“Apa aku terlihat seperti ketakutan?” balas Adjie diplomatis.
“Tidak! Kamu lelaki yang pemberani, bukan?” kata Angkie terlihat jujur. Tapi, bohong!
Adjie jelas sedari tadi dia berjalan sudah begitu terlihat kejanggalannya. Dia tatap Angkie yang masih duduk tenang di atas kudanya.
Terutama dengan jalur yang tak diketahuinya sama sekali saat ini. Bukan hal yang istimewa, jika saudaranya itu tak memiliki niat jahat padanya.
Namun Adjie sedikit curiga. Para dayang berbisik, jika dia tak disukai banyak orang, karena mendapatkan gelar putra mahkota.
Salah satunya adalah Angkie. Namun, dia mengabaikan itu, berharap Angkie masih ingat bahwa dia saudaranya.
“Saudaraku, apa kamu yakin, kita tidak salah jalur berburu?” tanya Adjie memastikan.
Angkie tertawa kencang. Merasa puas dengan pertanyaan yang diajukan oleh Adjie.
Adjie mulai bersikap, dia mengawasi sekelilingnya. Matanya menyaksikan bagaimana Angkie dan para prajurit yang ikut tertawa itu.
Angkie tersenyum sinis. Dia meminta maaf saat itu juga, “Maaf duhai saudaraku. Kau akan mati di sini. Aku yang akan menghabisimu dan aku yang akan menjadi putra mahkota menggantikanmu,” desisnya penuh penekanan yang berambisi.
Pedang yang tergantung di pinggang Angkie menjadi satu fokusnya, saat tangan Angkie memegang holdernya. Angkie menarik pedang itu keluar dari sarung.
Logam yang terasah tajam itu terdengar nyaring saat bergesekan dengan sarungnya dan kini teracung padanya. Adjie tercekat.
Jantung Adjie sudah berdegup hebat bukan main. Dia tak pernah membayangkan bahwa hari di mana dirinya menjadi incaran saudaranya sendiri saat ini.
Adjie yang masih duduk di atas kudanya, menarik pengekangnya dan memerintahkan kudanya untuk berlari kencang membawanya. Dia menyibak jalanan yang belum terbiasa ditapaki oleh manusia.
“Hyaaa! Hyaaa!”
“Kejar dia!” teriak Angkie, memberikan perintahnya pada prajuritnya.
Para prajuritnya ikut memacu kudanya, mencoba untuk mendapatkan Adjie tentu saja. Bahkan anak-anak panah sudah terarahkan padanya.
Namun, dengan cepat Adjie melesat menjauh. Sampai mereka hanya menemukan kuda yang ditunggangi oleh putra mahkota itu berdiri tanpa pemiliknya.
Adjie sengaja turun dan melakukan pelarian semaksimal mungkin dengan kakinya. Pria itu terus berlari sampai nekat menyusuri hutan, melewati sungai kecil, penuh kehati-hatian.
Suara derap langkah kaki yang terdengar semakin membuat keringatnya terproduksi dengan perasaan takut dan was-was. Tangannya memegangi salah satu ranting pohon agar dirinya tak tergelincir saat ini.
“Di mana dia?!” Suara teriakan Angkie ikut terdengar.
“Cari sampai ketemu!” perintahnya lagi.
Selama langkah kaki dan suara yang didengarnya belum menjauh, dia terus bertahan. Merunduk dan terus memegangi penumpunya. Tangannya sudah perih karena harus terus memegangi akar pohon dengan lapisan kasarnya.
Adjie terus menuruni jurang, sampai mencapai jalanan datar yang dipenuhi semak belukar. Dia harus berhati-hati, karena daerah itu berbukit, dan dilekuki berbagai jurang.
Dia masih bisa bernapas dan beristirahat sebentar sebelum akhirnya kembali jalan untuk mencari istana. Wajahnya yang putih, sudah memerah bagai udang rebus.
Dia terus berjalan dengan penuh hati-hati sambil telinganya terus berusaha untuk mendengarkan suara sekelilingnya. Satu kecerobohan dilakukannya saat itu.
Srakkk ...
Adjie menerobos sebuah semak. Dia mengingjak ranting-ranting pohon kering yang mudah patah dan menghasilkan suara berisik.
“Di sana!” Ada suara berteriak yang menunjukkan arah sumber bunyinya.
Adjie terus berusaha berlari. Namun, Angkie terus berusaha untuk menemukan Adjie, saudaranya.
Angkie menggunakan ilmu tenaga dalamnya, berusaha meringankan massa tubuhnya agar bisa mengejar Adjie. Angki melesat kencang dan berhasil menghadang Adjie. Saudaranya itu kehabisan napas saat ini.
Rupanya mereka berada di padang rumput dengan berhadapan satu sama lainnya. Padang itu dipenuhi dengan rusa-rusa yang bergerombol dan tengah menikmati rumput padang yang subur.
Jangan terkecoh dengan datarnya padang ini. Batas dari padang ini adalah sebuah jurang curam berbatu-batu.
Adjie berusaha menghindari sabetan pedang yang tengah dilayangkan Angkie. Dia terus berusaha berlari sambil berusaha menghindar.
Tebasan pedang tajam itu hampir mengenai kepalanya dan Adjie dengan spontan menunduk, mennghindar. Rupanya kaki Angkie sudah menghadangnya dan menendang dagunya sampai Adjie terpental sempurna.
Adjie merasaakn sakit yang mendera saat tubuhnya terpelanting sempurna menabrak satu pohon sampai pohon kecil itu tumbang. Dia mengaduh kesakitan dan berusaha untuk berdiri sambil memegangi bagian d**a kirinya yang terjamin sudah memar.
Angkie tertawa sumringah, puas bisa mengenai Adjie saat ini. Melihat saudaranya sudah mendapatkan luka dia semakin senang.
“Sebaiknya kamu menyerah saja, Adjie, menyerahkan nyawamu padaku akan membuatmu membunuhmu dengan cepat dan tidak sakit,” tutur Angkie yang bersiap melakukan satu jurus yang diandalkannya dan dikuasainya.
“Memangnya kamu sudah pernah mati, bisa membedakan membunuh sakit dan tidak sakit?” ejek Adjie.
“Kamu ...,” Angkie murka.
Tenaga dalamnya dikumpulkan. Dia sedikit terburu, karena Adjie berusaha melarikan diri sekuat tenaganya.
Adjie lari terpincang-pincang, sambil terus menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Dia semakin terdesak saat harus berhadapan dengan jurang curam kembali.
Kakinya berhenti dengan tangan yang meraih salah satu ranting agar dirinya tidak jatuh ke jurang. Napasnya berdegup kencang.
Dia merunduk saat Angkie menendang tubuhnya dan mengenai perutnya. Tangannya terus berusaha mempertahankan ranting agar dirinya tak jatuh.
Adjie menendang Angkie sampai pria itu terdorong menjauh darinya. Napasnya Adjie sudah terengah-engah hebat saat ini.
“Sebaiknya kau menyerah, putra mahkota yang siap kugantikan!” seru Angkie dengan sinisnya.
“Kau tak bisa melakukan itu, Angkie! Aku saudaramu!” teriak Adjie berusaha untuk mencoba menyadarkan Angkie dari sifat tamaknya.
Angkie kembali menggunakan jurus peringan tubuhnya, melesat sambil menghunuskan pedangnya ke arah Adjie yang terpojok. “Matilah kau!”
Kejadian yang begitu cepat, saat pedang Angkie sudah hampir mengenainya, tiba-tiba seekor rusa menyeruduk tubuh Adjie sampai terjungkal ke jurang. Adjie terlempar ke dalam jurang.
“Aaaa!” Adjie berteriak kencang saat tubuhnya terjun bebas ke bawah jurang, dan memasuki terowongan aneh yang menyedot tubuhnya.
Adjie tersedot ke dalam lubang waktu. Sepersekian detik kemudian, lubang itu menghilang, tanpa sempat Angkie melihatnya.
Angkie segera menuruni jurang, berusaha mencari tubuh saudaranya yang dia yakini sudah mati. Namun, dia kebingungan.
Kakinya berlari ke sana ke mari berusaha menyibak semak belukar yang tak ada habisnya demi mencari mayat Adjie. Namun, tak bisa dia temukan.
“Cari sampai ketemu!” perintahnya pada prajurit-prajuritnya.
Dia sendiri berusaha mengatur napas karena kelelahan usai menghabiskan banyak tenaga demi menghabisi Adjie dengan tenaga dalamnya. Dia sudah duga, Adjie akan kalah, tapi ternyata putra mahkota itu cukup sengit melawan tadi.
“Tidak ada, Pangeran!” Salah satu prajuritnya datang dengan letih, usai berusaha mencari ke mana perginya sang putra mahkota.
“Sialan! Ke mana pria itu pergi!” Suara teriakan Angkie terdengar, dengan prajurit-prajurit lainnya yang berdatangan dan memberitahukan kalau Adjie memang tak ada.
Mereka gagal menemukan mayat Adjie, yang jelas-jelas terjatuh ke jurang. Namun, tiba-tiba menghilang begitu saja. Tanpa jejak.