serius. ”Gue perlu bantuan elo.”             Perasaan Rora tidak tenang kalau Revan sudah bicara seperti itu. Tapi dia tetap mendengarkan. Biarlah, toh dia melakukn untuk Disa, sahabatnya.             Rora cuma mengangguk-angguk mengerti saat Revan menjabarkan rencannaya. “Kita stand by yuk.” ajak Revan.             Rora mengernyit. ”Kayak mau nyulik orang aja.” kata Rora. Habis, dia harus sembunyi di balik pohon depan gerbang masuk. Mereka terus menunggu sampai akhirnya target terlihat. Disa dan Dito naik motor ke parkiran. Saat mereka turun dan berjalan mau ke kelas, Revan menepuk bahu Rora.             “Iya, gue tau.” Rora keluar dari persembunyian dan dengan sikap yang senatural mungkin berlari merangkul Disa.             “Pagiiii!” sapa Rora dengan wajah happy. Disa yang kaget, jadi mencubit pinggang cewek itu kenceng.”AAAwwwwww! Sakit gila!”             Dengan tangkas Rora mencubit pinggang Disa juga. Dan saat cewek itu mengerang kesakitan, Rora lari dan Disa tak akan melepaskan semudah itu. Lalu cewek itu mengejarnya. Meninggalkan Dito sendirian.             “Urusan lo sama gue!” Dito mengerjap kaget waktu tiba-tiba Revan merangkulnya dan menggiringnya ke tembok samping koperasi yang sepi!             Dengan kasar Dito menampik tangan Revan. ”Apa-apaan nih!”             Revan menatapnya serius. ”Kita bakalan ngomong sebagai sesame laki-laki. Gue pingin masalah kita selesaikan secara jantan!”             “Masalah apa?!”             “Sori Dit, tapi gue bakal ambil Disa balik!”             Dito tersentak. ”Enak aja! Disa milik gue sekarang!”             “Elo tau gue sanggup ngelakuin itu. Kalo elo pingin tau, Disa sama sekali nggak suka elo. Lagipula gentle banget ngajak pacaran sama cewek dengan cara taruhan?”             Dito menatap Revan sekilas. ”Gue tau lo udah putus sama Reina. Tapi bukan berarti elo bisa bertindak seenaknya ambil Disa!”             “Gue tau, dari dulu emang lo udah ngincer Disa kan? Itu kan yang buat gue jadi musuh lo?” Dito diam. “Oke, kalo elo nggak mau ngelepasin Disa, gue yang bakalan rebut dia!” Revan serius dengan ancamananya, sehingga saat Revan mau balik pun Dito menarik tangannya.             “Disa nggak bakalan terpengaruh!”             “Elo tau, hubungan gue sama Disa udah sedalem apa? Kalo perlu elo tanya sendiri gimana perasaan Disa ke gue!” Revan menantang. ”Kalo dia bilang dia benci gue, gue mundur!”             Dito tersenyum. ”Setuju!” katanya. Disa, cewek itu, walaupun bagaimana sudah disakiti sebegitu rupa oleh Revan. Sedangkan selama mereka berpacaran Dito sudah membahagiakan dia semampunya. Dan lagi, cewek biasanya akan memilih menjaga perasaan orang lain ketimbang jujur. Dito yakin taruhan ini menguntungkannya lagi!             “Kalo Disa masih suka sama gue, Disa gue ambil!” tegas Revan. ---             Kalau boleh jujur, sebenernya Revan sedang berspekulasi. Dia takut sebenernya kalau apa yang Disa rasakan tidak seperti apa yang dia pikirkan. Dia takut, kalau hubungan mereka selama tiga tahun ini sebenernya tidak sedekat yang dia katakan. Karena sebelumnya dia tidak pernah memastikannya. Lebih kacau lagi, dia sama sekali tidak yakin apakah Disa membencinya atau memang seperti dugaannya perasaannya tetap sama seperti waktu dia meninggalkannya 56 hari lalu. Nekat, Revan dan Dito melakukan perjanjian. Sepulang sekolah, Disa harus jujur atas apa yang dia rasakan. Dan Revan harus mendengarnya langsung! Ketakutan itu memuncak waktu dilihatnya senyum percaya diri di bibir Dito. Revan membenci senyum itu. Karena senyum itulah yang selalu mengiringi kekalahannya waktu lalu. Revan memaksakan diri untuk menjulurkan lehernya. Wajahnya masih kaku waktu melihat Dito dan Disa mendekat dan duduk di bangku dekat dengan persembunyiannya.             Dia mendengar derai tawa Dito. Membuat syarafnya menegang. Kepalan tangannya tak bisa menghentikan rasa cemas yang muncul tiba-tiba. Pelan, dia membenturkan belakang kepalanya ke tembok yang menjadi sandarannya. Memejamkan mata. Berharap dia tidak mendengar hal-hal yang dia takutkan. --- “Kita nggak langung pulang?” tanya Disa. Dito menggeleng.             “Gue pingin ngobrol sama elo dulu. Nggak apa kan, kalau pulangnya telat?”             “Emang mau ngomong apaan sih, serius banget. Udah, ngomongnya di taman kayak gini lagi. Nggak biasanya…”             Ditto ketawa. ”Sori ya gue maksa elo buat pacaran sama gue. Pasti elo tertekan banget kan?”             “Nggak.” Disa tersenyum pahit. ”Ya, sebenernya masih dikiiit sih. Tapi nggak terlalu kok.”             Dito mengernyit. Lalu menatapnya serius. ”Jadi elo suka pacaran sama gue?” Disa mengangguk. Dito makin bahagia. ”Jadi gue nggak perlu ngekhawatirin Revan kalau dia mau ngerebut elo dari gue, kan?”             Disa bengong. Dia makin hati-hati berbicara kalau sudah dalam zona berbahaya. Takut salah bicara. “Kenapa ngomongin Revan sih?”             “Soalnya dia musuh bebuyutan gue. Dan kebetulan lo pernah deket sama dia. Dan gue pingin memastikan kalau dia nggak bakal ganggu hubungan kita.”             Disa tersenyum. “Kenapa sih, gue kayak nangkep kesan kalo lo itu benci banget sama dia? Kenapa sih lo nggak bisa akur sama dia? Kalo lo bisa deket sama Revan, pasti lo nggak bakal marah lagi sama dia.”             “Kenapa lo jadi belain dia? Inget Dis, dia itu udah ninggalin lo gitu aja. Dia udah jahat sama elo!” Disa mengatupkan rahang. Lalu suaranya menjadi sedikit bergetar. “Dia pasti punya alasan.” “Apa sih bagusnya Revan?” Dito terlihat emosi. ”Dia itu b**o Matematika, Kimia, Fisika, sombong, kurang ajar…”             “Keras kepala, maunya menang sendiri, Nggak pernah peduli apa kata orang, suka seenaknya, nekat, egois, angkuh, cueknya nggak kira-kira, dingin pula.” lanjut Disa. Dito terkejut. ”Iya, gue tahu. Gue terlalu kenal dia. Melebihi dirinya sendiri malah. Gue nggak tahu kenapa elo benci dia. Tapi Revan nggak sejelek yang kamu pikir kok. Ada sisi dari karakternya yang baik. Walaupun dia berniat buat membongkar kartu elo, tapi dia benar-benar nggak pernah sungguh-sungguh melakukannya.”             Dito mengernyit tidak suka. ”Tahu dari mana?”             “Gue udah bilang kalau Revan orangnya nekat. Kalo gue boleh bilang, sebenarnya waktu taruhan kita kemarin, gue bisa aja menang kalau Revan mau. Tapi sayangnya dia masih bisa menahan diri.”             “Kalo ngomong yang jelas, maksud elo apa?”             “Revan, bukan tipe orang yang akan takut disuruh keluar oleh guru.” Dito membelalakan matanya. “Tapi waktu itu dia diam. Kamu pikir dia diam kenapa?”             “Bodoh, bukannya dia pingin membongkar kecurangan gue?”             Disa tersenyum. ”Memang.Tapi itu dulu. Sekarang sepertinya dia nggak berniat lagi. Habis nilai Matematika, Fisika, sama Kimianya naik drastis. Jadi gue pikir… Dia ingin bersaing sama lo secara fair. Yah, intinya, dia pingin ngalahin nilai-nilai yang lo dapet dengan cara curang. Yah, begitulah.”             “Lo .... masih sayang Revan ya?”             Disa tercenung, kaget mendengar pertanyaan itu. Dia bingung mau jawab apa. Kala dia jawab jujur, dia bisa menyakiti hati Ditto. Dan dia jelas tidak tega. Tapi kalau bohong ....             “Kalau Revan putus sama Reina, apa lo bakalan ninggalin gue?”             Disa tersenyum geli mendengar pertanyaan Dito. “Kalau seandainya gue ingin bareng Revan, apa yang bakal lo lakukin?”             “Gue nggak akan ngelepasin lo.” kata Dito tanpa ragu.             “Kenapa?”             “Karena gue udah ngasih semua yang elo mau. Gue udah berusaha membuat yang terbaik yang gue bisa. Gue udah ngusahain segalanya!”             “Kalau gue tetap pergi?”             “Gue nggak bakalan maafin elo!”             Disa tersenyum. Lalu memegang tangannya lembut. “Itu artinya lo cuma suka sama gue.”             “Maksud lo …?”             “Saat lo suka sama seseorang, lo bakal maksa di suka sama lo juga. Saat lo sayang sama seseorang, lo bakal biarin dia milih. Tapi saat lo cinta sama seseorang, lo bakal selalu nungguin dia  dengan setia.             Suka adalah hal yang menuntut. Sayang adalah hal memberi dan menerima. Cinta adalah memberi dengan rela.” ucap Disa pelan. kata-kata yang dia ucapkan adalah sesuatu yang dia yakini sejak lama. Dia ingin mendengarkan komentar dari Dito. Tapi cowok itu bahkan tidak bersuara. Maka dari itu dia melanjutkan kata-katanya lagi.             “Dit, kalo orang yang lo sukai nyakitin lo, maka lo bakal marah dan nggak mau bicara lagi sama dia. Kalo orang yang lo sayangi nyakitin lo, lo bakal nangis buat dia. Tapi kalo orang yang lo cintai nyakitin lo, lo cuma bisa bilang, ’Nggak apa-apa, dia cuma lagi khilaf.”             Dito menatap mata Disa tajam…             “Apapun yang gue lakuin nggak mungkin ngalahin Revan. Begitu kan?” Disa menggeleng. “Kalau gue nggak maksa elo jadi pacar gue, pasti sampai detik ini lo bakal terus nunggu Revan kayak orang b**o!” Disa mengerjap kaget. ”Lo bahkan selalu ngasih Revan semua yang dia butuhkan tanpa meminta apa-apa.”             “Dit…”             “Bahkan elo bisa memaklumi semua perlakuan Revan, padahal dia udah buat lo nangis di kelas setiap pulang sekolah.”             “Bukan…”             Dito tersenyum sinis. Kedua tangannya memegangi pelipisnya. ”Ternyata dari awal gue memang benar-benar kalah…”             Disa mengernyit, tak mengerti. Apa kata-katanya benar-benar keterlaluan tadi? Belum lagi kebingungan itu terjawab, Revan muncul dari belakang semak tepat di belakang mereka.             “Revan…” Disa benar-benar kaget. Apa cowok itu mendengar semua perkataannya? Dan Dito, kenapa dia tidak bergerak sama sekali?             Revan menghampiri mereka. Tepatnya berdiri menjulang di depan Dito.             “Sudah, jelas kan?” tanyanya. Cuma itu. Dan Disa makin bingung. Dito hanya mendongak. Tanpa melakukan apa-apa. ”Sori, mengecewakan. Tapi Disa gue ambil.”             Disa terkejut mendengar pernyataan Revan. Dan Revan tidak membiarkannya berpikir lebih lama lagi. Revan menyambar tangannya dan menariknya berdiri.             “Ayo Dis, kita pulang.”             Disa berdiri, tapi tak mau beranjak. ”Gue nggak ngerti. Ini maksudnya apa?”             “Ntar gue jelasin. Tapi kita pergi dulu.” Disa menoleh ke Ditto. Tapi cowok itu tak bergerak sama sekali. Dia malah melihat saja Disa dibawa Revan pergi. --- Revan mengambil motor CBR-nya lalu menyerahkan helm pada Disa. Ragu, Disa menerimanya. Masih dengan ketidakmengertian, Disa naik ke boncengan Revan dan setelah sadar keduanya sudah meluncur keluar sekolah dan membelah jalan.             “Vaaan, jelasin dulu sebenernya ada apa? Kenapa kaya gini? Terus Reina gimana kalo tahu kita boncengan?”             Seluruh pertanyaan sama sekali tidak Revan jawab. Dan Disa benar-benar paling tidak suka kalau dia menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Padahal dia terlibat di dalamnya.             Revan merasa kasihan juga, dan akhirnya mereka mampir ke sebuah café sebelum pulang ke rumah. Sehabis duduk dan memesan minum, Disa langsung pasang muka serius.             “Ini sebenernya ada apa? Terus, kenapa lo seenaknya aja bawa pergi pacar orang begini? Terus Reina…”             “Iya, gue ceritain semuanya. Dan satu hal, lo sekarang bukan pacar Dito lagi.” Disa bengong. ”Oh, ya satu hal lagi. Lo juga nggak perlu khawatir sama Reina. Kami juga udah putus.”             Disa melotot emosi. ”Jadi… Karena lo udah putus sama Reina lo bisa seenaknya ngancurin hubungan orang, gitu? Enak bener?” Disa mencibir. Habis, dulu dia juga tidak suka Reina-Revan pacaran. Dia sampai nangis-nangis lama sekali. Masih disuruh menunggu pula. Giliran Revan yang ada di posisi Disa malah dengan enaknya mutusin hubungannya. Langsung cut begitu saja tanpa permisi. Tidak adil!             “Gue pacaran sama Reina juga karena terpaksa. Nyokap gue utang nyawa. Jadi terpaksa gue jadi pacarnya cuma selama 55 hari. 55 hari! Tapi kalo Dito itu kebangetan. Masa 6 bulan!”             “Tahu dari mana?”             “Rora.” jawab Revan santai. Disa kesal. Kenapa sih nggak adil begini? Dia sampai akhir juga tidak tahu ada apa di balik jadiannya Reina-Revan. Tapi kenapa Revan bisa tahu semudah itu!!! Secepet itu!!             “Terus, gue minta lo sama Dito. Dia bilang kalau lo pilih gue dia akan lepasin lo. Nah, tuh dari kata-kata lo yang panjang bener itu juga udah buktiin kalau dia kalah telak. Makanya dia nyerahin lo balik.”             Minta, minta, emangnya barang?! Disa makin kesal. Bener-bener menyebalkan. Tahu begini Disa tidak akan jawab begitu pada Dito. Dia akan jawab kalau dia sukanya pada Dito saja. Agar Revan bisa merasakan bagaimana jadi dia!             Tapi… Disa menoleh ke arah Revan. Senyum Revan itu membuat kemarahannya buyar seketika. Rasanya kemarahannya tadi terhapus begitu saja. Pisah dari Revan lebih lama lagi dari ini? Disa menggeleng. Pasti makin sedih. Hampa. Kosong.             “Janji deh, gue nggak akan pergi la…”             “Jangan pernah berjanji sesuatu yang belum tentu bisa lo tepatin.” Disa mengingatkan.             “Tapi gue memang nggak berniat sama sekali buat pergi kok. Nggak ada lo…. Ya ampuun, gue kacau. Apalagi kalau sama Reina,” Revan Cuma geleng-geleng kepala. Disa tersenyum.  “Mau nggak jadi pacar gue?” tanya Revan. Disa mendongak.             Setelah semua yang terjadi…”Gue kecewa bukan jadi pacar pertama….”             “Kasih gue kesempatan satu kali lagi….”             Disa bangkit dari duduknya. ”Sebentar…” katanya. Lalu Disa berlari ke dalam. Di samping café ada sebuah warung kecil. Disa masuk ke sana membeli materai, lem dan kertas folio. Lalu dia balik ke meja Revan.             “Ngapain sih?” Disa tidak menjawab. Dia malah sibuk menulis. Lalu kertas itu diserahkannya pada Revan. Sambil mengernyit, Revan baca juga.             Dengan ini saya REVANO PUTRA berjanji, akan setia kepada ADISA dan tidak akan membuat ADISA menangis lagi. Kalau saya selingkuh saya rela dihukum kurungan enam tahun penjara!             Di bawahnya ada materai 6000 rupiah. Dan tanda tangan Disa sebagai pihak kedua.             “Ayo tanda tangan.” suruh Disa. Revan mengernyit.             “Kok pake kayak gini segala?”             “Biar kalau ada kejadian kayak gini lagi lo bisa gue tuntut ke pengadilan. Udah cepet tanda tangan.”             Walaupun belum mengerti, tapi Revan tanda tangan juga. Setelah itu kertasnya diserahkan pada Disa. Disa memandang tanda tangan Revan puas. Lalu kemudian… Disa robek surat perjanjian bermaterai itu. “Kok disobek?” Revan kaget.             “Sekarang gue udah percaya sama lo lagi.” kata Disa sambil ketawa. Revan langsung mencapit hidung Disa.             “Cuma pingin nguji doang?” tanya Revan.             Disa tersenyum jahil. Dia memang menguji. Tapi juga ada dasarnya kok. Membangun sebuah hubungan itu sama saja membangun rumah. Cinta pondasinya. Kepercayaan tiangnya. Dan kesetiaan atapnya. Tanpa fondasi yang kuat, kepercayaan dan kesetiaan sekuat apapun pasti runtuh juga. Tanpa kepercayaan, hanya akan jadi seonggok fondasi tanpa bangunan. Tanpa kesetiaan pula cobaan pasti akan mendera rumah karena pasti akan kena serangan hujan dan panas tanpa pelindung.             Jadi, Disa hanya ingin memastikan kesetiaan dan juga untuk mengembalikan kepercayaannya secara utuh. Kalau cinta sih, jangan ditanya! Hehe…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD