Bab 8 Kebun Binatang

1076 Words
“Kenapa kakak memakai baju seperti ini?” Sabrina yang hari itu datang ke kebun binatang mendapat keluhan dari putra atasannya. Gadis berumur dua puluh empat tahun itu tidak menyangka bahwa meski masih kecil, tapi sebagai anak seorang model, selera fashion Maha sangat tinggi, bahkan jauh di atasnya. Anak itu baru berkomentar bahwa dandanannya lebih mirip pekerja kantoran ketimbang ingin jalan-jalan. Sabrina mencebikkan bibir, dia berharap Gama yang sedang berada di kamar mandi segera datang untuk menyelamatkannya dari Maha yang menurutnya sedikit menyebalkan. Entah kenapa tiba-tiba saja bocah itu tidak seramah beberapa hari yang lalu saat memeluknya dan memanggilnya Mama. Pasti ada sesuatu, Sabrina curiga Gama mengatakan sesuatu yang tidak baik tentangnya. “Harusnya kakak memakai kaos seperti aku dan yang lain.” Karena ucapan Maha, Sabrina pun melihat sekeliling. Matanya tertuju pada orang-orang yang memakai baju berwarna merah muda bertuliskan study wisata dengan logo sekolah internasional di mana Maha menimba ilmu. “Mungkin papamu hanya pesan dua, untukmu dan dia. Aku tidak punya, tidak dibelikan, tidak diberi jadi aku bisa apa?” sewot Sabrina. Ia membuang muka sambil bersedekap d**a. Ia tak sadar membuat Maha semakin kesal kepadanya. Pagi tadi, Maha merengek ke Gama. Ia ingin gadis di hadapannya sekarang ini untuk menjadi ibunya. Namun, tentu saja Gama menolak dengan tegas tanpa berpikir. Pria itu berkata bahwa Sabrina tidak mau menjadi ibu Maha. “Papa sudah meminta kak Sabrina menjadi ibumu, tapi dia tidak mau.” Ucapan Gama di rumah tadi terngiang di otak Maha yang masih menerima informasi apa adanya, dan Maha pun kecewa. Gama bahkan belum menyadari bahwa jawabannya yang asal ternyata menimbulkan kobaran kemarahan di hati putranya. “Sudah sana pulang saja!” Maha mengusir Sabrina, meski mengucapkan kalimat itu membuat hatinya terasa sangat sakit. Netra Maha bahkan mulai berkaca-kaca. Bocah itu memutar tumit lalu berjalan menuju kerumunan teman-teman dan orangtua yang turut serta. “Anak itu benar-benar,” gerutu Sabrina. Ia pun berjalan malas untuk mendekat disusul Gama yang melihat putranya dan sang asisten saling jauh-jauhan. _ _ Setelah mendengarkan arahan guru serta penjaga kebun binatang, mereka pun masuk. Maha nampak berjalan lunglai, tak bersemangat seperti teman yang lainnya. Dia melihat sepupunya – Olla yang tertawa riang bersama papi dan maminya melihat monyet ekor panjang bergelantungan. “Lihat Maha, anak monyet itu sedang disusui ibunya.” Gama menunjuk ke arah monyet yang sedang duduk di dahan, tapi bukannya Maha yang antusias tapi malah Sabrina. Gadis itu bahkan mengambil ponsel dan langsung mengabadikan potret monyet itu. “Monyet saja punya ibu, tapi aku tidak.” Gama dan Sabrina seketika kehilangan senyuman, mereka saling pandang kemudian menoleh Maha yang membuang napas panjang dari mulut kecilnya. Bocah itu membenarkan letak tali tas lantas berjalan lagi, dia menunduk seolah pundaknya sedang tertimpa beban berat. “Dia kenapa sih Pak? pagi tadi sudah Anda beri sesajen belum sih?” tanya Sabrina yang keheranan, dia lantas bercerita soal Maha yang mengatai penampilannya buruk juga berbicara ketus. Gama berjalan pelan. Mereka tertinggal paling belakang dari rombongan lain. Gama terus memandangi punggung putranya lekat, dia merasa sangat bersalah ke anak itu. Dulu, Gama sempat berpikir untuk mengabaikan Maha, menyingkirkan anak itu dari hidupnya, tapi hati kecilnya sama sekali tidak bisa. Namun, kini membahagiakan Maha juga terasa berat untuk Gama. Ia tidak bisa menuruti keinginan putranya itu. “Apa ini pertanda bahwa aku tidak boleh setengah-setengah membahagiakan anak itu?” gumamnya dalam hati. Gama malah melamun sampai Sabrina harus memanggilnya beberapa kali karena belum menjawab pertanyaan yang dia lontarkan. “Pagi tadi dia memintaku untuk menjadikanmu ibunya, dan aku bilang aku sudah meminta padamu tapi kamu menolak.” “Apa? kenapa Bapak berkata seperti itu?” Sabrina menghentikan langkah, dia seketika marah dan bahkan menyipitkan mata. “Lha terus aku harus bilang bagaimana?” tanya Gama yang mau tak mau ikut berhenti berjalan. “Apa saja lah Pak, tapi jangan bilang saya tidak mau.” Gama menggaruk bagian belakang kepala, dia bingung dengan maksud ucapan Sabrina. Dia tidak mau sampai salah persepsi, karena menurutnya perkataan sang asisten bisa memiliki dua arti. Pertama, Sabrina tidak suka dirinya yang berbohong. Kedua, gadis itu menaruh minat untuk menjadi ibu Maha. Gama menggeleng, untuk kemungkinan ke dua sepertinya sangat tidak masuk akal. “Pantas dia marah ke saya, caranya bukan seperti itu. Masa saya dikambinghitamkan,” cerocos Sabrina. Tepat setelah mengucapkan kalimat itu dia memberikan tas bekal dan sebuah tas berisi perlengkapan Maha ke Gama. Sabrina berlari menyusul sambil memanggil nama bocah itu. “Ada apa?” Maha mendongak, wajah anak itu lesu dengan bibir yang sudah maju dua senti. Sabrina mengulurkan tangan berniat untuk mengajak Maha bergandengan, tapi anak itu hanya menatap lalu memukul bagian telapak tangannya dan lanjut berjalan. Sabrina merasa serba salah menghadapi bocah itu, ada rasa aneh di dalam hatinya yang susah untuk dijelaskan. “Maha, ayolah kita bersenang-senang, bukankah kamu ingin kakak menjadi ibumu?” Sabrina mengambil langkah seribu, dia memotong jalan Maha dan langsung berlutut dan memegang kedua lengan bocah itu. “Tapi baju kakak tidak sama dengan orangtua temanku.” Sabrina tersenyum, ternyata masalahnya hanya gengsi. Ia pun mengacak rambut Maha karena gemas. Sabrina yang memang datang ke sana dengan setelan kerja memilih melepas blazernya agar terlihat sedikit tidak formal. “Lihat, kemeja kakak juga pink. Sekarang apa sudah terlihat sama?” tanya Sabrina, dia menyadari bahwa Gama sudah berdiri tepat di belakang Maha dengan membawa barang-barang yang seharusnya dia bawa. “Maha, kenapa tidak menjawab?” ulang Sabrina, dia memanyunkan bibirnya juga agar Maha tahu dia juga bisa kesal jika diperlakukan tidak menyenangkan. Maha pun mengangguk lantas berkata, “Aku mau melihat pinguin.” “Pinguin? Baiklah, apa kamu mau bergandengan tangan dengan kakak?” tanya Sabrina sambil berdiri, dia ikatkan kedua lengan blazer ke pinggang sebelum mengulurkan tangan lagi ke Maha. Bocah itu tersenyum tipis dan mau memberikan tangannya. Gama pun tak bisa menahan perasaan lega di d**a, dia ikut tersenyum. Namun, saat ingin menyusul Sabrina dan Maha tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Gama meletakkan tas yang dia pegang lalu merogoh kantong celana. Sebuah nomor yang tidak dia simpan dalam phone book-nya tertera di layar. Gama pun mengernyit heran, tapi karena berpikir mungkin saja ada urusan dengan pekerjaan dia tidak memblokir nomor itu. Gama sudah hampir memasukkan kembali ponselnya ke kantong celana saat notifikasi dari aplikasi berbalas pesan di benda pipih itu berbunyi. Mengurungkan niatnya, Gama membuka pesan itu. [ Gama, apa kamu masih mengingatku? Syukurlah nomormu tidak ganti dan aku masih menyimpannya. Ini Naura. Aku ingin bertemu denganmu, aku harap kamu mau membalas pesanku ]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD