Kerajaan Au Ah Gelap

1072 Words
  “Berapa lama kita harus berpura-pura? Lucu sekali, ya, tradisi kerajaanmu ... apa nama kerajaanmu?” tanya Adjie membuat Alma seperti habis makan garam dua ton. Darah tingginya auto kambuh.   “Au ah, gelap!” sungut Alma.   [Kerajaan apa? Dasar orang gila!]   “Kerajaan Au Ah Gelap, nama kerajaanmu? Lucu juga ya, namanya. Padahal, kulihat kerajaanmu penuh bola-bola benderang, apa namanya?” kata Adjie antusias.   “Lampu!” rutuk Alma.   “Oh, iya, kerajaanmu penuh lampu, tapi masih disebut gelap. Ha ha ha, lucu! Selucu tradisi kalian yang harus pura-pura ketika barusan menikah!”   Alma melongo. Mungkin, donat besar atau burger akan masuk ke dalam mulutnya, saking besarnya longoannya.   ‘Ja, jadi, dia pikir pura-pura ini bagian dari ritual pengantin baru? Alamak!’ sungut Alma dalam hati.   Alma mengacak rambutnya kesal. Dia pegangi dadanya, karena jantungnya sepertinya hendak copot.     “Kamu ini i***t apa pura-pura amnesia?” jerit Alma kesal.   “i***t? Imnesia, eh Omnesia, ya? A, apa itu?” kata Adjie seraya mempersembahkan senyum binal sedikit ganjen. Dia peletkan lidahnya, hingga membasahi bibir bawahnya.   “Gosh! So stupid! Lama-lama aku beneran darting, tanpa harus memakan garam dan makanan kaya lemak! Anjiiir!” teriak Alma senewen.   Adjie mengendik bahu dan melebarkan tangan tak mengerti maksud Alma. Dia juga tak habis pikir, kenapa Alma berteriak-teriak marah padanya. Apakah itu dalam rangka membangkitkan nafsu dalam dirinya?   Alma mendekati Adjie, lalu mendorong bahu lelaki itu hingga keluar dari kamar. “Kita tidak akan pernah tidur satu ranjang, satu kamar. Itu namanya pernikahan pura-pura.”   “A, apa? Hei, apa ini bagian tradisi kerajaanmu untuk malam pertama? Pura-pura marah?”   “Berhenti, Agam!”   “Adjie!”   “Oke Adjie, whatever! Di luar, orang mengira kita menikah. Tapi sebenarnya tidak. Mulai sekarang, kau tidur di sofa. Aku di kamar.”   Alma hendak menutup pintu kamar, tapi Adjie menahannya. “Alma, sofa itu apa?”   Alma mundur dua langkah. Jantungnya berdegup seperti roller coaster!   “Ya Tuhaaan …” pekik Alma kesal luar biasa. “Sofa itu tempat sayur mayur!”   “Oh, maksudnya keranjang? Kenapa aku harus tidur di keranjang? Memangnya, aku ini kacang panjang atau nangka sayur?”   Adjie dengan tatapan polos menatap Alma tak mengerti. Mendapat tatapan mata serupa orang i***t, Alma pun berjalan dengan menghentak lantai saking kesalnya, menuju ruang tengah.   Tempat sofa berada, di depan televisi layar datar. Dia yakin, Adjie pun tak tahu apa itu benda kotak hitam di depan sofa. Tapi Alma tidak akan meladeni Adjie bila menanyakannya.   Adjie mengikuti Alma.    “Ini namanya Sofa.” Alma menepuk sandaran sofa sembari menarik napas panjang.   Sepertinya, percuma berteriak-teriak pada suaminya, karena otak idiotnya tidak akan mengerti dengan cepat. Dia pun mulai melunakkan nada bicaranya.    “Ini tempat untuk duduk dan tidur. Cobalah.”   Adjie perlahan mengitari sofa itu, sampai tiga kali. Pelan, seraya melongo-memindai benda itu.   “Adjie ... buruan!”   “Oh, aku tahu ini jebakan! Benda ini akan menggigitku kan?”      Alma berusaha mencoba bersabar, sembari melipat tangan dan menepuk lantai dengan telapak kakinya. Dibiarkannya hingga Adjie berhenti, lalu menduduki sofa itu.   “Baik, aku duduk! Awas jika kau coba-coba mencelakaiku, Adinda!”   Namun karena duduknya tidak dengan lemah lembut, tapi langsung melompat seperti naik ke atas kuda, tentu saja sofa itu langsung melentingkan Adjie, karena per-nya masih baru. Adjie melompat lagi.   “Apa ini? Sudah kuduga! Kau mau membunuhku dengan benda ini?”   Alma mendengus. Sewaktu naik mobil dia begitu ketakutan karena mengira dirinya akan ditelan mobil.   Sekarang, dia mengira sofa baru dan mahal itu akan membunuhnya. Alma harus menyiapkan stok kesabaran melebihi seisi rumahnya. Karena marah pun percuma.   Alma lalu duduk di sofa dan sengaja menggenjot-genjot dirinya. Sehingga badannya memantul-mantul, membuat Adjie heran.   “Apa benda ini tidak mematikan?” tanya Adjie, perlahan mendekati sofa dan duduk di sebelah Alma.   [Benda ini mematikan, membuatku serangan jantung, jika kau terus pura-pura tidak mengenal Sofa!”   “Menurutmu?” Alma bertanya balik.   Alma menoleh dan menatap Adjie lekat-lekat. Mereka saling menatap cukup lama, dan Alma memang menyengajanya. Semula dia selalu menghindari bertatapan dengan suaminya, namun perlahan dia menyadari ternyata Adjie tidak sekedar tampan. Dia mempesona dan menawan.   “Astaga! Kenapa aku baru sadar, kalau Agam yang mengaku-aku Adjie ini punya lesung pipi yang begitu dalam! Matanya juga indah, dengan bulu mata yang panjang-panjang,” batin Alma.   Adjie merasa mukanya memanas menahan malu. Baru kali ini dia merasa malu pada seorang wanita. Cantik lagi.   Seumur hidupnya, dia jarang melihat wanita cantik. Sejak kecil dibesarkan di lingkungan Istana Nilamsuryo dan hanya bermain dengan saudaranya yang berbeda ibu. Itupun bila Angkie mau.    Sejak kecil Angkie lebih sering bermain di area prajurit latihan. Dia memang lebih suka bersama mereka.   Sedangkan Adjie yang menjadi putra mahkota kesayangan, selalu dilindungi untuk tidak terluka. Maka dia lebih sering bergaul dengan dayang-dayang dan pekerja istana.   Dan oleh sebab itu, Angkie terlihat lebih hebat beladirinya, ketimbang dia. Dan Adjie diam-diam menjadi bulanan kalangan prajurit, yang menyebutnya wandu alias bences.   Maka tidak heran bila Angkie hanya bisa berperang dan beladiri, sementara Adjie punya banyak keahlian. Selain memasak dia juga pandai mengurut bahkan meracik obat. Semua ilmu itu dia dapatkan dari dayang dan pekerja di Istana Nilamsuryo.    Namun kini, rasanya semua ilmu itu menguap begitu saja ketika tiba-tiba dia harus menikahi Alma. Wanita itu ternyata lebih pandai dari siapapun.   Dia punya barang-barang aneh di rumah ini dan dia tahu semuanya! Sebagaimana Adjie yang tahu seluk beluk istana melebihi para dayang dan pekerja, barang-barang itu lebih hebat dari kemampuan Adjie.   Adjie merasa bodoh. Kerajaan Au Ah Gelap sepertinya lebih maju berkali-kali lipat dibanding kerajaannya.   Alma bangkit dari sofa dan menuju dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil air minum. Adjie tau-tahu sudah berada di belakangnya.   “Aku baru melihat barang ini. Sepertinya ini barang yang luar biasa.” Adjie mengusap dagu dan berdiri tegak di depan kulkas. “Di Kerajaanku, Nilamsuryo, tidak ada seperti ini. Bila dayang-dayangku melihatnya, mereka pasti sangat senang.”   Alma mulai bisa menyesuaikan dengan tingkah Adjie. Entah bagaimana ceritanya Agam bisa berubah menjadi lebih primitif dari yang sebelumnya sudah konvensional. Paling ada yang sudah menggetok kepalanya hingga otaknya menjadi kosong melompong.   “Berhenti pura-pura Amnesia, Adjie. Demi Tuhan, berhenti!” sergah Alma sembari  berkacak pinggang di depan suaminya.   “Bagaimana cara menghentikannya? Imnesia itu apa, Adindaku Tersayang!” Adjie kebingungan.   “Oh, my God! Dia benar-benar best actor!”   “Hei, kini kamu menyebut kata-kata yang tidak aku mengerti,” sahut Adjie.   “Kau tidak bisa mengelabui aku. Jangan pernah berpikir kau bisa melakukannya pada seorang Alma Naila!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD