Hanya Tanggung Jawab, Bukan Cinta

2046 Words
Aruna berhenti di sebuah coffee shop selepas dia meninggalkan mall tempat dia makan tadi. Dia memesan segelas kopi mocha kesukaannya. “Nikmatilah Aruna selagi kamu masih bisa menikmatinya.” gumam Aruna lalu menyesap pelan kopi yang ada di depannya. Aruna meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja. Dia melihat ke arah luar dari jendela kaca yang ada di sebelahnya. Matanya menatap lurus ke depan namun pikirannya bercabang kemana-mana. “Sebelumnya aku tidak pernah mempermasalahkan keberadaan Nora di dalam hidup Calvin, namun ketika kenyataan mengatakan bahwa waktu hidupku sudah tidak lama lagi, aku merasa begitu terganggu dengan keberadaannya. Seakan-akan dia telah berhasil merenggut kebahagiaanku. Aku benar-benar tidak ikhlas melihat dia menikmati senyum dan kebaikan dari Calvin, aku benar-benar tidak bisa terima jika dia akhirnya dapat memliki Calvin secara utuh,” pikir Aruna. Aruna menghelakan napas panjang. Diusapkannya wajahnya dengan kedua tangannya. Kepalanya perlahan pusing dan dadanya sesak. “Lebih baik aku pulang sekarang,” gumam Aruna. Aruna segera berdiri dan meninggalkan coffee shop itu dan berjalan menuju mobilnya. Dihidupkannya mobilnya kemudian melajukannya menuju rumahnya. Siang itu langit sedikit gelap pertanda hujan akan turun. Aruna memijat pelan pelipis kepalanya untuk mengurangi sakit kepalanya yang semakin menjadi sambil terus menyetir mobilnya. Aruna merasakan perut dan kepalanya seperti di tusuk-tusuk. “Ayolah, sedikit lagi sampai Aruna,” ucapnya geram sambil terus menahan rasa sakitnya. Aruna merasa sedikit lega begitu mobilnya masuk ke dalam garasi rumahnya. Aruna segera keluar dari mobil dan menekan kode pintu rumahnya. Tangan Aruna bergetar membuatnya salah menekan kode angka pintu rumahnya. Keringat mulai mengucur di sekujur tubuh Aruna. Aruna terduduk di depan pintunya. Matanya terpejam karena menahan rasa sakit di kepalanya. Tangannya memegangi perutnya yang juga terasa sangat nyeri. Tiba-tiba Aruna merasa mual yang sangat kuat. “Kamu pasti kuat, Aruna,” gumam Aruna memejamkan matanya dan berusaha menenangkan diri. Setelah merasa lebih baik, Aruna kembali bangkit. Dengan lambat dan hati-hati ia menekan kembali kode pintu rumahnya. “Berhasil!” teriak Aruna senang. Aruna segera masuk ke dalam rumahnya. Diambilnya obat pereda nyeri dari dalam laci meja yang ada id dapur kemudian dengan cepat di minumnya. Aruna terduduk lemas di atas kusi meja makan. Kepalanya di sandarkannya di atas meja makan. Pandangan Aruna kosong. Napasnya yang tadi terengah-engah perlahan teratur. Beberapa saat kemudian Aruna tertidur. Suara petir yang sangat kuat membuat Aruna terbangun dari tidurnya. “Kenapa gelap sekali disini?” Aruna melihat sekitarnya kemudian tangannya meraba-raba ke atas meja berusaha menemukan sesuatu yang bisa membantunya untuk melihat. Malam itu angin begitu kuat bertiup ditambah lagi mati lampu. Tiba-tiba hujan turun sangat lebat diikuti dengan petir yang menyambar-nyambar membuat Aruna kembali terduduk dan terdiam. Aruna menangis ketakutan. Sejak kecil memang Aruna selalu takut dengan hujan dan petir, apalagi ditambah dengan mati lampu. Aruna sesenggukan. Badannya bergetar karena katakutan. Aruna mendengar langkah seseorang yang berjalan mendekatinya. “Apakah itu rampok? Kemana semua satpam di komplek ini?” batin Aruna ketakutan. Sebuah petir terdengar begitu kuat, mengejutkan Aruna dan membuatnya terloncat dan jatuh dari kursi. “Kamu tidak apa-apa, Aruna?” Aruna mendengar suara yang sangat dikenalnya. Suara yang tidak asing baginya. Suara laki-laki yang begitu di cintainya, “Calvin, kamu kah itu?” tanya Aruna memastikan. “Ya, ini aku.” Calvin dengan pelan sambil terus meraba ke sekitarnya akhirnya bisa menggapai tubuh Aruna. Calvin terus memegangi tubuh Aruna sampai Aruna benar-benar duduk dengan baik. “Sebentar aku cari lampu emergency dulu. Kamu diam dulu disini.” “Gunakan ponselmu untuk menerangi,” ucap Aruna. “Ponselku entah dimana. Kamu diam saja disini aku akan mencari lampu emergency. Kalau tidak salah lampu itu ada disekitaran sini,” Calvin berjalan meraba ke arah lemari yang ada di dekat meja makan kemudian membukanya. “Sepertinya ini,” ucap Calvin. Dengan sekali menekan tombol on pada lampu emergency, seluruh ruangan dapur menjadi lumayan terang. “Kamu tidak apa-apa, Aruna?” Calvin berjalan mendekati Aruna. “Aku takut,” jawab Aruna bergetar. Calvin mendekap Aruna dengan begitu erat. Dia sangat tahu bahwa Aruna begitu takut dengan hujan dan petir sejak masih kecil. Aruna adalah anak tunggal dari keluarga yang begitu kaya raya. Hidupnya yang begitu indah berubah sejak menikah dengan Calvin. “Jangan takut, aku sudah ada disini.” “Jangan tinggalkan aku, Calvin,” Aruna menangis di dekapan Calvin. “Tidak akan. Apapun yang terjadi, kamu tetap tanggung jawabku. Itu janjiku pada ayahmu.” Aruna berada di dekapan Calvin untuk beberapa saat. Setelah itu Aruna kembali duduk dan menatap ke arah Calvin. “Kamu sudah makan?” tanya Calvin. Aruna menggelengkan kepalanya, “Aku tidak masak apa-apa, Calvin. Maaf.” “Kita makan diluar saja sambil menunggu lampu hidup,” Calvin membantu Aruna untuk berdiri. Aruna merapikan baju dan rambutnya yang berantakan. Calvin dengan sabar menunggu Aruna selesai sambil mengarahkan lampu agar Aruna dapat melihat dengan jelas penampilannya. “Ayo,” Ajak Aruna. Calvin mengangguk dan berjalan di depan Aruna sambil tangannya memegangi lampu ke samping untuk menerangi jalan mereka berdua. Calvin dan Aruna masuk ke mobil Calvin kemudian melaju menuju ke sebuah restoran. Aruna terus memperhatikan Calvin. “Kamu mengganti dasimu?” tanya Aruna. “Dasi?” Calvin bingung kemudian melihat ke arah dasi yang sedang dipakainya, “Oh, iya. Tadi siang aku ke Mall membeli dasi baru dan langsung memakainya.” Aruna langsung terbayang kejadian saat dia melihat Calvin dan Nora di Mall siang tadi. “Tentu saja pasti Calvin membeli dasi itu bersama Nora di Mall,” batin Aruna. “Dasi yang kamu pakai dari rumah mana?” tanya Aruna. “Ku buang. Dasi itu sudah lama dan lusuh. Sudah sewajarnya diganti,” jawab Calvin santai sambil terus mengendarai mobilnya. Aruna terus melihat ke arah Calvin. “Kenapa?” tanya Calvin yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Aruna. “Aku membeli dasi itu minggu lalu, Calvin. Mungkin karena jarang dipakai makanya terlihat seperti lusuh. Sudah sewajarnya memang kamu menggantinya,” ucap Aruna sambil menganggukkan kepalanya. Calvin tercekat mendengar ucapan Aruna padanya barusan. Calvin merasa Aruna sedang menyindirnya dengan begitu tajam. Ada rasa bersalah sekaligus malu dalam hati Calvin. Calvin dan Aruna saling diam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sepuluh menit kemudian mobil mereka tiba di sebuah restoran casual dining yang sudah berdiri puluhan tahun. Restoran kesukaan Aruna sejak kecil, dan Calvin sangat mengetahui itu. Aruna dan Calvin melepaskan seatbelt mereka dan keluar dari mobil. Mereka masuk ke dalam restoran dan seorang pelayan langsung menyambut mereka di dalam pintu masuk kemudian mengantarkan mereka ke meja makan. “Silahkan dipilih menunya, Tuan, Nyonya.” Pelayan itu meletakkan buku menu di depan Aruna dan Calvin satu persatu. Aruna melihat berbagai menu dan gambar makanan yang ada di buku menu namun tidak ada satu pun yang bisa memancing selera makannya, padahal perutnya sedang sangat lapar saat itu. “Saya pesan mushroom risotto with king oyster mushroom plus Chicken. Minumnya iced lychee tea.” Calvin menutup buku menu dan melihat ke arah Aruna yang masih terlihat bingung untuk memilih menu makanan yang akan di santapnya. “Kamu mau pesan apa, Aruna?” tanya Calvin. “Entahlah, aku bingung. Aku begitu lapar tapi lidahku tidak berselera untuk makan,” jawab Aruna “Kamu terlihat pucat, Aruna. Apa kamu sakit?” Calvin mulai panik begitu memperhatikan wajah Aruna yang terlihat sangat pucat. “Aku tidak apa-apa,” jawab Aruna santai tanpa melihat ke arah Calvin. Matanya terus tertuju pada buku menu yang ada ditangannya. “Bisa rekomendasikan padaku makanan apa yang cocok untuk mengatasi mual dan kurang nafsu makan? Aku sangat lapar sekarang,” tanya Aruna pada pelayan restoran itu. “Bagaimana dengan zuppa soup, Nyonya? Disantap ketika masih hangat dapat mengurangi mual sekaligus mengenyangkan. Rasanya yang gurih juga bisa membantu menaikkan selera makan anda,” ucap Pelayan Restoran itu. “Baiklah, aku pesan itu. Minumannya air putih hangat saja,” Aruna menutup buku menu dan meletakkannya kembali di atas meja. “Baik, saya ulangi pesanannya. Satu mushroom risotto with king oyster mushroom plus Chicken, satu zuppa soup, satu iced lychee tea dan satu air putih hangat. Mohon ditunggu Tuan, Nyonya. Buku menunya saya ambil kembali ya,” pelayan restoran itu mengambil buku menu dari hadapan Aruna dan Calvin kemudian pamit untuk mempersiapkan pesanan mereka. “Kamu sedang benar-benar tidak enak badan, Aruna. Apa perlu kita ke Rumah Sakit? Aku tidak bisa tenang melihatmu begini.” Calvin menatap Aruna denga tatapan khawatir. “Aku tidak apa-apa, Calvin. Aku hanya kecapekan tadi siang jalan-jalan. Sedikit istirahat akan membuatku lebih baik,” Aruna tersenyum. “Kemana kamu tadi siang sampai begitu melelahkan begini?” “Keliling kota Jakarta, makan, ya begitulah. Aku juga ingin membelikan sesuatu untuk Giselle. Dia sedang hamil,” jawab Aruna asal. “Namun kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu, Aruna. Apa artinya kamu membahagiakan orang lain sementara kamu sakit begini,” ucap Calvin. Aruna terdiam mendengar ucapan Calvin yang baru saja di dengarnya. Ditatapnya Calvin beberapa saat. “Aruna?” “Oh.” Aruna tersadar dari lamunannya, “Aku senang melihat orang yang aku cintai bahagia, walaupun aku harus menanggung sakit.” Ucap Aruna sambil tersenyum. Calvin menatap Aruna dengan tatapan tajam. Dia mulai kesal dengan Aruna yang sejak tadi seakan sedang menyindirnya. “Kamu sedang menyindirku? Aku menyakitimu? Merasakan sakit adalah keputusanmu sendiri, Aruna.” Calvin mulai geram. Aruna terdiam tanpa membalas sepatah kata pun. Membalas amarah Calvin baginya adalah hal yang sia-sia. Calvin yang tadinya begitu emosi perlahan mereda. Dilihatnya wajah Aruna yang pucat dan lemas, tatapannya pun begitu sayu membuat Calvin menjadi sulit untuk berlaku kasar pada Aruna. Pelayan restoran datang dengan membawakan makanan yang sudah mereka pesan kemudian meletakkannya di atas meja. “Semua pesanan sudah lengkap Nyonya, Tuan.” “Terima kasih.” ucap Aruna sambil tersenyum ke arah pelayan itu “Baik, saya mohon diri dulu. Selamat menikmati.” Pelayan itu pamit untuk kembali ke pekerjaannya. Aruna dan Calvin mulai menyantap makanan yang ada di depan mereka. Aruna mengambil sedikit makanan yang ada dipiringnya kemudian menyuapkannya ke dalam mulut. Aruna terdiam beberapa saat, berusaha menahan rasa mual yang merajai mulutnya saat akan menikmati makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya itu. “Apa makanannya tidak enak? Kita ganti saja makanannya jika kamu tidak menyukainya,” tanya Calvin yang ternyata memperhatikan ekspresi Aruna ketika makan. “Tidak perlu. Aku suka, hanya saja perlu sedikit adaptasi untuk mualku,” jawab Aruna. Aruna hanya sanggup menyantap beberapa suap dari makanannya. Setelah itu di letakkannya sendok makannya kemudian meminum air putih hangatnya. “Kamu sudah selesai?” tanya Calvin. Aruna menganggukkan kepalanya sambil mengelap mulutnya. “Kenapa tidak di habiskan? Katanya tadi kamu lapar?” “Aku sudah kenyang. Aku ingin pulang istirahat,” ucap Aruna dengan sedikit lemas. “Baiklah, kita pulang sekarang,” Calvin meletakkkan sendoknya dan meminum minumannya. Calvin memanggil pelayan dan meminta tagihan makanan mereka. Setelah membayar, Aruna dan Calvin keluar dari restoran itu dan masuk ke dalam mobil kemudian melaju pulang ke rumah mereka. Tepat di depan rumah mereka telah terparkir sebuah mobil. Calvin segera memarkirkan mobilnya. Aruna dan Calvin keluar dari mobil mereka. Aruna melihat ke arah sosok seorang wanita yang sedang berdiri di teras rumahnya. Wanita itu adalah Nora, orang yang paling tidak ingin di lihat oleh Aruna. “Hai, aku kemari cuma mau mengantarkan ponselmu yang tertinggal di rumahku,” ucap Nora sambil menyerahkan sebuah ponsel kepada Calvin. Matanya melirik ke arah Aruna dengan tatapan sinis. Nora merasa menang dengan mengatakan hal itu di depan Aruna. Aruna melihat ke arah Nora dengan tatapan datar. Calvin mengambil ponselnya dari tangan Nora. “Thanks,” ucap Calvin sambil tersenyum ke arah Nora. Tiba-tiba Aruna muntah beberapa kali. Mual yang sejak tadi di tahannya akhirnya meledak keluar. Calvin dengan cepat meraih tubuh Aruna dan menahannya agar tidak terjatuh. “Kita harus ke rumah sakit sekarang, Aruna,” ucap Calvin begitu khawatir dengan kondisi Aruna. “Aku ingin berbaring,” ucap Aruna lemas. Calvin melihat ke arah Aruna beberapa saat. Wajahnya benar-benar pucat dan lemas. “Aku harus mengurus Aruna ke dalam. Dia sedang tidak enak badan.” Ucap Calvin pada Nora sambil terus memegangi Aruna dan mengelus pelan punggung Aruna. Nora memandang Aruna dengan tatapan kesal. Namun air mukanya langsung berubah begitu tatapan Calvin kembali kepadanya. “Baiklah. Aku akan pulang sekarang,” ucap Nora sambil tersenyum ke arah Calvin. Nora segera membalikkan tubuhnya berjalan menuju mobilnya. Belum sempat Nora menghidupkan mobilnya, Aruna dan Calvin sudah masuk ke dalam rumah meninggalkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD