Bekas Luka Di punggung Aruna

1067 Words
Baru saja akan berbaring di atas tempat tidurnya, rasa mual kembali bergejolak dengan hebat di dalam mulutnya. Aruna segera berlari menuju kamar mandi. Aruna terus mengeluarkan isi perutnya bahkan saat tidak ada yang bisa di keluarkannya lagi. Aruna membersihkan mulutnya dan menyekanya dengan tangan. Tubuhnya jatuh lunglai ke lantai karena begitu lelah dengan desakan mual di dalam mulutnya. Napasnya tersengal. Samar-samar Aruna mendengar suara langkah seseorang masuk dan perlahan mendekat. “Sedang apa kamu disitu Aruna?” tanya Calvin yang masuk ke dalam karena semua pintu di kamar terbuka. Ditangannya sudah ada segelas air putih hangat yang di bawanya untuk Aruna. Calvin segera meletakkan air minumnya ke atas meja dan berlari mendekat pada Aruna. “Aku tidak apa-apa,” jawab Aruna sambil berusaha berdiri. Aruna tidak stabil dan hampir terjatuh kembali. Calvin dengan cepat menangkap Aruna dan menggendongnya ke atas kasur. “Kita harus ke Rumah Sakit. Kamu tunggu di sini, aku siapkan dulu baju-baju kamu,” Calvin berjalan menuju lemari pakaian. “Aku hanya ingin istirahat, Calvin,” ucap Aruna lemah. Matanya kuyu karena kehabisan tenaga akibat dorongan rasa ingin muntah sejak tadi. Aruna berbaring di tempat tidur. “Istirahatlah dulu selagi aku mempersiapkan semua keperluanmu,” ucap Calvin sambil mengambil sebuah tas besar dan mulai memilih pakaian yang akan dibawa ke rumah sakit. Aruna terus melihat ke arah Calvin. Laki-laki itu benar-benar memegang janjinya pada orangtua Aruna, dan Aruna juga terpaksa harus menepati janjinya untuk tidak memaksakan Calvin untuk mencintainya selayaknya pasangan. Mereka terjebak dalam hubungan yang begitu rumit. Pernikahan ini terjadi hanya atas dasar perjanjian antar manusia. Apakah pernikahan ini masih bisa di katakan sebuah ikatan suci yang dipersatukan oleh Sang Pencipta? Aruna menghelakan napas berat. “Ada apa?” tanya Calvin. “Apa?” “Kenapa kamu menghela napas seperti itu?” Calvin masih terus memilah keperluan Aruna. “Aku tidak ingin ke Rumah Sakit. Aku membenci Rumah Sakit,” jawab Aruna. “Tapi kamu..” “Aku janji besok aku akan lebih baik. Aku akan segar kembali seperti biasanya. Aku hanya butuh istirahat, Aku mau tidur,” Aruna memotong kalimat Calvin. Calvin melihat ke arah Aruna beberapa saat. Aruna, putri tunggal keluarga kaya raya yang sangat dimanjakan oleh keluarganya. Keras kepalanya memang sudah tertempa sejak dulu. Calvin sangat mengenal siapa Aruna. “Baiklah. Kita tidak akan ke Rumah sakit malam ini. Tapi jika besok pagi keadaanmu masih belum lebih baik, aku tidak mau bernegosiasi apapun lagi,” Calvin kembali pada tugasnya memilah pakaian Aruna. “Untuk apa lagi kamu mengumpulkan pakaian itu, Calvin?” tanya Aruna bingung. “Untuk jaga-jaga kalau besok kita tiba-tiba harus ke Rumah Sakit,” Calvin merapikan pakaian dan segala keperluan Aruna ke dalam tas. Setelah itu ditutupnya tas itu dan meletakkannya di atas meja yang ada di kamar. “Aku akan mandi. Jika ada apa-apa, segera panggil aku, oke?” ucap Calvin sambil membuka bajunya. Aruna terus melihat ke arah Calvin tanpa berkedip. Calvin sungguh laki-laki yang sempurna di matanya. Dia cerdas, mapan, tampan, tubuh atletis, mandiri dan bertanggung jawab. Sayangnya Aruna tidak bisa memiliki Calvin seutuhnya. Aruna hanya bisa mengikat Calvin secara fisik, tidak untuk hatinya. Aruna tiba-tiba menguap. Matanya terasa berat dan tubuhnya terasa lelah. Aruna tertidur setelah Calvin masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Calvin keluar dari kamar mandi. Dia tidak bisa berlama-lama di kamar mandi seperti biasanya karena begitu mengkhawatirkan Aruna. Calvin khawatir Aruna pingsan saat dia sedang di kamar mandi. Calvin mendekati Aruna dan memastikan keadaannya. “Dia tertidur,” Gumam Calvin kemudian mengambil selimut dan menutupi tubuh Aruna dengan selimut itu. Calvin segera mengambil baju tidurnya dan memakainya. Kemudian berjalan menuju tempat tidurnya dan berbaring di samping Aruna. Baru saja Calvin ingin tertidur, Aruna beberapa kali mengigau. Mulutnya menyeracau sambil beberapa kali memegangi kerah bajunya. Calvin melihat ke arah Aruna. Calvin melihat Aruna sepertinya sangat tidak nyaman dengan pakaian yang sedang dipakainya saat ini. “Dia pasti gerah dengan pakaian yang sejak pagi dipakainya,” batin Calvin sambil melihat ke arah Aruna. Calvin duduk menghadap Aruna. Dibukanya beberapa kancing baju Aruna agar lebih longgar. Aruna perlahan menjadi lebih tenang. Calvin segera mengambil sebuah homedress yang biasa di pakai oleh Aruna dari dalam lemari kemudian kembali mendekati Aruna. “Aruna, bangun.” Calvin mengusap pelan bahu Aruna, “Kamu harus mengganti bajumu. Itu tidak nyaman untuk kamu pakai tidur,” ucap Calvin berusaha membangunkan Aruna. Aruna bergeming. Dia terlalu lelap dalam tidurnya. Aruna hanya menggeliat beberapa kali merespon ucapan Calvin. Calvin menarik napas pelan. Tidak ada jalan lain. Dia sendiri yang harus menggantikan pakaian Aruna agar Aruna dapat tidur dengan nyaman malam ini. Dengan lembut di bukanya baju Aruna. Baru kali ini Calvin melihat tubuh polos Aruna secara sadar. Calvin tercekat beberapa saat menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya. Calvin baru menyadari bahwa Aruna memiliki tubuh yang sangat indah. Selama ini Aruna selalu mengenakan pakaian longgar dan tertutup. Lagi pula Calvin tidak terlalu memperhatikan Aruna dari segi hal itu. Aruna bergerak membelakangi Calvin setelah Calvin berhasil melepaskan baju yang dikenakannya secara sempurna. Netra Calvin menangkap sesuatu yang tidak wajar di punggung Aruna. Calvin mendekatkan dirinya ke arah tubuh Aruna dan menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas. Tangannya meraba sesuatu yang tidak wajar itu. “Apa ini? Kenapa ada bekas luka sebesar ini di punggung Aruna? Luka ini dulu pasti sangat parah kalau di lihat dari bekas yang di tinggalkannya,” batin Calvin. Calvin terus meraba dengan lembut namun teliti bekas luka yang ada di punggung Aruna itu. “Luka ini besar dan dalam. Aku bahkan bisa dengan jelas merasakan tulang punggungnya dari sini,” ucap Calvin dalam hati. “Aku sudah bersama Aruna sejak kami masih sangat kecil. Bahkan waktu kami masih anak-anak dulu, kami sering mandi bersama. Aruna tidak memiliki luka di punggungnya. Apa Aruna pernah kecelakaan hebat?” Mata Calvin membelalak begitu mengingat kecelakaan hebat yang dulu pernah di alaminya bersama Aruna. “Tidak mungkin. Pada saat kecelakaan yang menolongku adalah Nora. Dia yang telah rela mengorbankan nyawanya demi aku. Di punggung Nora juga ada bekas luka walaupun tidak sebesar dan separah ini.” Batin Calvin. Aruna kembali menggeliat. Tubuhnya bergetar karena kedinginan. Dengan segera Calvin mengambil baju tidur Aruna yang sudah di siapkannya dan memasangkannya pada tubuh Aruna. Calvin kembali menyelimuti tubuh Aruna dan berbaring disampingnya. Matanya terus melihat ke arah Aruna. Wajah mereka saling berhadapan. Tidak berapa lama, Calvin mulai merasakan kantuk di matanya. Calvin pun terlelap dalam tidurnya sambil menghadap ke arah Aruna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD