Entah berapa kali Sabrina harus mondar-mandir pagi itu. Sebagai asisten Gama dia harus ikut serangkaian pemotretan yang dilakukan bosnya. Ia benar-benar sibuk, bahkan karena berangkat pagi untuk mengejar angkutan yang datang pertama, gadis itu melupakan sarapannya. Sabrina sudah sedikit merasa pusing, tapi dia memilih menenggak air mineral sebanyak-banyaknya. Padahal dia bisa saja meminta izin sebentar keluar mencari roti atau sekadar camilan pengganjal perut di minimarket yang tak jauh dari studio.
Namun, pikiran gadis itu memang tidak dia bisa ditebak. Ia memilih duduk lesehan di bagian paling belakang studio sambil melihat bosnya melakukan pemotretan bersama empat model lainnya.
Sabrina tersenyum sendiri karena malu. Sepertinya benar kalau melihat orang tampan bisa membuat kenyang. Ia sejenak melupakan perutnya yang keroncongan karena belum sarapan.
Sementara itu, Gama nampak sedikit tidak fokus. Beberapa kali fotografer harus mengulangi pengambilan gambar karena pose dan ekspresinya dinilai kurang. Pria itu sedang memikirkan pesan yang dia dapat dari orang yang mengaku sebagai Naura. Wanita yang dengan tega memberikan Maha lalu meninggalkan anak itu begitu saja.
Awalnya Gama berpikir itu hanyalah pesan jebakan karena dia sudah kebal mendapatkan pesan aneh sepanjang dirinya mengasuh Maha. Mulai dari orang yang mengaku ibu kandung Maha, mengancam dan mengaku kekasihnya padahal pria, sampai ancaman jika tidak mau membeberkan hasil tes DNA maka akan menghancurkan karirnya. Gama tak peduli, dia tahu yang melakukan itu semua adalah orangtua dan keluarga dekatnya sendiri. Alasannya hanya satu yaitu demi mencari fakta yang tidak akan pernah dia bongkar sampai kapan pun.
Namun, entah kenapa kali ini dia menjadi gentar, mungkin karena pesan dari orang yang mengaku Naura itu mengungkapkan fakta yang dia sembunyikan.
“Ga, apa mau istirahat dulu?” tanya sang fotografer melihat Gama tidak fokus, sorot mata Gama seperti orang bingung dan itu terlihat tidak bagus di kamera.
Gama mengangguk lalu berjalan ke arah belakang, dia membuat Sabrina langsung berdiri dan menyambar sebotol air mineral. Gadis itu ingin membukanya sebelum memberikannya ke Gama tapi sayang tutupnya seperti direkatkan dengan lem kapal, tidak biasanya Sabrina tidak kuat membuka tutup botol seperti ini, sampai Gama meraihnya dengan paksa dan tertawa mencibir.
Sabrina mengerjab, aneh rasanya melihat senyuman Gama yang seperti tadi. Ternyata pria tampan berhati lembut jika sudah memulas smirk juga akan terlihat menakutkan.
“Apa Anda kurang enak badan Pak? saya lihat Anda seperti tidak all out,” ucap Sabrina, dia tidak berniat mengomentari hanya ingin menunjukkan ke Gama bahwa sebagai asisten dia peduli.
“Sab, apa kamu sudah punya pacar?”
“A-a-apa Pak?” Sabrina kaget, dadanya tiba-tiba saja berdendang riang karena pertanyaan pria di hadapannya ini. Sabrina sudah gede rasa, bahkan pipinya perlahan berubah merona. Gadis itu menggeleng cepat dan berkata, “Saya masih jomlo Pak.”
“Bagus,” ucap Gama, pria itu mengangguk lantas memalingkan muka untuk menghabiskan air dari botol, setelah itu Gama berjalan mendekati tempat sampah, membuang botol itu kemudian berkata ke fotografer bahwa dia sudah siap.
“Ba-ba-bagus? apa sih maksudnya? Dia itu... ish! apa dia tidak sadar sudah membuat anak perawan orang berpikir macam-macam?” cicit Sabrina.
_
_
_
“Benarkah?”
Felisya yang pagi itu datang ke rumah Bianca kaget mendengar cerita dari Embun. Menantu saudara iparnya itu bercerita bahwa Gama kemarin mengajak Sabrina – sang asisten ke kebun binatang untuk menemani Maha.
“Apa jangan-jangan ada sesuatu yang tidak kamu tahu Fel?”
Pertanyaan Bianca malah seperti menyulut rasa penasaran di d**a Felisya. Sebagai wanita yang melahirkan Gama, dia sempat putus asa dan tak tahu harus bagaimana saat putranya itu pulang sambil menggendong bayi yang masih merah dan mengakui bayi itu sebagai anaknya, bahkan saat dicecar ribuan pertanyaan siapa ibu kandung anak itu, Gama hanya diam. Ia lebih memilih menerima pukulan dari pada berkata yang sebenarnya.
Felisya ingat betul saat itu Gama hanya diam menunduk, putra tunggalnya itu bahkan mengancam akan pergi dari rumah jika memang dirinya dan Tama tidak bisa menerima Maha. Namun, satu hal yang mengganjal di hati Felisya sampai sekarang, meski dia sudah sangat menyayangi Maha seperti cucunya sendiri, tapi dia masih tidak yakin bahwa anak itu adalah anak kandung Gama. Felisya masih meyakini bahwa putranya sengaja memalsukan hasil tes DNA Maha.
“Kalau aku lihat, wajah asisten Gege yang bernama Sabrian itu sangat mirip dengan Maha,” ucap Embun, dia yang merupakan teman SMA Gama memang sudah biasa memanggil pria itu dengan nama ‘Gege’.
Dugaan Embun membuat Felisya mengerutkan kening, wanita itu menatap Bianca yang sedang menimang cucu keduanya seolah meminta pendapat, padahal Bianca saja belum pernah melihat bagaimana rupa Sabrina.
“Aku kemarin mengambil foto bersama,” ucap Embun yang langsung berdiri ke arah meja pajangan di mana dia meletakkan ponselnya yang baru diisi daya. Embun menggeser layar ponsel, lantas menunjukkannya ke Felisya setelah menemukan foto yang dia ambil saat study wisata sekolah Olla dan Maha kemarin.
Felisya kaget karena apa yang dikatakan Embun memang benar, Sabrina sangat mirip dengan Maha. Bahkan rambutnya yang sedikit bergelombang membuat Felisya semakin menduga-duga, mungkinkah Sabrina adalah ibu Maha.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Felisya kebingungan. Ia seharusnya tidak meminta saran ke Bianca dan Embun karena pasangan mertua dan menantu itu terkadang berlebihan dan mendramatisir keadaan.
“Bagaimana kalau kamu selidiki saja? siapa tahu si sabrina itu memang ibunya Maha. Kalau iya sudah kawinkan saja, lagi pula Maha juga suka sama dia,” ujar Bianca. Setelah mengucapkan kalimat itu dia menatap wajah cucu keduanya. “Iya ‘kan Omi tayang? Uluh-uluh anak ciapa inih?”
Felisya semakin gelisah, galau, tapi tidak merana. Ia semakin menduga-duga kalau mungkin saja hal ini benar. Wanita itu yakin kalau Sabrina berasal dari keluarga biasa, dari penampilan di foto yang Embun tunjukkan barusan seolah menjawab segalanya. Tidak ada barang mewah dan branded yang melekat pada tubuh gadis itu.
“Iya, bisa jadi Gama tidak ingin darah dagingnya hidup kurang layak sehingga mengambil Maha dari gadis itu, atau mungkin orangtua gadis itu malu anaknya hamil di luar nikah, mereka membiarkan putrinya melahirkan tapi tidak mau mengasuh.” Felisya berspekulasi di dalam hati.
“Tapi, seandainya Sabrina memang ibu Maha, lalu kenapa baru sekarang dia datang? Apa dia ingin mengacaukan hidup Gama?” Mata Felisya melebar, pikiran jelek kini membuatnya tidak bisa berpikir jernih, padahal semua ini baru dugaan dan belum tentu fakta yang sebenarnya.
“Haduh tante Feli, jangan overthinking! Lebih baik tante selidiki saja dulu!” Embun berlagak sok bijaksana, padahal yang memunculkan dugaan awal bahwa Sabrina adalah ibu Maha adalah dirinya.