“Almaaa! Ayo segera!” teriaknya sudah tak tahan lagi.
Rupanya teriakannya kali ini bertepatan dengan lagu yang didengar Alma berhenti. Membuat gadis itu menghentikan gerakan dan membuka mata. Dia menyadari ada seseorang di sebelah ranjangnya.
“Aaaaa….!” teriak Alma histeris melihat Adjie tak berbusana di sebelahnya. Alma sontak merangkak di atas kasur, menjerit sejadi-jadinya, menjauhi Adjie, hingga terjatuh di seberang kasur.
Alma melihat semua baju Adjie teronggok di lantai. Bisa-bisanya lelakinya itu tak berbusana di kamarnya, padahal Alma sudah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan melayani Adjie. Lelaki itu sudah membuatnya depresi hanya dengan melihatnya saja.
Alma berjalan merangkak menuju tumpukan baju itu, dan rupanya Adjie sudah mendahuluinya, berdiri menghadangnya.
“Kurang ajar!” maki Alma dalam hati. Dia hanya bisa merunduk di depan Adjie yang berdiri dengan pose GI Joe yang akan berangkat perang.
Dan sialnya, Alma sempat melihat bahwa postur suaminya benar-benar luar biasa memukau wanita. Lengan-lengannya kekar dan perutnya berbilah enam, bahkan mungkin delapan. Entahlah, dia hanya melihat sekilas.
Dan kini dia malah berhadapan dengan dua kaki tak berkain, berjarak tumpukan baju di lantai. Alma tidak berani mendongak, tetap dalam posisi merangkak.
Sekali mendongak, maka bisa hancur seluruh pertahanannya. Adjie sudah siap bertempur, dan dia bisa jadi akan nekat, tak peduli Alma siap atau tidak.
Perlahan, Alma meraih tumpukan baju di lantai, lalu sontak berdiri dengan susah payah. Sembari memejam dia melemparkan semua baju itu pada Adjie, lalu dia membalik badan.
“Keluar kau dari kamarku!” teriak Alma kesal.
“Keluar? Bukankah kita harus melalui malam pertama? Aku sudah menyanyian tembang tadi, tapi kau sepertinya tidak …”
Alma berteriak kesal. “Tidak ada malam pertama.”
“Hah?”’ Adjie tertegun. “Tidak mungkin! Hei, aku normal!”
“Kubilang tidak ada!” teriak Alma lebih keras.
“Apa ini ritual kerajaanmu? Jadi, malam keberapa kita bisa malam pertama?” tanya Adjie dengan kening mengernyit.
Tapak kakinya hendak berjalan, menghadap Alma kembali. Tetap di situ! Jangan menghadapku! Keluar sana!” cegah Alma.
Sejujurnya, dia baru kali ini melihat lelaki dalam sosok tiada benang. Dan ternyata ... bagus sekali. Apa semua lelaki sedemikian indah?
Mana mungkin! Suaminya Mareta, kakaknya, sekalipun tampan tapi perutnya sepertinya tidak beroti sobek begitu. Kemana-mana bawa tas pinggang berisi lemak.
“Hei, Nisanak! Kamu ....”
“Hargai aturan kerajaan kami!” kata Alma hendak geli sendiri. Dia ikut-ikutan amnesia seperti Adjie.
“Baiklah, Nisanak! Kapan jadi aku menunaikan tugasku sebagai suami? Atau kamu takut, kamu ketahuan tidak perawan?” tanya Adjie lantang.
“Apa itu sebuah masalah bagi pangeran terhormat sepertimu?”
Adjie terdiam. Dia tahu, hal itu tidak beretika untuk ditanya.
“Pergi sana!” kata Alma lagi,
“Kapan?” Adjie masih tak puas. Masih saja bertanya kapan dia menggagahi perempuan ini.
[Kapan-kapan!]
“Tergantung keinginan seorang istri, begitu aturan di sini! Mungkin dua bahkan dua puluh purnama,” kata Alma.
“A, apa?”
“Pergi!”
Adjie heran melihat punggung Alma. Gadis itu membelakanginya, sepertinya dia malu-malu kucing melihatnya.
Kata pengawal-pengawal yang bercerita tentang malam pertama, memang wanita seperti itu. Mereka pura-pura malu, tapi sebenarnya bernafsu.
Jadi seorang lelaki harus bisa menaklukkannya dengan merayunya. Bila sudah takluk, wanita malah akan menyerang sendiri tanpa perlu disuruh.
“Kau tidak usah malu-malu, Alma. Aku yakin, Raja sudah merestui hubungan kita, meski belum pernah melihatmu. Tapi, dia selalu berkata, bahwa seorang wanita cantik akan memperlakukan kita seperti Raja, bila seorang lelaki memperlakukannya sebagai seorang Ratu.”
Aha! Rayuan Adjie begitu manis, semanis pabrik gula. Dia yakin, setelah itu kucing yang malu-malu itu akan menjadi liar dan binal macam kucing garong.
Tiga.
Dua.
Satu.
“Pakai bajumu dan keluaaaaar!”
Adjie tertegun. Ternyata, istrinya ini benar-benar pemalu.
“Kau tidak perlu mengusirku bila merasa malu. Kita sudah sah sebagai suami istri. Aku saja tidak malu padamu, kau bisa melihatku seluruhnya tanpa baju. Tidak ada yang aku sembunyikan. Sebaiknya kau juga begitu, buka bajumu, dan kita lakukan saja dengan cepat, maka tugasmu selesai.”
“Keluarrr!” Alma semakin bergidik.
Mana mungkin dia mau menatap Adjie sekarang, tanpa baju. Dan lelaki itu malah menyuruhnya membuka baju juga. Ini benar-benar gila. Dia tak pernah membayangkan malam pertama dengan seorang lelaki dengan drama barbar seperti ini.
Ternyata pernikahan itu tidak seindah drama korea.
Alma lalu menuju pintu kamar dan menunjuk jari keluar, tapi masih sambil memejam mata.
“Pakai celanamu dulu, kalau sudah bilang!”
Adjie menurut. Memakai celana panjang dan juga bajunya. Mungkin Alma ingin melakukan dengan cara lain, bukankah wanita tidak ada yang bisa menduga keinginannya.
Jadi sebaiknya dituruti saja. Toh, masih akan ada malam-malam berikutnya. Mungkin Alma masih sangat malu untuk membuka baju, Adjie mulai memakluminya.
“Sudah.”
Alma membuka satu matanya dan lega ketika melihat Adjie sudah memakai celana dan kemeja. Jasnya masih teronggok di lantai. Tidak masalah asalkan sudah pakai baju, tidak telanjang seperti ikan.
“Dengar Adjie, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu,” ucap Alma mulai menempatkan dirinya dalam posisi di atas angin, berusaha mengintimidasi Adjie.
Lelaki itu, strata sosialnya jauh lebih rendah darinya, jadi dia harus mengingatkan posisinya, sebelum dia menjadi jumawa karena menikahi Alma. Dia tidak mau Adjie besar kepala atas juga, kepala bawahnya tadi dia lihat sekilas sudah semacam jamur besar merekah. Ish!
“Aku mendengarkan,” ucap Adjie sembari tersenyum. Sepertinya istrinya akan menyampaikan keinginannya melalui malam pertama seperti apa.
“Kau menikahiku karena perusahaan yang dijanjikan ayahku, kan?”
“Apa benar begitu?” Adjie tampak bingung.
“Halah! Kau tahu kalau aku akan mewarisi perusahaan itu, dan kau tahu bahwa ayahku hanya ingin perusahaannya dipimpin oleh lelaki. Maka kau menerima tawaran itu, meninggalkan pekerjaan ikan filetmu, dan bermimpi jadi orang kaya.”
Adjie mendengarkan, tapi tak memahami satu pun kalimat Alma. Dia diam saja, sembari menatap Alma tak berkedip. Wanita itu bercuap-cuap seperti ikan yang keluar dari air, membuatnya semakin menggoda.
“Jadi, jangan mimpi kau bisa menyentuhku!” ucap Alma.
Kenapa pula harus bermimpi untuk menyentuh istrinya sendiri? Adjie heran. Bukankah dia bisa menyentuh istrinya langsung tanpa harus bermimpi?
“Mimpi? Kamu bukan bunga tidurku! Kamu istriku, Adinda!” titah Adjie.
“Pernikahan ini hanya pura-pura, kau mengerti?” Alma menatap tajam ke arah Adjie yang masih saja memindainya sembari mengulum senyum.
Alma menyadari bahwa Adjie yang tidak jadi bertempur, masih memiliki hasrat yang belum mereda. Jadi, dia harus membuat membuat lelaki ini menyadari bahwa dia hanya lelaki miskin yang tak punya hak apapun atas dirinya.
Adjie menggeleng menjawab pertanyaan Alma. “Aku tidak mengerti. Kita kan baru menikah? Berpura-pura bagaimana maksudnya?”