Bertemu Nora

1057 Words
Aruna keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Calvin sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Aruna duduk di depan meja riasnya dan mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut. “Iya sayang. Kamu tunggu aku sekitar satu jam lagi ya. See you, sayang.” Calvin meletakkkan ponselnya di atas meja nakas dan dengan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lama kemudian terdengar suara air dari shower kamar mandi. Aruna menghelakan napasnya, “Pasti itu Nora.” gumamnya sambil menyisir rambutnya yang telah kering. Calvin keluar dari kamar mandi dan dengan cepat berjalan menuju lemari pakaiannya. Aruna mellihat ke arah Calvin yang hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawahnya. Pikirannya terbayang dengan kejadian semalam. Akhirnya dia dapat menikmati pelukan dan nikmatnya belaian dari tangan kekar itu. Pikirannya terus melayang sampai pada momen Calvin menyebut nama perempuan itu. Aruna menggelengkan kepalanya dengan kuat. Suasana hatinya kembali kacau ketika dia mengingat hal itu. “Kenapa menggelengkan kepalamu seperti itu?” tanya Calvin yang melihat ke arah Aruna “Tidak ada. Aku hanya sedang mengusir nyamuk yang terbang di dekat telingaku,” jawab Aruna asal. Calvin melanjutkan kegiatan memakai bajunya dan mengabaikan ucapan Aruna. “Kamu mau pergi ke kantor sekarang?” tanya Aruna. “Ya,” jawab Calvin singkat. Calvin segera mengambil parfumnya dan menyemprotkannya ke seluruh tubuhnya. Setelah itu mengambil ponselnya dari atas meja nakas dan berjalan keluar dari kamar. Aruna hanya bisa terdiam. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Calvin seperti itu padanya. Diletakkannya pengering rambut itu di atas meja riasnya dan melihat pantulan dirinya di cermin. “Lebih baik aku jalan-jalan saja hari ini. Terlalu suntuk bila di rumah sepanjang hari,” batin Aruna. Aruna segera mengganti pakaiannya dan merias wajahnya dengan make up tipis natural yang merupakan ciri khasnya sehari-hari. Setelah bersiap-siap, Aruna mengambil kunci mobilnya dan segera masuk ke dalam mobilnya. Dihidupkannya mobil itu kemudian dia terdiam. “Aku harus kemana sepagi ini?” gumam Aruna sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Cukup lama Aruna terdiam di dalam mobilnya sampai akhirnya dia berhasil memutuskan apa yang akan di lakukannya pagi itu. “Aku akan berkeliling kota ini kemudian makan sup tomat kesukaanku di Mall,” ucap Aruna sambil tersenyum. Hal seperti itu bukan hal yang baru bagi Aruna. Berjalan-jalan dan makan di restoran sendirian merupakan agenda yang hampir setiap hari Aruna lakukan demi membunuh rasa kesepiannya di rumah. Namun sekarang hal itu rasanya seperti luar biasa mengingat umur Aruna yang hanya tinggal hitungan bulan. Aruna segera melajukan mobilnya keluar dari lingkungan rumahnya dengan semangat. Sepanjang jalan Aruna begitu menikmati setiap pemandangan yang dilewatinya. “Aku sudah mulai lapar. Jam segini Mall pasti sudah buka,” ucap Aruna sambil menganggukkan kepalanya. Aruna segera mengubah rute jalannya menuju ke restoran yang sering di datanginya di sebuah Mall besar di kotanya. Setengah jam kemudian Aruna tiba di parkiran restoran itu. aruna segera keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam Mall. Aruna berjalan melewati sebuah outlet perlengkapan bayi. Langkahnya terhenti kemudian matanya terpana melihat jejeran baju dan aneka perlengkapan bayi yang terjaja di toko itu. Dengan langkah yang pelan namun pasti, Aruna msuk ke dalam toko itu. Dilihatnya satu baju bayi yang tergantung di salah satu etalase. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya seorang pelayan toko yang datang mendekati Aruna. “Bisa saya melihat yang itu?” Aruna menunjuk ke arah sebuah pakaian bayi yangtadi di lihatnya. “Tentu saja. Sebentar saya ambilkan.” Pelayan toko itu segera mengambilkan pakaian bayi yang di maksud oleh Aruna tadi. “Silahkan.” Pelayan toko itu memberikan pakaian bayi yang baru diambilnya kepada Aruna. Aruna mengambil pakaian bayi itu. di rentangkannya baju bayi itu ke depan dan dipandanginya sambil tersenyum. Namun seketika senyum itu menghilang dari wajah Aruna. “Terima kasih.” Aruna mengembalikan baju bayi yang sedang di pegangnya kepada pelayan toko kemudian segera berjalan keluar dari toko itu. Aruna berjalan pelan sambil bersedekap. Pikirannya kembali kalut. Beberapa menit kemudian, Aruna tiba di depan restoran favoritnya. Segera Aruna melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran itu. ia ingin segera menyantap sup tomat kesukaannya untuk mengobati rasa sedih di hatinya saat ini. Aruna mengambil tempat duduk di dekat jendela di sudut ruangan restoran itu. Ia ingin makan dengan tenang sambil melihat ke segala pemandangan dari tempat itu. Setelah Aruna memesan makanan kesukaannya, Aruna duduk sambil memandang ke arah jendela di tempat dia duduk. Sepuluh menit kemudian, makanan pesanan Aruna datang. Dengan penuh semangat Aruna segera menyantap sup tomat yang telah tersaji di hadapannya itu. suapan pertema lolos masuk ke dlam mulutnya dan dengan penuh penghayatan di cernanya makanan itu. “Sup tomat ini adalah satu hal terbaik yang akan aku tinggalkan,” batin Aruna sambil terus mengunyah makanan kesukaannya itu. Aruna mengunyah sambil melihat-lihat ke sekitarnya. Tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang sangat dikenalnya. Seorang pria yang selalu ada dalam pikirannya. “Calvin? Sedang apa dia disini?” Aruna memperhatikan Calvin dengan begitu antusias. Baru saja Aruna akan berjalan menuju meja Calvin, seorang perempuan datang dan duduk di dekat Calvin. Aruna baru menyadari bahwa ada sebuah tas perempuan di hadapan Calvin tepat diatas mejanya. Sepertinya wanita itu baru saja datang dari kamar kecil. “Nora,” ucap Aruna lirih sambil melihat ke arah perempuan yang baru saja duduk di dekat Calvin. Aruna terkekeh menertawakan dirinya sendiri. “Aku keluar dari rumah dan sarapan sendirian sementara dia sarapan bersama wanita itu. Sungguh pemandangan ironi.” Pikir Aruna sambil menertawakan dirinya sendiri. Aruna terus menatap ke arah Calvin dan Nora. “Mereka benar-benar sempurna. Sementara aku hanya seorang wanita kuno yang sedang di gerogoti penyakit mematikan.” Batin Aruna. Untuk pertama kalinya Aruna merasa sup kesukaannya itu hambar. Benar-benar tidak ada rasa. Aruna meletakkan sendok yang ada di tangannya dan meneguk minuman hangat yang ada di atas meja agar memudahkannya menelan makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya itu. Aruna kembali melihat ke arah suaminya. Tangan Calvin terus menggenggam tangan Nora sambil tangan lainnya mengelus lembut pipi Nora sambil tersenyum hangat. Sementara Nora dengan wajah manja terus berceloteh di hadapan Calvin. Hal yang begitu diimpikan oleh Aruna. Aruna menghelakan napas berat. Di alihkannya pandangannya dan perlahan menutup matanya. Nama Nora telah ada sejak awal pernikahan mereka. Wanita itu merupakan satu-satunya hal yang tidak bisa ia singkirkan dari hidup Calvin. “Sebaiknya aku pergi dari sini.” Aruna memanggil pelayan restoran itu dan memberikan beberapa lembar uang kemudian segera berjalan keluar dari restoran itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD