Ritual Malam Pertama

1125 Words
  Adjie celingukan! Sejenak, dia berhenti lalu mengelus wallpanel yang tampak membentuk tiga dimensi.   Alma berasal dari kerajaan ini, pasti dia tahu apa nama semua benda ajaib di dalam rumah dan apa kegunaannya.   Adjie sampai di pintu belakang, dan dia mencoba membukanya. Tapi pintu itu terkunci. Dia hanya bisa menatap dari balik jendela dan mendapati halaman belakang yang berumput.   “Sepertinya Alma tidak punya kuda,” batinnya. Padahal kuda adalah standar kepemilikan orang-orang kaya di kerajaannya.   “Apakah tidak ada lagi kuda di kerajaan ini, sehingga digantikan oleh mobil? Hm, benda kotak putih itu sama sekali tidak menyenangkan, membuat bokongku panas. Mana dingin sekali di dalamnya.”   “Alma!” panggilnya. Tapi tak ada yang menyahut.   “Istriku, Alma, kamu di mana, Adinda Sayang?” Adjie sedikit menurunkan tensinya, sekalipun jika mengingat ketusnya Alma yang meneriakinya dengan kata-kata kerajaan Alma: Norak, dia rasanya hendak memaki perempuan ini.   “Alma ....”   Adjie tahu, Alma tidak akan meninggalkannya. Gadis itu akan mengabdi padanya sebagaimana janjinya saat mereka dinikahkan. Dan Adjie juga berjanji akan membahagiakan istri cantiknya.   Dia yakin, bila suatu ketika membawa Alma ke kerajaannya dan bertemu dengan Raja, pasti beliau akan memujinya sebagai Pangeran yang pandai memilih istri. Wanita cantik adalah istri yang sempurna bagi seorang Pangeran, meskipun sedikit pincang.   Tidak masalah! Ada banyak tabib yang bisa mengobati istrinya. Dia pun juga cukup ahli dalam hal terapi penyembuhan.   Adjie akhirnya sampai di sebuah kamar yang belum dimasukinya. Kamar itu pintunya sedikit terbuka.   “Alma, apa kau di sana?” kata Adjie, dengan aksen yang mulai diatur selayak suara wibawa Pangeran.   “Alma!”   Masih belum ada sahutan apapun.   Adjie mendorong daun pintu dan mendapati Alma duduk di tempat tidur. Tempat tidur itu sangat lebar dan tidak ada kain-kain kelambu sebagai penutup.   Hm, bagaimana jika mereka tidur berdua tanpa kelambu? Pasti akan membuat orang yang mengintip dari luar kamar akan mengetahui apa yang mereka perbuat di atas kasur.   Tapi mungkin memang begini aturan di kerajaan yang Adjie belum tahu namanya ini. Dia pun mendekat ke arah Alma.   Gadis itu sudah berganti baju, tidak lagi memakai kebaya seperti saat akad nikah. Wajahnya juga tidak lagi berbedak tebal, sudah bersih dan menampilkan wajah aslinya yang tetap saja cantik.    Rambutnya tergerai melewati bahu, membuat Adjie ingin membelainya. Bergesa, Adjie pun hendak membuka bajunya, dengan demikian akan tampak proporsi badannya yang begitu indah, dengan cetakan roti sobek yang begitu jelas berpola enam di perutnya.   Tapi ... gengsi dong! Dia kan pangeran!   Biasanya, pada seorang pangeran di kerajaannya, maka perempuanlah yang harus melepas duluan, tanda mereka siap mengabdi. Maka dari itu, ia urungkan lagi apa yang hendak dilakukannya.   Sepertinya Alma sudah siap menyerahkan diri padanya, sebagai seorang istri di malam pertama. Kalau tidak, mana mungkin dia duduk di tempat tidur, bersandar di tembok dan menyelonjorkan kaki, sambil memejam mata.   Adjie berjalan mondar mandir di sebelah ranjang. Lalu mulai mengucapkan kata-kata yang pernah dipelajarinya saat bercanda dengan beberapa pengawal di kerajaan. Mereka kadang bercerita bagaimana cara melakukan malam pertama.   Tembang adalah cara yang bagus untuk merayu wanita.   Adjie mencoba mengingat-ngingat, mungkin dia punya tembang. Maka perlahan dia pun menembangkan sebuah lagu di masa kanak-kanaknya.   Setelah selesai bernyanyi, Alma tidak bereaksi, masih tetap pada posisinya. Padahal Adjie sempat mengira Alma akan melepas semua bajunya, seperti yang diceritakan para pengawalnya. Bila seorang gadis takluk dan menyerahkan diri pada seorang lelaki, maka dia akan melepas sendiri bajunya.   “Tapi, kenapa kepalanya goyang-goyang?” tanya Adjie pada dirinya sendiri, heran melihat perilaku Alma. Dari balik rambutnya, menjulur benang (padahal bukan benang, Adjie salah sangka) putih yang terhubung ke sebuah benda persegi yang ada di telapak tangannya.   “Mungkin ini adalah ritual malam pertama di kerajaan ini,” batin Adjie.   Adjie tidak mengetahui bahwa Alma sedang mendengarkan musik EDM dengan menggunakan headset. Bila dia sedang dalam tekanan, banyak pikiran dan stress seperti hari ini, maka musik EDM membuatnya bisa mengeluarkan semua beban di d**a dan kepalanya.   Mendengarkannya dengan headset, membuatnya tuli dari dunia, membuatnya bisa melupakan sejenak masalah terbesarnya hari ini. Ya, dia hanya bisa mendengarkan saja.   Zamannya sudah usai, dengan usia kepala tiga, semua temannya sudah menikah dan sibuk dengan keluarga masing-masing. Tidak ada yang mengajaknya clubbing.   Ah, seolah ketika masih muda ada yang mengajaknya saja. Teman-teman opportunisnya hanya mengajaknya, jika dia menjadi bandar membiayai clubbing mereka saja.   Sempat dia dengar celetukan, “Tidak asyik mengajak Alma pincang! Merepotkan saja!”   Dan sekarang, dia dengarkan musik EDM ini. Melupakan penatnya kejadian tadi siang.   Bahwa kehidupan barunya akan dimulai dengan seorang lelaki yang berpura-pura lupa ingatan, lupa diri dan lupa segalanya. Seperti orang yang habis dikepruk kepalanya dan menjadi amnesia.    Alma menghela napas sejenak. Ya, dia memang keterlaluan tadi.   Mungkin kata-kata Alma menjelang akad nikah itu benar-benar memukul isi kepala Agam, hingga dia shock dan amnesia. Membuat dia hanya mengingat satu hal saja, yaitu namanya ketika masih kecil : Adjie. Dia tidak mengenal siapapun, bahkan ibu pengasuh panti asuhan yang membesarkannya.   Dan parahnya, dia juga tidak tahu semua benda di sekitarnya.   “Memangnya dari mana asalmu, Tukang Ikan? Kenapa semua benda di Bumi ini tidak kamu tahu? Apa kamu mahluk astral yang keluar dari lubang toilet?” sarkas Alma kesal, dengan mata terpejam.   Ya, gara-gara itu, dia sampai harus bersujud meminta Adjie menjadi suaminya. Memalukan sekali!   Adjie yang melihat tingkah Alma, mulai menirukan perbuatan Alma. Mungkin ini gaya sambutan seorang istri pada suaminya untuk memulai ritual malam pertama. Adjie pun lalu duduk perlahan di depan Alma, lalu menirukan Alma menggoyang-goyang kepala sembari memejam mata.   Gerakan keduanya membuat kasur berguncang-guncang, seperti ada gempa. Tapi Alma tampak tak peduli.   Dia bahkan semakin gila menggoyang-goyang badan, sampai membungkuk-bungkuk, menggoyang badan ke kanan dan kiri seperti pohon ditiup angin, lalu memutar kepala. Semuanya sambil memejam mata.   “Ini luar biasa,” ucap Adjie pada Alma, yang tentu saja tidak didengar oleh Alma yang sudah sakau oleh musik EDM yang membebaskan beban di dadanya. “Aku sudah mulai hendak meledak, Alma.”   Adjie merasa ada yang mulai memanas dalam dirinya, apalagi melihat Alma yang bergerak tak kunjung berhenti. Dia harus melampiaskan sesuatu yang bergolak pada dirinya, tentu saja pada Alma istrinya. Tapi, wanita itu tak kunjung menghentikan gerakannya, padahal Adjie sudah siap bertempur.   “Alma, cukuuup!” teriak Adjie.   Rupanya teriakan Adjie tak cukup menembus headset Alma. Wanita itu masih saja bergoyang-goyang.   “Alma, aku perintahkan padamu,” seru Adjie. “Lakukan tugasmu sebagai istri.”   Adjie melompat dari kasur, lalu melepas bajunya satu per satu. Bila Alma belum melepas baju, maka tidak masalah baginya untuk mendahului.   Namun dia agak kesulitan karena semua baju ini terasa begitu sempit di badannya dan banyak sekali yang harus dilepas.   “Kenapa harus memakai baju yang sulit dilepas seperti ini?” ujarnya kesal.   Akhirnya dia pun berhasil melepas semua baju, dan melemparkan semua baju itu jauh darinya. Lalu dia berdiri tegak di sebelah Alma, tanpa sehelai benangpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD