Ballroom Hotel Maripot.
Akan diadakan akad nikah super mewah. Glamor, lux, fantastis, entah pleonasme apalagi yang bisa disematkan dalam akad ini.
Hiasan kain menjuntai di setiap dinding, dengan buhul-buhul bunga di setiap lekukannya. Aroma bunga kantil, bunga yang identik dengan pengantin, menguar lembut bersamaan dengan hembusan pendingin ruagan.
Jangan tanyakan, berapa budget untuk bunga kantil itu. Pastinya mahal berjuta-juta.
Demikian banyaknya, sampai membuahkan sebuah pergunjingan. Pengantin wanita hendak memikat mempelai lelaki dengan susuk bunga kantil.
Begitu memasuki pintu Ballroom, dengan kanan dan kiri penyambut tamu bermake up dan memakai seragam biru keemasan berkilat-kilat, suasana khidmat akad nikah langsung terasa. Orang sembarangan tidak akan mampu membuatkan seragam mewah seperti itu.
Di deretan kursi yang tertata rapi dengan tamu-tamu berseragam batik, berpasangan dengan wanita yang berbaju mahal berkelap-kelip, menunjukkan bahwa si pemilik hajat adalah kalangan berduit. Menyewa Ballroom Hotel Maripot untuk sebuah acara pernikahan, pasti tidaklah murah.
Alma Naila adalah pengantin wanita yang akan melepas masa lajangnya pagi ini. Keluarga besarnya yang sudah siap di kursi tamu adalah keluarga besar dari kedua orang tuanya, yang mayoritas adalah orang-orang kaya di kota ini.
Wajah mereka berseri-seri karena Alma Naila, si putri semata wayang Indro Kusumo, konglomerat terkaya di kota ini akhirnya menikah. Dua kakak lelakinya, juga pengusaha kelas kakap yang mewarisi kecakapan Indro Kusumo dalam berbisnis.
Rumor miring sempat berhembus beberapa tahun terakhir, tentang Alma si gadis ketus yang selalu gagal menapak hingga pelaminan. Bukan karena orang tuanya yang tak berduit.
Indro kaya raya, bahkan sanggup membeli semua lelaki di kota ini untuk menjadi suami Alma, tinggal tunjuk hidung. Luar Biasa!
Namun karena calon-calon yang disodorkan pada Alma, tak pernah betah berlama-lama dengan gadis yang selalu tajam berlisan itu. Dia tak segan mengejek dan mengolok lelaki yang mendekatinya.
Kata-katanya Alma pedas, busuk, dan penuh penghinaan. Perempuan pada awal kepala tiga, usianya, ini selalu tersenyum sinis pada semua calon yang disodorkan padanya.
Bukan karena menghina atau merendahkan, tapi Alma tak ingin mereka semua mendekatinya, karena menginginkan menjadi pewaris perusahaan milik ayahnya. Karena Alma satu-satunya anak perempuan, maka mau tak mau suaminya kelak juga akan terjun ke dunia bisnis, yaitu perusahaan yang menjadi jatah warisan Alma kelak.
Siapa yang tidak ingin menjadi menantu Indro Kusumo? Tapi siapa pula yang betah bersanding bersama Alma Naila dengan lidah tajahmnya?
Bagi orang kota, umur Alma yang tiga puluh satu tahun ini bukanlah sebuah masalah. Namun, bagi orang desa pelosok, barangkali Alma sudah dicap perawan yang tidak hanya tua, tapi lapuk.
Dan pilihan Indro pun akhirnya terpaksa jatuh pada Agam. Lelaki yang berpenampilan sederhana, bahkan untuk acara akad nikahnya sendiri, bajunya kalah mengkilap dengan para tamu undangan.
Lelaki yang tidak gila harta, layak untuk Alma. Biasanya mereka lebih tahan banting dan telinganya lebih tebal. Dia juga tidak akan berusaha untuk mengeruk harta sebagaimana lelaki gila harta lainnya.
Satu lagi, Indro yakin seyakinnya, jika Agam ini lelaki yang mudah ditindas! Aha! Untuk hal ini, dia memang butuh menantu yang bisa disuruh-suruh seperti jongos.
Indro menatap calon menantunya. Lalu, dia menggeleng-geleng sendiri.
‘Aish! Manusia ikan itu sejatinya benar-benar tak pantas untuk anakku. Yatim piatu, tak punya harta, modal tampang doang! Cuih!’ geram Indro dalam hatinya.
Masih dia tatapi Agam. Tanpa diduga, matanya bertabrakan dengan Agam yang memindainya sayu.
Calon menantunya itu tersenyum santun. Indro tak membalasnya, wajahnya kaku, seperti robot dengan bibir sedikit sinis.
Dilihatnya, Agam tampak memegangi dadanya. Lelaki muda itu memetakan nyeri pada wajahnya.
“Papi, itu Agam kenapa, pegang-pegang dadanya begitu, kayak kesakitan!” Suara Inge berhembus bersama sedikit aroma lipstick mahal dari bibirnya.
“Entahlah, aku juga merasa heran, Mi,”
“Kuharap, menantu kita ini bukan penyakitan, ya, Pi. Sudah ngadain resepsi mahal-mahal, uang dapur yang Agam berikan hanya seupil hidung, eh pas sudah nikah kita pula yang menanggung biaya pengobatannya!”
Suara Inge terasa memusingkan Indro. Bekerja di tempat lembab berair, terang saja membuat Indro khawatir omongan Inge benar adanya.
Jreb! Sekali lagi, dia melihat Agam memegangi dadanya. Kali ini, sepertinya terasa sakit, karena pemuda itu tampat memejamkan mata kesakitan.
Lalu, Indro melihat anak gadisnya yang duduk bersebelahan, dengan punggung menegak seolah hendak foto KTP di Kecamatan. Penghulu yang datang terlambat, membuat dua orang itu tak terurai ketegangannya sejak setengah jam yang lalu.
“Kenapa kok belum datang?” bisik Indro pada kerabat di sampingnya. “Apa ada yang sabotase?”
“Tenang, Ndro. Penghulu masih menikahkan orang lain di gedung seberang hotel ini. Maklum, sekarang musim kawin. Kan tadi sudah diumumkan.”
Indro tak ingin kehilangan muka, meski yang hadir sudah memaklumi dari pengumuman MC yang mengatakan hal yang sama dengan kerabat Indro. Mohon menunggu dengan sabar--terutama untuk kedua pengantin--bahwa penghulu masih antri menikahkan orang lain.
“Suruh orang, jemput dia. Pakai helikopter!”
Kerabat Indro mendelik. Indro memang punya helikopter dan diparkir di atap Hotel Maripot.
Tapi, menjemput penghulu ke gedung seberang jalan, mau parkir di mana? Kaya sih boleh, tapi logis dong.
“Ta, tapi, Ndro!”
“Cepat!” geram Indro yang membuat kerabatnya terbirit-b***t menuju pintu depan dan menggamit beberapa tangan panita berseragam.
Mereka harus membopong penghulu itu dari gedung seberang. Meski ada dua jalur jalan yang membatasi Hotel Maripot dan gedung itu, tapi macetnya minta ampun.
Kecemasan Indro dirasakan sama oleh Alma, perempuan yang akan dinikahi Agam sebentar lagi. Degup jantungnya berdebar, karena jika gagal menikah saat ini, maka cap perawan tua akan disandingkan dengan gelar wanita gagal menikah.
Alma menoleh ke belakang, mendapati dua kakaknya yang duduk bersebelahan dengan istri masing-masing, tak peduli dengannya. Mereka asyik bermain ponsel, demikian juga istri mereka.
Sementara Indro dan istrinya di ujung deretan, tampak gerah karena tak sabar menunggu penghulu datang. Pendingin ruangan seolah tak berfungsi bagi Indro. Dia sampai melepas satu kancing baju dan mulai mengipasi dirinya sendiri.
Di ujung deretan sebelah Agam, calon suaminya adalah tamu dari pihak Agam. Hanya empat orang saja.
Agam adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di Panti Asuhan. Agam punya usaha mandiri sebuah kios penjual filet ikan yang dijual online.
Dari pihak Agam, hanya Ibu Pengasuh Panti Asuhannya--Bu Asih yang hadir. Tiga anak yatim lainya duduk di kursi tamu.
Alma geleng-geleng kepala. Sepertinya, hanya ayahnya saja yang cemas bila penghulu tidak datang. Sedangkan Alma dan dua kakaknya tak peduli. Dan tiga orang anak Panti Asuhan yang sepertinya sahabat baik Agam.
Mereka sama cemasnya dengan Indro. Was-was pernikahan berdasar perjodohan dadakan antara Indro dan Bu Asih ini batal dilaksanakan.
Alma mulai merasa gerah, apalagi dengan baju kebaya ketat yang dikenakannya. Sifat usilnya sudah memberontak sejak tadi, dan dia mulai tidak bisa menahan lidahnya.
“Agam, kamu tadi berangkat mandi apa tidak?” ucapnya pelan, dengan penekanan namun tak menoleh pada calon suaminya.
Agam mendengar kalimat Alma sangat sempurna, meski terdengar pelan tapi menusuk telinga. “Aku mandi. Kenapa memangnya?”
“Kamu bau ikan asin.”